NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Membingungkan

Aira menggigit bibir bawahnya ketika ia sampai kembali di rumah dinas Baskara. Ia tampak canggung. Sekarang saatnya ia dan Baskara benar-benar hanya berdua di rumah dinas itu.

"Besok dinas jaga jam berapa, Ai?" tanya Baskara seraya membuka kemejanya tanpa malu di hadapan Aira.

Aira sontak segera menutup kedua matanya dengan tangan sambil sedikit berteriak.

"Kamu ngapain buka baju disini, sih?" tanya Aira kesal.

Baskara tersenyum simpul. Ia menaikkan satu alisnya saat Aira mulai membuka sedikit tangannya dan mengintip dari baliknya.

"Penasaran, Ai?" goda Baskara.

"Ih! Enggak!"

Aira segera berlari ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Aira berdiri di balik pintu kamarnya seraya memegangi bagian dadanya yang berdegup cepat. Sumpah, Aira tiba-tiba merasa gugup. Mungkin karena ia sekarang berada di rumah berdua saja dengan Baskara.

"Sorry, deh. Nggak lagi buka baju sembarangan. Besok kamu jaga jam berapa? Biar aku antar," ucap Baskara.

Aira membuka pintu kamarnya sedikit, lalu melihat jika Baskara sudah berpakaian, ia pun membuka pintunya seraya berdehem.

"Besok tukar jaga jam tujuh pagi, tapi biasanya aku harus sampai rumah sakit jam enam. Kalau kamu belum bangun, aku bisa naik taxi aja, Bas."

Baskara menggeleng. "Tenang. Besok dijamin jam enam sudah siap berangkat. Kamu istirahat dulu, gih. Besok aku antar."

***

Alarm berbunyi.

Pagi ini Aira bangun dengan badan yang jauh lebih segar. Rupanya ia bisa juga tidur nyenyak di rumah barunya. Aira mematikan alarmnya. Ia mengambil pakaiannya dan bersiap untuk mandi. Aira menatap ke arah jam dinding.

Pukul lima pagi.

Ia berjalan keluar. Pelan-pelan ia melangkah, takut mengganggu Baskara. Namun, Aira terkejut saat tidak menemukan Baskara di dalam rumah. Aira mencari Baskara di kamar mandi, di belakang, di gudang, tidak ada sosoknya. Aira buru-buru mengambil ponsel, hendak menelpon suaminya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Baskara membuka pintu depan.

Pria itu mengenakan sepatu lari, celana dan jaket parasut.

"Pagi, Ai. Sudah bagun?" tanya Baskara seraya meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.

"Kamu dari mana?" tanya Aira bingung.

"Biasa. Lari pagi. Aku tadi mampir ke Bapak Nasi Uduk di ujung jalan sana, beli sarapan buat kita."

"Oh. Oke. Makasih, tapi maaf, aku nggak biasa sarapan."

Baskara meletakkan dua bungkus nasi uduknya di atas piring. Usai mendengar ucapan Aira, ia kembali memasukkan nasi uduknya ke dalam plastik.

"Ya udah, bisa dibawa bekal. Dimakan di rumah sakit. Kamu mau mandi?"

Aira mengangguk.

"Oke. Kamu mandi dulu. Aku sarapan sebentar, terus siap-siap."

Aira masuk ke dalam kamar mandi. Ia mulai mandi sementara itu Baskara menyantap sarapannya dengan cepat. Usai Aira selesai mandi, Baskara sudah bersiap dengan handuk dan lagi-lagi sudah membuka kaosnya dan bertelanjang dada. Aira menutup mata dengan tangan, berusaha tidak melihat Baskara. Entah kenapa, tentara ini suka sekali buka baju!

Pagi-pagi benar Baskara mengantar Aira ke rumah sakit. Ia juga sudah lengkap menggunakan seragam lorengnya.

"Pulang jam berapa nanti, Ai?"

