Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Matahari pagi muncul menyapa dunia. Drake berdiri di balkon kamarnya sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang. Tubuh atletisnya hanya dibalut celana training hitam, dada bidangnya terpapar udara pagi yang sejuk.
Sedangkan Nathalie masih tertidur pulas di atas tempat tidur besar, tubuhnya yang penuh tanda merah tersembunyi di balik selimut tebal. Malam yang panjang dan melelahkan kemarin meninggalkan jejak yang dalam pada keduanya.
Drake tak lagi berada di sana sepenuhnya. Ia sudah bangun sejak subuh, menelepon beberapa orang penting, dan mengatur segalanya.
Ayah Nathalie, pria tua yang sudah bertahun-tahun lumpuh dan sekarang mengalami patah panggul, butuh segera di operasi. Biaya yang semula membuat Nathalie putus asa kini tak lagi menjadi masalah.
Dengan satu panggilan telepon ke rumah sakit swasta miliknya, Drake mengambil alih segalanya. Ia bukan hanya membayar penuh biaya operasi, tapi juga semua perawatan pasca-operasi, obat-obatan, dan bahkan rehabilitasi jangka panjang. Uang baginya bukan halangan. Yang penting adalah Nathalie. Ia ingin wanita itu berhutang budi sepenuhnya padanya, terikat padanya, baik secara emosional maupun fisik.
Beberapa jam kemudian, Drake berangkat ke rumah sakit tanpa berpamitan dengan Nathali terlebih dahulu. Dia tidak ingin mengganggu istirahat wanita itu.
Drake tiba di rumah sakit dengan jas dokter putih yang rapi dan berwibawa. Rambutnya disisir ke belakang, tatapannya tajam dan penuh otoritas. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah tegas, diikuti oleh beberapa dokter senior dan perawat yang tampak segan.
Di ruang rapat tim bedah, Drake berdiri di ujung meja, tangannya bertumpu pada permukaan kaca. Layar proyektor menampilkan hasil scan dan rekam medis ayah Nathalie.
“Buat jadwal untuk operasinya secepat mungkin,” perintah Drake dengan suara dalam dan tegas yang tak boleh dibantah. “Saya akan memimpin langsung operasinya.”
Ruangan sesaat hening. Para dokter saling pandang. Drake bukan hanya dokter biasa, ia adalah salah satu ahli bedah terbaik di negara ini, dengan reputasi yang membuat banyak rumah sakit berebut.
Seorang dokter muda dengan cepat menjawab, “Baik, Dokter Drake. Kami akan siapkan jadwalnya untuk besok pagi.”
“Baik, Dokter Drake,” jawab tim lainnya hampir serentak, nada mereka penuh hormat.
Drake mengangguk singkat. “Pastikan ruang operasi steril sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun. Saya mau operasi kni berhasil” Kata-kata itu keluar begitu saja, membuat beberapa perawat yang mendengar tersenyum tipis dan saling berbisik.
"Dokter Drake terlihat perduli banget dengan pasien itu"
"Iya, atau bisa jadi dokter Drake menyukai anaknya".
Sela yang mendengarnya merasa panas. Dia tidak suka pria itu menyukai wanita lain selain dirinya.
"Jangan bergosip, tidak mungkin dokter Drake menyukai wanita kampung seperti anak pasien itu" seru Sela.
"Tidak mungkin bagaimana dokter Sela. Kenyataannya dokter Drake yang membiayai operasinya, sekaligus memimpin operasinya langsung. Padahal sebelum-sebelumnya dokter Drake tidak seperti itu dengan pasien"
Sebelumnya Drake memang sering menolong pasien yang tidak mampu. Tapi bukan Drake langsung yang melakukannya, melainkan dari program rumah sakitnya langsung. Berbeda dengan ayah Nathalalie, semua di urus sendiri olehnya.
******
Sore harinya, Drake kembali ke rumah. Ia masuk ke kamar dengan langkah pelan.
