"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 7
Langkah Amerta bergegas, hampir berlari membelah koridor fakultas yang mendadak terasa begitu sempit. Jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dada, memicu adrenalin yang membakar rasa takutnya. Ia tidak peduli lagi pada tatapan heran dari mahasiswa lain yang berpapasan dengannya. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: Mahesa. Laki-laki itu tidak bisa datang begitu saja, mengacaukan kewarasannya dengan kepemilikan yang absolut, lalu pergi seolah-olah Amerta hanyalah angin lalu.
Begitu mendorong pintu kaca lobi luar, Amerta menangkap siluet tegap itu di area parkir khusus dosen dan tamu VIP. Mahesa berjalan dengan langkah konstan, sangat berwibawa dengan setelan jas tiga potongnya yang gelap. Asisten pribadinya berjalan setengah langkah di belakang, memegangi beberapa dokumen.
"Kak Mahesa!" panggil Amerta, suaranya sedikit melengking di antara deru angin siang itu.
Laki-laki itu tidak berhenti. Ia bahkan tidak mengubah ritme langkahnya sedikit pun, seolah suara Amerta hanyalah kebisingan latar yang tidak perlu dipedulikan. Asistennya sempat melirik cemas, namun buru-buru memalingkan wajah saat melihat aura dingin yang memancar dari sang atasan.
"Kak Mahesa, tunggu!" Amerta nekat berlari, memotong jalur jalan dan langsung berdiri tepat di depan pintu mobil sport hitam milik Mahesa yang baru saja dibukakan oleh sang asisten.
Amerta terengah-engah, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, menatap lurus pada sepasang mata biru yang sehangat es kutub itu. "Tolong jelaskan padaku. Apa maksud semua ini?"
Mahesa menghentikan gerakannya. Ia berdiri kokoh di hadapan Amerta, menatap adik tirinya dari balik tinggi tubuhnya yang mengintimidasi. Wajah tampannya begitu datar, tanpa ekspresi, seolah kejadian menegangkan di ruang asisten dosen beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
"Minggir, Amerta. Aku ada rapat penting sepuluh menit lagi," ucap Mahesa. Suaranya begitu dingin, bariton yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.
"Aku tidak akan minggir sebelum Kakak menjawab!" tuntut Amerta, suaranya bergetar antara marah dan bingung. "Semalam Kakak masuk ke kamarku, berbicara tentang teritorial. Lalu siang ini Kakak datang dan mengancam Rian dengan hal yang sama. Tapi di meja makan, Kakak mengabaikanku seperti orang asing! Sebenarnya aku ini apa bagi Kakak? Kenapa Kakak harus peduli kalau aku diganggu?!"
Mahesa diam selama beberapa detik yang terasa mencekik. Perlahan, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga Amerta bisa mencium kembali aroma maskulin sandalwood yang semalam mengurungnya.
"Kamu ingin tahu kenapa?" desis Mahesa, sepasang mata birunya mengunci manik mata Amerta dengan intensitas yang kelam. "Karena nama belakangmu sekarang adalah Dirgantara. Apa pun yang menempel pada nama itu adalah urusanku. Aku tidak peduli siapa kamu, Amerta. Aku hanya tidak suka milikku diusik oleh pecundang seperti Rian. Jangan pernah salah mengartikan kewajibanku sebagai sesuatu yang lain."
Kalimat itu menghantam dada Amerta seperti godam yang berat. Kewajiban. Formalitas. Jadi semua intensitas yang membuatnya terjaga sepanjang malam hanyalah bentuk perlindungan ego seorang Mahesa terhadap nama besarnya?
Sebelum Amerta sempat membalas, Mahesa sudah menegakkan tubuhnya kembali. Dengan satu gerakan tangan yang tegas, ia menggeser tubuh Amerta menjauh dari pintu mobil tanpa menyentuh kulitnya langsung—hanya mendorong bahu Amerta yang terbalut jas almamater kuning. Mahesa masuk ke dalam mobil, pintu tertutup rapat, dan kendaraan mewah itu melesat pergi, meninggalkan Amerta yang mematung di bawah terik matahari dengan air mata yang mati-matian ia tahan agar tidak jatuh.
Satu bulan pun berlalu setelah konfrontasi di parkiran itu.
Rumah mewah Ayah Dirga benar-benar berubah menjadi makam yang megah bagi Amerta. Hubungan mereka yang awalnya canggung kini bertransformasi menjadi asing sepenuhnya. Mahesa benar-benar menepati janjinya untuk jarang pulang. Kalaupun mereka tidak sengaja berpapasan di lorong rumah atau meja makan, atmosfer di antara mereka begitu beku. Mahesa memperlakukan Amerta layaknya hantu; matanya melesat melewati tubuh Amerta tanpa sedetik pun berhenti untuk menganggap keberadaannya.
