NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Tina sempat tertegun sejenak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Andry. Ia menoleh ke arah dinding kelas, menatap jejeran origami burung bangau, hiasan angka dari kain flanel, dan gambar-gambar pahlawan nasional yang dipotong rapi dari majalah bekas. Semua itu adalah hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan, sering kali dibuat hingga larut malam di bawah penerangan lampu teplok rumahnya saat listrik desa sedang padam.

"Benar, Pak Andry," jawab Tina, kali ini dengan seulas senyum tulus yang terbit dari bibirnya. Rasa bangga sebagai seorang pendidik mengalahkan rasa sungkan yang sejak tadi menggelayuti hatinya. "Saya yang membuat semuanya. Fasilitas dari desa sangat terbatas, jadi saya harus memutar otak agar anak-anak tidak bosan belajar. Kalau ruangannya berwarna-warni, mereka jadi lebih bersemangat datang ke sekolah setiap pagi."

Andry tidak langsung merespons. Ia melangkah mendekati salah satu meja kayu kecil tempat anak-anak belajar. Dengan ujung jarinya yang bersih, ia meraba permukaan meja yang sudah mulai kasar dan terkelupas. Matanya kemudian beralih menatap wajah Tina dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang mencampurkan rasa kagum atas ketulusan gadis itu, sekaligus rasa bersalah karena ia datang ke tempat ini dengan membawa sebuah agenda tersembunyi yang egois.

"Dedikasi Anda sangat luar biasa, Ibu Tina," ucap Andry, suaranya terdengar lebih berat dan bersungguh-sungguh dari sebelumnya. "Di kota besar, banyak guru dengan fasilitas mewah yang masih mengeluh. Tapi di sini, dengan keterbatasan yang begitu nyata, Anda justru bisa menciptakan ruang belajar yang penuh dengan kasih sayang."

Wajah Tina mendadak terasa hangat mendapat pujian seberani itu dari seorang pria asing yang berpenampilan menarik. Ia berdeham kecil, mencoba mengalihkan perhatiannya kembali pada urusan profesional. "Terima kasih atas pujiannya, Pak Andry. Tapi, bagi saya yang paling penting adalah masa depan anak-anak ini. Mengenai bantuan dari Yayasan Nirwana Utama yang Anda sebutkan tadi... bagaimana prosedurnya? Apa saja yang perlu pihak sekolah persiapkan?"

Andry tersenyum tipis, lalu menarik salah satu kursi kayu kecil dan mendudukinya dengan santai, sebuah pemandangan yang terlihat agak menggelikan mengingat tubuhnya yang tinggi tegap tampak terlalu besar untuk kursi ukuran anak PAUD tersebut. Ia membuka map kulit cokelat di pangkuannya dan mengeluarkan beberapa lembar berkas dokumen formal.

"Silakan duduk dulu, Tina. Pembicaraan ini mungkin akan memakan waktu sedikit lebih lama," ujar Andry, sengaja menanggalkan sapaan "Ibu" untuk menciptakan kesan yang lebih dekat namun tetap sopan.

Tina mengangguk, mengambil kursi di seberang meja Andry. Jarak yang dekat ini membuat Tina kembali bisa menghirup aroma wangi parfum maskulin milik Andry yang begitu menenangkan, sangat kontras dengan bau asap dapur dan bau amis ikan goreng yang menempel di bajunya sejak pagi tadi.

"Secara garis besar, yayasan kami tidak hanya memberikan bantuan berupa dana renovasi fisik bangunan," Andry mulai menjelaskan, jemarinya menunjuk pada beberapa poin di atas kertas. "Kami juga berencana menyediakan fasilitas alat peraga edukatif yang modern, buku-buku bacaan baru, serta... tunjangan kesejahteraan yang layak bagi tenaga pengajar yang berdedikasi di sini. Kami tahu, selama ini honor guru PAUD di desa sangat jauh dari kata manusiawi."

Mendengar kata "tunjangan kesejahteraan", jantung Tina berdegup kencang. Bayangan wajah ibunya yang kelelahan, ayahnya yang memupuk cokelat di kebun, dan tagihan keperluan sekolah Lisa langsung berputar di kepalanya. Apakah ini jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan selama ini? Apakah Tuhan akhirnya mengirimkan jalan keluar melalui yayasan milik pemuda kota ini?

