Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Ketemu
Bab 9
Ketemu
"Lagi nyari Mila, Ma."
"Belum ketemu?" tanya bu Lisa.
"Belum, ada apa mama nelpon?" Ujar Arjun.
"Jemput Mama sama Vio di rumah pak rt. Sekarang," titah bu Lisa.
"Ya udah, aku pulang dulu ambil mobil." Arjun mematikan sambungan telepon lalu putar arah jalan pulang.
Arjun kaget saat sampai di rumah dia tak melihat mobil inventaris di garasi. Padahal sebelum dia pergi tadi mobil itu masih terparkir di tempatnya.
"Mila pulang?" Arjun langsung menelpon Mila. Tapi nomornya masih belum aktif juga.
Pria itu masuk ke dalam rumah untuk memastikan sesuatu sambil meneriaki nama Mila. Tapi yang di cari tak menampakkan batang hidungnya.
Tak putus asa, Arjun pun pergi untuk mencari Mila kembali. Meski perutnya sudah terasa lapar karena uang sudah habis di tangan.
*
Keesokan harinya, Mila bangun dengan perasaan yang lebih tenang. Di rumah kontrakan yang baru ini, meski sendiri. Dia merasakan ketenangan, wanita itu sudah bersiap untuk berangkat kerja. Hari ini adalah hari yang baru di mulai sejak dia tidak di rumah yang seperti neraka.
Sembari memikirkan langkah apa yang akan dia ambil untuk selanjutnya, apakah harus cerai saja dengan Arjun. Tapi rasanya tidak semudah itu untuk bercerai.
"Mbak Mila, ada yang menunggu di ruangan," ucap resepsionis begitu Mila masuk kantor untuk menuju ke ruangannya.
Degh
Pikiran Mila langsung tertuju pada Arjun. Dia pun sangat malas untuk naik ke ruangan, tapi pekerjaan pagi ini mengharuskannya untuk segera di selesaikan.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Mila langsung meninggalkan resepsionis dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Sosok pria tengah duduk di sofa dengan wajah menunduk sembari menatap payar ponsel.
"Mil, akhirnya kamu datang juga. Kamu kemana aja?" Tanya Arjun dengan lembut. Tak seperti biasanya.
Pria itu langsung menghampiri Mila sembari memeriksa apakah ada yang kurang dari tubuh istrinya tersebut.
"Mau ngapain ke sini?" Tanya Mila dengan dingin.
"Mas khawatirin kamu, takut kenapa-napa. Sebenarnya ada apa kok kamu nggak pulang ke rumah, ini bukan seperti kamu yang biasanya loh," beber Arjun masih dengan lembut.
"Tanya saja ibumu. Kalau tidak ada yang penting mending kau pulang saja. Aku mau kerja," usir Mila. Tak ingin mendengar basa- basi dari Arjun.
"Ini penting Mila, kau tidak pulang ke rumah dan sekarang mengusirku. Berani membangkang suami ya sekarang, hah!" Tekan Arjun yang spontan menjambak rambut Mila dengan suara tertahan.
Pria itu berusaha agar tidak langsung meledak seolah memahami situasi di luar rumah. Tapi sepertinya kesabarannya hanya setipis tisu.
Mila meringis sembari menahan lengan Arjun. "Lepas, Mas. Ini di kantor. Aku akan teriak kalo tidak aku akan ..."
"Akan apa, hmm!" Arjun semakin kuat menarik rambut wanita itu hingga kepala Mila miring mengikuti arah tarikan Arjun.
Perih, itu yang saat ini Mila rasakan di bagian kepalanya.
"Aku akan teriak, lepaskan!" Mila berusaha meronta untuk lepas dari Arjun.
Arjun mencekik leher Mila dengan emosi yang sudah mulai memuncak. Dia tak terima Mila membantah dan meronta seperti ini.
"Berani sekali ya, kau sudah bosan hidup. Baiklah, mau mati sekarang?" Arjun semakin kuat menekan leher Mila hingga wanita itu sulit bernapas.
