Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Suara dari Masa Lalu
Cahaya keemasan itu makin terlihat jelas, menyelinap keluar dari celah-celah papan lantai yang sudah lapuk. Awalnya cuma berkelap-kelip seperti cahaya lilin, tapi lama-lama makin terang, menerangi seluruh ruangan dengan warna yang hangat sekaligus menimbulkan rasa ngeri di hati siapa saja yang melihatnya.
Suara berat yang terdengar tadi membuat semua orang menoleh serentak. Dari balik kerumunan anak buah Vorn, satu sosok melangkah maju perlahan. Pakaiannya lebih rapi, jubahnya terbuat dari kain tebal berwarna hitam pekat, dan di lehernya tergantung kalung dengan lambang elang yang terbuat dari perak murni. Wajahnya sudah tidak tertutup bayangan lagi — terlihat wajah yang sudah berumur, penuh kerutan di dahi dan sudut mata, tapi tatapannya tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsa.
“Ini dia orang yang selama ini aku cari,” gumamnya pelan, suaranya terdengar penuh rasa lega sekaligus penuh perhitungan.
Vorn yang berdiri di dekatnya langsung menunduk sedikit, menunjukkan rasa hormat yang dalam. “Tuan Kaelin… kenapa anda ikut turun ke sini? Saya sudah bisa menangani semuanya.”
Orang yang dipanggil Kaelin itu tidak menjawab. Matanya terus terpaku pada sosok Arda yang berdiri di tengah ruangan, seolah melihat bukan orang yang ada di depannya, tapi bayangan dari masa puluhan tahun yang lalu.
Arda juga tidak bergerak. Matanya menyipit sedikit, menatap orang itu dengan pandangan yang datar tapi menyimpan banyak pertanyaan. Sejenak suasana terasa membeku, seolah waktu berhenti berjalan. Bahkan cahaya keemasan dari bawah lantai pun terasa berdenyut lebih pelan, mengikuti irama ketegangan yang melanda ruangan itu.
“Kau masih ingat aku, bukan?” tanya Kaelin akhirnya, suaranya agak bergetar sedikit, entah karena tua atau karena emosi yang ditahannya. “Dulu, di kota pusat, saat kita masih muda… saat dunia ini masih terasa lebih sederhana dan kita masih punya mimpi yang sama.”
Arda menghela napas panjang, lalu mengangkat bahu sedikit — gerakan yang masih terasa santai, meski matanya tidak lepas dari tatapan lawan bicaranya. “Aku ingat banyak orang, Kaelin. Tapi kebanyakan dari mereka sudah berubah menjadi orang yang tidak lagi aku kenal. Termasuk kau, sepertinya.”
Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada senjata apa pun. Wajah Kaelin berubah sedikit, tapi dia segera menenangkan diri, lalu tersenyum tipis yang terasa pahit.
“Memang benar, waktu mengubah segalanya,” jawabnya perlahan. “Dulu kita berjanji akan menjaga keseimbangan ini, memastikan benda itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Tapi apa yang kau lakukan? Kau menghilang begitu saja, membiarkan segalanya terbengkalai, membiarkan kekuasaan berubah tangan, membiarkan orang-orang menderita tanpa perlindungan.”
Dia menunjuk ke arah lantai yang bercahaya itu. “Benda ini bukan sekadar harta, Arda. Ia adalah kunci yang bisa membuat kita mengatur segala sesuatu — menegakkan keadilan, mengakhiri kemiskinan, menertibkan kota ini selamanya. Kalau kau bersedia bergabung denganku, kita bisa mewujudkan apa yang dulu kita impikan.”
Mendengar itu, Kael yang berdiri di samping Arda mengerutkan dahi. Dia menoleh ke Arda, matanya penuh tanya. Jadi Arda bukan hanya orang asing yang kebetulan lewat — dia punya sejarah panjang dengan orang yang kini menjadi pemimpin Elang Darah ini.
Arda hanya tertawa pelan, tawa yang terasa dingin dan tidak percaya. “Mewujudkan impian? Dengan jalan merampas, mengancam, menyiksa orang tak bersalah? Itu bukan impian, Kaelin. Itu cuma alasan yang kau buat untuk menutupi keserakahanmu sendiri.”
