Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap Sudah
"Mas Bejo," teriak Intan.
Bejo menoleh kebelakang, dia kembali terkejut melihat Intan ada sebrang jalan bukan menyambutnya di depan rumah.
"Kamu ngapain disini Mas?," tanya Intan.
"Ini bukan rumahmu?," jawab Bejo, bertanya.
"Bukan mas. Aku salah titik tempat tujuan, yuk kerumah,"
Intan berjalan bersama Bejo, namun pandangan Bejo tertuju pada rumah besar berwarna putih bersih di belakangnya.
Saat sampai di rumah Intan, Bejo di persilahkan masuk.
Bejo merasakan hangat dalam rumah Intan, beda jauh dengan rumah sebelum seperti ada yang aneh bagi Bejo.
Tidak berselang lama Marshanda keluar.
"Wah.. sudah datang ternyata," serunya.
Ia duduk tidak jauh dari Bejo, di ikuti oleh Intan yang membawa sebuah kotak cukup besar.
Bejo tersenyum kecil, dia hanya bisa kebingungan dengan apa yang di lihat saat ini.
"Nama kamu siapa anak muda?,"
"Bejo Tante,"
"Bentar, kok asing namamu itu!!,"
"Maksud Tante?,"
"Apa kamu putra dari Galang?,"
"Kok Tante tau nama almarhum ayah saya!!,"
Marshanda tersenyum, dia tak menyangka bertemu anak dari Galang teman masa sekolahnya dulu.
"Pasti kenal, karena ayahmu dan aku satu kelas waktu sekolah,"
Bejo tersenyum kecil, lalu ia melihat ke sekeliling rumah dengan pandangan penuh.
"Nih Mas, yang saya maksud kemarin. Boleh di buka disini di bawa pulang langsung juga gak papa," ucap Intan, lalu memberikan kardus besar yang tertutup rapat seperti kado.
Bejo yang menerima, terasa cukup berat membuat ia berfikir liar isinya. Takut ada semacam hal yang tak seharusnya di miliki.
"Bikinin minum buat Bejo, Intan. Jangan diem aja disini," seru Marshanda.
"Iya ma," balas Intan.
"Gak perlu repot-repot tante, saya mau langsung pulang saja," ucap Bejo.
"Loh kok mau pulang aja?,"
"Teman-teman saya sudah menunggu di rumah Tante, jadi aku kembali pulang," Bejo berasalan karena dia mendapatkan firasat aneh dalam hatinya.
"Hmm.. ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan."
"Intan?, anterin Bejo sampai depan,"
"Iya ma."
Bejo berjalan terlebih dahulu sambil membawa kotak besar, di ikuti oleh Intan di belakangnya.
"Hati-hati ya mas Bejo,"
"Iya."
Kemudian Bejo pulang meninggalkan Intan yang masih memandangi kepergiannya. Namun di rumah yang tadi di datangi oleh Bejo terlihat sosok yang tersenyum lebar dengan gigi runcing. Intan yang berada di luar rumah merasakan takut sehingga dia kembali masuk kedalam.
Dalam perjalanan pulang Bejo sedikit lebih cepat karena ada sesuatu yang aneh dalam hatinya, dimana ia mendapatkan bisikan untuk membuka kotak itu segera sebelum jam 00.00 dini hari.
Setelah sampai di rumah, Bejo langsung membuka di ruang tamu.
Alangkah terkejutnya Bejo, di dalam kotak itu ada sebuah jas dan pakaian dua pasang untuk laki-laki. Lalu sebuah buku ATM yang di mana ada password lengkap dengan detail jumlahnya.
Tangan Bejo gemetaran ketika mendapatkan itu semua, di tambah satu lembar foto yang ternyata foto dirinya dengan seorang wanita muda di sampingnya.
"Gak mungkin!!," seru Bejo.
Air matanya turun tanpa suara, ia tak percaya setelah melihat foto dirinya bersama seorang wanita muda yang ternyata di kenali sepenuhnya.
"Ini hanya mirip saja, tidak mungkin ini kamu,"
Bejo terdiam sejenak, dia mencerna semuanya. Bayangan makam saat menurunkan jasadnya kini terngiang-ngiang dalam benak Bejo, dimana ia membantu sampai di minta adzan di pemakamannya.
Bejo kalut dalam kesedihannya, setelah ia sadar seseorang yang beberapa bulan ini menghilang tanpa kabar. Namun ada satu sosok yang menyerupai Sinta memandang ke arah Bejo.
"Mas.."
Ketika Bejo kalut mendengarkan suara perempuan yang begitu lembut memanggilnya.
