Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Undangan dari gadis bangsawan
Keramaian di atas tembok Kota Yunfeng perlahan mulai mereda. Para penjaga kembali menempati pos masing-masing untuk memastikan tidak ada gelombang serangan susulan dari monster roh, sementara para kultivator yang sebelumnya berkumpul di garis pertahanan mulai meninggalkan tempat itu satu per satu.
Suara percakapan memenuhi jalanan di bawah tembok kota. Hampir semua orang masih membicarakan pemuda asing yang hanya memiliki kultivasi Mortal Langit Bintang Satu, namun mampu membunuh Monster Bayangan Bertulang Besi yang bahkan membuat banyak kultivator Mortal Langit Bintang Empat enggan menghadapinya sendirian.
Nova sendiri sama sekali tidak memedulikan berbagai tatapan yang mengarah kepadanya. Baginya, pertempuran tadi hanyalah hasil dari latihan tanpa henti yang ia jalani bersama Zira di ruang dimensi. Jika monster seperti itu muncul di hadapannya beberapa bulan yang lalu, mungkin hasilnya akan sangat berbeda.
"Sebaiknya kita kembali ke penginapan," ujar Yan Mei sambil meregangkan kedua lengannya. Senyum ceria kembali menghiasi wajah gadis itu setelah ketegangan barusan berakhir. "Aku masih penasaran dengan mie instan masakanmu itu, Nova. Jangan bilang persediaanmu sudah habis."
Nova terkekeh pelan.
"Tenang saja."
"Aku masih menyimpan cukup banyak."
Mata Yan Mei langsung berbinar.
"Bagus!"
"Kalau begitu malam ini kau yang memasak lagi."
Ucapan gadis itu langsung mengundang tawa kecil dari Gu Shen dan Qin Yu. Bahkan Luo Bing yang biasanya menjaga ekspresi dinginnya tampak menggeleng pelan, meski sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyum tipis.
"Kau benar-benar tidak punya harga diri sebagai seorang kultivator," sindir Qin Yu sambil mengibaskan kipas gioknya.
Yan Mei mendengus.
"Kalau makanan enak, untuk apa menjaga gengsi?"
"Justru orang bodoh yang rela melewatkan makanan seenak itu."
Mendengar jawaban tersebut, seluruh rombongan kembali tertawa ringan.
Suasana yang semula dipenuhi ketegangan perlahan berubah hangat ketika mereka berjalan menyusuri jalan utama Kota Yunfeng menuju Penginapan Awan Abadi.
Sementara itu, di salah satu bangunan megah yang berdiri tepat berseberangan dengan penginapan tempat Nova menginap, sepasang mata bening diam-diam memperhatikan rombongan tersebut dari balik jendela lantai tiga.
Gadis itu berdiri dengan anggun mengenakan gaun sutra berwarna ungu muda yang dihiasi sulaman bunga-bunga spiritual berwarna perak. Rambut hitam panjangnya terurai lembut hingga mencapai pinggang, sementara beberapa helaian rambut di sisi wajahnya bergerak perlahan tertiup angin yang masuk melalui jendela.
Wajahnya begitu cantik, seolah dipahat dengan sempurna oleh langit.
Kulitnya putih bagaikan giok terbaik, hidungnya mancung, sementara kedua matanya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kecantikannya bukan sekadar memikat, tetapi juga membawa aura bangsawan yang membuat siapa pun secara naluriah menjaga sikap ketika berdiri di hadapannya.
Dialah gadis yang tanpa sengaja dilihat Nova ketika sedang berganti pakaian beberapa saat sebelumnya.
Sejak kejadian itu, rasa penasarannya justru semakin bertambah.
Tatapannya kini tertuju lurus kepada sosok Nova yang berjalan santai bersama Lin Xue dan rombongannya.
"Itu dia..." gumamnya lirih.
Di belakang gadis tersebut berdiri seorang pelayan wanita yang telah mengikutinya selama bertahun-tahun.
"Nona, apakah pemuda itu yang Anda maksud?"
Gadis itu menganggukkan kepala perlahan.
"Aku merasakan sesuatu yang aneh darinya."
"Dia hanya berada di Mortal Langit Bintang Satu."
"Tetapi bahkan Tetua Xu sampai memperhatikannya."
Pelayan itu sedikit terkejut.
"Apakah Nona ingin aku menyelidiki identitasnya?"
Gadis tersebut tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih mengikuti langkah Nova hingga sosok pemuda itu perlahan menghilang di balik keramaian jalan.
Beberapa saat kemudian, ia menggeleng pelan.
"Tidak."
"Untuk saat ini... cukup awasi saja."
"Orang seperti dirinya pasti tidak akan lama menjadi orang biasa di Kota Yunfeng."
Pelayan itu segera membungkukkan badan.
"Baik, Nona."
Gadis cantik itu kemudian menoleh ke arah langit Kota Yunfeng yang mulai kembali tenang.
Di balik keteduhan wajahnya, tersimpan rasa penasaran yang semakin kuat.
Entah mengapa...
Naluri yang selama ini jarang meleset mengatakan bahwa kedatangan pemuda bernama Nova akan membawa perubahan besar, bukan hanya bagi Kota Yunfeng, melainkan juga bagi banyak kekuatan besar di Planet Galastos.
Dan sebagai putri dari salah satu keluarga bangsawan paling berpengaruh di Kota Yunfeng... ia merasa takdir mereka mungkin akan kembali bersinggungan dalam waktu yang tidak lama lagi.
Rombongan Lin Xue terus melangkah menyusuri jalan utama Kota Yunfeng. Kini suasana kota telah kembali seperti sediakala. Para pedagang kembali membuka kios-kios mereka, para pandai besi kembali menempa senjata spiritual hingga menimbulkan dentingan logam yang saling bersahutan, sementara para kultivator dari berbagai penjuru kota masih membicarakan pertempuran yang baru saja terjadi.
