NovelToon NovelToon
Keluargaku Adalah Hama

Keluargaku Adalah Hama

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.

Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,

Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Aminah hanya bisa bernafas lega karena ibu dan adiknya telah pergi, dia menatap sekelilingnya karena sejak tadi mereka jadi bahan tontonan .

Aminah membungkuk sedikit meminta maaf kepada semua orang yang dibalas senyum sendu oleh mereka

"Kembalilah bekerja, jangan terlalu pikirkan keluargamu, kan mereka tidak tahu kamu tinggal dimana sekarang, pastikan saja mereka tidak melukai dan mengganggu kamu setelah ini".

Aminah mengangguk mengiyakan perkataan bosnya itu. Teman-temannya pun ikut menepuk pundaknya memberikan semangat.

"Terima kasih semuanya, aku beruntung memiliki kalian".

Mereka semua mengangguk, sedangkan Elisa hanya tersenyum kemudian melangkahkan kakinya kembali ke ruangannya karena banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.

Sedangkan diluar Halimah dan Lisa segera berlari karena ketakutan akan suara sirine polisi yang semakin mendekat, mereka tidak mau ditangkap polisi

"Kita harus cepat Bu, kita naik ojek saja". Ucap Lisa terengah-engah karena berlari.

Sang ibu hanya mengangguk dan menaiki ojek yang kebetulan lewat begitu juga dengan Lisa.

Sesampainya dirumah, Halimah mengeram kesal dan membanting tasnya di sofa ruang tamu, suaminya sudah pergi bekerja dan kedua anaknya yang lain sudah pergi ke sekolah sedangkan Lisa kuliah siang nanti jadi dia menemani sang ibu.

"Sialan kak Aminah, bisa-bisanya dia hanya diam saja kita diperlakukan seperti itu oleh bosnya, aku tidak terima". Geram Lisa sambil mengepalkan tangannya.

Dia sebenarnya ingin meminta uang jajan pada sang kakak tapi kakaknya malah bertingkah seperti itu.

"kamu benar nak, ibu tidak akan tinggal diam, kita akan kesana lagi sebentar sore, tunggu dia pulang, kita hajar dia setelah pulang kerja, kita harus tahu dimana dia tinggal".

"Tidak usah Bu, nanti mereka memasang polisi atau penjaga, kan ibu dengar sendiri tadi kalau bos kak Aminah itu sudah melaporkan kita kepolisian, jangan sampai kita muncul dan membuat keributan malah langsung ditangkap".

Halimah mendengus kesal, tapi tetap saja mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan sang anak.

"Kamu benar, tapi bagaimana caranya kita tahu tempat tinggal Aminah kalau kita tidak mengikutinya?".

Lisa tersenyum sinis karena tahu apa yang harus mereka lakukan setelah ini.

"Ibu telpon kak Fadil saja supaya mereka bisa bertemu dirumahnya nanti kita tanya kak Fadil dimana alamat Aminah tanpa kita harus ketempat kerjanya.

Halimah langsung tersenyum lebar karena anaknya benar-benar tahu apa yang harus mereka lakukan.

"Kamu benar nak, sekarang ibu hubungi Fadil dulu".

Lisa mengangguk mengiyakan sang ibu, dia tersenyum sinis karena jika mereka tahu dimana kakaknya itu tinggal mereka bisa berbuat seenaknya disana.

"Kamu tidak akan bisa lolos kak Aminah, kakak harus tetap jadi ATM berjalan keluarga". Ucapnya dalam hati.

"Hallo nak Fadil". Ucap Halimah begitu panggilannya tersambung.

"Iya Tante, ada apa yah?". Jawabnya Dnegan malas.

"Begini nak, kamu sudah tahu dimana Aminah tinggal?, tolong bantu Tante yah, Tante ingin tahu dimana dia tinggal ,tante khawatir tentang keadaannya setelah keluar dari rumah". Ucapnya dibuat sesedih mungkin.

Fadil menghela nafasnya, bagaimana dia tahu tempat tinggal Aminah, mereka saja belum bertemu bahkan semalam Aminah menolak bertemu dengan nya karena alasan capek.

"Belum Tante, nanti kalau aku sudah tahu akan ku kabari, sudah dulu yah Tante, saya harus bekerja karena ini jadwal kerja takut ditegur sama bos".

