Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akibat pulang Larut Malam
Malam beranjak semakin larut, namun sisa-sisa ketegangan dari peristiwa sore tadi seolah masih enggan beranjak sepenuhnya dari sudut-sudut rumah besar itu.
Meskipun Arka telah memberikan ketenangan dan jaminan perlindungan melalui kata-katanya yang sarat akan komitmen, Naura tetap tidak bisa membohongi debaran cemas yang sesekali masih merayap di ulu hatinya.
Setiap kali mengingat bagaimana tatapan mata Rama yang dipenuhi ambisi egois untuk merebutnya kembali, Naura selalu merasa merinding. Ia takut masa lalunya yang belum tuntas di sisi Rama akan menjadi kerikil tajam yang mengotori jalan pernikahan yang baru saja ia bangun bersama Arka dengan penuh kehati-hatian.
Setelah menyelesaikan makan malam dalam suasana yang sedikit lebih sunyi dari biasanya, Arka meminta izin untuk masuk ke dalam ruang kerja pribadinya di lantai satu. Ada beberapa dokumen mendesak dari kantor yang harus segera ia tinjau ulang, sebuah konsekuensi dari kepulangannya yang mendadak sore tadi demi memastikan keselamatan Naura.
Naura sangat memahami hal itu. Dengan penuh pengertian, ia mengantarkan secangkir teh chamomile hangat ke meja kerja Arka, memberikan senyuman penyemangat, lalu menutup pintu ruangan tersebut dengan pelan agar tidak mengganggu fokus suaminya.
Naura memilih untuk kembali ke kamar utama di lantai atas. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan melanjutkan sketsa pakaian yang sempat tertunda. Namun, setelah hampir satu jam menatap kertas putih di atas meja gambar profesional pemberian Arka, jemarinya seolah kaku. Kepalanya terlalu penuh.
Akhirnya, ia memutuskan untuk merapikan peralatan gambarnya, membersihkan diri dengan mandi air hangat, dan mengenakan pakaian tidur sutra berwarna biru dongker yang longgar dan nyaman.
Ketika jarum jam dinding di dalam kamar menunjukkan pukul sembilan malam, suasana di luar rumah sudah sepenuhnya sunyi, hanya menyisakan suara tetesan sisa air hujan yang jatuh dari dedaunan di halaman. Pintu kamar mandi terbuka, dan Arka melangkah masuk ke dalam kamar.
Pria itu tampak sangat lelah. Kemeja putihnya kini sudah berganti dengan kaus oblong hitam kasual dan celana panjang katun yang longgar. Rambutnya yang biasanya tertata rapi menggunakan gel kini dibiarkan jatuh berantakan di dahi, memberikan kesan yang jauh lebih muda dan santai, sangat bertolak belakang dengan citra CEO yang kaku di luar sana.
Arka berjalan mendekati sofa panjang yang terletak di seberang ranjang tempat tidurnya setidaknya sampai malam ini. Namun, langkah kakinya terhenti ketika melihat Naura masih duduk tegak di tepi ranjang berukuran king size, memeluk sebuah bantal kecil dengan pandangan mata yang kosong menatap ke arah gorden jendela yang tertutup rapat.
"Belum tidur, Naura?" tanya Arka, suaranya yang berat terdengar sedikit serak karena kelelahan. Ia berjalan mendekat ke arah tepi ranjang, mengamati wajah istrinya dengan saksama.
Naura tersentak kecil, lalu menoleh dan mencoba mengulas senyuman tipis. "Belum, Kak. Aku belum merasa mengantuk. Pekerjaan Kak Arka sudah selesai semua?"
"Sudah, semuanya sudah diurus oleh sekretarisku untuk pertemuan besok pagi," jawab Arka. Ia tidak langsung kembali ke sofanya. Alih-alih menjauh, Arka justru duduk di sisi ranjang yang kosong, tepat di sebelah Naura. Jarak di antara mereka kini begitu dekat, hingga Naura bisa mencium aroma sabun mandi maskulin yang segar berpadu dengan wangi khas tubuh Arka.
"Kamu masih memikirkan kejadian sore tadi?" tebak Arka dengan sangat akurat. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Naura, membaca setiap kecemasan yang coba disembunyikan oleh wanita itu.