"Biasanya jam lima, tapi tergantung situasi dan kondisi di IGD. Kalau kamu nggak bisa jemput, nggak apa-apa. Aku bisa naik taxi atau ojek online."

"Aku usahakan jemput. Nanti kabar-kabar lagi aja, Ai."

Baskara memarkirkan mobilnya di halaman parkir dan turun untuk membukakan pintu bagi Aira. Hal itu sempat membuat Aira kembaki canggung, tapi merasa bangga juga karena Baskara memperlakukannya dengan sangat baik.

"Kamu nggak ngantor?" tanya Aira sedikit heran saat ia melihat Baskara justru membersamainya masuk ke ruang IGD.

"Aku pengen lihat kamu kerja."

Blush!

Pipi Aira seketika memerah.

"Apaan, sih. Lebay banget," ucap Aira seraya memukul dada bidang Baskara. "Bye." ucap Aira seraya melambaikan tangan.

***

"Suit ...suit ... ada yang lagi happy, ni," goda Panca ketika melihat Baskara datang.

Baskara tersenyum seraya melemparkan kunci mobilnya ke udara beberapa kali.

"Happy kenapa?" tanyanya dengan senyum lebar.

"Cih! Masih tanya. Happy karena nyonya sudah bisa diajak merapat ke asrama. Pantas, semalam nggak balas chat. Ditungguin buat nobar timnas," lanjut Panca.

"Wah, Bang Panca, jangan dulu diajak nobar-lah. Bisa-bisa nggak dikasih masuk kamar nanti sama nyonya," goda Raditya.

Baskara hanya mampu tertawa.

"Pagi-pagi sudah lari. Mampir Pak Nisyam buat beli nasi uduk. Biasa beli satu, tadi kutengok dia pesan dua. Romantis juga ternyata abang danton ini, belikan istrinya. Kukira akan sepiring berdua," kali ini Horas menimpali.

Baskara kembali tertawa. Ia melemparkan kunci mobilnya pada Horas. "Sialan! Teruuus ... teruuuus ...."

"Kemarin jadi menghadap Danyon, Suh? Ketemu Jelita gimana tu?" Kali ini Panca kembali memberikan pancingan yang membuat Baskara tidak bisa banyak berkata-kata.

"Jangan bahas Jelita-lah, Bang. Sudah ada istrinya ini. Nanti istrinya cemburu, nggak dikasih masuk rumahlah abang kita ini. Tidur di teras dia nanti," ucap Horas seraya menahan tawanya.

"Jadi, kakak ipar udah ketemu Jelita, Suh? Nggak ada perang dunia ketiga, kan?" tanya Panca mode serius.

Baskara menggeleng. "Aman. Aira nggak sekaku itu."

Baskara mengerutkan dahi saat ia melihat Jelita di depan kantornya. Rekan-rekan Baskara segera memberikan isyarat dan saling menyenggol satu dengan yang lainnya sebelum pergi meninggalkan Baskara.

"Bang Ibas lagi sibuk?" tanya Jelita.

Baskara beranjak dari tempatnya dan menghampiri Jelita.

"Enggak. Ada apa, Lita?" tanya Baskara ramah seperti biasa.

"Hmm ... Lita bisa gangguin Bang Ibas sebentar?"

Baskara mengerutkan dahi. "Ganggu gimana?"

"Mobil Lita masuk bengkel. Mau di servis kata papi. Minta tolong anter ke kampus, Bang. Boleh? Habis apel pagi aja. Kuliah Lita masih jam sembilan, kok," pinta Jelita.

Baskara diam sejenak, tapi tak lama ia mengangguk.

"Mau kemana, Suh?" tanya Panca usai apel pagi selesai dilaksanakan.

"Anter Jelita ke kampus."

"Yakin lo?" tanya Panca penuh penekanan.

"Ya, gimana lagi. Nggak bisa nolaknya."

"Istri lo?"

