Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 | DETAK JANTUNG
Dante beranjak berdiri matanya menyapu sekeliling ruangan dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Di sudut ruangan, beberapa pengawal pribadinya masih berdiri, mata mereka tak sengaja terarah pada kaki jenjang Elara yang terekspos karena kaus kebesaran itu.
"Jika matamu tidak berharga aku bisa membuangnya saat ini juga," suara Dante rendah, namun mengandung ancaman kematian yang nyata. Para pengawal itu tersentak, menunduk dalam, dan segera mundur teratur hingga ruangan kembali sunyi.
Elara berdiri di tengah ruangan tangannya bersedekap di dada, menantang tatapan Dante.
" Baju dan tasku. Sekarang."
Dante mengabaikan tuntutan itu, ia justru melangkah mendekat hingga aromanya campuran antara kayu cedar dan tembakau mahal memenuhi indra penciuman Elara.
" Kenapa kau memakainya, Elara? Bokserku yang longgar dan kaus yang bahkan menenggelamkan tubuhmu itu? Kau ingin terlihat seperti milikku di depan mereka?"
Elara tertawa sinis. "Kau terlalu percaya diri. Aku tidak punya pilihan lain setelah kau membiarkanku muntah di bajumu semalam, bukan?"
Dante mengunci jarak, rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. " Kau tidak tahu betapa sulitnya menahan diriku untuk tidak menghabisi siapa pun yang menatapmu seperti tadi. Kau milikku, dan hanya aku yang berhak melihatmu dalam keadaan seperti ini."
"Cemburu?" Elara mengangkat sebelah alisnya, senyum remeh tersungging di bibirnya. "Kau tidak punya hak, Dante. Kita hanya pion dalam permainan ini."
Dante membeku. Kata 'cemburu' seperti racun di telinganya. Ia tidak suka merasa terkendali oleh emosi, namun fakta bahwa ia ingin menyembunyikan Elara dari pandangan dunia membuatnya gila.
Elara memutar tubuhnya, meraih tasnya yang tergeletak di dekat sofa. "Aku pergi. Aku sudah cukup lama berada di sarang monster ini."
Belum sempat Elara melangkah, Dante menyambar Pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan yang sangat kasar namun terkendali, Dante mengangkat tubuh Elara ke atas bahunya.
"Turunkan aku, bajingan!" teriak Elara, memukul punggung pria itu dengan sia-sia.
Dante mengabaikan protes itu. Ia berjalan cepat menuju sofa panjang di tengah ruangan dan menghempaskan Elara ke sana. Sebelum Elara bisa bangkit, Dante sudah mengunci pergerakannya, tubuhnya menindih Elara dengan tekanan yang membuat gadis itu tak bisa berkutik.
"Semalam kau sudah merusak segalanya, Letnan. Kau datang, kau menantangku, dan kau menodai harga diriku dengan muntahanmu," bisik Dante di depan bibirnya. "Sekarang, kau pikir kau bisa pergi begitu saja?"
Elara terengah-engah, matanya berkilat menantang.
" Lalu apa yang kau inginkan Uang? Informasi? Aku tidak akan memberikan apa pun padamu."
Jari Dante yang kasar menelusuri garis rahang Elara, turun ke leher hingga berhenti tepat di atas detak jantungnya yang berdegup kencang. "Aku tidak butuh uangmu. Aku ingin kau membayar harga dari apa yang kau mulai."
Dante mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas mereka bersatu. "Jadilah milikku selama 48 jam ke depan. Jangan ada misi, jangan ada CIA, jangan ada rahasia. Hanya kau dan aku di sini. Jika kau berhasil menahan diriku dan menahan dirimu sendiri aku akan memberikan jawaban tentang siapa yang sebenarnya membunuh nenekmu."
Elara menahan napas Penawaran itu adalah jebakan maut, namun rasa penasaran akan kebenaran masa lalunya adalah rantai yang mengikatnya.
"Kau gila," bisik Elara dengan suara parau.
