Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pukul 07.30 pagi. Alexa berdiri di depan teras mansion dengan wajah yang ditekuk sedemikian rupa hingga menyerupai kertas yang diremas. Ia mengenakan kaos oversized warna putih, celana jeans hitam yang kali ini tidak sobek, karena trauma ancaman gunting, dan tas selempangnya yang penuh gantungan kunci metal.
"Mana supirnya? Udah jam segini, gue ada kelas jam delapan!" gerutu Alexa sambil menendang-nendang kerikil di halaman.
Zyan keluar dari pintu utama dengan gaya santai yang sangat mematikan. Ia tidak memakai jas lengkap hari ini, hanya kemeja biru navy yang lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan perak dan urat-urat di lengannya yang maskulin. Di tangannya, ia memutar sebuah kunci mobil Audi R8 sport berwarna perak.
"Ayo masuk," ujar Zyan pendek sambil berjalan menuju garasi.
Alexa melongo. "Lho? Supirnya mana, Om? Masa lo yang nganter?"
Zyan membukakan pintu penumpang untuk Alexa dengan gerakan elegan. "Supir saya sedang ada urusan keluarga. Daripada kamu terlambat dan makin berisik di rumah, lebih baik saya yang turun tangan sendiri. Anggap saja ini bagian dari 'layanan' suami."
"Layanan mata lo! Lo pasti mau pamer ke temen-temen kampus gue kalau lo itu kaya raya, kan?" Alexa masuk ke dalam mobil mewah itu dengan kasar, membanting pintu hingga mobilnya sedikit berguncang.
"Jaga sikapmu pada pintu mobil ini, harganya lebih mahal dari biaya kuliahmu sampai lulus," sindir Zyan sambil masuk ke kursi pengemudi.
Mesin mobil sport itu meraung halus, sangat berbeda dengan suara ZX-25R Alexa yang berisik. Mobil itu meluncur keluar dari gerbang dengan kecepatan stabil. Di dalam mobil, suasana kembali canggung. Alexa terus membuang muka ke arah jendela, mencoba mengabaikan aroma parfum Zyan yang pagi ini terasa lebih segar dan menenangkan.
"Alexa," panggil Zyan setelah beberapa menit keheningan.
"Apa?" sahut Alexa ketus.
"Mengenai kejadian semalam... di tempat tidur..."
"DIEM! Jangan dibahas! Itu kecelakaan! Gue khilaf, lo juga khilaf, anggap aja kita berdua lagi amnesia!" potong Alexa dengan wajah yang mendadak memerah.
Zyan terkekeh pelan—sebuah suara yang jarang sekali keluar dari mulutnya. "Saya hanya ingin bilang, kalau kamu mau kunci motor itu balik lebih cepat, jadilah istri yang sedikit lebih... penurut. Setidaknya di depan publik."
"Penurut gimana? Lo mau gue pake baju ala-ala ibu pejabat tiap hari? Ogah!"
"Bukan soal baju. Tapi soal bagaimana kamu menatap saya. Berhentilah menatap saya seolah saya ini adalah tumpukan sampah di pinggir jalan. Itu melukai harga diri saya sebagai suami."
Alexa menoleh, menatap profil samping wajah Zyan yang tajam dan tegas. "Abisnya lo nyebelin. Kaku, tukang ngatur, sok bener. Lo itu kayak algoritma komputer, Om. Nggak ada seninya sama sekali."
Zyan menghentikan mobilnya di lampu merah. Ia menoleh ke arah Alexa, menatap matanya dalam-dalam. "Kadang hidup butuh struktur, Alexa. Kalau semuanya cuma soal seni dan kebebasan seperti cara kamu membawa motor, kamu akan hancur sebelum sempat menikmati hasilnya."
"Tapi struktur lo itu ngebunuh karakter gue!"
"Saya tidak membunuh karaktermu. Saya hanya memberinya pagar agar tidak liar."
Lampu berubah hijau, dan Audi R8 itu melesat lagi. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di depan gerbang kampus teknik yang terkenal keras dan penuh mahasiswa berpenampilan grunge. Kedatangan mobil sport mewah itu tentu saja langsung mencuri perhatian semua orang. Mahasiswa yang sedang nongkrong di depan gerbang langsung menoleh, mengira ada pejabat atau artis yang datang.
"Turunin gue di sini aja, Om! Jangan sampe ke dalem!" pinta Alexa panik.
Zyan bukannya berhenti, ia justru terus melajukan mobilnya masuk ke area parkir fakultas teknik, tepat di depan kerumunan teman-teman Alexa.
"Sialan! Lo bener-bener mau bikin gue malu ya?!" Alexa mencoba menutupi wajahnya dengan tas.
