NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

‎Malam ini, suasana di kediaman keluarga Reza terasa tebal dan panas, jauh lebih panas daripada udara siang yang menyengat tadi. Papa Reza baru saja pulang dari kantor saat pembantu rumah tangga yang melihat serta mendengar semua kejadian di ruang tamu tadi siang, dengan hati-hati menceritakan semuanya kepadanya. Ya,setiap kali Raga pergi dinas atau ada urusan keluar kota, Papa Reza pasti akan datang ke perusahaan untuk mengecek dan mengawasi langsung semua jalannya pekerjaan.

‎‎"Ma," panggil Papa Reza, membuat istrinya yang sedang duduk santai di ruang tengah seketika menoleh dengan kening berkerut. "Apa benar semua yang dikatakan Bi Sumi? Apakah kamu menghina Risa di depan semua teman arisanmu tadi siang? Bahkan kamu mengatakan hal yang sangat kasar dan menyakitkan hati seperti itu?"

‎Wajah Rima seketika berubah masam, ia langsung mematikan televisi dengan kasar, lalu berdiri tegak menghadap suaminya.

‎‎"Ya, benar! Lalu apa masalahnya? Apa yang salah dengan perkataanku?!" seru Mama Rima dengan nada sewot, sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. "Aku bicara apa adanya! Dia memang tidak bisa memberi keturunan, itu fakta yang sudah diketahui semua orang! Aku cuma mengatakan kenyataannya!"

‎‎Papa Reza menghela napas panjang, dadanya naik turun karena kesal melihat sikap istrinya yang tidak mau mengakui kesalahan sama sekali.

‎‎"Kenyataan? Kamu menyebut penghinaan itu sebagai kenyataan, Ma?!" nada suara Papa Reza semakin keras, matanya menatap tajam ke arah istrinya. "Kamu adalah ibu, kamu mertuanya, seharusnya kamu melindungi, menghargai, dan menyayangi menantumu, bukan malah menjatuhkan harga dirinya di depan orang banyak! Apakah kamu tidak malu? Semua temanmu pasti sudah menilai kamu sebagai wanita yang kasar dan tidak punya hati nurani!"

‎‎"AKU TIDAK SALAH APA-APA!" teriak Mama Rima meledak, tidak mau kalah, air matanya bahkan sudah mulai keluar karena marah. "Semua itu salah Risa! Dia yang berani melawan dan berani bicara kasar padaku, bahkan dia pergi begitu saja tanpa menghormati aku sebagai ibu mertuanya! Dia yang memulai semuanya, kenapa kamu malah memihak dia?! Apakah kamu sudah lupa, dia itu orang luar yang masuk ke keluarga ini!"

‎‎"Rima! Kamu sudah keterlaluan!" bentak Papa Reza dengan suara keras, membuat Mama Rima seketika diam sejenak karena kaget. "Risa sudah menjadi bagian keluarga kita selama lima tahun! Dia wanita baik dan selalu menghormati kita berdua sebagai orang tua. Tapi semua kesabaran dan kebaikannya kamu balas dengan penghinaan berulang kali! Kamu pikir dia tidak punya perasaan? Kamu mempermalukan dia seperti sampah hanya karena dia belum bisa memberikan keturunan buat keluarga kita!"

‎‎Kata-kata itu membuat amarah Mama Rima semakin meluap habis-habisan. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan kasar, wajahnya merah padam penuh dendam.

‎‎"Baiklah! Kalau kamu begitu memihak dan membela dia, silakan saja! Tapi ingat baik-baik! Begitu Raga pulang dari dinas luar kota nanti, aku akan langsung menceritakan semua kelakuan buruk Risa padanya! Aku akan katakan betapa kurang ajarnya dia karena sudah mulai berani melawan ibu mertuanya sendiri!"

‎‎Suara Mama Rima melengking keras, bergema di seluruh ruangan tengah.

‎‎"Aku akan minta Raga untuk mengambil tindakan tegas dan berpikir ulang soal pernikahan mereka! Kalau dia masih mau mendengarkan kata-kataku sebagai ibunya, dia pasti akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah! Aku tidak akan diam saja melihat menantu yang kurang ajar itu berbuat sesuka hati padaku!"

‎‎Papa Reza hanya menatap istrinya dengan pandangan kecewa yang dalam, hatinya terasa sakit melihat betapa keras hati dan tertutupnya hati wanita yang sudah mendampinginya puluhan tahun ini.

