"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Setelah pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki Gus Ibra perlahan menjauh, Bita mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya. Ia melemparkan pandangannya ke arah lemari pakaian besar bermaterial kayu jati yang dipoles kilap di sudut ruangan. Dengan langkah lunglai, ia berjalan mendekat dan membuka dua pintu lemari tersebut.
Bita sempat menduga bahwa isi lemari itu akan dipenuhi oleh deretan gamis longgar hitam atau baju kurung kaku yang membosankan. Namun, begitu pintunya terbuka lebar, kedua matanya mengerjap tidak percaya.
Di dalam sana, berderet rapi pakaian-pakaian baru yang tampaknya sengaja disiapkan oleh Umi. Kain-kainnya berbahan premium—mulai dari setelan celana kulot berpotongan longgar dengan atasan kemeja linen oversized, tunik modern bersiluet minimalis, hingga beberapa kardigan rajut dengan pilihan warna earth tone yang sangat estetik. Tidak ada satu pun pakaian yang terlihat kuno. Umi sepertinya tahu betul bagaimana cara memadukan selera busana anak muda kota tanpa melanggar batas kesopanan pesantren.
"Oke, setidaknya gue gak bakal kelihatan kayak ibu-ibu pengajian umur lima puluh tahun," gumam Bita pada dirinya sendiri.
Ia memilih sebuah setelan celana kulot longgar berwarna olive green dan atasan kemeja linen putih lengan panjang yang kasual. Setelah membersihkan sisa makeup tebal di wajahnya dan mengganti pakaian, Bita menyisir rambut hitam lurusnya yang kini tergerai bebas hingga ke pinggang. Ia sengaja tidak mengenakan jilbabnya kembali, mengingat Ibra sudah sah menjadi suaminya dan mereka kini berada di area private.
Namun, begitu tangannya menyentuh gagang pintu kamar untuk turun ke bawah, rasa gugup yang luar biasa mendadak menyerang pertahanan Bita. Perutnya terasa mulas. Bertemu dengan Gus Ibra dalam format formal di depan orang tua saja sudah membuat jantungnya tidak karuan, apalagi sekarang mereka harus berhadapan berdua saja di meja makan.
Bita menguatkan mentalnya. Ia memutar gagang pintu, melangkah keluar, dan menuruni anak tangga kayu ndalem dengan sangat pelan.
Suasana lantai bawah sudah sangat sepi. Jam menunjukkan pukul delapan malam lewat sedikit. Ketika Bita menginjakkan kakinya di ruang makan yang terletak di dekat dapur bersih bergaya minimalis modern, ia langsung menemukan sosok pria itu.
Gus Ibra duduk tenang di salah satu kursi makan. Pria itu tampak sedang fokus membaca sebuah kitab tebal bersampul gelap di bawah pencahayaan lampu temaram yang hangat. Begitu mendengar suara langkah kaki Bita yang mendekat, Ibra menutup kitabnya perlahan, lalu mendongakkan kepalanya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Ibra tidak lagi menurunkan pandangan matanya. Sesuai dengan status mereka yang kini sudah halal, sepasang mata tajam milik Ibra menatap lurus tepat ke arah wajah Bita. Tatapannya begitu intens, dalam, namun tetap memancarkan ketenangan yang menghanyutkan.
Bita mendadak salah tingkah mendapat serangan tatapan seperti itu. Ia berdeham kencang, mencoba mengusir kecanggungan, lalu menarik kursi di seberang Ibra dengan suara derit yang agak keras.
"Nih, gue udah turun," kata Bita, ketus seperti biasa untuk menutupi rasa gugupnya.
Ibra tidak membalas ketukan ketus istrinya dengan kekesalan. Pria itu justru menggeser beberapa wadah makanan yang menyajikan sayur asem, ayam goreng bumbu lengkuas, sambal terasi segar, dan sebakul nasi hangat ke arah Bita.
"Silakan duduk," ucap Ibra pelan. Suaranya terdengar sangat adem di keheningan ruang makan.