"Siapa?,"
"Maafkan aku tidak bisa menjelaskan semua ini, tapi perlu ketahui namaku sebenarnya adalah Sinta bukan Nanda. Semua ini sudah aku siapkan untuk menunggu ulang tahunmu yang ke 19 tapi sepertinya aku tidak akan bisa ada disisimu."
Bejo termenung, suara samar-samar jelas di dengar oleh Bejo. Dia benar-benar frustasi kebingungan dengan semua ini, lalu Bejo membuka kembali semua yang ada di dalam kardus besar itu.
Satu buku kecil dengan pena masih ada di dalamnya, Bejo yang penasaran membuka buku itu. Semua catatan di mana awal bertemu dan berteman dekat sebelum berpisah beberapa bulan ini lengkap sudah ada di buku diary.
Lembaran terakhir yang membuat Bejo semakin yakin bawah Sinta adalah Nanda yang selama ini sangat baik membantu tanpa memperlihatkan nya.
"Untuk Bejo Mulyorejo. Pertemuan kita memang tidak di sengaja, tapi aku sangat suka dengan perjuanganmu. Aku tidak menyangka kamu orangnya sangat asik, aku suka dengan hal itu. Aku sadar kamu membutuhkan bantuan, setelah aku tau kehidupanmu sangat begitu berat tanpa kedua orang tua. Ini adalah hadiah yang aku siapkan untukmu, dan satu lagi. ATM ini adalah tabungan yang seharusnya aku pakai kuliah nanti, tapi aku ingin memberikan kepadamu agar kamu bisa membuat usaha yang kamu bicarakan denganku, semoga nanti kamu benar-benar sukses dengan usahamu sendiri. Tapi aku tidak begitu yakin akan bisa menemanimu, karena ada hal yang tidak bisa aku tuliskan dalam perjalanan ini. Semoga kamu tetap berjuang untuk mencapai tujuan dengan baik tanpa ada aku yang mendukungmu. Aku sangat mencintaimu Bejo Mulyorejo, sampai jumpa dan semoga kamu baik-baik saja."
Tangan Bejo bergetar membaca lembaran terakhir dalam buku diary Sinta. Tangis Bejo semakin terdengar sayu, dalam diamnya tanpa suara terisak-isak dalam kenangan bersama.
Saat Bejo menangis, sosok samar-samar Sinta berada di sampingnya. Dia memeluk tubuh Bejo dalam kerinduan nyata, dunia yang jauh berbeda kini telah memutuskan mereka sepenuhnya. Rasa sedih terlihat jelas dalam perbedaan alam yang nyata.
Bejo masih terisak-isak dalam tangisnya, ia tak percaya dengan sebuah fakta yang sudah ada di depan matanya.
"Jo.."
"Kamu kenapa Jo?,"
Dinda, Salsa dan Clara yang datang pagi-pagi untuk berangkat kesekolah terkejut melihat Bejo yang terlihat sangat pucat di ruang tengah.
Membuat kepanikan nyata dalam rumah Bejo pagi itu, Dinda berteriak meminta bantuan hingga kedua orang tua Mbak Mala keluar bersamaan.
Saat memegang tubuh Bejo sangatlah panas dingin, terlihat sangat pucat.
"Mala.. cepat telfon ambulans," seru Broto.
"Sudah ini ayah. Ambulans sudah mau kesini," balas Mbak Mala.
Dinda terus memegang tangan Bejo, ia menangis tersedu-sedu melihat kondisi Bejo pagi itu.
Ketila ambulans sudah sampai, Dinda hendak ikut masuk kedalam tapi di berhenti oleh Mbak Mala.
"Kamu sekolah dulu Dinda, nanti pulang kamu bisa kerumah sakit,"
"Tapi mbak, aku ingin ada di sisi Bejo,"
"Mbak tau, tapi sekolahmu lebih penting dan Mbak meminta tolong izinkan Bejo tidak masuk karena sakit,"
Dinda tidak menjawab, dia memandang kepergian ambulans yang membawa Bejo. Salsa dan Clara memenangkan Dinda, lalu mereka berangkat kesekolah bersama.
Dalam rumah sakit Bejo langsung di periksa melihat kondisinya terlihat sangat buruk, tidak butuh lama sang dokter menginfus Bejo karena kondisinya memang sangat buruk.
Mala terus menjaga Bejo, ia terus menahan air matanya.
Setelah mendapatkan kamar pasien Bejo di pindahkan ke sana.
"Bejo kemana Din? Kok gak bareng sama lu," tanya Jarot.
Dinda masih diam, matanya sebam karena menangis sepanjang jalan.
Jarot dan Dirga kebingungan, apalagi melihat mata Dinda seperti habis menangis. Salsa dan Clara terus menenangkan Dinda yang kini menangis kembali, membuat Jarot dan Dirga semakin di buat kebingungan.