"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMOR SAMPAH
"Biarkan saja dia menari di atas kebohongannya sendiri untuk sementara waktu. Begitu Lucian kembali, aku sendiri yang akan memastikan keluarga mereka hancur tanpa sisa," jawab Lucas, rahangnya kembali mengeras saat membayangkan wajah licik Lady Michelle.
Lucas mengepalkan tangan kirinya yang bebas, benar-benar tidak habis pikir dengan ambisi menjijikkan dari gadis bangsawan tersebut.
"Aku tidak peduli dengan rumor sampah itu, Lucas, yang kupikirkan sekarang hanya keadaan Lucian di luar sana, apakah dia makan dengan baik? Apakah lukanya sudah diobati?" ucap Jasmine, suaranya mendadak bergetar dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Insting seorang ibu selalu tahu jika anaknya sedang dalam kesulitan, dan ingatan tentang racun kalajengking itu terus menghantui pikirannya setiap detik.
"Tenang lah sayang, Putra kita pasti baik-baik saja," ucap Lucas, menenangkan istri nya.
"Salam Ayah, salam Ibunda!"
Sosok pria berwajah serupa dengan Lucas, tiba-tiba muncul, pria itu adalah Leo Alistair.
"Leo Nak," ucap Jasmine, langsung memeluk putra kedua nya itu.
Jasmine melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah putra keduanya dengan tatapan rindu sekaligus lega.
"Leo, kenapa kamu bisa ada di sini? Bagaimana dengan Aurora dan bayimu di istana Vampir?" tanya Jasmine, suaranya terdengar jauh lebih tenang setelah melihat kehadiran salah satu putranya.
"Aurora dan putra kami baik-baik saja, Ibunda. Aurora sengaja memintaku pulang ke kediaman Alistair setelah mendengar rumor yang beredar di ibu kota," jawab Leo, berjalan mendekat lalu duduk di kursi kayu dekat ranjang ibunya.
Pria itu menghela napas pendek, melirik sang ayah yang masih memasang ekspresi dingin nya di sebelah Jasmine.
"Maksudmu gosip murahan dari wanita ular keluarga Earl itu, Leo?" ucap Lucas, nada suaranya mendadak mendingin dan berat.
Lucas menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap putranya yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari wilayah klan Vampir.
"Benar, Ayah. Telinga para Vampir di istana bahkan ikut panas mendengar desas-desus kalau Kak Lucian menghamili Lady Michelle. Aurora sampai marah-marah pada ku saat mendengarnya," ucap Leo, mendengus geli dengan senyum miring yang sangat mirip dengan sang kakak.
Sebagai seorang adik yang tahu betul seperti apa sifat kakaknya terhadap wanita-wanita manja di ibu kota, Leo jelas tahu kalau itu seratus persen bohong.
"Si jomblo karatan itu jangankan menyentuh, melihat wajah Lady Michelle saja sudah membuat mood-nya hancur seharian. Bagaimana bisa ada anak yang tiba-tiba muncul di perut wanita itu," ucap Leo, menggelengkan kepalanya heran.
Jasmine yang mendengar ucapan Leo sedikit tersenyum tipis, rasa cemasnya agak berkurang karena putra keduanya ini selalu tahu cara mencairkan suasana.
"Lalu bagaimana dengan pencarian kakakmu di perbatasan? Apa kamu membawa kabar dari sana, Leo?" tanya Jasmine, memegang tangan putranya dengan penuh harap.
"Soal itu, Ayah dan Ibunda tidak perlu terlalu cemas, sebelum ke sini, aku sempat berpapasan dengan salah satu burung pengantar pesan milik Patrik," jawab Leo, menatap Ayah dan ibunya.
Mendengar hal itu, Lucas langsung menegakkan tubuhnya, matanya yang berkilat tajam menatap Leo dengan penuh penekanan.
"Apa isi pesannya? Apa Patrik sudah menemukan Lucian?" tanya Lucas, tidak sabar menanti kepastian tentang putra sulungnya.
"Kak Lucian selamat, Ayah. Patrik sudah bertemu dengan nya, di sebuah tempat aman di dekat desa perbatasan kerjaan Costa," bisik Leo sambil tersenyum tipis, membuat seisi ruangan mewah itu mendadak terasa jauh lebih lega dari sebelumnya.
