Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Mulai terkuak
Siapa dia?!
"Dan soal Tuan Muda Adhitama ..." kata pria tua itu lagi, membuat darah Arjuna langsung berhenti mengalir seketika mendengar namanya disebut.
Kirana sedikit tersentak bahunya, tapi tetap tenang. Dia mengangkat wajahnya menatap pria tua itu tajam.
"Dia hanya orang lewat. Jangan campurkan urusan dia ke dalam ini. Dia tidak tahu apa-apa. Dan ... dia tidak berbahaya."
Pria tua itu menggeleng pelan. "Tidak berbahaya? Hati-hati, Nona. Orang yang paling tidak terduga ... seringkali yang paling kuat. Dia mulai bertanya. Dia mulai mencari tahu. Kalau dia sampai tahu siapa kamu sebenarnya sebelum waktunya ... rencana kita bisa kacau."
"Aku yang akan mengurusnya," potong Kirana tegas, nadanya penuh otoritas yang tidak bisa dibantah. "Dia penasaran saja. Dia orang yang sombong, arogan, dan menganggap dirinya pusat dunia. Dia gak mungkin punya waktu untuk membedah rahasia orang lain. Dia bahkan tidak sadar ... dialah yang sedang terperangkap dalam jaringku."
Kirana berdiri tegak, membersihkan debu di celananya dengan gerakan cepat.
"Tenang saja. Dia tidak akan tahu apa-apa. Selama aku bisa membuatnya sibuk ... dia tidak akan punya waktu untuk mencari tahu hal yang bukan urusannya.
Pria tua itu tersenyum samar, lalu perlahan berbalik badan bersiap pergi. "Bagus. Tetap waspada, Nona. Permainan ini makin rumit. Dan ingat ... keluarga mereka juga terlibat di dalam semua kekacauan ini. Jangan sampai perasaan mengalahkan akal sehat."
"Perasaan?" Kirana mendengus sinis, matanya berkilat dingin. "Kau salah sangka. Bagiku ... dia hanya satu dari sekian banyak manusia yang harus aku jaga jarak. Tidak lebih."
Pria tua itu berlalu pergi menghilang di balik semak-semak secepat kedatangannya.
Kirana berdiri diam sendirian di pinggir kali itu. Angin sore menerbangkan rambut panjangnya, membuat bayangannya tampak begitu rapuh namun begitu kokoh dan penuh misteri. Dia menghela napas panjang, lalu perlahan memutar badannya.
Dan saat itulah ... mata mereka bertemu.
Arjuna berdiri tegak di antara tumpukan ban, tidak lagi bersembunyi. Dia melangkah maju perlahan, wajahnya dingin, rahangnya keras, dan matanya menatap tajam lurus ke manik mata Kirana. Tatapan yang berkata: Aku sudah dengar semuanya.
Kirana sedikit terkejut, tapi hanya seperkian detik saja. Dia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi biasa, bahkan menyunggingkan senyum santai dan sedikit jahil seperti biasa.
"Wah ... Tuan Dingin? Ngapain ngintip-ngintip di situ kayak pencuri? Lagi-lagi menguntit aku ya? Dasar hobi aneh," sapa Kirana santai, berjalan mendekat seolah tidak terjadi apa-apa.
Arjuna tidak menjawab. Dia terus berjalan maju sampai jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja. Dia menatap lekat-lekat wajah cantik itu, mencari jejak kebohongan, mencari jejak sisi lain yang baru saja dia dengar.
"Angin barat ..." ucap Arjuna tiba-tiba, suaranya rendah dan berat. "Daun berguguran. Pohon besar. Buah manis. Duri tajam. Elang yang menyamar jadi burung pipit."
Setiap kata yang keluar dari mulut Arjuna membuat senyum di bibir Kirana perlahan memudar. Wajahnya yang biasanya ceria kini berubah pucat sedikit, matanya melebar tak percaya.
"Dia tidak berbahaya ..." Arjuna melanjutkan, menirukan nada bicara Kirana tadi dengan sarkas. "Dia cuma orang lewat. Dia sombong dan arogan. Dia pikir dia yang memegang kendali, padahal dia yang terperangkap dalam jaringku."
Keheningan panjang menyelimuti mereka. Hanya suara air kali yang mengalir dan suara jantung mereka berdua yang berdegup kencang.
Kirana menelan ludah. Dia tahu. Dia tidak bisa menyangkal lagi. Semuanya sudah terdengar jelas.
Dia menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap Arjuna. Tidak ada lagi senyum jahil. Tidak ada lagi candaan. Yang ada hanyalah tatapan dalam, serius, dan sedikit sedih.
