NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sadar

Sebelum kesadaran sepenuhnya ditarik kembali ke dunia nyata, Bellatrix masih berdiri di bawah pohon berdaun kristal itu, menghadap sosok dirinya yang asli. Cahaya di sekeliling mereka mulai berdenyut lembut, seolah memberi tanda bahwa waktu berpisah sudah semakin dekat.

Sosok Bellatrix asli melangkah satu langkah mendekat, menatapnya lekat-lekat dengan mata yang sama persis, namun menyimpan ribuan tahun pengalaman dan kebijaksanaan. Ia mengangkat tangan, menyentuh dada sebelah kiri Bellatrix pelan, tepat di tempat jantungnya berdetak.

"Dengar baik-baik pesan terakhirku," ucapnya perlahan, suaranya bergema lembut di udara tenang itu. "Kekuatan yang kini menyatu sepenuhnya di dalam dirimu... ingatlah betapa dahsyatnya ia. Jika kau lepaskan tanpa kendali, ia tak hanya bisa menghancurkan tembok batu atau membelah danau. Ia cukup kuat untuk meratakan kerajaan ini, menyapu bersih benteng-benteng tertinggi, dan mengubah daratan menjadi lautan dalam sekejap mata. Itulah beratnya warisan darahmu."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap.

"Tapi takdir sudah menyiapkan penyeimbang yang sempurna untukmu. Ingatlah satu hukum alam yang tak pernah berubah: air yang paling liar sekalipun, yang tak bisa diredam oleh tanah atau angin, akan selalu tenang saat bertemu api yang stabil. Dan di dunia ini, tak ada api maupun kekuatan lain yang sepadan dengan Thiago. Biarkan dia membimbingmu. Biarkan dia menjadi penahan dan penenangmu. Dia adalah takdirmu, dan bersamanya, kekuatan besar itu akan menjadi anugerah, bukan bencana."

Bellatrix mengangguk pelan, merasakan kebenaran itu mengalir di sekujur tubuhnya.

"Aku tidak akan lagi bersamamu secara terpisah," lanjut sosok itu, senyumnya melebar lembut. "Sekarang kita adalah satu. Pergilah. Hadapi dunia ini dengan berani, dan jangan pernah lagi merasa harus berjalan sendirian."

Kembali ke kamar tidur istana yang sunyi.

Thiago masih duduk di tepi ranjang, tangannya tetap menggenggam tangan dingin Bellatrix. Ia belum beranjak sedikit pun. Ia belum tahu bahwa di balik kelopak mata yang tertutup rapat itu, kesadaran gadis itu sebenarnya sudah pulih sepenuhnya sejak tadi. Bellatrix memilih untuk diam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu, menyimpan rasa penyesalan dan pengakuan cintanya rapat di dalam hati, berniat untuk berpura-pura baru sadar nanti.

Ia merasakan aliran kekuatan yang kini utuh dan kuat di dalam dirinya, seperti sungai besar yang akhirnya menemukan muaranya. Tanpa sengaja, tanpa berusaha memanggilnya, energi itu meluap keluar perlahan.

Seketika itu juga, cahaya biru yang lembut namun menyilaukan mulai memancar dari tubuh Bellatrix. Cahaya itu berwarna biru jernih seperti permata, berdenyut hangat dan hidup, mengusir rasa dingin yang selama ini menyelimuti tubuhnya. Uap air halus berputar mengelilingi tempat tidur, membentuk butiran-butiran air yang berkilau seperti berlian, lalu perlahan turun membasahi udara dengan kesegaran yang menenangkan.

Thiago tertegun. Ia menarik tangannya perlahan, menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak. Cahaya itu semakin terang, menyebar ke seluruh ruangan, menyentuh setiap sudut hingga gorden sutra dan lantai marmer ikut berwarna kebiruan.

Di sudut ruangan, Leonidas dan Elara yang tadi berdiri diam langsung melangkah maju dengan napas tertahan. Cahaya ini adalah tanda bahwa kekuatan murni keluarga mereka telah bangkit kembali, dan kali ini dalam wujud yang utuh.

Perlahan cahaya itu mereda kembali, menyusup masuk ke dalam tubuh Bellatrix. Dan pada saat itulah, sangat pelan, kelopak matanya bergerak, lalu terbuka sepenuhnya.

Bellatrix menatap langit-langit kamar sebentar, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan yang seolah bingung, seolah ia baru saja terbangun dari tidur panjang dan tidak tahu apa yang terjadi.

"Ah...?" suaranya terdengar lemah, matanya berkedip-kedip bingung. "Aku... di mana? Sudah berapa lama aku tidur?"