Nathalie duduk di tepi tempat tidur dengan memakai salah satu kemeja oversized milik Drake. Matanya masih tampak lelah, tapi ada harapan kecil ketika Drake mendekat dan duduk di sampingnya.
“Aku sudah mengurus operasi ayahmu” kata Drake langsung, tangannya memegang dagu Nathalie lembut agar wanita itu menatapnya.
"Operasi besok pagi. Aku sendiri yang akan memimpin tim bedah. Semua biaya sudah saya tanggung. Kamu tidak perlu khawatir lagi soal uang.”
Nathalie terpaku. Air mata langsung menggenang di matanya. “Drake... kenapa kamu melakukan ini semua?” suaranya bergetar, campuran antara syukur, ketakutan, dan kebingungan.
Drake tersenyum tipis, ibu jarinya mengusap bibir bawah Nathalie. “Karena kamu milikku. Apa pun yang berhubungan denganmu, menjadi tanggung jawabku. Jika ayahmu sembuh, berarti kamu semakin terikat padaku. Mengerti?”
Nathalie mengangguk pelan, tak punya kekuatan untuk membantah.
Drake menariknya ke pangkuan, memeluknya erat sambil mengusap punggungnya. “Besok aku akan selamatkan ayahmu. Malam ini, istirahat yang cukup. Besok pagi kamu ikut aku ke rumah sakit.”
Drake tak lagi kasar seperti sebelumnya. Ia bercinta dengan Nathalie dengan penuh kontrol, pelan, dalam, dan penuh makna. Setiap gerakan seolah menyegel janji bahwa ia adalah penyelamat, pelindung, sekaligus penguasa dalam hidup Nathalie.
Tubuh mereka saling menyatu di bawah cahaya lampu temaram, erangan pelan Nathalie menjadi satu-satunya musik yang Drake inginkan.
****
Keesokan paginya, suasana rumah sakit terasa tegang. Ayah Nathalie sudah dipindahkan ke ruang operasi. Drake berdiri di depan cermin ruang ganti, memakai baju bedah hijau dengan gerakan terlatih. Masker menutupi sebagian wajahnya, tapi matanya tetap tajam dan fokus.
Di ruang tunggu, Nathalie duduk gelisah, tangannya saling meremas. Drake sempat mendatanginya sebelum masuk ke ruang operasi. Ia membungkuk, mencium kening Nathalie lama.
“Aku akan bawa ayahmu kembali dalam keadaan sehat. Tunggu aku,” bisiknya.
Operasi berlangsung hampir enam jam. Drake memimpin tim dengan tangan yang tegas dan presisi.
Suaranya di dalam ruang operasi dingin dan berwibawa, “Clamp di sini. Jahit pembuluh ini dengan hati-hati.” Setiap keputusan yang diambilnya menentukan nyawa. Keringat membasahi dahinya, tapi ia tak goyah sedikit pun.
Seluruh tim bekerja dalam harmoni di bawah kepemimpinannya.
Di luar, Nathalie mondar-mandir, doa terus terucap di bibirnya. Waktu terasa lambat sekali. Akhirnya, lampu ruang operasi padam. Drake keluar dengan langkah lelah tapi penuh kemenangan. Jas bedahnya masih melekat, masker diturunkan ke dagu. Ia langsung mencari Nathalie, dan saat melihat wanita itu berlari mendekat, Drake membuka pelukannya.
“Operasinya berhasil,” katanya pelan, suaranya serak karena kelelahan. “Ayahmu stabil. Beberapa hari ke depan masih kritis, tapi peluang sembuhnya sangat tinggi.”
Nathalie menangis dalam pelukan Drake. “Terima kasih... terima kasih banyak, Drake.”
Drake mengusap punggungnya, bibirnya menyentuh puncak kepala Nathalie. “Jangan berterima kasih dengan kata-kata saja. Tunjukkan dengan cara yang aku suka nanti di rumah.”