"Kau dengar semuanya ..." bisik Kirana. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan pasti.
Arjuna mengangguk pelan. "Ya. Aku dengar. Dan aku tidak mengerti apa pun, Kirana. Sama sekali tidak mengerti. Apa maksud semua itu? Siapa orang tua itu? Apa pohon besar itu? Dan kenapa namaku, nama keluargaku disebut-sebut di dalam urusan gelap itu?!"
Suara Arjuna mulai meninggi, campuran antara marah, bingung, dan rasa sakit hati karena merasa dipermainkan. Dia mengulurkan tangannya, menangkap bahu Kirana dengan lembut namun kuat, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Kau bilang aku orang lewat? Kau bilang aku tidak berbahaya? Kau bilang aku hanya boneka yang kau buat sibuk? Kau kira aku ini apa, Kirana?! Aku Arjuna Adhitama! Aku bukan mainan! Dan aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu begitu saja dengan senyum dan omongan konyolmu!"
Kirana diam. Dia tidak memberontak. Dia hanya menatap Arjuna dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran antara kasihan, rasa bersalah, tapi juga ketegangan yang kuat.
"Arjuna ..." bisik Kirana pelan, ini pertama kalinya dia memanggil nama depan Tuan Muda itu tanpa embel-embel mengejek. "Ada banyak hal di dunia ini yang lebih gelap, lebih rumit, dan lebih berbahaya daripada sekadar harga saham, gedung tinggi, atau mobil miliaran rupiah. Hal-hal yang sebaiknya tidak kau ketahui. Hal-hal yang kalau kau tahu ... kau akan berharap kau tidak pernah menemuiku."
"Kau tidak berhak memutuskan apa yang boleh aku tahu atau tidak!" potong Arjuna tegas. "Kita sudah terlibat, Kirana! Kau ada di sini, di duniaku, di hidupku! Kau membuatku peduli! Kau membuatku penasaran sampai aku rela jadi kuli di bengkel kumuh ini! Dan sekarang kau mau bilang aku cuma orang lewat?!"
Arjuna mendekatkan wajahnya, suaranya melembut tapi penuh tekad.
"Kau bilang kau menyamar jadi burung pipit? Kau bilang kau elang yang menunggu waktu terbang? Bagus. Kalau begitu, aku akan tunggu. Aku akan tunggu sampai topengmu terbuka sendiri. Dan ingat satu hal, Kirana ..."
Arjuna melepaskan bahu gadis itu, lalu mundur selangkah sambil menatapnya tajam.
"Kau bilang aku terperangkap dalam jaringmu? Mungkin benar. Tapi ingat ... laba-laba yang membuat jaring ... seringkali justru yang pertama kali terperangkap di dalamnya sendiri. Dan aku pastikan ... sebelum kau terbang tinggi kembali ke langitmu ... kau akan jatuh dulu ke hatiku."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arjuna, penuh rasa percaya diri dan perasaan yang sudah tidak bisa dia sembunyikan lagi.
Wajah Kirana memerah padam. Jantungnya berdetak kencang bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang berbahaya namun sulit dihindari. Dia memalingkan wajah, menatap jauh ke arah matahari yang hampir tenggelam sepenuhnya.
"Percayalah, Arjuna ..." gumam Kirana hampir tak terdengar. "Kalau kau tahu siapa aku sebenarnya ... dan apa hubungan keluargaku dengan keluargamu ... kau akan membenci hari di mana kau pertama kali melihatku di tengah hujan itu."
"Biarkan aku yang menentukan itu," jawab Arjuna cepat. "Tugasmu sekarang cuma satu: tetaplah di sini. Jangan lari. Karena aku tidak akan berhenti sampai aku tahu semua rahasiamu. Dan sampai aku tahu ... kenapa rasanya setiap kali kau dekat, duniaku yang kaku ini jadi berantakan tapi terasa jauh lebih hidup."
Arjuna berbalik badan, berjalan menjauh meninggalkan Kirana yang berdiri diam terpaku di pinggir kali.
Hari itu, batas antara kebenaran dan kebohongan makin kabur. Misteri makin tebal. Dan satu hal pasti, hubungan mereka bukan lagi sekadar tuan muda dan montir, bukan lagi sekadar penasaran dan tantangan.
Ini sudah menjadi pertarungan dua dunia yang berbeda, dua masa lalu yang saling terikat, dan dua hati yang perlahan terjebak dalam cinta yang terlarang namun tak terelakkan.
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️