NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK DINDING KACA

Malam itu, setelah drama pemukulan yang cukup menguras emosi di kediaman Adhitama, suasana hening menyelimuti perjalanan pulang Arga dan Queen.

Arga mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dibalut perban tipis hasil pertolongan pertama dari Mommy Queen.

Lebam kebiruan di sudut bibir dan rahangnya mulai menampakkan jejak nyata, namun pria itu tetap berkonsentrasi penuh pada jalanan Jakarta yang basah oleh gerimis.

Queen duduk di sampingnya, masih sesekali terisak kecil.

Ia tidak menyangka jika pertemuannya dengan sang Daddy akan berujung pada kekerasan fisik.

Namun, di saat yang sama, ia merasakan kelegaan yang luar biasa karena restu meskipun bersyarat akhirnya berada di genggaman.

"Mas, maaf ya soal tadi..."

Queen memecah keheningan, suaranya parau.

"Harusnya aku yang lebih tegas sama Daddy biar dia gak main tangan."

Arga menoleh sejenak, memberikan senyuman miring yang justru membuat sudut bibir lebamnya makin terlihat kontras.

"Sudahlah.

Pukulan tadi adalah harga yang sangat murah untuk mendapatkan restu pria sehebat Handoko Adhitama.

Lagi pula, itu memang kesalahan kita.

Kamu tidak perlu merasa bersalah."

Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan gedung apartemen Queen.

Arga mematikan mesin, namun ia tidak segera turun.

Ia menoleh ke arah Queen, menatap gadis itu dengan tatapan yang intens dan dalam, seolah sedang membaca setiap inci ekspresi wajah baby face di depannya.

"Kamu harus tinggal di apartemen ini selama masa kehamilanmu," ujar Arga dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Aku sudah menyewa dua pengawal pribadi dari firma keamanan profesional yang akan berjaga di depan unitmu 24 jam.

Aku tidak akan mengambil risiko, terutama setelah semua kekacauan yang terjadi belakangan ini."

Queen mengerucutkan bibirnya manja.

"Dua pengawal?

Gak berlebihan?

Lagian, nanti kalau aku bosen dan pengen ke kampus, aku gimana?

Masa harus diikuti terus kayak buronan?"

"Ini bukan opsi, Queen.

Ini kewajiban," potong Arga tegas, namun tangannya mengusap pipi Queen dengan sangat lembut.

"Setelah apa yang terjadi dengan Keysha dan fakta bahwa dia sekarang mungkin sedang menyusun rencana jahat karena hartanya habis aku tidak akan membiarkanmu sendirian.

Kehamilanmu adalah prioritas utama."

 

Keesokan harinya, kehidupan kampus terasa sangat berbeda bagi Queen.

Ia tidak lagi bisa bergerak bebas seperti mahasiswi cegil biasanya.

Dua pria berbadan kekar dengan jas hitam kini berdiri dengan jarak lima meter di belakangnya dan Karin.

Alya, yang melihat pemandangan itu saat mereka sedang duduk di kantin, hampir menyemburkan kopi yang sedang diminumnya.

"Gila!

Lo sekarang beneran jadi bos mafia ya, Queen?

Itu pengawal apa anggota Secret Service?

Kok serem banget sih tampangnya?"

Queen hanya bisa mendesah pasrah sambil mengaduk jus alpukatnya.

"Tanya deh sama calon suami gue.

Dia paranoid parah sejak Daddy tahu soal kehamilan ini."

"Ya wajar lah, Cegil!"

sahut Karin yang sejak tadi menyimak dengan wajah penasaran.

"Lo lagi bawa pewaris sah keluarga Dirgantara sekaligus Adhitama.Kalau terjadi apa-apa sama lo, bisa-bisa Arga beneran ngebakar kampus ini."

Tiba-tiba, suara riuh rendah mahasiswa di kantin mendadak senyap.

Semua mata tertuju pada pintu masuk kantin.

Sesosok pria tegap dengan kemeja biru dongker dan celana bahan yang pas di tubuh, melangkah masuk dengan aura dingin yang mendominasi.

Arga Dirgantara.

Meski ada sisa lebam tipis di sudut bibirnya yang ia tutup tipis dengan concealer Arga tetap terlihat mematikan.