Naura menghela napas pendek, lalu menundukkan kepalanya, memainkan ujung bantal yang didekapnya. "Aku hanya ... merasa bersalah, Kak. Kak Arka sudah sangat sibuk dengan urusan perusahaan yang begitu besar, tapi sekarang harus ikut terbebani oleh masalah pribadiku dengan Rama. Aku takut keberadaanku di sini justru merusak ketenangan hidup Kakak."
Mendengar penuturan Naura, Arka mengulurkan tangannya. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyentuh dagu Naura, mengangkat wajah wanita itu perlahan agar pandangan mata mereka kembali sejajar.
"Naura, dengarkan aku dengan baik," ucap Arka, suaranya terdengar begitu tenang dan penuh dengan keyakinan yang kokoh. "Sejak hari di mana aku menjabat tangan wali nikahmu dan mengucapkan kabul, hidupmu dan hidupku bukan lagi dua hal yang terpisah. Masalahmu adalah masalahku, dan ketenanganmu adalah prioritasku. Menjagamu dari gangguan apa pun di luar sana bukan sebuah beban bagiku, melainkan sebuah kewajiban mutlak yang dengan senang hati aku jalankan. Jadi, tolong berhenti berpikir bahwa kamu adalah beban di rumah ini."
Untaian kalimat yang keluar dari bibir Arka seolah menjadi sihir yang instan menenangkan badai di dalam dada Naura. Rasa hangat yang akrab kembali menjalar ke seluruh tubuhnya, mengikis sisa-sisa rasa takut yang sempat bersarang sejak sore.
"Terima kasih, Kak Arka. Kakak selalu tahu bagaimana cara membuatku merasa aman," lirih Naura, matanya berbinar oleh rasa haru yang mendalam.
Arka tidak langsung melepaskan tangannya dari dagu Naura. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap kulit pipi Naura yang halus dengan kelembutan yang membuat detak jantung Naura kembali berpacu tidak beraturan. Pandangan mata Arka turun sejenak menatap bibir ranum Naura yang sedikit terbuka, sebelum kembali menatap lekat ke dalam sepasang mata indah istrinya. Ada sebuah ketegangan emosional yang intens namun manis yang mendadak tercipta di antara mereka di tengah keheningan malam itu.
Arka berdeham pelan, mencoba menetralisir debaran aneh di dalam dadanya sendiri yang mendadak bergemuruh hebat. Ia menarik tangannya kembali, lalu melirik ke arah lingkaran hitam tipis di bawah kelopak mata Naura yang masih tersisa dari malam-malam sebelumnya.
"Apakah kamu sudah mengoleskan minyak lavender yang kuberikan kemarin?" tanya Arka, mengalihkan pembicaraan dengan nada yang kembali santai.
"Sudah, Kak. Baunya sangat menenangkan, tapi sepertinya malam ini kepalaku terlalu penuh untuk bisa langsung terlelap," jawab Naura jujur, menyunggingkan senyum kecil yang manis.
Arka terdiam sejenak, menatap sofa panjang di seberang ruangan yang selama beberapa minggu ini menjadi tempatnya melewatkan malam. Sofa itu memang cukup nyaman, namun ukuran tubuh Arka yang tinggi dan tegap sering kali membuatnya harus menekuk kaki saat tidur, sebuah fakta yang tidak pernah ia keluhkan demi menjaga privasi dan kenyamanan Naura di atas ranjang utama.
Namun, setelah pengakuan jujur dari hati ke hati yang mereka lakukan di dapur sore tadi, Arka merasa bahwa dinding pembatas tak kasat mata di antara mereka sudah seharusnya mulai diruntuhkan secara perlahan.
"Naura," panggil Arka lembut.
"Ya, Kak?"
"Malam ini ... cuaca di luar sangat dingin setelah hujan deras. Dan kurasa, sofa itu sedikit terlalu pendek untuk kakiku yang sedang pegal malam ini," ucap Arka dengan binar jenaka yang samar di kedua matanya, sebuah ekspresi yang sangat langka yang hanya ditunjukkannya secara eksklusif di depan Naura.
Naura mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna maksud dari perkataan suaminya. Ketika matanya menangkap bantal dan selimut Arka yang masih tergeletak di atas sofa, ia mendadak paham. Pipinya langsung merona merah muda seketika, dadanya berdegup kencang oleh rasa gugup sekaligus luapan kebahagiaan yang aneh.
"Apakah ... Kak Arka ingin tidur di sini? Di atas kasur?" tanya Naura memastikan, suaranya mencicit kecil karena malu.