Zyan memarkirkan mobilnya dengan sempurna, tepat di samping jajaran motor sport mahasiswa. Begitu mesin mati, Zyan turun lebih dulu. Ia tidak langsung membiarkan Alexa keluar. Ia berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya, tepat di depan mata Rio dan anak-anak komunitas motor lainnya.
"Silakan turun, Sayang," ujar Zyan dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh orang-orang di sekitar.
Alexa keluar dengan wajah merah padam. Rio dan teman-temannya melongo sampai mulut mereka hampir kemasukan lalat.
"Lex?! Itu... itu siapa? Bokap lo?!" bisik Rio dengan suara gemetar saat mendekat.
"Bukan Ayahnya. Saya suaminya," potong Zyan sambil mengulurkan tangan pada Rio. "Zyan Arsalan."
Rio menjabat tangan Zyan dengan ragu. "O-oh... Zyan Arsalan? Direktur Zyan Group itu?!"
Teman-teman Alexa yang lain langsung heboh berbisik-bisik. "Gila, si Alexa dapet duda premium!" "Pantesan ZX-nya baru mulu, lakinya sultan!"
Alexa merasa ingin menggali lubang di aspal saat itu juga. Ia segera menarik lengan Zyan menjauh dari teman-temannya. "Udah kan?! Lo udah puas pamer?! Sekarang balik sana ke kantor lo yang membosankan itu!"
Zyan tidak langsung pergi. Ia justru meraih dagu Alexa, mengangkatnya sedikit, lalu mengecup kening Alexa di depan umum. "Belajar yang rajin. Jangan bolos kelas praktikum. Nanti sore saya jemput pukul empat sore. Jika kamu telat satu menit, motor kamu saya jual ke pengepul besi tua."
"Iya, iya! Berisik banget sih!" Alexa mendorong dada Zyan agar menjauh.
Zyan tersenyum puas, lalu masuk kembali ke mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan kepulan asap yang wangi dan puluhan pasang mata yang menatap Alexa dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus iri.
Begitu mobil Zyan hilang dari pandangan, Alexa langsung diserbu teman-temannya.
"Lex! Gila lu! Beruntung banget dapet sultan, ternyata laki lu sekaya itu?!" seru salah satu teman mahasiswinya.
"Apaan sih! Dijodohin itu! Gue nggak cinta ya sama dia!" bela Alexa, meski hatinya terasa sedikit bergetar setiap kali mengingat kecupan di kening tadi.
"Tapi Lex, dia keren banget. Aura Sugar Daddy-nya dapet banget, wibawanya itu lho... ngeri-ngeri sedap," timpal Rio sambil geleng-geleng kepala.
"Ngeri doang, nggak ada sedap-sedapnya! Udah ah, ayo masuk kelas!"
Sepanjang kelas berlangsung, Alexa sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang ke kejadian semalam di tempat tidur dan kejadian barusan di parkiran. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Kenapa ia tidak merasa marah yang meluap-luap seperti biasanya? Kenapa ada rasa bangga yang terselip saat Zyan mengaku sebagai suaminya di depan teman-temannya?
Nggak, Lex. Lo cuma terpesona sama mobilnya doang. Inget, dia itu musuh bebuyutan lo! batin Alexa mencoba menyangkal.
Tiba-tiba, ponsel Alexa bergetar di saku celananya. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak ia kenal, tapi ia tahu siapa pengirimnya dari gaya bicaranya yang kaku.
'[09.15] Nomor Tak Dikenal:'
Saya sudah memesankan makan siang untukmu di kantin fakultas. Menunya sehat, jangan makan sembarangan lagi seperti sambal kemarin. Pihak kantin akan mengantarkannya ke mejamu pukul 12.00. -Zyan.
Alexa menatap layar ponselnya dengan senyum tipis yang tak sadar terbentuk di bibirnya. "Dasar Om posesif. Makan siang aja diatur-atur," gumamnya pelan.
"Cieee, senyum-senyum sendiri liat chat dari suami ya?" goda Rio yang duduk di sampingnya.
"Diem lo, Yo! Urusin aja tuh busi motor lo yang udah karatan!" balas Alexa sambil menyembunyikan ponselnya, namun pipinya tidak bisa berbohong kalau ia sedang merasa sedikit diperhatikan.
Perang ini sepertinya mulai berubah arah. Dari perang fisik dan sabotase, kini mulai masuk ke arah perang perasaan. Dan Alexa, yang biasanya menang dalam segala macam balapan, mulai merasa ia akan kalah dalam "balapan" hati yang satu ini.
Bersambung....