"Tunjangan? Maksudnya... yayasan Anda akan memberikan gaji tambahan untuk saya?" tanya Tina, suaranya sedikit bergetar karena rasa harap yang membubung tinggi.

"Benar," Andry mengangguk pasti, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Tina dengan rapat. "Kami akan mengontrak Anda secara profesional sebagai mitra pengajar resmi di bawah naungan yayasan kami. Dengan begitu, Anda tidak perlu lagi mencemaskan masalah finansial yang selama ini mengikat Anda. Anda bisa fokus mengajar di sini, dan semua kebutuhan operasional serta masa depan Anda akan dijamin oleh pihak kami."

Andry menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan informasi tersebut meresap ke dalam benak Tina. Ia tahu persis titik lemah gadis di hadapannya: tanggung jawab keluarga. "Namun... tentu saja ada beberapa syarat administratif dan komitmen kerja yang harus kita sepakati bersama di dalam kontrak kerja ini."

Tina menyipitkan matanya sedikit, kewaspadaan alaminya kembali bangkit. "Syarat apa yang Anda maksud, Pak Andry?"

Andry memajukan tubuhnya sedikit, meletakkan selembar draf kontrak khusus ke hadapan Tina. "Yayasan kami menuntut profesionalisme penuh. Kami ingin Anda mengikuti pelatihan intensif di kota kabupaten selama satu bulan penuh terlebih dahulu, sebelum program renovasi ini resmi berjalan. Selama pelatihan, semua biaya hidup dan akomodasi akan ditanggung penuh. Dan setelah program ini berjalan, Anda akan berada di bawah pengawasan langsung dari saya selaku kepala divisi regional."

Tina menatap lembaran kertas di depannya dengan pandangan nanar. Pelatihan di kota selama satu bulan? Itu berarti ia harus meninggalkan rumahnya, meninggalkan ibunya sendirian mengurus rumah tangga, dan membiarkan ayahnya bekerja di sawah tanpa ada yang membantu menyiapkan keperluan makan mereka. Ini adalah penawaran yang sama peliknya dengan yang ia bayangkan sebelumnya, hanya saja dikemas dalam bentuk bantuan sekolah.

"Satu bulan di kota..." gumam Tina lirih, jemarinya meremas ujung kemeja katunnya. "Apakah tidak bisa pelatihannya dilakukan secara daring, atau mungkin dilakukan di area kecamatan saja, Pak? Saya... saya tidak bisa meninggalkan keluarga saya di desa terlalu lama. Ibu saya sudah tua, dan ayah saya butuh bantuan di kebun."

Andry menatap Tina dengan pandangan yang dalam, ada sedikit kilat kelicikan yang halus di matanya—kilat dari seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya dalam dunia bisnis. "Tina, ini adalah standar operasional dari yayasan kami. Kami berinvestasi besar untuk masa depan pendidikan di desa ini, dan kami membutuhkan jaminan bahwa tenaga pengajarnya benar-benar memiliki kualifikasi yang kami inginkan. Satu bulan adalah waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan kepastian masa depan yang akan Anda dapatkan setelahnya."

Andry bersandar kembali di kursinya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap yang sangat berwibawa. "Pikirkanlah baik-baik. Ini bukan hanya tentang ego Anda yang ingin tetap tinggal di desa, tapi ini tentang kesempatan emas untuk mengubah nasib sekolah ini, nasib anak-anak didik Anda, dan... yang paling penting, nasib ekonomi keluarga Anda sendiri. Bukankah Anda ingin melihat orang tua Anda beristirahat di masa tua mereka tanpa perlu memikirkan utang atau biaya hidup?"

Kata-kata Andry kembali menghantam ulu hati Tina dengan telak. Pria ini, entah bagaimana caranya, selalu berhasil menyentuh sisi paling rapuh dari kehidupan Tina. Setiap kalimat yang keluar dari bibir Andry terdengar seperti sebuah kebenaran yang logis, namun di saat yang sama terasa seperti sebuah dinding tinggi yang sedang dibangun untuk mengurung kebebasan memilihnya.