"Aman. Setelah ini, gue juga bakal kasih Jelita pemahaman kalau gue nggak bisa lagi seenaknya keluar berdua doang gini."

"Iya. Mending begitu. Gimana pun juga, lo udah ada yang punya, Suh."

Baskara mengangguk. Ia berjalan kembali menghampiri Jelita yang menunggu di pos jaga. Baskara pun mengambil mobilnya dan melaju menuju kampus Jelita yang jaraknya lumayan jauh.

"Bang, bisa ke Rumah Sakit Pelita dulu? Ada temen Jelita yang dirawat disana. Kemarin belum sempet nengokin. Nggak apa-apa, kan, Bang?" tanya Jelita dengan mata berbinar.

Baskara diam sejenak. "Rumah Sakit Pelita, ya?"

"Iya. Kenapa, Bang? Kalau abang keberatan nggak masalah, nanti Lita bisa minta antar teman yang lain."

Baskara mengembuskan napas pelan. "Aman. Sama abang aja sekalian."

Baskara memarkirkan mobilnya di halaman parkir Rumah Sakit Pelita. Ia berjalan beriringan dengan Jelita melewati lobi rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari pintu masuk IGD.

Baskara menatap ruang IGD. Ia celingak celinguk mencari keberadaan Aira di sana, tapi tidak terlihat.

"Lho, Bas? Ngapain ke sini? Ada yang lupa?" tanya Aira yang berjalan entah dari mana. Ia menghampiri Baskara begitu mengetahui melihat Baskara di lobi rumah sakit.

"Eh, ini ...."

"Halo, Kak Aira. Bang Ibas anterin aku kuliah, tapi aku mampir dulu mau nengokin temen yang kemarin kecelakaan. Ruang Gardenia di sebelah mana ya, Kak?" tanya Jelita seraya melingkarkan kedua tangannya di lengan Baskara.

Baskara tersenyum kaku. Ia tampak tidak nyaman mendapat perlakuan demikian dari Jelita. Namun, Aira tampak santai. Ia tampak sedikit terkejut, tapi tidak terlalu menampilkan ekspresi tidak suka.

"Di lantai tiga. Ke selatan aja nanti naik lift pengunjung di sebelah kiri," jawab Aira dengan senyum ramahnya.

Jelita mengangguk paham. Ia menarik tangan Baskara untuk memastikan jika pria itu tetap mengikuti langkah Jelita. Sementara itu, Aira menatap kepergian Baskara dan Jelita dari tempatnya.

"Siapa cewek itu, Ra?" tanya Sinta

"Hmm anak komandan Baskara. Kata orang-orang itu mantan Baskara."

"Hah? Seriusan mantannya? Kok lo diem aja, sih, Ra? Boleh suami lo deket-deket sama mantannya?" tanya Sinta sedikit kesal.

Aira mengembuskan napas panjang. "Gue aja masih bingung harus gimana," jawab Aira lemas.

"Astaga, Aira! Walaupun lo sama Baskara dijodohin, tapi tetep harus jaga sikap! Nggak bisalah Baskara seenaknya digelendotin sama mantan!"

Aira menaikkan satu alisnya. Ia tersenyum geli menatap Sinta yang tampak kesal dan sewot sendiri.

"Udah, kita balik kerja aja. Yuk! Tenang, Sin. Baskara itu kayaknya suami gue bukan suami lo, kenapa lo yang sewot," ucap Aira seraya tertawa.

"Gue wakili sewotnya kalau lo masih gengsi!"

"Sialan! Gue nggak gengsi ya!"

"Yang modelan begitu jangan dikasih ruang. Nanti ngelunjak!" timpal Sinta menahan kesal.

Usai menjenguk teman Jelita yang mengalami kecelakaan motor beberapa waktu lalu, akhirnya Baskara mengantarkan Jelita ke kampusnya. Namun, di tengah jalan, Jelita meminta Baskara untuk mampir ke sebuah cafè tak jauh dari kampusnya.