Jasmine langsung mengusap dadanya, mengucap syukur berkali-kali dengan mata yang berkaca-kaca karena bahagia.
"Dewa... terima kasih. Putraku selamat," gumam Jasmine, setitik air mata kebahagiaan akhirnya lolos membasahi pipinya yang pucat.
Sementara itu, di kediaman mewah milik keluarga Earl, suasana tidak kalah tegangnya.
"Michelle! Apa yang kamu pikirkan dengan menyebarkan gosip gila seperti itu, hah?!" bentak Earl Kendrick, melangkah masuk ke kamar putrinya dengan wajah merah padam.
"Kamu ingin membuat kelurga kita mati terbunuh hah!" bentak Earl Kendrick, geram.
"Tenanglah, Ayah, jangan berteriak begitu, nanti para pelayan bisa mendengar," jawab Michelle santai, bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari kuku-kukunya yang baru saja diwarnai merah muda.
Michelle meniup kukunya pelan, lalu berbalik menatap ayahnya dengan senyuman santai seolah tindakan nekatnya ini adalah hal paling jenius di dunia.
"Tenang katamu?! Kamu sedang bermain api dengan keluarga Alistair, Michelle! Jika Duke Lucas tahu ini hanya bualanmu, dia bisa menghabisi keluarga kita dalam semalam!" bentak Earl Kendrick lagi, mondar-mandir di dalam kamar dengan sangat cemas.
Dia tahu betul seberapa kejam dan berkuasanya Lucas Alistair jika ada yang berani mengusik ketenangan keluarganya di Kerajaan Harper ini, belum lagi Raja Tua yang sangat menyangi Duches Jasmine, pria itu juga tidak akan tinggal diam.
"Ayah tidak perlu takut begitu, justru dalam kondisi Duke Muda yang sedang hilang seperti ini, posisi kita sangat menguntungkan, aku yakin keluarga Alistair tidak akan bertindak gegabah," jawab Michelle, bangkit dari kursi riasnya lalu berjalan mendekati sang ayah dengan langkah anggun yang dibuat-buat.
Michelle menyentuh bahu ayahnya, mencoba menenangkan pria tua yang penakut itu dengan keyakinan penuh di matanya yang berkilat ambisius.
"Maksudmu apa? Cepat jelaskan pada Ayah sebelum jantungku copot!" tanya Earl Kendrick, menatap putrinya dengan kening berkerut dan napas memburu.
"Jika Kak Lucian kembali dalam keadaan hidup, semua orang sudah terlanjur percaya kalau aku mengandung anaknya, dia tidak punya pilihan lain selain menikahi ku demi menjaga nama baik militer dan kehormatan keluarganya. Dan jika dia tidak pernah kembali, anak khayalan di dalam perutku ini akan tetap membuatku diakui sebagai calon Duchess berhati suci yang membawa penerus Alistair. Bukankah itu rencana yang sempurna, Ayah?" ucap Michelle, tertawa kecil dengan nada meremehkan yang terdengar sangat licik.
Earl Kendrick langsung terdiam seketika, matanya menatap Michelle dengan pandangan campur aduk antara terkejut dan mulai terhasut oleh ambisi gila putrinya sendiri.
"K-kamu... kamu benar-benar yakin rencana ini tidak akan bocor?" tanya Earl Raymond, memastikan dengan suara yang mendadak merendah, termakan umpan keserakahan kekuasaan.
"Tentu saja, Ayah, selama saputangan resmi milik Kak Lucian yang ku curi di perjamuan istana minggu lalu ada di tanganku, tidak akan ada yang berani meragukan kata-kataku," jawab Michelle dengan senyum kemenangan yang semakin lebar di wajah cantiknya yang penuh kepalsuan.
"Kamu benar-benar nekat, Michelle," bisik Earl Kendrick, geleng-geleng kepala tapi kali ini dengan senyum tipis yang mulai terukir di wajah tuanya.
"Tentu saja, Ayah. Siapa yang berani meragukan bukti nyata ini? Di mata semua orang, aku adalah wanita malang yang ditinggalkan oleh kekasihnya," ucap Michelle, tersenyum miring.
Michelle melangkah kembali ke cermin besarnya, merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan sambil tersenyum puas menatap pantulan dirinya sendiri.