Bita duduk, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap deretan makanan di depannya tanpa minat. "Lo gak makan?"
"Nunggu kamu," jawab Ibra irit bicara.
"Gak usah sok manis deh," tembak Bita blak-blakan, menatap Ibra dengan tatapan menantang. "Kita berdua tahu kalau pernikahan ini cuma paksaan dari bokap gue gara-gara dia udah angkat tangan sama kelakuan gue. Lo gak perlu berakting jadi suami idaman di depan gue kalau gak ada orang tua."
Ibra terdiam sejenak. Ia tidak terpancing amarah sama sekali mendengar kalimat sarkas yang keluar dari bibir Bita. Dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan anggun, Ibra justru meraih piring kosong di depan Bita, lalu menyendokkan nasi hangat ke dalamnya.
"Mau seberapa banyak nasinya?" tanya Ibra, mengabaikan seluruh rentetan kalimat ketus Bita seolah itu hanyalah angin lalu.
Bita menghela napas kasar, merasa serangannya mental begitu saja di hadapan tembok ketenangan suaminya. "Dikit aja. Gue lagi diet, gak biasa makan karbo banyak kalau malam."
Ibra mengurangi porsi nasinya hingga tersisa beberapa sendok, lalu meletakkan piring itu kembali di hadapan Bita. "Segini cukup?"
"Cukup." Bita merengut, mulai mengambil sepotong ayam goreng dan sedikit sayur asem dengan malas.
Suasana kembali hening selama beberapa saat. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Bita mengunyah makanannya dengan gusar. Otaknya dipenuhi oleh ratusan pertanyaan yang sejak dua minggu lalu berputar-putar tanpa jawaban. Karena tidak tahan dengan keheningan ini, Bita akhirnya meletakkan sendoknya agak keras di atas piring.
"Gue mau nanya serius sama lo," kata Bita, menatap lekat mata Ibra.
Ibra menghentikan gerakannya, meletakkan sendoknya dengan sangat rapi, lalu membalas tatapan Bita dengan tenang. "Silakan."
"Kenapa lo mau dijodohin sama gue?" tanya Bita, nadanya menuntut. "Lo itu Gus. Anak tunggal pemilik pesantren elit. Lo pasti tahu dari bokap gue kalau track record gue di Jakarta itu hancur. Gue hobi dunia malam, pulang subuh, pakaian gue terbuka, dan gue bahkan pernah muntah di sepatu mahal lo dalam keadaan mabuk berat! Kenapa lo gak nolak perjodohan gila ini pas bokap gue minta?"
Ibra menatap Bita selama beberapa detik tanpa ekspresi, membuat Bita makin gemas.
"Sebab Abi yang meminta saya untuk menerimanya," jawab Ibra, suaranya terdengar sangat datar namun mantap.
"Cuma gara-gara nurut sama bokap lo?!" Bita mendengus kencang, merasa jawaban itu sangat tidak masuk akal. "Lo kan udah gede, punya moge, punya kehidupan sendiri. Lo gak punya pendirian apa sampai urusan nyari istri aja harus disetir sama orang tua?"
Ibra perlahan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu jati. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Bita dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Nurut pada orang tua itu bagian dari pendirian saya, Tsabita," ucap Ibra dengan penekanan yang sangat lembut namun telak. "Abi tidak pernah meminta sesuatu dari saya jika itu bukan hal yang baik. Dan saya percaya pilihan beliau."
Bita terkekeh sinis, menyembunyikan rasa tertamparnya. "Pilihan yang baik? Lo sebut cewek berandalan kayak gue ini pilihan yang baik buat seorang Gus? Yang bener aja lo! Di luar sana ada ribuan santriwati yang ngantre pengen jadi istri lo. Yang sholeha, yang pinter ngaji, yang kalem... kayak Mbak Safira, contohnya!"
Bita menjeda kalimatnya, dadanya naik turun menahan emosi yang mendadak meluap saat mengingat wajah pucat kakaknya tadi siang. "Mbak Safira itu sempurna banget. Kenapa bokap lo gak jodohin lo sama dia aja? Kenapa harus gue yang jelas-jelas bakal bikin reputasi lo hancur di pesantren ini?"