Ia berjalan lurus melewati kerumunan mahasiswa tanpa menoleh sedikit pun, hingga langkahnya berhenti tepat di meja Queen.

"Queen," panggil Arga dengan nada formal namun dingin di depan umum.

Queen berdiri seketika, jantungnya berdegup kencang karena kebiasaan "bermain peran" mereka.

"Ya, Pak?"

"Ikut saya ke kantor.

Ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani terkait tugas mandiri mata kuliah saya," perintah Arga datar, lalu berbalik arah tanpa menunggu jawaban.

Alya dan Karin saling pandang.

Mereka tahu persis itu hanyalah kode untuk "bertemu di tempat privat".

Queen pun segera mengambil tasnya, memberikan isyarat mata pada kedua sahabatnya sebelum melangkah mengikuti sang dosen kebanggaan kampus itu.

 

Di dalam kantor privat Arga yang kedap suara, pintu baru saja terkunci rapat.

Begitu suasana benar-benar sunyi, aura dingin Arga seketika luruh.

Pria itu melepaskan dasinya dengan kasar, lalu membalikkan badan dan langsung menarik Queen ke dalam dekapannya.

"Aku kangen," bisik Arga, kepalanya menyuruk ke ceruk leher Queen, menghirup aroma tubuh gadis itu yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

Queen membalas pelukan itu, memejamkan mata.

"Kita baru ketemu tadi pagi sebelum aku berangkat ke kampus, Mas."

"Tetap saja rasanya seperti berabad-abad," sahut Arga, lalu ia mencium kening Queen lama sekali.

Ia kemudian menuntun Queen untuk duduk di sofa kulit yang ada di pojok ruangannya.

Arga berlutut di depan Queen, tangannya dengan sangat hati-hati menyentuh perut gadis itu yang masih rata.

"Apa anak kita hari ini merepotkanmu?

Kamu sudah makan yang benar?

Mommy-mu bilang kamu harus banyak mengonsumsi protein."

"Anak kita baik-baik saja, Mas,"

Queen tertawa kecil melihat sisi "bapak-bapak" dari Arga yang baru muncul.

"Dia mungkin juga sudah kangen sama papanya."

Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan penuh cinta.

Ia kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari saku jasnya.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian dengan potongan emerald yang elegan.

"Aku tahu kita belum bisa menikah sekarang.

Syarat dari Daddy-mu harus aku penuhi lebih dulu,"

Arga mengambil tangan kiri Queen dan memasangkan cincin itu di jari manisnya.

"Tapi ini adalah bukti janji.

Bahwa tidak ada wanita lain di dunia ini yang akan memakai nama belakang Dirgantara, selain kamu."

Queen menatap cincin yang berkilauan itu dengan mata berkaca-kaca.

Di balik dinding kaca kantor ini, dunia mungkin melihat Arga sebagai dosen yang kaku, dingin, dan berwibawa.

Namun, di sini, di balik dinding kaca yang menutup rapat rahasia mereka, Arga hanyalah pria yang sedang jatuh cinta setengah mati.

"Aku akan menunggu, Mas," bisik Queen tulus.

"Berapa lama pun itu.

Karena aku tahu, pada akhirnya, kita akan selalu berakhir di titik yang sama."

Arga menarik Queen ke dalam sebuah ciuman yang lambat, manis, dan sarat akan janji masa depan.

Tidak ada lagi gairah yang brutal dan terburu-buru seperti kemarin; yang ada hanyalah kedamaian yang mendalam.

Mereka tahu, di luar sana badai masih mungkin datang Keysha belum benar-benar kalah, dan tekanan bisnis keluarga Adhitama masih mengintai tapi selama cincin itu melingkar di jari Queen, mereka merasa tak terkalahkan.

Di balik dinding kaca itu, mereka membiarkan dunia luar menjadi tidak relevan.

Karena bagi Arga dan Queen, keberadaan satu sama lain adalah satu-satunya kenyataan yang perlu mereka perjuangkan sampai akhir hayat.

1
atik
Bagus
putri auliza
baguss bangettt
recom lah pokoknyaa
putri auliza
thorr yang panjang lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!