Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Menyerahkan Seluruh Hidup
Arini masih berada di ruangan pengacara Elsa Damayanti, SH.
Elsa mengangkat pandangannya. Dia menatap Arini lebih lama.
"Bisa dijelaskan lebih detail maksud Nak Arin lebih banyak berkorban dalam hal materi itu?"
"Selama menikah, saya lebih banyak menggunakan penghasilan saya sendiri. Rumah yang kami tempati saya beli jauh sebelum menikah. Mobil juga atas nama saya. Banyak kebutuhan rumah tangga yang saya tanggung. Jadi saya tidak ingin menuntut apa pun yang memang bukan hak saya."
Elsa mengangguk memahami. "Baik. Berarti fokus gugatan adalah perceraian beserta perlindungan atas hak-hak yang memang menjadi milik Nak Arin?"
"Iya, Bu."
Elsa kemudian bertanya lagi. "Masih ada yang ingin ditanyakan?"
Arini terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. "Ada, Bu. Saya masih kepikiran soal rumah."
"Silakan!"
"Itu rumah saya. Saya benar-benar tidak rela kalau nanti rumah itu diakui sebagai harta gono-gini atau bahkan Mas Galang merasa berhak atas rumah itu dan melanjutkan menempatinya."
Elsa tersenyum tipis berusaha menenangkan.
"Tidak perlu khawatir. Dari penjelasan Nak Arin, rumah itu dibeli sebelum pernikahan dan seluruh dokumen kepemilikannya juga atas nama Nak Arin, bukan?"
"Iya, Bu. Semua surat-suratnya lengkap ada pada saya."
"Kalau begitu, posisi hukumnya sangat jelas. Rumah tersebut merupakan harta bawaan milik Nak Arin. Selama dokumen kepemilikannya lengkap dan tidak ada perjanjian lain yang mengubah status kepemilikannya, rumah itu bukan objek harta bersama."
Wajah Arini tampak sedikit lebih lega. "Saya lega mendengarnya, Bu."
Namun beberapa detik kemudian, sorot matanya kembali berubah tegas.
"Saya juga punya beberap usaha yang sedang berkembang, tapi semuanya atas nama saya. Apakah itu juga bisa digugat sebagai harta gono gini?"
"Bisa ya, bisa tidak. Kalau harta itu memang didapatkan selama rentang waktu Nak Arin menikah dengan suami Nak Arin, itu bisa dikatakan harta gono gini."
"Nggak Bu,semua usaha saya, sudah ada jauh sebelum saya menikah."
"Oh, kala gitu aman."
"Pokoknya saya tidak rela dia membawa harta saya sedikit pun. Bukan karena saya pelit, Bu," lanjut Arini. "Kalau selama ini Mas Galang menjadi suami yang baik, mungkin saya tidak akan berpikir seperti ini. Tapi semua pengorbanan saya selama dua tahun ini sama sekali tidak dihargai. Rumah saya malah dijadikan tempat untuk membawa perempuan lain. Saya dipermalukan di rumah saya sendiri. Karena itu saya tidak ingin mereka mendapatkan apa pun dari saya."
Elsa mengangguk pelan, dia memperhatikan wajah Arini yang kini dipenuhi keteguhan.
"Saya mengerti perasaan Nak Arin. Apa yang Nak Arin inginkan bukan semata-mata soal materi, tetapi soal keadilan."
"Iya, Bu."
"Baik. Saya akan memastikan hak-hak Nak Arin tetap terlindungi."
Suasana ruangan kembali hening beberapa saat.
Elsa kemudian menutup map di hadapannya.
"Kalau begitu, untuk hari ini data yang saya perlukan sudah cukup. Besok asisten saya akan mengirimkan berkas-berkas, termasuk surat kuasa dan dokumen yang perlu Nak Arin tanda tangani. Saya kirim ke alamat yang tadi sudah Nak Arin berikan."
Arini mengangguk. "Baik, Bu. Tapi sebelum mengirim, tolong hubungi saya dulu, ya. Soalnya posisi saya sekarang tidak menentu. Saya sedang tidak tinggal di rumah."
"Baik, nanti asisten saya akan menghubungi Nak Arin terlebih dahulu agar kita bisa menyesuaikan waktu dan tempat penyerahannya."
"Terima kasih, Bu."
"Setelah semua berkas ditandatangani, saya akan segera menyusun dan mendaftarkan gugatan cerainya ke pengadilan. Setelah itu kita tinggal menunggu jadwal sidang pertama."
