NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. LUKA HATI ROBINSON

Mobil Robinson memasuki halaman rumahnya. Malam sudah semakin larut. Rumah besar yang biasanya tampak megah itu kini terasa begitu sunyi.

Robinson menyerahkan kunci mobil kepada petugas keamanan, lalu masuk ke dalam rumah. Namun malam itu, ia tidak langsung menuju kamarnya.

Kakinya justru melangkah menuju sayap rumah tempat kamar Rebeca berada. Perlahan ia membuka pintu kamar putri semata wayangnya itu.

Kamar yang luas dengan dominasi warna merah muda itu terlihat begitu nyaman. Berbagai barang mahal tersusun rapi, mulai dari lemari pakaian besar, meja belajar, hingga rak yang dipenuhi koleksi barang kesukaan Rebeca.

Namun di balik semua kemewahan itu, Robinson tahu ada satu kekosongan yang tidak bisa ia isi dengan uang.

Kasih sayang seorang ibu.

Robinson melangkah mendekati ranjang. Di sana, Rebeca sudah tertidur pulas. Wajahnya yang biasanya dipenuhi ekspresi angkuh dan keras kini terlihat jauh lebih lembut dan polos.

Sesaat, Robinson teringat Rebeca kecil yang selalu berlari menghampirinya sepulang bekerja.

"Papa pulang! Beca mau digendong!"

Dulu putrinya begitu dekat dengannya.

Sampai kesibukan dan berbagai masalah keluarga perlahan menciptakan jarak di antara mereka.

Dengan lembut, Robinson mengusap kepala Rebeca. "Maafkan Papa, Beca," bisiknya lirih. Ia menunduk dan mengecup kening putrinya dengan penuh kasih. "Papa belum bisa bicara jujur tentang semuanya." Mata Robinson terlihat sendu. "Terutama tentang alasan sebenarnya mengapa Papa dan Mama bercerai." Tangannya mengepal pelan.

Bukan karena ia tidak ingin membuka kebenaran. Tetapi karena ia takut kenyataan itu akan menghancurkan hati putrinya. "Papa tidak ingin kamu membenci Mama."

Bagi Robinson, kesalahan mantan istrinya adalah urusan mereka sebagai pasangan. Ia tidak ingin kebencian itu diwariskan kepada Rebeca.

Selama ini, ia membiarkan putrinya percaya bahwa perpisahan mereka hanyalah karena ketidakcocokan dan jarak. Padahal kenyataannya jauh lebih menyakitkan. Ingatannya pun terlempar ke masa lalu. Ketika ia dan mantan istrinya bertengkar hebat.

"Aku jenuh Mas! Aku kesepian karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Aku nggak cuma butuh uang. Tapi aku juga butuh perhatian!"

"Giselle ... maaf. Tapi tolong mengertilah. Aku melakukan ini demi kamu dan juga Rebeca. Supaya masa depan kalian terjamin. Tak kekurangan uang dan-"

"Cukup!" Giselle memotong pembelaan suaminya. "Aku bosan mendengar pembelaanmu. Aku muak! Lebih baik kita bercerai saja."

"Tidak, Giselle. Aku tidak mau," tolak Robinson. "Jangan berpikir seperti itu. Kasihan Beca. Dia butuh kasih sayang kita."

"Pokoknya aku mau bercerai!"

Selang dua hari setelah pertengkaran hebat itu, Robinson memergoki istrinya bermalam dengan lelaki yang jauh lebih muda di apartemen miliknya yang ia hadiahkan untuk Giselle. Tak tanggung-tanggung, dia melihat istrinya sedang digagahi oleh pria muda itu.

"Akh!" Robinson memutus ingatan buruk itu. Ia mengusap wajahnya kasar. "Maafkan Papa, Beca." Kalimat permintaan maaf itu selalu ia ucapkan. "Ini semua salah Papa. Mamamu selingkuh karena Papa terlalu sibuk." Ia menatap wajah Rebeca sekali lagi.

Meskipun Robinson sakit hati, tapi tak pernah sedikit pun ia menjelek-jelekan mantan istrinya di depan Rebeca. Justru dirinyalah yang selalu merasa bersalah. "Maaf jika sebentar lagi, kamu akan mendengar kabar yang mengejutkan. Kamu mungkin akan langsung marah pada Papa." Setetes air mata jatuh dari sudut mata pria yang selama ini selalu terlihat kuat di hadapan semua orang.

Setelah beberapa saat hanya menatap wajah Rebeca, Robinson menarik selimut putrinya hingga menutupi bahu. "Selamat tidur, Putri Papa." Ia berdiri perlahan, lalu melangkah keluar dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan putrinya. Begitu pintu kamar tertutup, ia berdiri sejenak di lorong lantai dua yang sepi. Lalu akhirnya turun. Saat akan ke kamarnya, ia memutuskan untuk menggunakan lift karena terlalu lelah.

Tak lama kemudian, Robinson tiba di kamar pribadinya yang luas dan elegan. Ruangan itu begitu mewah, tetapi terasa sangat sepi.

Delapan tahun ia tidur seorang diri di kamar sebesar ini. Menjalani hidup sebagai duda setelah perceraiannya.

Robinson melepaskan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu meletakkannya di atas meja.

Setelah itu, ia membuka beberapa kancing kemejanya dan duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke arah jendela. "Dua minggu lagi ..." gumamnya pelan.

