NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 1

Di meja makan, hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen. Keheningan di rumah mewah itu mendadak terpecah saat suara ketukan sepatu pantofel terdengar menuruni anak tangga marmer satu demi satu.

Di ujung tangga, berdiri kokoh seorang laki-laki yang sudah berpakaian sangat rapi. Amerta menoleh sejenak ke arah sumber suara. Detik itu juga, Amerta tertegun. Ia begitu kaget karena merasa mahakarya Tuhan yang begitu indah sedang berdiri di sana. Laki-laki itu memiliki mata yang biru sebiru laut luas, hidung yang mancung, dan bibir yang sedikit tebal. Rambutnya disisir rapi dengan gaya klimis, menambah kesan sempurna sekaligus angkuh pada penampilannya.

Lalu, sebuah suara memecah lamunan Amerta.

"Amerta, kenalkan, dia kakakmu sekarang," ucap Mama Jingga lembut, mencoba mencairkan kecanggungan.

Mendengar ucapan ibunya, Amerta memberanikan diri. Ia mengulurkan tangan kanan, berniat mengajak berjabat tangan sebagai tanda perkenalan yang baik. Namun, usahanya nihil. Tidak ada sambutan hangat. Jangankan membalas uluran tangan Amerta, Mahesa bahkan tidak melirik jemari gadis itu sama sekali. Yang ada hanyalah sepasang tatapan mata biru yang sangat tajam, menembus langsung ke manik mata Amerta.

Merasa ditolak, Amerta menarik kembali tangannya dengan canggung, meremas jemarinya sendiri di bawah meja.

Tanpa sepatah kata pun, Mahesa berjalan menuju meja makan, menarik kursi di seberang Amerta, lalu duduk. Ia mulai mengoles roti dan makan dengan tenang seolah Amerta hanyalah makhluk tidak kasatmata di ruangan itu.

Melihat atmosfer yang mendadak kaku, Ayah Dirga membuka suara, "Bagaimana pekerjaanmu di kantor, Esa?"

"Baik," jawab Mahesa singkat, tanpa menatap sang ayah.

"Ayah dan Mama Jingga akan pergi honeymoon ke beberapa negara. Ayah harap kamu bisa menghandle semua pekerjaan di perusahaan selama kami pergi," lanjut Ayah Dirga, nadanya penuh wibawa namun penuh harap.

"Baik."

Hanya satu kata itu yang kembali terdengar dari bibir tebal Mahesa. Tak ada pertanyaan lanjutan, tak ada basa-basi. Setelah menghabiskan kopi hitamnya dalam beberapa tegukan, tiba-tiba laki-laki itu berdiri, merapikan jasnya, lalu melangkah pergi tanpa pamit secara verbal.

Hari itu adalah hari pertama Amerta tinggal di rumah ayah barunya. Untuk mengusir rasa canggung dan bosan karena ditinggal sendirian oleh orang tuanya yang sibuk mengemas koper, Amerta memutuskan berjalan-jalan menyusuri rumah baru tersebut. Rumah itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar besar yang membuat Amerta merasa makin kecil.

Hingga akhirnya, Amerta merasa lelah dan berniat kembali ke kamarnya sendiri di lantai dua. Namun, saat melewati lorong sunyi, matanya menyapu satu bilik kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya.

Pinto kamar itu sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Rasa penasaran Amerta bergejolak. Dengan langkah seringan kapas, ia melangkah pelan menyusuri kamar yang bernuansa serbaterbuka namun didominasi warna gelap—hitam dan abu-abu arang. Amerta sangat yakin bahwa ini adalah kamar Mahesa. Bau pertama yang menyengat indra penciumannya adalah aroma maskulin, campuran kayu cendana dan parfum mahal yang sangat menenangkan.

Amerta melihat-lihat sekeliling kamar yang sangat rapi dan minimalis itu, hingga matanya tertuju pada sebuah bingkai foto perak di atas nakas tempat tidur. Di dalam foto itu, Mahesa tampak tersenyum tipis—senyuman yang belum pernah Amerta lihat sebelumnya—bersama seorang perempuan berambut panjang yang sangat cantik.

TAP... TAP... TAP...

Tiba-tiba, terdengar suara langkah sepatu yang menggema dari arah lorong, hendak memasuki kamar. Jantung Amerta seakan berhenti berdetak. Panik menjalar ke seluruh tubuhnya. Cepat-cepat ia menaruh kembali foto itu ke atas nakas, namun karena terlalu terburu-buru, posisinya sedikit miring. Karena tidak ada waktu lagi untuk lari ke pintu luar, Amerta nekat merangkak dan menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah kolong tempat tidur Mahesa yang tertutup seprai panjang.

