Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9.
Gerimis di pagi hari membuat tubuh malas bangun apalagi beraktifitas. Rasa lelah kemarin belum hilang sepenuhnya, pagi ini seakan tak berpihak pada Salindra yang sedang merasakan awal masuk kerja. Dengan malas ia bangun dan berjalan ke kamar mandi. Air dingin masuk melalui pori-pori kulit bikin merinding.
Di ruang makan dua saudara menikmati sarapan pagi dengan nikmat. Wajah yang tadi malas berubah menjadi semangat begitu merasakan makanan masuk ke dalam mulut.
Dari arah ruang tamu seseorang masuk tanpa permisi. Dia adalah Hezel kekasih Jayanti akan menjemput pujaan hatinya. Raut bahagia terlihat di wajah pria berparas tampan membuat dua pasang mata menoleh bersamaan karena terkejut.
"Selamat pagi, semua. Pas banget aku juga belum sarapan," katanya sambil duduk tanpa merasa sungkan.
Jayanti dan Salindra saling pandang. Jayanti berdiri mengambil piring dan memberikan kepada Hezel. Mereka bertiga menghabiskan sarapan bersama.
“Sudah selesai semua, ayo kita berangkat bersama," ajak Hezel berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk dua bersaudara.
Salindra merasa sungkan naik mobil bersama mereka, masih berdiri di depan rumah. Jayanti dan Hezel menoleh paham apa yang dirasakan Salindra.
"Kenapa masih berdiri, cuaca masih hujan kamu nanti terlambat loh, ayo buruan masuk," perintah Jayanti.
"Aku naik motor saja, ada mantel tidak akan kehujanan," kata Salindra menolak dengan halus.
"Jalanan licin, takut tergelincir. Naik motornya bisa lain waktu, cepat masuk," bentak Jayanti tidak sabar melihat sikap Salindra yang lemot.
Salindra berlari kecil masuk ke dalam mobil dan duduk dengan sungkan. Hezel menyalakan mesin dan melaju keluar dari area rumah mereka. Saat di perjalanan Salindra teringat wajah ayahnya begitu bahagia bersama keluarga barunya, hatinya semakin benci.
Hezel melihat Salindra dari kaca spion dalam mobil merasa heran. Ia melirik sekilas ke belakang, wajah Salindra nampak merah seperti sedang menahan marah.
"Kalau ada masalah kamu cerita jangan dipendam sendiri," kata Hezel.
Salindra terkejut mendengar perkataan Hezel segera menetralkan suasana hatinya dan menghapus jejak airmata dengan cepat.
"Siapa yang punya masalah?" Salindra menepis dugaan Hezel seolah dirinya sedang punya masalah padahal memang iya. Tapi tidak mau melibatkan mereka berdua.
"Apa bos kamu jahat atau ada temanmu?" tanya Jayanti yang sudah berpengalaman di dunia kerja memang ada yang seperti itu. Jadi, ia tidak begitu terkejut.
“Tidak ada, semua baik padaku," sahut Salindra bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Jayanti dan Hezel tersenyum melihat kelakuan Salindra pintar berbohong. Mobil berhenti tepat di depan pintu perusahaan tempat Salindra bekerja. Beberapa pasang mata melihat siapa yang akan keluar dari mobil mewah tersebut.
Saat Salindra keluar dari mobil, semua orang terkejut tak percaya. Salindra menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke perusahaan. Ia melihat beberapa orang sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan heran, ada juga yang mukanya sinis jelas kalau mereka tidak suka dengannya.
Di lorong jalan Salindra melihat seseorang berjalan sendirian berlawanan arah dengannya, begitu dekat keduanya saling menatap satu sama lain.
Deg...
"Seperti pernah lihat, tapi dimana?" batin Salindra dengan degup jantung berpacu cepat.
Sedangkan pria tak lain adalah Arya hanya melirik sekilas lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat, membuat Salindra semakin penasaran.
“Kamu kenal sama Pak Arya?" tanya Vita mengikuti pandangan Salindra pada Arya yang semakin menjauh dan menghilang di lorong tikungan.
"Rasanya pernah melihat, sudahlah tidak usah dipikirkan. Saatnya bekerja," Salindra mengalihkan pembicaraan.
“Kalau kenal deketin aja siapa tahu jodoh," Vita tidak bermaksud menyuruh Salindra mendekati Arya itu hanya sebuah akal-akalan dia saja.
"Aku gak ada niat ke sana, kalau kamu suka deketin sendiri tidak usah suruh orang lain-lah,“ sahut Salindra masuk ke dalam ruang kerjanya.