Namun, ada satu hal yang berubah di kampus. Rian benar-benar tidak pernah mengganggu Amerta lagi. Senior komdis yang dulunya arogan itu mendadak mengundurkan diri dari kepanitiaan dan selalu membuang muka dengan wajah pucat setiap kali melihat Amerta dari kejauhan. Pengaruh Mahesa begitu absolut, membersihkan jalan Amerta dari segala gangguan, meski sang penyelamat sendiri bertingkah seolah Amerta tidak pernah ada di dunia ini.
Hingga pada suatu malam di minggu keempat, sebuah ketukan panik di pintu kamar Amerta memecah kesunyian malam.
Amerta membuka pintu dan mendapati Bi Sumi berdiri dengan wajah cemas, tangannya gemetar. "Non... Non Amerta, tolong Bibi... Den Mahesa..."
"Ada apa dengan Kak Mahesa, Bi?" jantung Amerta mendadak berdesir aneh.
"Den Mahesa pulang dengan tubuh lemas sekali, Non. Badannya panas mual, tapi beliau keras kepala tidak mau dibawa ke rumah sakit dan malah mengunci diri di kamar kerja bawah. Bibi takut terjadi apa-apa, sementara Pak Dirga dan Ibu belum bisa dihubungi karena perbedaan waktu di Eropa," tangis Bi Sumi.
Amerta tertegun sejenak. Dinding egonya menyuruhnya untuk mengabaikan laki-laki yang sudah mengasingkannya selama sebulan ini. Namun, nuraninya menolak. Bagaimanapun, Mahesa telah melindunginya di kampus.
Dengan langkah ragu namun pasti, Amerta melangkah turun ke lantai bawah menuju ruang kerja Mahesa yang bernuansa gelap. Pintu kayu ek yang besar itu sedikit renggang. Amerta mendorongnya pelan dan melangkah masuk.
Aroma maskulin yang biasa menenangkan kini bercampur dengan bau obat-obatan yang menyengat. Di atas sofa kulit besar di sudut ruangan, Mahesa berbaring dengan posisi menyamping. Setelan jasnya sudah berantakan, dasinya longgar, dan kancing kemejanya terbuka beberapa buah. Napasnya memburu, pendek-pendek dan berat.
Amerta mendekat dengan hati-hati. Saat tangannya perlahan menyentuh kening Mahesa, ia tersentak. Kulit laki-laki itu sangat panas, seolah membakar jemari Amerta. Mahesa menggeliat tidak nyaman, mengerang pelan dalam tidurnya.
"Panas sekali..." bisik Amerta cemas. Ia menoleh ke arah pintu. "Bi Sumi, tolong ambilkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Juga kompres demam di kotak obat."
"Baik, Non!" Bi Sumi bergegas pergi.
Amerta berlutut di samping sofa. Ia memandangi wajah Mahesa yang biasanya tampak kokoh dan tak tersentuh seperti patung marmer. Malam ini, di bawah temaram lampu meja kerja, Mahesa tampak begitu rapuh. Gurat keletihan yang teramat sangat tercetak jelas di bawah pelupuk matanya. Laki-laki gila kerja ini akhirnya tumbang oleh tubuhnya sendiri.
"Amerta..." sebuah racauan pelan keluar dari bibir Mahesa yang pecah-pecah karena panas tinggi.
Amerta tersentak, mengira Mahesa sudah terbangun. Namun, sepasang mata biru itu tetap terpejam rapat. Mahesa sedang mengigau, dan yang membuat dada Amerta berdegup kencang adalah bagaimana namanya disebut di tengah ketidaksadaran laki-laki itu.
"Jangan... jangan pergi..." racau Mahesa lagi, tangannya yang besar bergerak gelisah di atas sofa, seolah mencoba menggapai sesuatu di udara kosong.
Amerta menahan napasnya. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangannya dan membiarkan jemari Mahesa yang panas mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat. Cengkeraman itu begitu kuat, menuntut, dan penuh dengan keputusasaan yang selama ini disembunyikan Mahesa di balik topeng esnya.
Malam itu, di dalam ruang kerja yang sunyi, Amerta menyadari bahwa jarak satu bulan yang mereka bangun dengan sengaja, runtuh begitu saja dalam satu malam karena kerapuhan yang tak bisa ditolak.