Mila hanya bisa menepuk-nepuk lengan Arjun agar melepaskan tangannya di leher dan juga rambutnya. Air mata Mila akhirnya luruh juga, ini sudah yang kesekian kali Arjun kasar padanya.
Arjun pun melepaskan tangannya dan tertawa sinis. Rasanya belum puas, nanti harus ada ronde ke dua agar Mila paham tugasnya sebagai istri dan harus patuh padanya.
"Uhuk, uhuk!" Mila terbatuk begitu Arjun melepaskannya.
"Sekarang aku akan pergi, kamu bekerjalah dengan baik ya." Arjun menepuk kepala Mila pelan penuh kasih sayang.
Namun, dengan sigap merampas tas Mila dari bahu wanita itu.
"Jangan sentuh tasku!" tahan Mila.
"Ssstt, jangan berisik." Mata Arjun membulat dan senyum lebar begitu menemukan uang lembaran biru. Dia mengambil semua uang yang ada di tas Mila.
"Jangan, Mas. Jangan di ambil. Itu bukan uang aku, itu mau buat biaya operasional gudang." Mohon Mila.
"Apa peduliku," senyum pria itu luntur dan melemparkan tas itu ke wajah Mila.
"Aku butuh ini, kau tidak pulang dan membiarkan suami kelaparan." Arjun berlalu begitu saja.
Mila mengepalkan tangan begitu melihat pintu itu tertutup. Dia sangat kesal, kenapa pria itu harus datang dan malah merampas uangnya.
Tas mungil itu tergolek di lantai dengan isi yang berantakan. Mila memungutnya dan merapikan kembali dengan bibir bergetar. Hatinya tidak akan ikhlas.
"Aku benar-benar muak," bisik Mila.
Wanita itu menuju ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya yang sudah kusut bagai terkena badai, badai rumah tangga yang begitu memuakkan.
Begitu dia selesai dari kamar mandi, Mila mendapati Andra sudah duduk di kursinya menghadap ke laptop. Mengecek laporan dengan serius.
"Kenapa wajahmu, Mil?" Tanya Andra saat melihat perubahan Mila.
"Cuma kelilipan tadi." Bohongnya. Dia sedang enggan menjelaskan.
Tujuannya pagi ini adalah bekerja, tapi bukan Andra namanya kalau tidak mendapat jawaban yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Pria itu beranjak dari kursinya dan mendekat pada Mila. Melihat dari jarak dekat untuk memastikan wanita itu. Andra terkejut saat melihat leher Mila ada bekas kemerahan di sana.
"Dia datang dan menyakiti kamu lagi?" Tanya Andra.
Mila hanya menunduk dan menggeleng pelan. Ini masalah rumah tangga yang tidak harus orang luar ketahui meski Andra sudah tahu semuanya.
"Kamu masih mau bertahan dengan pria itu?" Andra tidak rela melihat Mila seperti ini.
"Stop, Pak. Saya sedang tidak ingin membahasnya. Ini jam kerja dan saya mau bekerja." Mila berlalu ke mejanya dan Andra akhirnya menahan diri.
Pria itu memperhatikan Mila yang sedang fokus bekerja meski terlihat sedang menahan sesuatu. Pria itu memilih keluar dan membiarkan Mila konsentrasi dengan pekerjaannya meski dia ingin sekali menyuruh Mila pulang saja untuk istirahat.
Beberapa menit kemudian apa yang Andra inginkan sudah ada di tangan. Dia meminta bukti rekaman cctv di ruangannya.
Rahang pria itu mengeras saat melihat ada Arjun yang tengah menyakiti Mila. Sudah seperti itu tapi Mila masih terlihat tenang di hadapan orang lain. Andra menggebrak meja.
"Aku harus membuat Mila mau melepaskan pria kejam itu." Tekat Andra.
Dia menghubungi seseorang seperti biasa dan meminta orang itu memberi laporan padanya. Dia sangat kesal tapi Mila malah masih bisa memikirkan pekerjaan dari pada kondisi mentalnya.
Sejenak kemudian Andra merasa bangga dengan Mila. "Kamu sangat hebat, menutupi luka hati dan beban mental agar terlihat baik-baik saja di luaran sana."