Dua minggu lagi ia akan melepas masa dudanya, akan ada wanita yang tidur di ranjangnya. Namun bukan karena ia kembali jatuh cinta. Bukan karena hatinya berdebar seperti seorang pria yang akan menikahi wanita yang dicintainya.

Pernikahan ini lahir dari kebutuhan.

Ia membutuhkan seorang pendamping yang bisa menjadi bagian dari hidupnya dan mengawasi Rebeca, berharap Cika bisa merubah perangai putrinya menjadi gadis yang jauh lebih baik. Itu adalah impian terbesarnya.

Cika sendiri membutuhkan pertolongannya untuk menyelamatkan nyawa Sinta.

Sebuah kesepakatan yang terlihat sederhana, namun Robinson tahu, kenyataannya tidak akan semudah itu. Ia masih mengingat wajah Cika tadi.

Gadis muda yang seharusnya sedang menikmati masa kuliah, jatuh cinta kepada pria sebayanya, dan merancang masa depan yang cerah. Namun keadaan memaksanya memilih jalan yang berat. "Maafkan saya, Cika," bisik Robinson lirih.

Meski ia tidak pernah berniat memanfaatkan keadaan Cika, ia tetap merasa ada rasa bersalah karena gadis itu harus mengorbankan masa mudanya. Ia mengusap wajahnya kasar. Lalu pikirannya beralih kepada Rebeca.

Putri yang sangat ia cintai. Putri yang masih menyimpan kerinduan besar kepada ibunya. "Semoga suatu hari nanti kamu bisa memahami keputusan Papa, Nak."

***

Pagi hari menyambut dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela rumah sederhana Cika. Malam yang panjang membuat matanya terlihat sedikit sembap. Ia hampir tidak bisa tidur memikirkan keputusan besar yang telah diambilnya.

Namun begitu mengingat bahwa hari ini Sinta akan menjalani kemoterapi pertamanya, Cika segera menepis semua pikirannya. "Sinta lebih penting." Cika turun dari ranjang dan segera keluar untuk pergi ke kamar mandi yang ada di dapur.

Setelah mandi dan berpakaian rapi. Pintu rumahnya diketuk pelan, Cika buru-buru berlari membuka pintu. "Eh, Pak Hasan," sapa Cika sedikit kaget.

"Selamat pagi, Mbak Cika," sapa Hasan dengan sopan.

"Selamat pagi, Pak Hasan."

"Maaf mengganggu. Saya diperintahkan Bapak untuk mengambil dokumen yang harus dibawa ke KUA," jelas Hasan.

"Iya, Pak. Silakan masuk dulu. Saya ambil dulu dokumennya di kamar."

"Iya, Mbak. Saya menunggu di luar saja."

Cika mengangguk dan langsung berbalik masuk ke kamar. Tak lama, ia sudah kembali membawa map berisi dokumen yang diperlukan. "Ini, Pak."

Hasan menerima map tersebut. "Terima kasih, Mbak Cika. Saya akan segera mengurus semuanya ke KUA. Pak Robinson juga sudah menghubungi saya sejak pagi untuk memastikan tidak ada kendala."

Cika mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya."

Hasan tersenyum tipis. "Sudah menjadi tugas saya, Mbak."

Cika melempar senyum kecil.

"Kalau begitu saya permisi, Mbak."

"Baik, Pak Hasan."

Setelah Hasan pergi, Cika mengambil tas kuliahnya. "Aku harus ke rumah sakit dulu," putusnya sambil keluar dan mengunci pintu.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dengan kendaraan umum, pikiran Cika dipenuhi kecemasan. Ia tahu proses kemo tidak akan mudah untuk adiknya yang masih kecil. "Ya Allah ... semoga Sinta kuat." Doa tulus itu terucap tanpa suara tapi dibarengi dengan lelehan air mata.

Tak terasa, angkutan umum yang ditumpangi Cika sampai di area rumah sakit. Ia segera turun dan membayar ongkos.

Kaki jenjangnya melangkah cepat melewati halaman, lobi dan berlari menuju ruang rawat Sinta. Akhirnya ia sampai juga.

Saat membuka pintu kamar, ia langsung melihat gadis kecil itu sudah duduk di atas ranjang dengan pakaian pasien.

Meskipun wajahnya masih pucat dan tubuhnya terlihat semakin kurus, Sinta tetap berusaha tersenyum begitu melihat kakaknya. "Kakak!"

Senyum itu membuat dada Cika terasa sesak. Ia berjalan mendekat dan mengusap kepala Sinta dengan penuh kasih. "Bagaimana keadaan princess hari ini?"

Sinta mengerucutkan bibir. "Takut."

Jawaban jujur itu membuat Cika tersenyum sedih. Ia duduk di samping ranjang lalu menggenggam tangan kecil adiknya. "Kakak juga takut."

Sinta menatapnya. "Kalau Kakak takut, siapa yang menguatkan Sinta?"

Cika terdiam sejenak, lalu tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kita saling menguatkan, ya."

Sinta mengangguk pelan. "Iya."

Cika menahan air matanya. "Kakak yakin Sinta pasti kuat."

"Iya, Kakak." Sinta mengangguk mantap.

Melihat adiknya yang begitu kuat membuat keyakinannya atas keputusan yang telah ia ambil semakin bertambah. Apa pun yang terjadi setelah ini. Bagaimana pun kehidupan barunya nanti ... bagaimana pun kebencian Rebeca kepadanya ... ia akan menghadapinya.

Karena bagi Cika, satu senyum Sinta jauh lebih berharga daripada semua pengorbanan yang harus ia lakukan.

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!