Ia berpura-pura kaget saat melihat semua orang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kalian... kenapa semua ada di sini? Wajah kalian kok pucat begitu?"

 

Elara langsung berlari mendekat, jatuh berlutut di samping ranjang sambil menangis bahagia. Ia memeluk putrinya dengan hati-hati, takut menyakiti tubuhnya yang masih lemah. "Kamu sadar Bell! Syukurlah... kamu akhirnya sadar, putriku!"

Leonidas menyusul di belakangnya, tangannya gemetar saat menyentuh pipi putrinya yang kini sudah terasa hangat kembali. "Sudah empat hari. Empat hari kamu tidak membuka mata. Kami... kami sangat khawatir."

Alexander, Bianca, dan Cedric yang mendengar suara itu langsung berlari masuk ke dalam kamar, wajah mereka langsung berseri-seri saat melihat Bellatrix sudah membuka mata. Cedric bahkan sampai bertepuk tangan riang tanpa suara, takut mengganggu momen itu.

Namun di tengah keramaian itu, Thiago perlahan berdiri. Ia mundur dua langkah ke belakang, menjauh dari tepi ranjang.

Wajahnya kembali datar seperti biasa, seolah tidak ada percakapan jujur dan penuh penyesalan yang baru saja ia ucapkan beberapa saat yang lalu. Ia menyembunyikan betapa leganya ia, menyembunyikan betapa berdebarnya jantungnya, memilih untuk berdiri di pinggir ruangan dan hanya menatap dari kejauhan.

Bellatrix sempat melirik ke arahnya sekilas, menangkap pandangan matanya yang dalam namun tertutup rapat. Ia tahu alasan di balik sikap itu.

Bellatrix hanya tersenyum tipis, lalu kembali menoleh pada orang tuanya, berpura-pura tidak menyadari apa yang baru saja dikatakan pria itu.

"Aku... aku tidak ingat apa yang terjadi," ucapnya pelan, berbohong sedikit demi menjaga rahasia hati mereka berdua. "Aku hanya ingat sedang berlatih air... lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Lalu ada cahaya... dan aku merasa sangat tenang."

"Itu sudah cukup," kata Leonidas dengan suara parau namun penuh syukur. "Yang penting kamu kembali pada Ayah. Kekuatanmu... kamu sudah menguasainya dengan cara yang benar sekarang. Cahaya tadi... itu tanda bahwa jiwamu sudah utuh."

Bellatrix mengangguk pelan, lalu menatap ke arah Thiago yang masih berdiri diam di kejauhan. Ia ingat pesan dirinya yang asli bahwa Air butuh api untuk tenang. Dan api itu berdiri di sana, menunggu di tempat yang aman, tak berani melangkah maju sebelum diizinkan.

Ia tidak terburu-buru memanggilnya. Ia tahu waktu mereka masih panjang. Ia akan berjalan perlahan mendekatinya, seperti air yang mengalir tenang menuju sumber panasnya.

 

Suasana haru perlahan mereda, namun tidak berubah menjadi hangat sepenuhnya. Keheningan yang kaku masih menyelimuti ruangan itu, seolah ada dinding tipis yang belum runtuh di antara mereka. Bellatrix berbaring diam di atas ranjang, menatap wajah orang-orang yang berdiri di sekelilingnya.

Duchess Elara masih duduk di tepi ranjang, tangannya menggenggam tangan Bellatrix erat, namun gerakannya hati-hati, seolah takut ditolak kembali. Matanya menatap wajah putrinya dengan kerinduan yang tertahan.

"Bella," panggilnya pelan, suaranya lembut namun menjaga batas yang masih ada.

"Kamu sudah terbangun dengan selamat. Itu yang paling penting, Bunda sangat senang sayang"

Bellatrix menatap wajah ibunya, melihat ada ketakutan tersembunyi di balik tatapan itu. Takut jika putrinya kembali menutup diri seperti dulu. Ia mengangguk pelan, suaranya masih lemah. "Ya, Bunda. Aku sudah di sini."

Duke Leonidas berdiri di samping istrinya, rahangnya terlihat menegang keras. Matanya meneliti wajah Bellatrix lekat-lekat, lalu beralih menatap ke arah pintu seolah masih melihat bayangan kejadian di tepi danau.

"Cahaya yang tadi memancar darimu... itu tanda tubuhmu sudah melewati batas kemampuannya," ucapnya pelan namun tegas, nada bicaranya tidak bisa ditawar.

