NovelToon NovelToon
The Red Dragon'S Whisper

The Red Dragon'S Whisper

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:

Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.

Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.

Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.

Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.

Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?

"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan di Atas Langit Merah

Langit di atas benteng timur yang semula diselimuti abu-abu fajar mendadak berubah warna. Awan-awan tebal berkumpul cepat, terbelah oleh rona merah membara yang memancar dari kejauhan. Udara pagi yang dingin dan basah berubah menyengat dalam hitungan detik. Di atas menara pengawas, para prajurit benteng berlarian panik, membunyikan lonceng perunggu berkali-kali. Suara dentang tajam itu bergema membelah kompleks bangunan batu, membangunkan seluruh penghuni yang baru saja terbangun dari lelapnya malam.

Kai menerjang keluar dari pintu kediamannya. Jubah hitamnya berkibar melintasi halaman utama. Wajahnya pucat pasi sejak satu jam lalu, sejak ia mendapati kamar Hana kosong melompong dengan selimut yang berantakan dan tusuk konde emas yang tergeletak dingin di atas meja. Rasa cemas yang membakar dadanya mendadak tertahan saat ia mendongak menatap langit.

Di sana, menembus gulungan awan membara, sesosok wujud raksasa meliuk turun dengan keanggunan yang mengerikan. Sisik-sisik merah delimanya memantulkan cahaya fajar, memancarkan hawa panas murni yang begitu dikenal oleh seluruh sel tubuh Kai.

"Naga Merah..." bisik Kai, tenggorokannya terasa kering.

Eksistensi agung yang beberapa hari lalu telah terlepas dari dadanya kini kembali, mendarat dengan dentuman dahsyat tepat di tengah halaman utama benteng. Hentakan cakar raksasanya meretakkan ubin-ubin batu kuno, sementara kibasan sayapnya menerbangkan debu dan daun-daun kering di sekeliling halaman. Para pengawal benteng refleks menarik pedang mereka, berlutut dan gemetar dalam kombinasi rasa takjub dan ketakutan yang luar biasa.

Namun, Naga Merah itu tidak memuntahkan api atau meraungkan kemurkaan. Makhluk agung itu merendahkan tubuh raksasanya, melingkarkan ekornya dengan sangat hati-hati di atas tanah batu. Dari balik lipatan sayap besarnya, hawa panas perlahan menyusut, menyingkapkan sebuah pelindung hangat yang menjaga tubuh seorang gadis.

Kai membeku. Matanya membelalak sempurna saat melihat Hana terbaring di sana, berselimutkan jubah tebal yang menutupi tubuhnya rapat-rapat. Meskipun wajah sang gadis suci tampak pucat dan dihiasi gurat kelelahan yang teramat sangat, napasnya terdengar teratur dalam kehangatan perlindungan sang naga.

"Hana!"

Kai melesat maju, tidak lagi memedulikan pendar api yang masih menyelimuti sisik-sisik naga di sekelilingnya. Ia berlutut di samping Hana, merengkuh tubuh lemas gadis itu ke dalam pelukannya dengan jemari yang gemetar hebat. Ia mendekap kepala Hana ke dadanya, merasakan detak jantung gadis itu yang masih mengalun pelan, sebuah bukti kehidupan yang mengembalikan separuh jiwanya yang sempat hilang.

Hana perlahan membuka kelopak matanya yang berat. Saat pandangannya yang kabur menangkap garis rahang tegas dan mata hitam jernih milik Kai, seulas senyum tipis yang sarat akan kelegaan terukir di bibirnya yang agak kering.

"Kai..." bisik Hana lirih, jemarinya yang lemah naik menyentuh pipi pemuda itu. "Aku... aku kembali..."

"Maafkan aku... maafkan aku karena tidak ada di sisimu saat kau membutuhkanku," ucap Kai dengan suara parau yang bergetar menahan gejolak emosi. Ia mengecup dahi Hana berulang kali, menyalurkan seluruh rasa cemas dan kelegaannya yang meluap.

Naga Merah merendahkan moncong besarnya tepat di atas pasangan itu. Sepasang mata merah menyalanya menatap Kai dengan dalam, memancarkan gema suara spiritual yang hanya bisa didengar oleh sang pemilik darah leluhur di dalam pikirannya.