Arini mengembuskan napas panjang. Meski perjalanan yang akan dilaluinya masih panjang, setidaknya kini semuanya telah memiliki arah yang jelas.
Ia berdiri dari kursinya dan menjabat tangan Elsa dengan penuh rasa hormat.
"Terima kasih banyak, Bu Elsa. Saya titip semuanya kepada Ibu."
Elsa membalas jabatan tangan itu dengan hangat.
"Insyaallah saya akan mendampingi Nak Arin sebaik mungkin. Yang terpenting sekarang, jaga kesehatan dan tetap kuat. Percayalah, setiap orang yang memperjuangkan kebenaran pasti akan menemukan jalannya."
Arini mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sejak hidupnya porak-poranda di hari ulang tahun pernikahannya, kini ia merasa tidak lagi berjalan sendirian. Kini, ia memiliki seseorang yang akan membantunya memperjuangkan hak dan harga dirinya melalui jalur hukum.
Keluar dari kantor hukum, Arini melangkah pelan menuju mobilnya. Sesaat ia berdiri di samping pintu mobil, menatap langit yang masih biru dan bersih.
Hari itu, ia baru saja mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
Arini membuka pintu mobil, lalu duduk di balik kemudi. Tangannya belum juga memutar kunci kontak. Ia hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang dan menyalakan mesin mobil. Kendaraan itu perlahan meninggalkan halaman kantor hukum, mengarah kembali ke Panti Asuhan Al Amanah, tempat yang untuk sementara menjadi tempatnya berteduh.
Namun, baru beberapa menit perjalanan, pandangannya mulai kabur. Bukan karena jalanan yang macet, melainkan karena air mata yang kembali memenuhi pelupuk matanya.
Ia segera menepikan mobil di bahu jalan yang aman. Kedua tangannya masih menggenggam kemudi, sementara air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung lagi.
Tangisnya pecah. Bukan tangisan karena menyesali keputusannya menggugat cerai. Ia menangis karena tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai di titik ini.
Dulu, saat menerima lamaran Galang, Arini memasuki pernikahan dengan niat yang tulus. Ia percaya bahwa pernikahan adalah ibadah yang akan dijalaninya sekali seumur hidup. Baginya, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan sebuah janji suci yang harus dijaga hingga akhir hayat.
Karena itulah, selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang baik. Ia mendukung suaminya, menghormati keluarga suaminya, bahkan rela berkorban demi menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Namun, semua ketulusan itu seolah tidak pernah berarti.
Di hari yang seharusnya menjadi perayaan dua tahun pernikahan mereka, Galang justru membawa perempuan lain ke rumahnya. Lebih menyakitkan lagi, ibu mertuanya dengan tanpa rasa bersalah memperkenalkan perempuan itu sebagai istri kedua Galang, tepat di hadapan dirinya.
Sejak saat itu, hidup Arini seperti runtuh sedikit demi sedikit.
Rumah yang selama ini menjadi tempat paling nyaman berubah menjadi tempat yang penuh luka. Setiap sudutnya menyimpan penghinaan yang sulit dilupakan.
"Apa salahku...?" lirih Arini di sela isaknya.
"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik...."
Dadanya terasa sesak. Ia menundukkan kepala di atas kemudi, membiarkan air matanya mengalir hingga emosinya perlahan mereda.
Beberapa menit kemudian, Arini mengusap wajahnya dengan tisu. Ia menarik napas panjang berkali-kali hingga kembali tenang.
"Sudah cukup," bisiknya pada diri sendiri.
"Mungkin Allah memang tidak menakdirkanku menjalani satu pernikahan seumur hidup. Tapi aku yakin, Allah juga tidak menginginkanku terus hidup dalam kezaliman."
Kalimat itu menjadi penguat bagi dirinya.
Arini merapikan kerudungnya, memastikan matanya cukup jelas untuk kembali menyetir. Setelah merasa lebih tenang, ia kembali melajukan mobil menuju Panti Asuhan Al Amanah.
Di sepanjang perjalanan, kesedihan itu masih ada. Luka itu pun belum sembuh. Namun di balik semua kepedihan tersebut, telah tumbuh satu tekad baru.
Ia tidak akan lagi mempertahankan sebuah rumah tangga yang hanya menyisakan air mata. Kini, ia memilih memperjuangkan hak-haknya, sambil menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah, Sang Pemilik segala takdir.
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.