NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

​Malam harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Bu Broto yang masih menyimpan kekesalan karena diabaikan sejak siang, langsung mengadukan Rena kepada Aris begitu pria itu mendudukkan diri di kursi makan. Dengan wajah yang dibuat seolah menjadi korban, wanita tua itu mulai melancarkan aksinya untuk mengadu domba anak dan menantunya.

​"Aris, kamu harus tahu apa yang dilakukan istrimu hari ini," adu Bu Broto dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke dapur. "Katanya tadi pagi dia mendaftarkan Dio sekolah, tapi masa pulangnya sampai siang sekali? Pasti dia keluyuran tidak jelas tadi siang itu, menghabiskan uang atau entah berbuat apa di luar sana!"

​Siska yang sedang menyendok nasi ikut memanasi suasana. "Iya, Mas. Gaya Mbak Rena sekarang sudah berbeda. Sudah berani pergi-pergi tanpa izin ga jelas gitu."

​Aris hanya diam mendengar dan tidak merespon aduan dari ibunya. Pria itu terus mengunyah makanannya dengan tatapan lurus ke piring, seolah-olah obrolan di sekitarnya hanyalah latar belakang suara yang tidak penting. Sementara itu, Rena yang melayani makan mereka juga tidak bersuara sedikit pun untuk membela dirinya. Dia meletakkan mangkuk sayur di atas meja tanpa membantah, tanpa ekspresi, seolah tubuhnya ada di sana tetapi jiwanya telah mati untuk keluarga ini.

​Setelah selesai dengan urusan perutnya, Aris melangkah masuk ke dalam kamar mereka yang temaram. Rena sedang merapikan baju-baju Dio di dalam lemari ketika Aris menutup pintu kayu di belakangnya. Sebelum naik ke atas kasur dan bersiap untuk tidur, Aris menghentikan langkahnya. Dia menatap Rena dengan tatapan penuh tanya, gurat kebingungan bercampur jengkel terlihat jelas di wajahnya.

​"Ren," panggil Aris dengan suara beratnya.

​Rena tidak menoleh, dia tetap melipat kaus kecil milik anaknya. "Ya?"

​"Apakah yang dikatakan Ibu tadi benar? Kamu tadi keluar rumah untuk mendaftarkan Dio sekolah?" tanya Aris memastikan.

​Rena menghentikan gerakan tangannya sejenak, lalu mengangguk singkat tanpa menatap suaminya. "Iya, benar."

​Kening Aris berkerut lebih dalam. Dia melangkah setapak lebih dekat ke arah lemari. "Lalu, dari mana kamu dapat uang untuk mendaftarkan sekolah? Bukankah kemarin sudah kubilang kalau aku belum gajian dan tidak punya uang untuk itu?"

​Rena akhirnya membalikkan tubuhnya, menatap Aris dengan sepasang mata yang dingin dan hambar.

"Sekolah Dio gratis, Mas. Pendaftaran murid baru di SD Negeri tidak dipungut biaya sepeser pun,semua ditanggung sekolah dan dinas."

​Aris diam. Ada kilat keterkejutan di matanya, sebelum akhirnya dia membuang muka sejenak karena merasa tebakannya salah. Namun, keheningan itu kembali dipecah oleh pertanyaan Aris berikutnya.

​"Kalau memang gratis, kenapa kamu baru pulang siang sekali? Ibu bilang kamu keluyuran setelah dari mendaftar sekolah," cecar Aris dengan nada menginterogasi. "Kemana kamu pergi setelah mendaftarkan Dio sekolah?"

​Rena menarik napas panjang, menatap suaminya lurus-lurus tanpa ada lagi rasa takut yang biasa menggelayuti dadanya.

"Aku pergi mencari pekerjaan, Mas."

​Mendengar itu, Aris terkejut bukan main. Wajahnya seketika memerah dan dia mau naik pitam. "Mencari pekerjaan? Kamu mau bikin malu aku, Ren?! Apa kata orang kantor nanti kalau tahu istriku bekerja? Apa kurangnya uang yang kuberikan setiap minggu?!"