Mendengar nama Safira disebut, ekspresi wajah Ibra tidak berubah sedikit pun. Ketidakterbacaan wajahnya membuat Bita makin frustrasi.
"Pernikahan itu bukan soal mencari siapa yang paling sempurna di mata manusia, Bita," tutur Ibra, suaranya mengalun sangat rendah, terdengar begitu tenang namun penuh karisma di telinga Bita. "Tapi tentang siapa yang ditakdirkan untuk saling melengkapi dan dibimbing. Kebetulan, nama yang tertulis di Lauhul Mahfuz saya adalah nama kamu, Tsabita Azzahra. Bukan kakak kamu."
Kalimat itu meluncur dari bibir Ibra dengan begitu tenangnya, namun sanggup membuat seluruh sistem pertahanan di otak Bita mendadak stuck. Wajah Bita seketika terasa memanas. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, berpura-pura batuk kecil untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
"G-gak usah bawa-bawa takdir deh! Gombalan lo gak mempan buat gue," ketus Bita, suaranya sedikit bergetar. Ia buru-buru mengalihkan topik pembicaraan sebelum Ibra menyadari rona merah di pipinya. "Terus, malam itu... ngapain lo ada di parkiran lounge elite daerah Senopati? Pakai moge hitam segala. Gaya lo malam itu sama sekali gak mencerminkan kalau lo seorang Gus dari pesantren suci ini."
Ibra menarik napas pendek, lalu meraih gelas air putihnya. "Saya manusia biasa, Bita. Bukan malaikat yang hidupnya hanya di dalam masjid. Saya punya kehidupan dan tanggung jawab di luar kompleks pesantren ini."
"Maksud lo?" Bita menaikkan sebelah alisnya penasaran.
"Saya mengurus beberapa lini bisnis otomotif dan ekspor-impor bersama teman-teman saya di Jakarta," jelas Ibra setelah meneguk airnya. "Malam itu, saya baru selesai menghadiri pertemuan dengan klien penting di area dekat sana. Kebetulan saya sedang mengendarai motor, dan saya berhenti di parkiran itu hanya untuk membalas pesan singkat dari Abi sebelum kembali pulang. Tapi tiba-tiba... ada seorang gadis mabuk yang menarik kerah baju saya dan mengira saya tukang parkir."
Mendengar kronologi singkat itu, Bita langsung merutuki dirinya sendiri dalam hati. Wajahnya yang tadinya sudah memerah kini makin terasa terbakar karena rasa malu yang teramat sangat. Kejadian malam itu benar-benar aib terbesar sepanjang sejarah hidupnya.
"Y-ya kan gue gak sengaja! Lagian lo ngapain diem aja kayak patung pas gue maki-maki?!" bela Bita dengan suara yang sengaja ditinggikan untuk menutupi rasa malunya.
"Kalau saya balas memaki kamu yang sedang tidak sadar, apa bedanya saya dengan orang mabuk?" balas Ibra santai, sebuah sudut bibirnya terangkat sangat tipis membentuk senyuman rahasia yang super menyebalkan di mata Bita.
Bita mendengus kencang, memilih untuk menyudahi pembahasan malam terkutuk itu. Ia menegakkan tubuhnya, memasang wajah seserius mungkin untuk masuk ke inti negosiasi yang paling penting baginya.
"Oke, lupain soal malam itu. Sekarang kita bahas soal masa depan gue di sini," kata Bita sambil mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja. "Gue gak mau dikekang di pesantren ini. Gue tetep mau melanjutkan kuliah gue di Jakarta Selatan, dan gue tetep mau main sama teman-teman gue. Lo gak bisa kurung gue di dalam ndalem ini seumur hidup."
Ibra menatap Bita lekat-lekat, mendengarkan tuntutan istrinya dengan saksama. "Kuliah silakan dilanjutkan. Saya tidak akan melarang kamu menuntut ilmu."