Di luar kelas, suara riuh anak-anak yang sedang bermain perlahan mulai mereda, menandakan waktu istirahat akan segera usai. Tina menatap draf dokumen di atas meja kayu dengan perasaan yang terombang-ambing hebat. Di satu sisi, ia sangat menginginkan bantuan ini demi kemajuan PAUD desa yang ia cintai. Di sisi lain, kehadiran Andry yang begitu tiba-tiba, dengan segala kemudahan dan penawaran fantastisnya, terasa terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Ada bagian dari insting wanitanya yang berbisik bahwa semua ini adalah sebuah perangkap yang dirancang dengan sangat rapi.

"Bagaimana, Tina? Apakah Anda bersedia menandatangani draf kesepakatan awal ini?" tanya Andry, menyodorkan sebuah pulpen hitam mewah berujung emas ke dekat tangan Tina. "Jika Anda setuju, tim renovasi fisik akan mulai turun ke desa ini pada awal minggu depan."

Tina memandangi pulpen tersebut, lalu mendongak menatap sepasang mata Andry yang menunggunya dengan penuh antisipasi. Setelah perang batin yang sengit di dalam dadanya, Tina akhirnya menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menjauhkan tangannya dari pulpen tersebut.

"Maaf, Pak Andry," ucap Tina dengan nada suara yang terkontrol namun tegas. "Saya sangat menghargai niat baik dari Yayasan Nirwana Utama, dan saya juga sangat menginginkan bantuan ini untuk anak-anak didik saya. Tapi... untuk menandatanganinya sekarang, saya tidak bisa. Saya membutuhkan waktu untuk membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan orang tua saya di rumah, dan juga dengan pihak kepala desa selaku pembina PAUD ini. Ini bukan keputusan kecil yang bisa saya ambil sendiri dalam waktu beberapa menit."

Mendengar penolakan halus tersebut, senyum di wajah Andry sempat membeku sesaat. Ia tidak terbiasa menerima penundaan, apalagi dari seorang gadis desa yang seharusnya langsung menerima tumpukan uang dengan mata berbinar. Namun, sedetik kemudian, Andry berhasil menguasai ekspresi wajahnya kembali. Ia menarik pulpennya dan memasukkannya kembali ke dalam saku kemeja linen putihnya.

"Baiklah kalau itu mau Anda, Tina. Saya menghargai sikap kehati-hatian Anda," tutur Andry dengan nada suara yang kembali tenang dan penuh wibawa. Ia berdiri dari kursi kecilnya, merapikan letak pakaiannya, dan menutup map kulit cokelatnya. "Saya akan memberikan Anda waktu beberapa hari untuk berpikir dan berdiskusi. Saya akan kembali lagi ke desa ini pada hari Kamis depan untuk meminta jawaban akhir dari Anda. Saya harap, keputusan yang Anda ambil nanti adalah keputusan yang bijaksana menggunakan logika, bukan sekadar ketakutan emosional semata."

Andry melangkah mundur, memberikan anggukan hormat yang sopan kepada Tina sebelum membalikkan badannya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan kelas.

Tina berdiri dari duduknya, melangkah perlahan menuju ambang pintu kelas. Dari teras kayu, ia menyaksikan punggung tegap Andry yang berjalan menjauh di bawah terik matahari siang menuju mobil SUV hitamnya. Ibu-ibu wali murid di halaman tampak kembali kasak-kusuk menyaksikan kepergian pria kota itu. Begitu Andry masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya yang halus, kendaraan mewah itu perlahan bergerak meninggalkan halaman sekolah, menyisakan kepulan debu tipis yang berterbangan di bawah pohon beringin yang rindang.

Tina memegangi dadanya yang bergemuruh hebat, merasakan seolah-olah seluruh alur kehidupannya yang tenang kini telah dikunci rapat oleh kehadiran sosok Andry. Sebuah takdir baru yang besar kini benar-benar telah menantinya di hari Kamis nanti, dan Tina tahu, ia tidak memiliki banyak ruang untuk menghindar lagi.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!