Langkahnya maju selangkah, dan tekanan yang dia pancarkan membuat udara terasa makin sesak. “Aku menghilang bukan karena takut atau lari dari tanggung jawab. Aku pergi karena aku sadar, semakin banyak kekuatan yang kau pegang, semakin mudah kau lupa tujuan awalnya. Kalau aku tetap ada di tengah keramaian, mungkin aku juga sudah berubah menjadi orang sepertimu — menganggap diriku paling benar, menganggap kekuasaan adalah segalanya.”
Dia menunjuk ke arah cahaya yang makin terang itu. “Dan benda ini bukan kunci kebahagiaan. Ia cuma alat. Seperti pisau — bisa dipakai untuk memotong makanan, tapi juga bisa dipakai untuk membunuh. Yang menentukan nasibnya bukan bendanya, tapi orang yang memegangnya. Dan aku tidak percaya lagi pada orang yang sudah terjebak dalam kegelapan ambisi.”
Wajah Kaelin berubah seketika, dari tatapan penuh harap berubah menjadi dingin dan marah. Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada semua anak buahnya untuk bersiap kembali.
“Kalau begitu, kau pilih jalanmu sendiri,” katanya tegas. “Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk kesempatan ini. Aku tidak akan mundur hanya karena satu orang yang memilih bersembunyi dan berpura-pura tidak peduli.”
Dia melirik ke arah Kael dan yang lain dengan pandangan meremehkan. “Dan anak-anak muda ini… mereka tidak tahu apa yang sedang mereka jaga. Mereka cuma mengikuti kata-katamu tanpa mengerti risikonya. Kalau kalian menghalangi jalanku, kalian juga akan ikut binasa.”
Belum sempat perintah selanjutnya keluar dari mulutnya, tiba-tiba getaran di bawah lantai makin terasa kuat. Bukan lagi getaran halus, tapi seperti ada sesuatu yang bergerak dan berusaha keluar. Cahaya keemasan itu makin menyala terang, sampai-sampai mata mereka harus menyipit menahan cahayanya.
Satu papan lantai di tengah-tengah itu terangkat sedikit, lalu jatuh kembali dengan bunyi keras. Dari celah yang terbuka itu, terlihat ujung sebuah kotak yang terbuat dari bahan yang tidak bisa dikenali — tidak kayu, tidak logam, tapi terlihat seperti batu yang memancarkan cahaya sendiri.
“Dia sudah bangun…” bisik Arda, matanya menyipit tajam. “Keberadaan kita yang bertarung di atasnya, ditambah energi yang terlepas, membuatnya merespons.”
Kaelin terlihat tergoda, matanya berbinar melihat kotak itu. Dia melangkah maju dengan cepat, tidak memedulikan bahaya yang mungkin ada. “Akhirnya… akhirnya aku bisa memegangnya.”
“Jangan mendekat!” teriak Arda keras.
Tapi sudah terlambat. Saat tangan Kaelin hampir menyentuh pinggiran kotak itu, cahaya keemasan itu meledak keluar dalam bentuk gelombang yang lembut tapi kuat. Semua orang yang berdiri di dekatnya terlempar mundur, terhuyung-huyung dan jatuh ke lantai. Bahkan Arda sendiri harus menahan tubuhnya agar tidak terlempar, kakinya menekan lantai sampai meninggalkan bekas yang samar.
Gelombang cahaya itu menyebar ke seluruh ruangan, tidak menyakiti secara fisik, tapi seolah menyentuh ingatan dan hati setiap orang yang ada di sana.
Di tengah cahaya yang menyilaukan itu, Kael teringat kembali masa lalunya — malam saat ayahnya tidak pulang, rasa takut saat dia harus memimpin anak-anak lain yang terlantar, tekadnya untuk membuat tempat yang aman bagi siapa saja yang lemah.
Mikhael teringat kakeknya, kata-kata bijak yang diajarkan sejak kecil, bahwa kekuatan sejati bukan untuk memerintah, tapi untuk melindungi.
Bastian teringat rumahnya yang dibakar, rasa dendam yang sempat membakar hatinya, dan bagaimana dia belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama.