Suara langkah sepatu itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di samping tempat tidur. Amerta menahan napasnya rapat-rapat, memejamkan mata dengan jantung yang berpacu gila-gilaan. Ia mengira dirinya aman.

Namun, detik berikutnya, seprai tempat tidur disingkap kasar. Sebuah tangan yang kekar dan dingin dengan kuat menarik pergelangan tangan Amerta, menyeret tubuh gadis itu keluar dari bawah kasur.

Amerta mendongak dengan tubuh gemetar, dan langsung disambut oleh tatapan mata biru Mahesa yang berkilat marah, sedingin es kutub.

"Keluar sekarang! Jangan pernah masuk ke ruang ini tanpa seizinku!" desis Mahesa dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah. Saat Amerta masih mematung karena syok, Mahesa membentak lebih keras, "KELUARR!!"

Amerta sangat terkejut sekaligus ketakutan. Air matanya hampir tumpah. Ia bergegas bangkit dengan kaki lemas dan berlari keluar dari kamar itu. Tak lama setelah ia melangkah melewati ambang pintu, terdengar suara deritan pintu yang dibanting dengan sangat keras dari belakangnya. BRAKK!

Amerta termenung di depan kamarnya sendiri sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. Sepanjang sisa hari itu, ia terus bertanya-tanya dalam hati: Sebenarnya, Mahesa itu orang yang seperti apa? Mengapa dia begitu sensitif dengan kamarnya? Dan siapa perempuan di foto itu?

Satu minggu pun berlalu sejak kejadian menegangkan di kamar tersebut. Selama satu minggu pula, Mahesa benar-benar menjelma menjadi sosok yang asing dan dingin di rumah itu. Ia tidak pernah mengeluarkan suara sepatah pun. Jika mereka berpapasan di lorong, Mahesa akan berjalan melewatinya begitu saja seolah-olah Amerta hanyalah embusan angin.

Hingga akhirnya, hari yang dinantikan tiba. Hari di mana Ayah Dirga dan Mama Jingga akan berangkat pergi honeymoon untuk waktu yang cukup lama.

Di ruang makan sebelum keberangkatan, Ayah Dirga membuka percakapan, "Mungkin Ayah dan Mama akan pergi cukup lama, sekitar dua atau tiga bulan karena ada urusan bisnis sekalian. Kalian di rumah harus akur dan membiasakan diri satu sama lain."

Amerta langsung menjawab dengan anggukan patuh dan senyum paksa, "Iya, Yah. Hati-hati di jalan."

Sementara itu, Mahesa yang duduk di seberangnya hanya merespons dengan satu deheman berat tanpa minat, matanya sibuk menatap layar iPad yang menampilkan grafik saham.

Malam harinya, setelah mobil orang tua mereka lenyap di balik gerbang menuju bandara, rumah itu mendadak terasa sepuluh kali lebih luas dan mencekam. Di ruang makan yang megah, kini hanya tersisa dua orang yang duduk saling berhadapan. Tidak ada percakapan, tidak ada kehangatan. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, memecah kesunyian yang seolah mencekik leher Amerta.

Amerta berulang kali menelan ludah dengan susah payah, merasa atmosfer di sekitarnya begitu berat karena aura intimidasi dari laki-laki di hadapannya.

Tiba-tiba, Mahesa meletakkan sendoknya. Dentingan kecil itu membuat Amerta sedikit tersentak di kursinya. Laki-laki bermata biru itu mendongak, menatap Amerta lurus-lurus untuk pertama kalinya malam itu.

"Selama Ayah belum pulang, aku akan jarang pulang," ucap Mahesa, suaranya terdengar datar, dingin, dan penuh dengan penekanan bahwa dia tidak ingin dibantah.

Amerta menundukkan kepalanya, meremas ujung bajunya di bawah meja, lalu menjawab pelan, "Iyaa, Kak."

Mahesa tidak merespons lagi. Laki-laki itu menyeka bibirnya dengan tisu, mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan decitan halus di lantai marmer, lalu berjalan pergi begitu saja. Punggung tegapnya menghilang di balik lorong menuju pintu utama.

Tak lama kemudian, deru mesin mobil sport-nya yang menggelegar terdengar menjauh dari halaman rumah, meninggalkan Amerta sendirian dalam keheningan total malam itu. Amerta menatap kursi kosong di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Babak baru kehidupannya di rumah ini baru saja dimulai, dan dia tahu, menghadapi kakak tirinya yang sedingin es tidak akan pernah menjadi hal yang mudah.

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!