NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Kenan yang Mengguncang Kamila

Ia lalu menatap wajah Kinasih dengan tatapan yang lebih lembut dan tulus. “Tapi percayalah, apa pun yang terjadi nanti, aku cuma ingin melihat Dokter benar-benar bahagia dan hidup tenang.”

Kinasih terdiam sejenak, lalu membalas dengan senyum yang terasa lebih tulus. “Terima kasih banyak ya, Rey. Rasanya sangat beruntung bisa punya teman dan pendamping seperti kamu.”

“Sama-sama, Dok. Tugas dan keinginanku yang paling utama sekarang adalah melihat kamu sehat dan si kecil di dalam kandungan juga tumbuh dengan sempurna,” jawab Reyna sambil mengangkat mangkuknya seolah bersulang.

Kinasih mengangguk setuju, lalu menambahkan dengan suara lembut. “Aamiin, semoga saja begitu.”

Malam itu, obrolan ringan mereka terus mengalir. Diselingi tawa kecil dan candaan sederhana, suasana apartemen yang sempat terasa sunyi dan dingin kini berubah menjadi hangat. Perlahan namun pasti, Kinasih mulai melupakan sejenak segala beban pikiran dan masalah yang selama ini membebani hatinya, menikmati ketenangan yang langka itu.

Pagi itu, suasana di rumah mewah keluarga Hartman terasa sunyi namun menyimpan ketegangan yang samar. Di ruang makan luas yang didominasi meja panjang dari kayu jati berukir indah, Markus Hartman, istrinya Laras Aditya Sari, Kamila, dan Amara sudah duduk mengelilingi meja untuk menikmati sarapan.

Namun, tidak ada canda atau obrolan hangat seperti biasanya. Suasana terasa canggung dan kaku.

Kamila duduk termenung sambil mengaduk teh hangat di cangkirnya tanpa selera. Wajahnya terlihat murung dan matanya tampak berkaca-kaca seolah baru saja menangis. Laras yang duduk di sampingnya memperhatikan menantunya itu dengan tatapan penuh rasa iba.

“Kamila,” panggil Laras pelan.

“Iya, Ma?” jawab Kamila dengan suara lemah.

“Jangan terlalu dipikirkan dan dibawa ke dalam hati. Nanti malah mengganggu kesehatanmu,” nasihat Laras lembut.

Kamila mengangkat wajahnya, lalu menghela napas panjang. “Maaf ya, Ma… saya cuma sedang tidak tenang dan terus memikirkan banyak hal.”

Laras segera menggenggam tangan Kamila dengan lembut, berusaha menenangkannya. “Ingat, secara hukum dan di mata keluarga ini, kamu adalah istri sah Kenan. Posisi itu tidak akan berubah begitu saja.”

Kamila mengangguk pelan, namun rasa takut masih tergambar jelas di wajahnya. “Tapi saya takut, Ma… saya takut suatu hari nanti Mas Kenan benar-benar meninggalkan saya untuk wanita lain.”

Laras mengusap punggung tangan Kamila dengan lembut. “Tidak akan terjadi hal seperti itu. Percayalah pada Mama. Kenan adalah anak yang bertanggung jawab, dia tidak akan sembarangan menceraikan istrinya tanpa alasan yang jelas.”

Mendengar kata-kata itu, Kamila menunduk kembali. “Semoga saja benar seperti yang Mama katakan.”

Di seberang meja, Amara hanya duduk diam sambil memotong roti di piringnya. Dari luar ia terlihat tenang, namun di dalam hatinya ia mendengus kesal.

“Sudah lagi bersikap sedih dan lemah. Kalau orang lain tidak tahu masalah yang sebenarnya, pasti akan percaya saja dengan sandiwara ini,” batinnya.

Jari-jarinya mengepalkan gagang sendoknya pelan. “Padahal semua ini bermula dari kesalahannya sendiri. Karena ulahnya, Kinasih sampai harus menderita, kehilangan tempat tinggal, dan terhina di depan orang banyak. Tapi dia masih sanggup berpura-pura menjadi korban yang paling tersakiti.”

Amara memilih tetap diam dan tidak membuka mulut. Ia tahu, jika ia berbicara jujur saat ini, suasana yang sudah canggung akan berubah menjadi pertengkaran yang tidak perlu.

Markus yang sedari tadi asyik membaca koran pagi akhirnya melipat kertas itu dan meletakkannya di meja. Ia menoleh ke arah putrinya.

“Amara.”

“Iya, Pa?” jawab Amara sambil menegakkan punggungnya.

“Hari ini kamu bertugas jaga pagi di rumah sakit?”

“Iya, Pa. Jadwal saya mulai pagi ini.”

“Jangan lupa menyempatkan diri untuk makan siang yang cukup, jangan sampai terlalu memaksakan diri bekerja terus,” pesan Markus dengan nada perhatian.

Amara tersenyum kecil. “Siap, Pa. Saya ingat.”

Ia melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan. “Wah, sudah hampir waktunya saya berangkat. Kalau terlambat, saya bisa mengganggu persiapan operasi pagi ini.”

Laras menoleh dengan wajah terkejut. “Cepat sekali waktunya berlalu ya?”

“Iya, Ma. Saya harus bergerak sekarang,” jawab Amara sambil berdiri dari tempat duduknya. “Saya pamit dulu ya, Pa, Ma.”

“Hati-hati di jalan, Nak,” pesan Laras.

“Iya, Ma.”