Sesekali Nova menangkap bisikan-bisikan yang terdengar di sepanjang jalan.
"Itu dia..."
"Pemuda yang membunuh Monster Bayangan Bertulang Besi."
"Katanya hanya Mortal Langit Bintang Satu."
"Mustahil."
"Pasti dia menyembunyikan kultivasinya."
Nova hanya tersenyum kecil mendengar berbagai dugaan tersebut. Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan apa pun. Di dunia kultivasi, semakin sedikit orang mengetahui kemampuan sebenarnya, semakin baik bagi keselamatannya.
Namun, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama.
Di salah satu sudut jalan, beberapa pemuda berpakaian mewah memperhatikan kepergian Nova dengan tatapan yang dipenuhi kecemburuan.
"Sial..."
"Anak itu benar-benar beruntung."
"Senior Xu bahkan memberinya satu janji."
Salah seorang dari mereka mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kalau bukan karena dia datang lebih dulu, perhatian Senior Xu pasti akan jatuh kepadaku."
Pemuda lainnya hanya mendengus pelan.
"Tenang."
"Di Kota Yunfeng, bakat saja tidak cukup."
"Banyak jenius datang setiap tahun."
"Tidak semuanya mampu bertahan hidup."
Mereka tertawa kecil, namun tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ucapan tersebut perlahan mulai menjadi awal lahirnya rasa iri terhadap Nova.
Tidak lama kemudian, rombongan akhirnya kembali memasuki Penginapan Awan Abadi.
Pemilik penginapan yang sebelumnya sempat dibuat terkejut oleh batu roh tingkat menengah milik Nova segera menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Selamat datang kembali, para tamu."
"Kudengar kalian baru saja membantu mempertahankan kota."
Yan Mei langsung mengangkat dagunya dengan bangga.
"Bukan kami."
"Nova."
Pemilik penginapan itu spontan menoleh ke arah Nova dengan tatapan penuh hormat.
"Jadi benar berita yang beredar..."
"Tuan Mudalah yang membunuh Monster Bayangan Bertulang Besi itu."
Nova hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Aku hanya kebetulan berada di sana."
Pemilik penginapan ikut tersenyum. Di dunia kultivasi, semakin kuat seseorang, biasanya semakin rendah hati ucapannya.
Sikap Nova justru membuat penilaiannya terhadap pemuda itu semakin tinggi.
Setelah berbincang beberapa saat, seluruh anggota rombongan kembali menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Namun ketika Nova baru saja hendak memasuki kamarnya, terdengar suara langkah kaki yang sangat lembut dari belakang.
"Tuan Muda."
Nova menoleh. Seorang pelayan wanita mengenakan pakaian hijau muda sedang berdiri beberapa langkah darinya sambil sedikit membungkukkan badan.
"Ada apa?" tanya Nova.
Pelayan itu mengeluarkan sebuah kartu giok berwarna putih dari lengan bajunya.
"Nona kami ingin menyampaikan salam."
Nova sedikit mengernyit. "Nona kalian?"
Pelayan itu mengangguk. "Nona yang tinggal di Paviliun Giok Bulan di seberang penginapan ini."
Mendengar penjelasan tersebut, Nova langsung teringat kepada gadis yang tidak sengaja dilihatnya saat berganti pakaian.
Pelayan itu melanjutkan dengan sopan.
"Nona kami berkata bahwa kejadian sebelumnya hanyalah sebuah kesalahpahaman."
"Beliau tidak mempermasalahkannya."
"Dan sebagai tanda itikad baik, beliau mengundang Tuan Muda untuk menghadiri jamuan minum teh tiga hari dari sekarang."
Nova terlihat sedikit terkejut. Ia tidak menyangka gadis itu justru mengirim undangan, bukan kemarahan.
"Aku..."
Belum sempat Nova menyelesaikan ucapannya, pelayan itu kembali berbicara.
"Nona juga mengatakan..."
"Apabila Tuan Muda merasa tidak nyaman, undangan itu tidak wajib dipenuhi."
"Keputusan sepenuhnya berada di tangan Tuan Muda."
Setelah menyerahkan kartu giok tersebut, pelayan itu kembali memberi hormat sebelum berbalik meninggalkan lorong penginapan.
Nova memandangi kartu giok di tangannya beberapa saat. Di permukaannya terukir sebuah lambang bunga teratai berlapis sembilan yang memancarkan cahaya lembut.
Di dalam lautan jiwa, Tian Long tiba-tiba terkekeh.
"Hahaha..."
"Bocah."
"Sepertinya pesonamu mulai bekerja bahkan sebelum kau sempat mencari Zira."
Nova langsung memutar bola matanya.
"Senior..."
"Ini jelas hanya kesalahpahaman."
Tian Long tertawa semakin keras.
"Aku sudah hidup puluhan ribu tahun."
"Percayalah."
"Jarang ada seorang gadis bangsawan mengirim undangan secara pribadi kepada pria asing."
Nova hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali belum memikirkan hal semacam itu.
Baginya, prioritas utamanya tetap mencari keberadaan Zira dan memahami dunia baru yang kini ia pijak. Namun jauh di dalam Paviliun Giok Bulan...
Gadis bangsawan itu kembali berdiri di balik jendela sambil memandang ke arah Penginapan Awan Abadi.
Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya.
"Nova..."
"Semoga kau tidak mengecewakanku."
Tanpa disadarinya...
Benih-benih takdir perlahan mulai terjalin di antara mereka berdua, sementara roda nasib di Planet Galastos terus bergerak menuju arah yang bahkan para ahli tertinggi sekalipun belum mampu melihat akhirnya.