"Ular-ular liar telah bergerak di balik kabut, Tuan Muda," gema suara naga itu meretakkan dinding kesadaran Kai. "Gadis ini diselamatkan dari cengkeraman siluman yang hendak menodai kesucian klan selatan. Rencana mereka untuk mengadu domba darahmu dengan musuh-musuhmu telah terbongkar."

Mendengar bisikan itu, rahang Kai mengeras seketika. Manik matanya berkilat dingin saat mendongak menatap mata sang naga. "Siapa yang melakukannya?"

"Rubah dari lembah perbatasan dan pelayannya," sahut sang naga. "Pelayannya telah kutumpaskan menjadi abu di Lembah Tua, namun sang rubah masih berkeliaran membawa dendam."

Kai mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa bersalah karena telah membiarkan musuh-musuhnya mendekati Hana kini bertransformasi menjadi tekad mutlak yang membakar habis sisa-sisa keraguan di dalam dadanya. Ia menegakkan tubuhnya, tetap menggendong Hana erat-erat di dalam dekapan dadanya, lalu menatap sekeliling halaman benteng tempat para prajuritnya masih terpaku kebingungan.

"Dengar semuanya!" suara Kai menggelegar menembus halaman benteng, sarat akan wibawa seorang pemimpin sejati yang tak lagi bisa digoyahkan. "Tutup seluruh gerbang perbatasan! Perketat penjagaan di setiap jengkal dinding benteng! Hari ini... tidak ada lagi tempat bersembunyi bagi siapa pun yang berani mengusik benteng ini!"

Naga Merah meraung pelan, sebuah raungan persetujuan yang menggetarkan angkasa fajar, sebelum perlahan meliuk naik dan melayang rendah di atas benteng timur—menjelma menjadi perisai api tak kasatmata yang siap menjaga kedamaian baru yang akan mereka perjuangkan bersama.

Kai membawa Hana kembali ke dalam kediamannya dengan langkah mantap, mengabaikan tatapan takjub para prajurit yang berdiri kaku di sepanjang koridor. Di dalam kamar utama yang hangat, ia membaringkan Hana di atas ranjang dengan teramat perlahan, memastikan selimut tebal membungkus tubuh sang gadis dengan sempurna. Ia berlutut di sisi ranjang, memegangi kedua tangan Hana yang dingin dan mengusapnya lembut dengan kedua telapak tangannya.

"Kau aman sekarang, Hana. Tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu lagi di sini," ucap Kai dengan nada suara rendah yang bergetar, menyembunyikan amarah membara yang bergolak di balik dadanya.

Hana menatap Kai, matanya yang bening memancarkan kelelahan mendalam namun juga kelegaan yang luar biasa. Ia menyandarkan kepalanya pada bantal sutra, mencoba mengatur napasnya yang perlahan mulai stabil. "Yuki... dia merencanakan segalanya, Kai. Dia ingin membuatmu percaya bahwa aku diculik oleh pasukan Rei, agar kau membantai klan mereka dan menghancurkan dirimu sendiri dengan sisa kekuatanmu."

Garis rahang Kai mengeras mendengar nama itu. Matanya berkilat dingin, mengingat bagaimana siluman rubah itu hampir saja memanipulasinya dan merenggut wanita yang paling berharga dalam hidupnya. "Wanita licik itu mengira bisa mempermainkan kita dari balik kegelapan. Tapi dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya saat membiarkan pelayannya menyusup ke kamar ini."

"Naga Merah..." Hana terhenti sejenak, mengingat raungan agung yang membelah langit Lembah Tua tadi. "Bagaimana dia bisa kembali, Kai? Bukankah wujudnya sudah terlepas dari tubuhmu malam itu?"

Kai menatap telapak tangannya sendiri yang memancarkan pendar hangat, sebuah pendaran energi murni yang kini tak lagi terasa seperti beban atau kutukan. "Jiwa naga itu mungkin tak lagi bersemayam secara fisik di dalam dadaku, Hana. Tapi darah leluhur dan takdir kita telah terikat. Ketika jiwamu berteriak memanggil namaku dengan keputusasaan yang begitu besar, ikatan spiritual itu memanggilnya kembali dari angkasa. Dia tidak datang karena perintahku, tapi karena kehendak untuk melindungimu."