"Kok kesini, Lita?" tanya Baskara bingung.

"Lita mau traktir Bang Ibas. Americano, kan?"

Baskara diam. Ia hanya duduk menuruti permintaan Jelita. Gadis itu berjalan menuju meja Baskara dan duduk dengan wajah semringah.

"Makasih, ya, Bang Ibas mau nemenin Lita hari ini. Lama banget kita nggak keluar bareng kayak gini," ucap Jelita.

Baskara hanya diam. Sesekali ia mengambil ponselnya dan mengecek ponselnya sekalian melihat jam. Sudah lewat dari pukul sembilan. Hal itu membuat Baskara sedikit merasa aneh.

"Kamu nggak kuliah? Ini sudah jam sembilan," ucap Baskara tegas.

Jelita menyeruput ice matcha lattenya seraya menggeleng.

"Barusan lihat grup, ternyata kuliahnya kosong. Mending mampir nongkrong dulu sama abang."

Baskara mengambil napas dalam-dalam. Ia menatap Jelita seraya beberapa kali membuang napas pelan. Mau kesal sudah terlambat, mau marah tidak bisa juga. Baskara masih ingat jika Jelita adalah anak komandannya. Itu yang membuat dia tidak bisa berkutik.

"Seharusnya, kalau kuliah kosong kita pulang saja, Lita. Nggak enak dilihat orang nongkrong berdua di sini," ucap Baskara.

"Kenapa nggak enak, Bang? Biasa aja ah."

"Masalahnya ...."

"Bang Ibas sudah menikah? Lita tahu."

"Iya. Abang nggak enak ...."

"Kayaknya Kak Aira nggak bakalan marah, deh. Tadi aja waktu lihat kita, dia diam aja."

Baskara menahan napasnya. Kepalanya mulai pening. Seharusnya, tadi dia beralasan saja tidak bisa mengantarkan. Baskara bingung bagaimana cara memasang bentengnya jika Jelita sekeras kepala ini.

"Jelita, diam bukan berarti setuju. Aira itu istri abang, kamu juga harus menghormati dia seperti kamu menghormati abang."

Jelita menyantap donatnya seraya tersenyum sinis.

"Bang Ibas itu emang nggak tahu atau pura-pura nggak ngerti? Lita itu sayang sama abang, cinta sama abang. Lita nggak rela sebenarnya abang tiba-tiba menikah sama orang lain! Kenapa bukan Lita yang abang pilih?"

"Lita, sejak awal abang menganggap kamu seperti adik."

"Lita nggak mau jadi adik!" ucap Jelita tegas.

"Lita," gumam Baskara menahan kesal.

"Lita cinta sama abang. Lita maunya kita jadi pasangan bukan kakak adik!" ucap Jelita seraya menggenggam tangan Baskara.

Baskara berkelit. Ia menarik tangannya dari genggaman Jelita dan menatap Jelita dengan saksama.

"Lita, abang menghormati kamu sebagai perempuan dan sebagai anak komandan. Abang berharap, kamu juga bisa menghormati abang dan Aira, istri abang."

Jelita menatap Baskara dengan mata berkaca-kaca. Ia pun menangkup wajah dengan kedua tangannya. Jelita mulai menangis. Hal itu sempat membuat Baskara bingung dan sedikit jengah.

"Lita, tolong jangan begini," ucap Jelita.

Gadis itu mendongak, ia menatap sekeliling. Orang-orang di sana mulai memperhatikan, terlebih saat ini Baskara tengah mengenakan seragam lorengnya. Ada beberapa orang yang mulai memasang kameranya. Bisa jadi wajah Baskara mendadak viral, bila foto atau vidio dari ponsel mereka di upload.

Jelita tersenyum tipis. Ia kembali menangis sedikit lebih keras dan tersedu-sedu. Drama yang ia lakukan membuat semakin banyak orang menatap dan memperhatikan.

"Bang Ibas harus tanggung jawab. Lita hamil."

_____________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!