Bita sedikit terkejut dengan jawaban cepat Ibra. "Serius? Terus soal main sama temen-temen gue? Nongkrong di kafe?"
"Boleh," jawab Ibra pendek. "Saya tidak punya niat untuk mengubah kamu menjadi orang lain dalam waktu satu malam. Proses itu butuh waktu, dan saya tidak suka memaksa."
Bita langsung berbinar senang, merasa di atas angin. "Wah, bagus kalau gitu! Berarti gue bebas dong?"
"Ada syaratnya, Tsabita," potong Ibra lembut, namun kata 'syarat' itu seketika meruntuhkan senyuman di wajah Bita.
"Syarat apa lagi?" gerutu Bita malas.
Ibra memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja, mengunci pandangan mata Bita dengan tatapan tajamnya yang berwibawa. "Pertama, tahu waktu. Pulang sebelum larut malam. Kedua, tidak pergi ke tempat-tempat yang bisa membahayakan keselamatan atau kehormatan diri kamu sendiri seperti malam itu. Dan yang ketiga, yang paling penting..."
Ibra menjeda kalimatnya sejenak, membuat Bita menahan napas penasaran.
"Setiap kali kamu mau melangkah keluar dari gerbang pesantren ini, kamu harus izin dan mendapatkan rida dari saya dulu," lanjut Ibra dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan otoritas mutlak seorang suami. "Sekarang, saya adalah penanggung jawab penuh atas diri kamu. Dunia dan akhirat."
Kata-kata terakhir Ibra terasa begitu berat menekan dada Bita. Sifat keras kepala Bita mendadak merasa tertantang. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Ibra dengan pandangan meremehkan.
"Kalau gue melanggar? Kalau gue tetep pergi diem-diem tanpa izin lo, lo mau ngapain? Mau jemur gue di tengah lapangan pesantren biar ditonton seluruh santri lo? Atau mau aduin gue ke Papa biar fasilitas gue dicabut lagi?" tantang Bita berani.
Gus Ibra tidak marah. Ia justru mengembuskan napas pendek, lalu bersandar kembali di kursinya. Senyuman tipis misterius yang sangat tenang kembali terukir di wajah tampannya, membuat Bita mendadak merinding tidak menentu.
"Saya bukan tipe pria yang suka mengadu atau memberikan hukuman fisik yang tidak mendidik, Bita," jawab Ibra, suaranya terdengar begitu adem namun menyimpan misteri yang pekat.
"Terus? Hukuman apa yang mau lo kasih ke gue?" cecar Bita, penasaran sekaligus waswas.
Ibra perlahan berdiri dari kursinya, merapikan letak sarung tenun gelapnya yang melilit rapi di pinggang, lalu menatap Bita dari ketinggian tubuh jangkungnya.
"Lihat saja nanti kalau kamu berani mencobanya," bisik Ibra pelan, nadanya terdengar begitu lembut namun penuh ancaman psikologis yang berhasil membungkam total lidah tengil Bita.
Pria itu kemudian mengambil kitab tebalnya dari atas meja. "Habiskan makanan kamu. Kalau sudah selesai, piringnya biarkan saja di atas meja, besok pagi ada yang akan membersihkannya. Saya tunggu kamu di kamar untuk sholat isya berjamaah."
Tanpa memberikan celah sedikit pun bagi Bita untuk melayangkan protes atau kalimat sarkas susulan, Gus Ibra berbalik badan dan melangkah tenang meninggalkan ruang makan dengan kewibawaan yang tak terbantahkan.
Bita terpaku sendirian di kursinya, menatap punggung tegap yang perlahan menghilang di balik tangga dengan perasaan campur aduk. Ia menyentuh dadanya yang mendadak berdegup dengan ritme yang terlalu cepat. Di hadapan ketenangan, kelembutan, dan otoritas misterius dari suaminya yang irit bicara itu, Tsabita Azzahra perlahan menyadari... bahwa hidupnya di pesantren ini tidak akan pernah berjalan mudah seperti yang ia bayangkan.