Fadil langsung memutuskan panggilan telponnya Dnegan senyum sinis, dia bukan tidak tahu jika keluarga Aminah pasti mencari Aminah untuk di poroti dia tidak akan membiarkan itu agar dia bisa menguasai uang Aminah sendirian.

Halimah mengkerutkan keningnya melihat sikap Fadil yang terkesan tidak sopan padanya, entah mengapa anak lelaki itu bersikap seperti itu.

"Ada apa Bu?, mengapa wajah ibu tidak enak dipandang seperti itu?". Tanya Lisa penasaran.

Bukannya ibunya ini menelpon Fadil agar tahu dimana tempat kakaknya tinggal.

Halimah mendengus kesal menatap anaknya Dnegan khas orang yang ingin marah.

"Dia tidak tahu, dan langsung mematikan telponnya saat ibu masih ingin bicara, katanya dia sedang sibuk dikantor". Kesalnya membanting handphonenya ke sofa.

Lisa ikut bingung dengan sikap Fadil kepada mereka, padahal semalam lelaki itu sangat baik dan manis tapi ternyata sabotase yang mereka lakukan ternyata tidak mempan.

"Mungkin dia memang sibuk Bu, pekerjaannya mungkin sedang banyak dan takut kena tegur apalagi ini memang jam kerja".

"Iya nak mungkin saja".

Fadil yang masih dalam kantornya mengepalkan tangannya karena sejak semalam Aminah tidak membalas pesannya begitu juga pesannya tadi pagi, dia terkesan menghindari dirinya.

"Aku akan ketempat kerjanya, biar pura-pura baik dan bersikap manis setelah itu akan ku minta uangnya, kan dia sudah gajian". Ucapnya dengan sumringah.

Benar saja sore harinya Fadil datang ketempat kerja Aminah tapi gadis itu masih sibuk bekerja, dia mengambil lembur dengan bekerja mengangkat barang, karena kebetulan barang baru banyak yang datang dan membutuhkan orang untuk mengangkatnya.

"Kamu masih sibuk yah". Ucap Fadil begitu melihat Aminah mengangkat dos itu tanpa mau membantu

"Ya". Aminah menjawab singkat dan padat.

Dia mulai malas berurusan dengan lelaki ini, dia baru sadar selama ini lelaki ini hanya memanfaatkan dirinya dan dia bodoh karena percaya padanya.

"Yah, padahal aku ingin mengajak kamu kencan". Ucapnya pura-pura sedih.

"Sialan bisa gagal aku makan enak kalau dia tidak ikut, kan lumayan bisa irit". Dengusnya dalam hati.

"Aku tungguin aja yah, setelah itu kita makan sama-sama". Ucapnya sedikit memaksa.

"Kamu aja yang makan, aku sudah makan sama teman-teman tadi, lagian kalau kita pergi makan berdua pun aku yang bayar, mending kamu pergi aja makan sendirian". Sungut Aminah dengan kesal.

Dia sudah capek malah dipaksa untuk makan bersama padahal dia yakin jika mereka pergi bersama lagi pasti dia yang akan membayar makanannya seperti biasa saat mereka pergi makan.

Fadil mengeram kesal tapi berusaha menampilkan wajahnya tanpa dosa.

"Kok kamu ngomong gitu sih, kan aku cuma nggak mau kamu sakit makanya aku ajak kamu makan bersama". Ucapnya tidak terima.

Aminah menarik nafasnya dalam-dalam, dia menatap Fadil dengan kekesalan karena dia sudah lelah sejak tadi tapi lelaki ini bukannya membantunya malah membuatnya semakin kesal

"Kamu pergi saja deh, aku ini sedang capek dan sedang lembur, ngapain kesini kalau mengganggu orang lagi bekerja, makan saja sana sendirian setidaknya bayar lah sendiri untuk makanmu jangan mengandalkan aku, katanya banyak gajinya tapi makan pun harus dibayar oleh perempuan ". Sungut Aminah kembali melangkah membawa dos itu.

Mata Fadil membelalak, dia tidak menyangka jika Aminah akan berkata sarkas seperti itu padanya.

"Kamu keterlaluan". Bentaknya dengan penuh emosi

1
Anime aikō-kā
Keluargaku Adalah Hama
Test Baru
kak kok belum up lagi 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!