"Aku menyukaimu oppa, aku senang berada di sampingmu. Tapi apa kita bisa tetap bergandengan tangan seperti ini?" Batin Samira seraya menoleh laki-laki yang berjalan di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
“Sam, lukanya gue cuci dulu pake ini yaa…” ujar Selly dengan takut-takut. Tangannya gemetar dan penuh keraguan.
Samira tau, Selly sangat takut dengan darah walaupun tidak terlalu banyak. Darah mens sendiri saja bisa bikin dia pingsan, apalagi darah orang lain.
“Gue aja yang bersihin.” Samira mengambil kapas yang sudah di basahi alkohol dari tangan Selly. “Lo nunggu aja di luar, ato kalo boleh, gue nitip beli minum ya….” Pinta Samira.
“Okey, gue beliin dulu minum. Bapak mau?” tawar Selly pada Barra yang sedang sibuk memainkan handphonenya mencari nomor tukang urut.
“Hem…” jawabnya.
“Apaan tuh maksudnya?” bisik Selly pada Samira.
“Udah lo jangan banyak pikiran. Lo beliin aja, gag diminum juga kita yang abisin.” Cetus Samira dengan cukup keras, agar di dengar Barra. Namun Barra tidak bergeming.
Selly berjalan dengan cepat meninggalkan Samira dan Barra.
“Mang soleh juga bisa kalo ngurut gini doang mah!” seru Samira dengan santai.
“Siapa mang soleh?” Barra keheranan karena Samira bisa membaca pikirannya.
“Tukang kebun sekolah. Tuh rumahnya di belakang mushola sekolah.” Sahut Samira.
Barra keluar ruang UKS. Ia memanggil salah satu siswa dan meminta bantuannya untuk memanggil mang Soleh yang dimaksud Samira.
Samira mulai mengoleskan obat antiseptic di lukanya. Ia meniup-niupnya perlahan agar tidak perih. Barra mengambil selembar plester dengan cepat menutup luka Samira.
“Anjrit!” dengus Samira saat lukanya terasa perih.
“Gitu aja sakit. Cengeng ya kamu!” seru Barra dengan seringai puasnya. Samira mencibirnya seraya memalingkan wajahnya dari Barra.
“Siang pak…” sapa Mang Soleh yang datang bersama seorang anak laki-laki.
“Oh mang soleh ya?” terka Barra. Mang soleh mengangguk. “Mang, murid saya keseleo. Bisa tolong di liat kakinya?” pinta Barra sambil memberi mang Soleh jalan.
“Oh baik pak, saya liat dulu.” Ujar mang Soleh dengan segera. “Yang mana yang sakit non?” mang Soleh memperhatikan kaki Samira dengan seksama.
“Yang ini.” Tunjuk Samira.
“Maaf ya, saya pegang dulu kakinya…” mang Soleh mulai memeriksa kaki Samira.
Samira terlihat meringis namun tidak ada suara yang keluar. Ia mengeratkan genggamannya memegangi sprei pinggiran tempat tidur. Kakinya benar-benar terasa sakit, tapi karena ada Barra ada di depannya, tentu saja ia gengsi untuk mengaduh, ia menahan rasa sakitnya. Ia yakin beberapa saat kemudian Barra pasti meledeknya.
“Kalo mau nangis, ya nangis aja. Gag usah gengsi, iya kan mang?!” cetus Barra dengan senyum lebarnya. Mang Soleh mengangguk. Samira memalingkan wajahnya dari Barra. Ia benar-benar kesal dengan laki-laki yang ada di hadapannya.
Di luar ruang uks, terlihat Selly yang sedang memperhatikan sambil memegangi 2 botol minuman. Ia tak berani masuk. Ia tau, Samira sangat tidak suka orang lain melihatnya dalam kondisi kesakitan. Untuk itulah ia menahan rasa sakitnya kuat-kuat. Sementara hatinya tak tega, melihat Samira meringis. Ia tidak bisa melakukan apa-apa sementara Samira selalu ada di sampingnya dalam kondisi apapun. Terkadang ia merasa tidak adil pada sahabatnya sendiri.
*****
Flash back on
Hari itu, selly berjalan keluar rumahnya. Ia terus berjalan di bawah guyuran hujan. Dengan langkah enggan, ia memaksakan kakinya yang sangat sakit untuk terus melangkah. Beberapa kali ia terseok, namun tetap kembali berdiri.
Dari kejauhan ia terus mendengar suara bentakan dari ayahnya pada sang bunda. Selly menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua belah tangannya.
“Yah, aku mohon, jangan kayak gini! Gimana nasib keluarga kita kedepannya kalo ayah terus-terusan main judi dan perempuan?!” teriak Dina dengan suara lantang.