​Tapi, Rena tidak membiarkan Aris melanjutkan kemarahannya. Dia segera menjelaskan dengan kalimat yang terukur dan tajam, memotong semua argumen suaminya sebelum pria itu sempat berteriak lebih keras.

​"Uang yang kamu berikan selama ini pas-pasan, Mas. Hanya cukup untuk makan tahu tempe dan sayur kangkung. Ibu dan Siska tidak tau berapa banyak sebenarnya uang yang kamu berikan padaku. Mereka mengira semua gajimu, kamu berikan padaku. Sementara itu, ibumu dan adikmu selalu menuntut ini dan itu dariku tanpa mau tahu kesulitanku mengatur uang itu. Bahkan, untuk menyekolahkan anak kandungmu sendiri saja kamu tidak mau memberiku uang," ucap Rena dengan nada suara yang rendah namun sangat menekan.

​Aris hendak menyela, tetapi Rena mengangkat telapak tangannya, menuntut agar suaminya diam dan mendengarkannya bicara sampai selesai.

​"Mulai sekarang, aku akan membelanjakan uang darimu sesuai kebutuhan rumah yang sebenarnya. Kalau uang itu kurang di akhir bulan, jangan salahkan aku jika aku tidak memasak apapun di dapur ini," lanjut Rena dengan ketegasan yang belum pernah Aris dengar selama tujuh tahun pernikahan mereka. "Terserah ibumu mau mengomel atau memakiku sepanjang rel kereta api, aku tidak peduli lagi. Aku akan Anggap omelannya seperti radio rusak yang tidak pantas di dengar."

​"Rena, jaga bicaramu! Dia itu ibuku! Kamu harus menghormati nya. " bentak Aris, merasa otoritasnya diinjak-injak.

​"Aku sudah lelah, Mas! Aku lelah mendengar semua hinaannya, semua ocehannya dan Siska, sedangkan kamu hanya diam mendengarku di hina dan dicaci oleh mereka, tidak pernah membelaku sama sekali di depan mereka!" potong Rena, kali ini dengan kilat kemarahan yang tertahan di matanya. "Bahkan untuk sekolah anak saja kamu enggan memberiku uang. Tolong diingat ya, Mas, Dio itu bukan hanya anakku. Dia juga anakmu. Darah dagingmu sendiri. Sebenarnya kamu anggap aku dan Dio ini apa di rumah ini!"

​Aris seketika bungkam dan tidak menjawab. Kata-kata Rena laksana hantaman gada yang telak mengenai harga dirinya. Dia menatap istrinya yang kini berdiri tegak dengan dagu terangkat, sangat berbeda dengan sosok Rena yang biasanya selalu menunduk dan menangis setiap kali ditegur.

​Suasana kamar menjadi sunyi senyap selama beberapa saat, hanya menyisakan suara jangkrik dari luar jendela. Rena menatap Aris yang masih terpaku. Meski dia tahu dia memegang beberapa rupiah di dalam dompetnya, uang muka dari Ibu Lastri yang masih utuh. Rena memutuskan untuk melangkah ke serangan berikutnya. Dia hanya ingin menguji apakah Aris masih memiliki tanggung jawab yang tersisa terhadap pendidikan anaknya, ataukah suaminya ini benar-benar sudah tidak memiliki hati lagi bahkan untuk anaknya sendiri.

​"Sekolah Dio memang gratis, Mas," ujar Rena memecah keheningan, suaranya kembali datar. "Tapi Dio tetap butuh buku tulis, sepatu dan tas baru. Tasnya yang lama sudah robek dan tidak layak pakai."

​Rena mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Aris. "Aku minta uang untuk membeli perlengkapan sekolah Dio yang lainnya. Berapa pun yang kamu punya sekarang, aku akan memberikannya besok."

​Aris menatap telapak tangan Rena yang terbuka di depannya. Pria itu menelan ludah, tampak beralih pandang antara wajah istrinya dan dompet kulitnya yang tergeletak di atas meja rias. Keheningan malam itu menjadi saksi, di mana Rena sedang menghitung mundur waktu sisa pernikahan mereka, bergantung pada apa yang akan dilakukan suaminya setelah ini.

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!