"Aku memang gila," Dante tersenyum miring, senyum yang menjanjikan kehancuran sekaligus kenikmatan. "Dan kau, Elara, adalah obsesi yang akan menghancurkanku
Elara menatap Dante dengan tatapan yang menyiratkan kebencian murni saat ia menangkap sinyal dari jari pria itu. Dante menginginkannya bukan hanya sebagai pion, tapi sebagai sesuatu yang bisa disentuh, dimiliki, dan dihancurkan.
"Jangan pernah berpikir kau bisa membeliku," desis Elara, suaranya sedingin es.
Tepat saat itu, ponsel di sakunya bergetar. Elara segera menarik diri dan mengangkat panggilan tersebut. Nama ibunya, Elena Vanderbilt, muncul di layar. Dante tidak menjauh; ia berdiri tepat di sampingnya, sengaja membiarkan tubuhnya bersinggungan dengan Elara, mendengarkan setiap kata melalui jarak yang tak masuk akal.
"Elara, sayang?" suara Elena terdengar sangat hati-hati. "Ibu baru saja bicara dengan keluarga Sterling. Mereka sangat tertarik denganmu. Anak laki-laki mereka baru saja kembali dari luar negeri, dan mereka ingin sekali menjodohkanmu."
Elara mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena perjodohan itu, tapi karena tatapan Dante yang kini berubah menjadi gumpalan amarah yang gelap.
"Bu, aku sudah bilang, aku tidak tertarik pada permainan perjodohan konyol itu," Elara membalas, matanya terkunci pada rahang Dante yang semakin mengeras.
"Ibu mengerti, tapi ini bukan sekadar bisnis. Ini tentang masa depan Vanderbilt," Elena menghela napas panjang. " Besok malam, jam tujuh, di restoran keluarga. Pakailah sesuatu yang pantas. Jangan memakai celana atau seragam lapanganmu. Ini permintaan Ibu."
Sambungan telepon terputus. Ruangan itu mendadak sunyi. Dante melangkah maju, memangkas jarak hingga Elara bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh pria itu.
"Anak laki-laki dari keluarga Sterling?" Dante bertanya, suaranya sangat rendah, nyaris seperti geraman binatang buas yang terluka. Ia tidak lagi menatap Elara dengan gairah, melainkan dengan tatapan posesif yang mengerikan.
Elara menelan ludah, mencoba menegakkan Punggungnya. "Itu urusanku. Bukan urusanmu."
"Urusanmu adalah milikku selama 48 jam ini," Dante mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Elara.
"Jangan berani-berani memikirkan pria lain, atau aku akan memastikan keluarga Sterling itu tidak pernah ada di peta lagi."
Tepat saat itu, bel Penthouse berbunyi. Dante menoleh ke arah pintu dengan tatapan tajam. Ia melangkah menjauh, meninggalkan Elara yang masih terpaku dalam kekacauan emosinya sendiri.
"Kau akan pergi menemui mereka?" Dante bertanya sambil berjalan menuju pintu, suaranya berubah datar dan dingin, kehilangan jejak kehangatan yang tadi ia paksakan.
"Mungkin," jawab Elara, sebuah kebohongan yang ia ucapkan hanya untuk memancing reaksi Dante. "Kenapa? Apa kau peduli?"
Dante berhenti di depan pintu, ia tidak menoleh, bahunya terlihat tegang. "Aku tidak peduli. Kau bisa menikahi siapa pun yang kau mau. Itu tidak akan mengubah fakta bahwa kau sudah masuk ke dalam jaringku."
Tanpa menunggu jawaban, Dante membuka pintu dan menghilang ke lorong, menutupnya dengan dentuman keras yang menggetarkan isi ruangan.
Elara memegang dadanya sendiri. Ia merasa sesak. Ia seharusnya lega karena pria itu pergi, tapi sebaliknya, rasa sakit yang asing dan menusuk justru menghujam jantungnya. Ia tidak mengharapkan Dante, ia tidak menginginkan pria berdarah dingin ini, namun sikap dingin Dante barusan terasa seperti pisau yang menyayat egonya.
Kenapa aku merasa seperti kehilangan sesuatu? pikir Elara dengan getir. Ia menatap pintu yang tertutup rapat, menyadari bahwa permainan ini baru saja menjadi jauh lebih berbahaya bagi hatinya sendiri daripada bagi nyawanya.
●●●