“Kamu cukup tau dapet makan, gag perlu urus hidup saya. Lagi pula, saya sudah bosan dengan perempuan seperti kamu!” suara Hermawan tak kalah lantang dari suara Dina.
Inilah yang membuat Selly meninggalkan kedua orang tuanya. Setiap hari, keributan dan keributan yang harus selalu ia dengar. Bahkan hari ini, Hermawan berani melempar Selly dengan bangku karena menolong Dina yang di tampar olehnya. Setiap saat, hanya perlakuan tidak menyenangkan yang Selly dan Dina terima dari Hermawan yang gelap mata. Namun, ia tidak bisa menceritakan masalahnya pada siapa pun, termasuk Samira. Karena baginya ini adalah aib keluarga.
“Tuhan, kapan ini berakhir?!” teriak Selly dalam hatinya. Hanya air mata yang bisa mencerminkan perasaannya.
Tak lama, Hermawan keluar dari rumah. Dengan mata merah dan tangan mengepal, langkahnya pun terlihat cepat. Ia segera masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Selly yang masih mematung memperhatikannya.
Selly segera berlari ke dalam rumahnya. Di dalam rumah ia mendapati Dina yang penuh luka lebam. Sama seperti dirinya, di sudut bibirnya terlihat darah yang sudah hampir mengering.
“Bunda!!!” Selly berlari dengan tergopoh-gopoh dan memeluk Dina dengan erat. “Bunda, aku gag mau hidup kayak di neraka gini. Aku cape tiap hari ayah terus mukul kita!” rengek Selly dengan tangis yang telah pecah.
“Sabar sayang… saat ini kita gag bisa berbuat apa-apa… tapi bunda yakin, suatu hari semuanya akan membaik…” lirih Dina seraya mengusap kepala sang putri. Mereka menangis berangkulan.
Sudah satu bulan ini, Dina dan Selly mengetahui hubungan Hermawan dengan banyak wanita. Bahkan Hermawan sering kedapatan berjudi dengan teman-temannya. Hermawan memegang salah satu anak perusahaan milik orang tua Samira, dengan uang yang melimpah ia bisa berbuat sesukanya tanpa memikirkan perasaan istri dan anaknya.
Setiap kali Dina mengajaknya bicara, hanya makian dan kekerasan fisik yang ia dan putrinya terima. Tidak ada lagi suami yang begitu melindunginya. Setiap malam, Dina dan Selly akan saling merawat lukanya agar tidak terlalu terlihat keesokan harinya. Terasa begitu menyedihkan, namun mereka hanya bisa menerimanya.
****
Pagi itu, Selly sampai lebih dulu di kelasnya. Tepatnya ia berangkat lebih pagi, karena harus naik transportasi umum untuk sampai ke sekolahnya. Beberapa saat sebelum bell berbunyi, Samira muncul di hadapannya.
“Sel, kenapa lo, kok muka lo pucet banget?” tanya samira saat melihat sahabatnya dengan wajah pucat dan mata bengkak.
“Gag pa-pa sam, gue cuma gag enak badan aja.” Sahut Selly seraya mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasnya. Tangannya gemetaran dan memakai jaket untuk menutupi tubuhnya, sepertinya ia sedang tidak baik-baik saja.
Samira menempelkan punggung tangannya di dahi Selly. Tidak terasa demam, namun Samira yakin sahabatnya sedang kesakitan karena sesekali tampak meringis.
“Gue temenin ke UKS yuk! Ato lo mau sarapan dulu di kantin?” Samira kebingungan sendiri. Karena tidak biasanya sahabatnya yang ceria sependiam ini.
Tiba-tiba Selly memeluknya. Terdengar isakan pelan dari bibirnya. Samira yang masih kebingungan, hanya bisa menepuk-nepuk bahu Selly perlahan. Cukup lama Selly terisak di bahu Samira. Teman-teman sekelasnya memandangi Selly dan Samira bergantian. Samira sadar, saat ini Selly sedang butuh waktu.
Samira melepaskan pelukannya. Di usapnya wajah Selly yang basah dengan air mata.
“Ikut gue!” ujar Samira seraya berdiri dan menarik tangan Selly.
“Aawww…” Selly mengaduh.
Samira segera memeriksa lengan Selly yang di genggamnya. Luka lebam melingkar besar di lengannya. Sudut bibirnya pun masih merah. Samira pun melihat kaki Selly yang dipenuhi luka lebam dengan sebuah luka kemerahan yang cukup besar.
“Anjrit! Siapa yang berani ngelakuin ini sama lo, hah?!” teriak Samira tanpa sadar. Membuat semua perhatian teman sekelasnya tertuju padanya dan Selly.