‎‎"Silakan saja lakukan apa yang kamu mau," ucap Papa Reza akhirnya dengan suara dingin dan datar, penuh kekecewaan. "Tapi ingat satu hal, kamu yang menanam, kamu pula yang akan memanen. Suatu hari nanti, kamu akan menyesal karena sudah terlalu kejam pada orang yang sudah sangat baik pada keluarga kita."

‎‎Setelah mengucapkan itu, Papa Reza tidak mau lagi berdebat atau bicara satu kata pun lagi. Ia membalikkan badan, berjalan pergi menuju kamarnya, meninggalkan Mama Rima yang masih berdiri gemetar karena amarah.

-

-

-

‎Risa masuk ke dalam kamarnya yang tampak sunyi, lalu menutup pintu pelan-pelan. Di tangannya masih erat digenggam amplop cokelat yang berisi segala bukti pengkhianatan Raga, benda yang menjadi saksi nyata betapa semua pengorbanan yang ia berikan selama lima tahun ini sia-sia.

‎‎Ia melangkah perlahan menuju meja kerja di sudut ruangan, lalu meletakkan amplop itu di atas permukaan meja.

‎‎Matanya perlahan terangkat, menatap lurus ke arah dinding di depannya. Disana, terpajang besar dan indah foto pernikahan mereka berdua. Raga tampak tampan dengan baju pengantin, tersenyum bahagia sambil memeluk bahu Risa yang mengenakan gaun putih, wajahnya bersinar penuh harapan dan cinta yang tulus.

‎‎Pemandangan itu seolah menusuk hati Risa kembali, membuat ingatannya tiba-tiba terbang melayang, kembali ke masa tiga tahun yang lalu - saat semua kesalahan, semua kebohongan, dan semua penderitaannya sebenarnya baru saja dimulai.

‎‎Saat itu, mereka berdua datang ke rumah sakit untuk melakukan cek kesehatan lengkap, atas permintaan Mama Rima yang terus mendesak, ingin tahu alasan mengapa sampai saat ini mereka belum dikaruniai keturunan. Hari itu mereka datang bersama, duduk berdampingan di ruang tunggu, saling mendukung apapun hasilnya nanti.

‎‎Namun tepat saat dokter spesialis itu hendak membuka berkas hasil pemeriksaan dan mulai menjelaskan detailnya, ponsel Raga tiba-tiba berdering keras. Wajah Raga seketika berubah tegang, ia segera mengangkat panggilan itu, mendengarkan sebentar lalu menoleh ke arah Risa dengan nada terburu-buru.

‎‎"Maaf, Sayang… ada panggilan mendesak dari kantor, ada masalah besar yang harus aku selesaikan sekarang juga. Aku harus pergi dulu, nanti aku tanya hasilnya padamu ya." seru Raga cepat, tanpa menunggu jawaban Risa, ia langsung berlari keluar ruangan pemeriksaan, meninggalkan Risa sendirian di hadapan dokter.

‎‎Risa hanya bisa mengangguk pelan, menahan rasa kecewa yang sedikit muncul di hatinya. Ia duduk diam, menunggu sampai suara langkah kaki Raga benar-benar menghilang, lalu kembali menatap dokter yang sudah siap dengan berkas di tangannya.

‎‎"Baiklah, Bu Risa. Karena Suami Ibu sudah pergi, maka saya akan menjelaskan hasil pemeriksaan ini langsung kepada Ibu," ucap dokter itu dengan nada serius dan lembut, lalu membuka lembaran kertas hasil tes kesehatan.

‎‎"Bu Risa… hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi kesehatan Ibu sangat baik, rahim dan sistem reproduksi Ibu berfungsi normal, sempurna untuk hamil dan melahirkan. Sedangkan untuk hasil pemeriksaan Pak Raga… saya sangat menyesal harus memberitahu hal ini. Hasilnya menunjukkan bahwa Pak Raga mengalami kondisi medis, yaitu mandul. Kemungkinan besar, beliau tidak akan bisa memiliki keturunan secara alami."

‎‎Darah Risa seketika berhenti mengalir, tubuhnya kaku, matanya membelalak lebar tidak percaya. Mulutnya terbuka namun tidak ada satu katapun yang bisa keluar.

‎‎Tanpa sadar, air mata Risa menetes pelan. Ia segera memegang tangan dokter itu dengan kedua tangannya, memandang dokter itu dengan pandangan memohon yang penuh kepedihan.

‎‎"Dokter… tolong saya, Dokter… saya mohon," ucap Risa dengan suara gemetar, napasnya terputus-putus. "Tolong ubah hasil pemeriksaan itu. Tolong tuliskan bahwa sayalah yang bermasalah, sayalah yang mandul, bukan Mas Raga."