Panggilan telepon yang ada di dalam ruangan masuk Salindra langsung mengangkat memintanya ke ruangannya saat itu juga, tidak boleh di tolak. Salindra mendengus kesal baru masuk sudah di suruh ke ruangannya, dengan langkah malas ia keluar menuju ruang Direktur.
Pintu di buka setelah Salindra beberapa kali mengetuk. Salindra masuk sambil menunduk hormat menyapa Asisten Rayan dengan senyum ramah. Salindra berdiri di depan meja Direktur dengan jantung berdegup cepat.
Haikal menatap lekat wajah Salindra kemudian berkata. "Aku ingin kamu menemani saya meeting di luar kota,"
Salindra terkesiap mengangkat kepalanya menatap wajah Haikal. Ia merasa belum sanggup bekerja di luar tapi ketika ingin menolak Haikal mengangkat tangan. Asisten Rayan sudah siap dengan map di tangannya memberikan kepada Salindra.
"Nona, ini berkas yang harus anda pelajari sebelum berangkat, jangan lupa copy laporan kemarin di bawa, ingat jangan sampai ketinggalan,“ perintah Asisten Rayan.
Salindra meraih map dari tangan Asisten dengan tangan bergetar membuat Asisten menahan tawa. Ia mendekatkan wajahnya dekat ke telinga Salindra berbisik. "Santai saja, tidak usah takut. Nanti juga terbiasa,"
“Pak Haikal, Pak Rayan, saya permisi kembali ke ruangan saya," Salindra berpamitan tanpa melihat wajah mereka.
Setelah Salindra keluar kedua pria Atasan dan Asisten tertawa. Haikal sedari tadi menahan tawa sampai perutnya sakit sedangkan Asisten Rayan sampai mengeluarkan airmata.
"Terlalu polos dia, wajahnya itu membuatku geli," kata Haikal mengingat Salindra berdiri di depannya dengan menunduk takut.
"Lagian wajah anda menakutkan sekali, lain kali pasang senyum biar orang lain tidak merasa takut dengan anda," kata Asisten Rayan menghentikan tawanya.
"Sial," gumam Haikal melempar ballpoint ke arah Asistennya.
Rayan tertawa puas melihat bosnya marah. Ia memperhatikan bosnya sejak melihat Salindra merasa ada yang lain. “Sepertinya menarik siapa tahu berhasil," batin Asisten Rayan.
Di ruang sekretaris Salindra mempersiapkan materi dan mempelajari dengan baik dan teliti. Ia tidak mau mengecewakan bosnya karena ini adalah pertama kali diajak meeting di luar bersama klien jadi, dia harus benar-benar fokus dan tidak boleh salah sedikitpun.
“Nona Salindra, apakah anda sudah siap berangkat?" tanya Asisten Rayan masuk ke dalam ruangannya.
Salindra terkejut ada orang masuk tanpa mengetuk pintu, ia tidak sadar kalau Asisten Rayan sudah berdiri lama di sana, sedangkan ia masih membolak-balikkan kertas di tangannya. Salindra langsung berdiri dan memberi hormat kepada Asisten itu merasa bersalah.
“Maaf Pak Rayan, saya tidak tahu kalau anda masuk. Saya sedang mempelajari laporan anda,“ kata Salindra dengan sekali tarik napas kemudian menghembuskannya perlahan.
Asisten Rayan memperhatikan Salindra dan melihat beberapa kertas di atas meja tersenyum tipis. "Bereskan kertas itu berurutan dan masukkan sesuai map-nya, awas jangan tertukar teliti kembali kemudian keluar karena bos sudah menunggu jangan terlalu lama," perintah Asisten Rayan kemudian berjalan keluar sambil menahan tawa.
Salindra mengumpat melihat Asisten Rayan keluar sambil merapikan kertas laporan lalu, memasukkan ke dalam map. Tidak lama pintu di ketuk dari luar, membuat Salindra gelagapan dan merapikan meja lalu, dengan cepat ia membuka pintu dan
Brukk
“Aduh,"
"Eh, Maaf,“
"Kamu kenapa ceroboh sekali?" kata Vita mengaduh sakit karena ia terjatuh di lantai.
Salindra membantunya berdiri dan mengambil map yang jatuh. "Maaf aku tidak sengaja, aku terburu-buru,"
Vita melihat wajah panik Salindra dan melihat map di tangannya juga tas kecil menggantung di bahunya, menatap heran.
“Nona Salindra, ayo berangkat,“ perintah Asisten Rayan ketika melihat Salindra bersama Vita.