Baru saja Amara hendak melangkah keluar dari ruang makan, suara langkah kaki yang tegas terdengar turun dari tangga utama. Kenan muncul dengan mengenakan setelan jas hitam yang rapi dan bersih, terlihat sangat siap memulai aktivitasnya.

“Pagi, Pa,” sapa Kenan singkat.

“Pagi,” jawab Markus.

“Pagi, Ma.”

“Pagi, Nak,” balas Laras dengan senyum.

Kenan kemudian menoleh ke arah Kamila yang duduk di dekat ibunya. “Pagi.”

Kamila memaksakan senyum tipis di bibirnya, meski terasa berat. “Pagi, Mas.”

Laras segera menepuk kursi kosong di sebelahnya. “Kenan, sini duduk dulu. Sarapanlah sebentar sebelum berangkat.”

Kenan menggeleng pelan sambil merapikan jam tangannya. “Tidak usah dulu, Ma. Terima kasih.”

“Loh, kenapa? Pagi-pagi sekali belum makan perut bisa sakit nanti,” protes Laras.

“Ada rapat penting yang harus saya hadiri pagi ini, waktunya sudah mepet,” jawab Kenan tenang. “Nanti saja saya cari makanan di luar.”

“Jadi tidak sarapan di kantor?” tanya Laras lagi.

“Mungkin saya singgah sebentar di kafe terdekat saja.”

Laras menghela napas panjang, terlihat kesal namun tidak bisa memaksa. “Kamu ini ya, setiap hari selalu sibuk saja sampai lupa mengurus diri sendiri.”

Kenan hanya tersenyum tipis mendengar omelan ibunya, lalu bersiap melangkah pergi. Namun matanya tertuju pada Amara yang sudah memegang tas kerja di tangannya.

“Kamu mau berangkat ke rumah sakit sekarang?” tanya Kenan.

“Iya, sebentar lagi,” jawab Amara.

“Kalau begitu, aku antar saja. Jalannya searah dengan arah kantor,” tawar Kenan.

Amara terkejut mendengar tawaran itu. “Hah? Nggak merepotkan bukan?”

“Tidak sama sekali,” jawab Kenan santai.

Amara pun tersenyum lega. “Baiklah kalau begitu, terima kasih.”

Kenan menoleh kembali ke arah kedua orang tuanya. “Pa, Ma, kami berangkat dulu.”

“Hati-hati di jalan,” pesan Markus.

“Jangan lupa makan yang cukup ya, Kenan,” tambah Laras.

“Iya, Ma.”

Kenan dan Amara pun berjalan berdampingan menuju pintu utama. Begitu mereka sudah keluar dari ruang makan dan tidak terlihat lagi, senyum tipis di wajah Kamila perlahan memudar dan digantikan oleh tatapan kosong yang penuh kekhawatiran. Ia menatap ke arah pintu yang tertutup rapat, rasa cemas kembali menyelimuti hatinya.

Sementara itu, saat berjalan menuju garasi bersama kakaknya, Amara berusaha tetap tenang. Namun di dalam hatinya, ia berdoa semoga suatu hari nanti, semua kesalahpahaman dan tuduhan yang menimpa sahabatnya, Kinasih, bisa terungkap dengan jelas, sehingga kebenaran akhirnya dapat menyembuhkan segala luka yang ada.

Di halaman depan rumah keluarga Hartman, Kenan dan Amara berjalan berdampingan menuju mobil yang sudah terparkir rapi di area garasi. Langkah mereka teratur, seolah hari itu akan berjalan seperti biasanya. Namun baru beberapa langkah melangkah keluar, suara yang memanggil tiba-tiba menghentikan keduanya.

“Mas!”

Suara itu milik Kamila. Ia berjalan cepat menghampiri Kenan dengan napas yang sedikit terengah, seolah tak ingin melewatkan kesempatan untuk bicara.

“Mas, kita harus bicara sebentar. Ada hal penting yang harus kita bahas,” ucapnya dengan nada mendesak.

Kenan hanya menoleh sekilas, wajahnya terlihat datar dan tanpa ekspresi. “Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Kamila. Semuanya sudah jelas.”

Kamila menggeleng kuat, matanya mulai memerah menahan emosi. “Masih ada banyak hal yang belum selesai. Tolong dengarkan aku dulu.”

“Aku masih punya banyak urusan penting yang harus diselesaikan pagi ini,” jawab Kenan tegas, tidak memberi ruang untuk berdebat.

Melihat Kenan berniat melanjutkan langkahnya, Kamila segera meraih dan menahan lengan pria itu dengan erat. “Mas, tunggu sebentar!”

Kenan perlahan melepaskan genggaman tangan Kamila dengan lembut namun tegas. “Kalau tujuanmu hanya untuk menimbulkan pertengkaran lagi, aku tidak punya waktu dan tenaga untuk itu.”

Kamila menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa sakit sekaligus amarah yang mulai meluap. “Jadi sekarang aku sudah tidak berarti dan tidak penting lagi buat Mas, begitu?”

Kenan menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun tegas. “Kalau kamu ingin menyampaikan apa pun kepada keluarga besarmu mengenai kondisi rumah tangga kita ini, silakan saja. Aku tidak akan menghalangi.”

Mendengar jawaban itu, Kamila tersentak kaget. “Mas bicara serius?”

“Benar sekali,” jawab Kenan tanpa ragu.

Rasa marah perlahan menguasai dirinya. Kamila mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. Tatapannya yang semula penuh harap berubah menjadi tajam dan penuh ancaman.

“Kalau begitu… jangan salahkan aku nanti. Aku pastikan kamu dan perusahaan yang selama ini kamu bangun dengan susah payah itu hancur seketika!”

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!