Niko teringat masa-masa gelapnya, saat dia hampir terjebak selamanya, dan rasa syukur karena dia masih diberi kesempatan untuk memilih jalan yang benar.
Bahkan Kaelin pun teringat masa mudanya — saat dia dan Arda berjalan berdampingan, berjanji akan menjaga kota ini agar adil dan makmur. Tapi ingatan itu hanya sesaat, segera terhapus oleh rasa takut dan ambisi yang sudah mengakar kuat selama puluhan tahun. Dia menggeleng keras, berusaha mengusir rasa sesal yang muncul, lalu berdiri kembali dengan pandangan yang makin keras.
“Cahaya ini hanya trik untuk menakut-nakuti!” teriaknya, suaranya bergetar tapi tetap berusaha terdengar tegas. “Ini tidak lebih dari kekuatan yang bisa aku kendalikan juga!”
Dia memberi isyarat kepada anak buahnya yang sudah bangun kembali. “Serang mereka! Jangan biarkan siapa pun menghalangi! Kita ambil kotak itu sekarang juga!”
Pertarungan pun meletus kembali, tapi kali ini suasana terasa berbeda. Tidak hanya soal kekuatan fisik, tapi juga soal keyakinan dan tujuan yang masing-masing pihak bawa.
Kael dan kawan-kawannya bertarung dengan hati yang lebih teguh — mereka tahu sekarang apa yang mereka jaga, bukan sekadar barang asing, tapi sesuatu yang bisa menentukan nasib banyak orang.
Arda berdiri di depan kotak itu, menjadi perisai terakhir. Setiap serangan yang mengarah ke sana dia tangkal dengan gerakan yang sederhana tapi sangat efektif. Tidak ada pukulan yang meleset, tidak ada tenaga yang terbuang sia-sia. Dia tidak membunuh, tapi setiap orang yang dia sentuh langsung terlempar mundur, terasa seolah terkena benturan yang datang dari arah yang tidak terlihat.
Saat Vorn mencoba mendekat dari samping, Arda hanya menoleh sedikit, dan tatapannya saja sudah membuat lengan orang itu terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.
“Kau sudah mengikuti orang yang salah selama ini,” kata Arda pelan, hanya cukup terdengar oleh Vorn. “Kalau kau terus melangkah, nyawamu akan melayang sia-sia. Apakah ini benar-benar yang kau inginkan?”
Vorn tertegun sejenak, ragu terlihat di matanya. Tapi rasa takut akan hukuman dari Kaelin membuat dia menggeleng keras, lalu mengangkat senjatanya kembali.
“Tidak ada jalan mundur lagi!” teriaknya.
Namun sebelum dia sempat melangkah, suara teriakan dari luar terdengar — bukan satu orang, tapi banyak orang. Suara teriakan campur aduk, disertai bunyi benturan dan teriakan marah.
“Tuan Kaelin! Ada gerombolan lain datang dari luar! Bukan kelompok biasa, mereka membawa bendera dan lambang yang tidak pernah kita lihat sebelumnya!”
Kaelin terkejut, wajahnya berubah pucat. Dia melangkah cepat ke arah pintu, melihat ke luar, dan matanya melebar tak percaya. Di kejauhan, terlihat cahaya obor yang makin banyak, dan suara langkah kaki yang mendekat dengan cepat.
“Siapa lagi yang berani masuk ke wilayah ini?” geramnya.
Arda yang masih berdiri di depan kotak itu menghela napas panjang, lalu menatap ke arah pintu dengan pandangan yang makin dalam.
“Sepertinya rahasia ini sudah terlalu lama tertutup,” gumamnya pelan. “Begitu satu pintu terbuka, pintu-pintu lain juga akan ikut terbuka. Sekarang bukan hanya kita dan Elang Darah yang terlibat. Permainan ini baru saja masuk ke babak yang sebenarnya.”
Dan di luar sana, di bawah cahaya bulan yang mulai muncul dari balik awan, pasukan baru itu bergerak maju dengan tujuan yang tidak diketahui siapa pun — membawa nama organisasi yang sudah lama dianggap mati, dan kekuatan yang sudah lama tidak terlihat di permukaan kota ini.
Bersambung...