‎‎Dokter itu tersentak kaget, wajahnya berubah serius dan menolak tegas.

‎‎"Bu Risa! Itu tidak mungkin! Itu melanggar etika profesi dan aturan medis, saya tidak boleh dan tidak bisa memalsukan hasil pemeriksaan seperti itu! Itu hal yang sangat salah dan berbahaya, Bu!"

‎‎"Saya tahu, Dokter… saya tahu itu salah, saya tahu itu melanggar aturan," tangis Risa semakin menjadi-jadi, ia menundukkan kepalanya rendah, terus memohon dengan sekuat tenaga. "Tapi Dokter, saya hanya ingin menjaga harga diri suami saya, saya hanya ingin menjaga nama baik keluarga mereka. Mas Raga itu sangat bangga, Dokter, dia tidak akan pernah tahan jika hal ini diketahui orang lain. Mama mertua saya juga sangat keras, jika tahu anaknya bermasalah, dia akan sangat sedih dan menderita."

‎‎"Dokter, saya mohon… hanya ini permintaan saya. Biarkan saya yang menanggung semuanya, biarkan saya yang dianggap cacat, biarkan saya yang dihina, biarkan saya yang disalahkan. Saya kuat, Dokter, saya bisa menanggungnya. Tapi Mas Raga tidak akan sanggup. Tolonglah Dokter… saya mohon."

‎‎Risa terus memohon, terus menangis, terus mendesak tanpa henti, sampai akhirnya hati dokter itu luluh melihat kepedihan dan pengorbanan yang luar biasa dari wanita muda di hadapannya itu. Dokter melihat betapa tulusnya niat Risa, betapa besar cinta dan kesetiaan yang wanita itu miliki terhadap suaminya.

‎‎Dengan berat hati dan rasa bersalah yang besar, dokter itu akhirnya mengangguk pelan.

‎‎"Baiklah, Bu Risa… saya akan lakukan apa yang kamu minta. Tapi ingat baik-baik, hanya kali ini saja. Saya melakukannya hanya karena melihat ketulusan hatimu ini. Tapi mungkin kamu akan menanggung semua celaan dan penghinaan seumur hidupmu, apa kamu sanggup?"

‎‎"Tidak apa-apa, Dokter… asalkan itu bukan Mas Raga, saya rela menanggung apapun," jawab Risa seraya menghapus air matanya, tersenyum tipis meskipun hatinya sedang hancur.

‎‎Hari itu juga, dokter itu mengubah seluruh catatan hasil pemeriksaan, menuliskan nama Risa sebagai pasien yang mengalami gangguan kesuburan, sementara hasil Raga dinyatakan sehat sempurna.

‎‎Dan sejak hari itu juga, Risa mulai hidup dalam kebohongan besar yang ia buat sendiri demi orang yang ia cintai. Ia menerima semua tuduhan, semua hinaan, semua pandangan kasihan dan ejekan dari orang lain, diam-diam menahan rasa sakit itu sendirian, tidak pernah sekalipun membuka mulut mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya.

‎‎Ia mengira pengorbanan besar itu akan membuat Raga menghargainya, membuat Raga mencintainya lebih dalam, membuat rumah tangga mereka bahagia.

‎‎Namun kenyataannya?

‎‎Risa kembali menatap amplop cokelat di atas meja, lalu kembali menatap foto pernikahan mereka yang tersenyum bahagia itu. Matanya kembali dingin, penuh rasa jijik dan kecewa yang mendalam.

‎‎"Aku menjaga harga dirimu, tapi kamu malah menghancurkan harga diriku sampai ke dasar bumi. Aku menutupi aibmu, tapi kamu malah mengkhianati kepercayaanku dengan begitu mudahnya, Mas..." bisik Risa pelan.

‎‎"Mulai sekarang, aku tidak akan lagi menanggung bebanmu. Dan kebenaran yang selama ini aku sembunyikan rapat-rapat… pada akhirnya kamu sendirilah yang akan mengungkapkannya."

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
Anonim
JONTOL
vj'z tri
bagaimana caraaaa nya untukk kau bisa mengerti bahwa aku iriiii 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
jika Oma sama ibu tahu siapa yang lagi di Pepet icik bos pasti girang 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
eeeeeeeaaaaaaa ee ee eaaaaaa eeeeeaaaaa 🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
gak say biar icik bos yang langsung turun tangan 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!