Hana tersenyum tipis, seulas senyum yang membawa sedikit warna kembali pada wajah pucatnya. Ia menggerakkan jemarinya, menyelipkan jemari lentiknya di antara jemari Kai. "Kita tidak boleh membiarkan Yuki menggalang kekuatan lagi. Dia sedang terluka dan panik karena rencananya gagal total."

"Aku tahu," sahut Kai, membawa genggaman tangan mereka ke bibirnya untuk mengecup jemari Hana dengan lembut. "Aku sudah memerintahkan seluruh pengawal terbaik benteng timur untuk menyisir setiap sudut Hutan Terlarang. Kali ini, tidak ada ruang untuk belas kasihan. Perang yang mereka sulut akan kita akhiri di tanah perbatasan ini."

Di luar jendela kamar, raung halus Naga Merah yang melayang rendah di atas atap benteng terdengar bagai dentum ikrar perlindungan abadi, menegaskan bahwa malam-malam penuh kegelapan dan ancaman tersembunyi kini harus bersiap menghadapi fajar baru yang siap memusnahkan setiap kelicikan hingga tak berbekas.

1
ginevra
kenapa semuara orang mau bikin gara2 sama kai sih
ginevra
anggun sekali penggambarannya
Aquarius97 🕊️
buat saja Hana menjadi istrimu Kai ... atau mengamuk saja dulu, mereka pasti tunduk
Aquarius97 🕊️: hihihi siapp akak 🙏🏻
total 2 replies
Xlyzy
pergi gitu aja mai tinggalkan jejak gitu Tah berupa ayam bakar mungkin 😁
Sarifah_Aini97: Haha bisa aja nih! Kalau jejaknya ayam bakar, yang ada malah langsung habis dicemilin sebelum ketemu jalan pulangnya 😂 Makasih ya udah mampir dan baca!
total 1 replies
Miu.Nuha
haish Hana punya rasa takut juga ya ternyata 🤭 tadi sok2 berwibawa saat bicara berdua, hehe...
Miu.Nuha
apakah naga di dalam tubuh kai pernah keluar dan mengamuk?? 😱
Sarifah_Aini97: belum sampai kesitu isi ceritanya
total 1 replies
Rain Aricia
Kok aku merasa si Hana ada rasa ga suka gitu ya sama Kai? Apa mereka saling benci
Sarifah_Aini97: Pertanyaan bagus! Apakah mereka saling benci atau ada alasan lain di balik sikap mereka? Penasaran kan? Yuk, terus ikuti kelanjutannya, pelan-pelan rahasianya bakal terbuka kok! 🤗
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
nah kan. hana sejenis mata-mata untuk melihat keadaan
Rain Aricia
Eh berarti si naga tau dong apa aja yang dipikirin sama Kai🤔
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
apa hana mata-mata yang dikirimkan?
Three Flowers
Mai atau Hana yang jahat?
Three Flowers: hehe iya gpp deh Thor... penasaran bikin tambah sedep nikmatin kisahnya
total 4 replies
Three Flowers
berarti Hana berada di pihak lawan?
Cimol krispy
Hei Mai, jangan asal bicara. bisa jadi Hana juga di paksa untuk datang
Cimol krispy
seolah² seisi benteng tengah mempersiapkan sesuatu yang besar dan berbahaya ya Kai
-Thiea-
jadi, semua orang pengen lihat si kai jatuh ya. karena kekuatannya sudah dianggap melemah, gak sekuat dulu. 🤔
Filan
vibenya sangat tegang tapi masih belum begitu paham masalah yang sedang mereka hadapi. Di sini hanya Hana yang bukan berasal dari klan mereka dari 4 wanita itu ya.
Mega Siregar
apakah itu peringatan😧?
Xlyzy
Apa yang mereka cari?, bisa bisa di tengah perjamuan bikin kacau
Three Flowers
apakah mereka mengincar Hana?
Three Flowers
sosok Mai ini kelihatan bar bar, kebalikan dari Hana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!