Selly hanya tertunduk. Bahunya bergetar dengan tangis yang masih di tahannya. Tangannya gemetaran dengan jari saling memilin.
“Jawab gue *****!” teriak Samira semakin kencang. Tangis Selly beralih keras. Ia tidak lagi memperdulikan tatapan teman sekelasnya. Kakinya terasa lemah, ia jatuh terduduk dengan tangis yang masih terdengar di bibirnya. “Bangun! Ikut gue!” Samira mengangkat tubuh Selly sekuat tenaga. Selly pasrah dengan yang di lakukan Samira. Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan Samira yang memapah di sampingnya.
Samira menaiki sebuah mobil dan membawa Selly ke rumahnya. Selama perjalanan, tidak ada obrolan apapun di antara keduanya. Dada Samira bergolak hebat, melihat sahabatnya yang terus menerus menangis di hadapannya. Samira mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kekesalannya sudah sangat besar.
Suasana rumah Selly sangat sepi. Tidak ada seorangpun pelayan yang terlihat disekitar rumahnya. Ia memapah Selly masuk ke rumah dan mendudukannya di sofa.
“Bun…” panggil Samira dengan suara cukup keras. Tak ada jawaban. “Bunda dimana?” tanya Samira pada Selly yang masih tertunduk lesu. Selly menunjuk kamar Dina.
Samira memutar handle pintu kamar Dina. Terlihat seorang wanita tengah terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
“Bun, kenapa selly…” kalimat Samira terhenti saat ia melihat Dina yang tengah berurai air mata dengan luka lebam di mata dan pipinya. Dari bibirnya masih keluar darah segar. Matanya melotot tak percaya. Samira duduk di samping Dina, Dina menatapnya seraya terisak.
“Siapa yang gelakuin ini sama bunda dan selly?” tanya Samira dengan terpatah-patah karena menahan marahnya.
Dina malah menangis sambil memeluk Samira. “Bunda mau jawab atau samy cari tau sendiri?” lanjut Samira yang mulai tak sabar. Dina menggelengkan kepalanya.
“Tolong jangan lakukan apapun sam… dia hanya sedang khilaf….” Rintih Dina sambil menggenggam tangan Samira erat.
Pikiran Samira tertuju pada laki-laki itu. Laki-laki yang selama ini dia hormati namun di kenal kasar. Amarah Samira mencapai puncaknya.
“Apa kalian selemah ini sampai tidak bisa melakukan apapun?” tanya Samira dengan tatapan tajamnya.
“Sam, tolong lo jangan ikut campur. Ini masalah gue dan keluarga gue!” teriak Selly yang sudah berada di pintu kamar Dina.
“Urusan kalian akan jadi urusan gue kalo udah nyangkut sama keselamatan kalian!” teriak Samira.
“Dia bokap gue sam! Lo gag boleh lakukan apapun!” gertak Selly dengan tangis yang kembali pecah.
“Bokap lo bilang? Bokap seperti apa yang bisa seenaknya menyiksa istri dan anak perempuannya? Bokap seperti apa yang bisa dengan terang-terangan ngasih bukti kekasaran dia di tubuh kalian? Bokap seperti apa yang tidak peduli lo kesakitan atau mati sekalipun?!” tunjuk Samira pada Selly. “Anjing!!” teriak Samira yang tanpa sadar memukul dinding dengan keras. Tetesan darah mengalir dari sela jarinya.Ia tidak bisa terima sahabat dan ibu angkatnya di perlakukan semena-mena.
“Samira! Jangan lakukan hal bodoh. Bunda bisa nahan sakit bunda, tapi bunda gag bisa liat kalian terluka!” teriak Dina yang segera berlari menghampiri Samira.
“Heh, sakit?! Apa bunda pikir aku gag sakit liat kalian dapat perlakuan seperti ini? Hati aku sakit bun, sakit!” teriak Samira.
Selly menyandarkan tubuhnya di daun pintu, sementara Dina jatuh terduduk. Tulang penyangga tubuhnya terasa remuk, tak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri tegak.
Samira mengambil handphonenya dari saku rok abunya.
“Suruh dokter adnan ke rumah selly sekarang.” Ujar Samira pada seseorang. “Kalian harus mendapatkan perlakuan yang adil, baik hari ini atau pun kedepannya.” ungkap Samira dengan wajah dinginnya.
Dalam beberapa langkah ia meninggalkan Dina dan Selly yang masih terdiam. Dengan langkah cepat ia menuju jalan raya dan menghentikan sebuah taksi. Rasa sakit di tangannya, ah sudahlah, itu tak lagi penting.
****