Arka memberikan anggukan kecil yang mantap. "Hanya jika kamu mengizinkannya dan tidak merasa keberatan. Aku akan tetap menjaga jarak yang sopan di sisiku, aku tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman."
Naura menelan ludah, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kini sudah seperti genderang perang. Ia menatap area ranjang berukuran king size itu, kapasitasnya bahkan lebih dari cukup untuk menampung tiga orang dewasa, yang berarti space di antara mereka masih akan sangat luas. Lagipula, Arka adalah suaminya yang sah, dan pria itu sudah menunjukkan tingkat rasa hormat yang luar biasa tinggi selama ini. Tidak ada alasan bagi Naura untuk menolak.
"Tentu saja tidak keberatan, Kak. Ini kan... ruko dan rumah ini milik Kak Arka, ranjang ini juga milik Kakak," jawab Naura dengan gugup, meremas bantal kecil di pelukannya semakin erat untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
Arka terkekeh rendah, suara tawa baritonnya terdengar sangat seksi di telinga Naura. "Ini rumah kita, Naura. Bukan milikku saja."
Pria itu kemudian bangkit berdiri, berjalan menuju sofa untuk mengambil bantal kepalanya sendiri. Ia kembali ke arah ranjang, lalu meletakkan bantal tersebut di sisi sebelah kanan, sementara Naura berada di sisi sebelah kiri.
Arka memposisikan dirinya untuk berbaring di atas selimut tebal yang melintang, sebuah batasan fisik kasat mata yang sengaja dibuatnya agar Naura tidak merasa terintimidasi oleh kehadirannya yang kini berada di atas satu kasur yang sama.
Naura ikut membaringkan tubuhnya di sisi kiri, menarik selimutnya sendiri hingga sebatas dada. Ia memosisikan tubuhnya miring menghadap ke arah gorden jendela, memunggungi Arka karena ia tahu jika ia menghadap ke arah suaminya, wajahnya yang memerah sempurna pasti akan ketahuan.
Suasana kamar tidur itu mendadak jatuh ke dalam keheningan yang sangat pekat. keheningan kali ini terasa begitu penuh dengan getaran energi yang berbeda. Naura bisa mendengar dengan sangat jelas suara hela napas Arka yang teratur di seberang kasur. Kehadiran fisik Arka yang begitu dekat, kehangatan tubuh pria itu yang samar-samar menembus udara dingin AC, memberikan sebuah rasa aman tingkat baru yang belum pernah dirasakan Naura sebelumnya.
Semua ketakutan tentang Rama, semua kecemasan tentang masa depan, mendadak menguap begitu saja dari kepalanya. Di bawah perlindungan pria ini, di atas ranjang yang sama, Naura merasa seolah seluruh dunianya kini telah berada di tempat yang tepat.
Di sisi lain ranjang, Arka berbaring telentang dengan kedua tangan yang diletakkan di atas perutnya. Matanya menatap langit-langit kamar yang temaram oleh pantulan cahaya kuning keemasan dari lampu tidur di sudut ruangan. Garis bibirnya membentuk senyuman tipis yang penuh dengan rasa syukur.
Proses adaptasi pernikahan ini memang tidak mudah, penuh dengan kejutan dan kerikil dari masa lalu, namun melihat bagaimana Naura mulai membuka hatinya dan memberikan rasa percaya yang utuh malam ini, Arka tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil tidak ada yang sia-sia.
"Selamat tidur, Naura," bisik Arka lembut di tengah kegelapan malam, suaranya seperti usapan halus yang mengantarkan kesadaran Naura ke ambang dunia mimpi.
Naura yang matanya sudah mulai terasa berat karena efek rileks yang luar biasa dari kehadiran Arka, tersenyum kecil di balik selimutnya. "Selamat tidur juga, Kak Arka ... " jawabnya lirih.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka digelar, jarak fisik yang selama ini memisahkan mereka akhirnya terkikis secara resmi. Dinginnya udara AC dan sisa rintik hujan di luar jendela tidak lagi mampu menembus pertahanan kehangatan yang tercipta di atas ranjang itu.
Di bawah keheningan malam Jakarta yang larut, dua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh selembar wasiat peninggalan orang tua, kini tidur berdampingan dalam satu frekuensi rasa percaya yang baru, siap menyambut hari esok dengan kekuatan yang jauh lebih solid.