"Mulai hari ini, Bella, kamu tidak akan belajar atau berlatih sihir lagi untuk waktu yang lama. Cukup sudah. Ayah tidak mau melihat kamu terbaring diam seperti ini lagi."

Kalimat itu begitu berat, namun Bellatrix paham itu lahir dari ketakutan yang mendalam. Ayahnya tidak sanggup lagi menahan cemas melihat putrinya berhadapan dengan bahaya yang tak terduga.

"Ayah..." panggil Bellatrix pelan, ingin membantah sedikit, namun kata-kata itu tertahan di kerongkongannya. Ia tahu betul betapa khawatirnya ayahnya.

Alexander yang berdiri agak di belakang akhirnya melangkah maju selangkah. Ia menatap adiknya dengan tatapan yang masih dingin namun menyimpan kekhawatiran yang sama.

"Kamu dengar apa kata Ayah, Bella," katanya singkat. "Kamu istirahat saja. Tidak ada yang perlu kamu kejar, tidak ada yang perlu kau pelajari sekarang. Kesehatanmu jauh lebih penting. Ada kami yang akan selalu melindungi mu"

Sepanjang percakapan itu, tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh atau menyapa sosok yang berdiri diam di sudut ruangan. Thiago masih di sana, tidak bergerak sedikit pun sejak mundur menjauh dari tepi ranjang. Wajahnya kembali datar seperti topeng tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke arah lantai seolah kata-kata Duke itu bukan urusannya. Namun Bellatrix tahu, ia tahu setiap kalimat itu didengarnya dengan jelas. Ia tahu punggung tegap itu sebenarnya menahan kelelahan yang luar biasa, dan tatapan matanya yang sesekali melirik cepat ke arahnya menyimpan rasa bersalah yang tak berani ia tunjukkan.

Bellatrix memperhatikannya lekat-lekat. Ia melihat betapa pucatnya kulit wajah pemuda itu, betapa dalamnya kantung di bawah matanya, tanda bahwa selama empat hari ini ia tidak pernah beristirahat dengan tenang.

Bellatrix perlahan memutar kepalanya, menatap lurus ke arah sudut ruangan tempat Thiago berdiri. Dengan suara yang cukup jelas untuk didengar seluruh ruangan namun tetap lembut, ia bertanya:

"Pangeran Thiago... kenapa kau berdiri di sana begitu saja? Apa keadaanmu baik-baik saja?"

Pertanyaan itu begitu sederhana, namun seketika itu juga membuat semua mata beralih ke arahnya. Leonidas dan Elara terdiam. Alexander pun mengernyitkan dahi.

Thiago tersentak sedikit. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap Bellatrix. Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini terlihat bingung sejenak, seolah tidak menyangka akan ditanya hal seperti itu.

"Aku baik-baik saja," jawabnya singkat, nada bicaranya kembali datar dan tertutup seperti biasa. "Kau yang harus beristirahat. Jangan memikirkan hal lain."

"Tapi kau terlihat berbeda," lanjut Bellatrix perlahan, matanya tak berkedip menatapnya. "Wajahmu pucat pasi. Matamu terlihat sangat lelah. Dan sejak tadi kau tidak duduk sedikit pun."

Thiago terdiam cukup lama. Ia menundukkan pandangannya sejenak, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya tangan yang selama empat hari itu tak pernah lepas dari genggaman tangan dingin Bellatrix, tangan yang kini masih terlihat kaku dan ada bekas kemerahan di buku jarinya karena mencengkeram terlalu erat. Ia menggerakkan jari-jarinya pelan, seolah mencoba meluruskan rasa kaku yang masih tersisa di sana.

"Aku harus pergi sekarang," ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan tenang. "Kau butuh waktu bersama keluargamu. Aku akan kembali nanti saat keadaan sudah lebih tenang."

Ia tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Dengan gerakan yang masih terasa berat namun tetap tegap, ia membungkuk sedikit memberi hormat pada Duke dan Duchess.

"Permisi," ucapnya singkat sekali lagi.

Sebelum melangkah keluar, ia sempat menoleh sekilas ke arah ranjang. Tangan kanannya masih tergenggam longgar di sisi tubuh, seolah masih merasakan jejak kehangatan yang baru saja ia lepaskan. Bellatrix melihatnya dengan jelas, melihat betapa berat hati pemuda itu untuk pergi, meski sikapnya tetap seolah tak tergoyahkan.

Pintu ruangan perlahan tertutup rapat setelah sosoknya lenyap di baliknya. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini ada satu hal yang tersisa di benak Bellatrix: tangan kanan itu, dan janji tak terucap yang masih tersimpan di sana.

 

1
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!