NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernah?..

"Perasaan tangan mantan gue nggak selembut tangan loe." ujar Tavian memegang tangan Varren pelan dan mengusapnya.

*****

Varren menepisnya dan menatap Tavian melotot. "Sialan loe." ujar Varren.

Tavian malah tertawa melihat Varren yang terlihat geli padanya. Tapi sialnya ia kepikiran tangan Varren sangat lentik dan lembut. Jika diingat-ingat, tangan mantannya memang kalah lembut. Tavian semakin melirik Varren kembali, memastikan. Jika dilihat-lihat lagi memang Varren laki-laki. Mungkin perasaannya saja yang berlebihan yah?

"Itu udah panggilin yang lain biar sarapan kita." ujar Varren kepada Tavian. Tavian berdehem melaju menjauh memanggil teman-temannya. Varren menatap lamban tangannya, tangannya memang lentik dan lembut. Tak ada alasan membuat tangannya menjadi bantat. Jika halus pun karena memang Varren tidak pernah bekerja keras atau cuci piring jadi wajar lah.

Berselang lagi Tavian sampai bersama Sylas menggunakan baju santai berwarna putih dan celana boxer warna putih. Rambut yang masih berantakan seperti usai mencuci wajah. Di belakangnya ada Reja yang berjalan pincang menatap Tavian dan Sylas kesal.

"Bantuin gue napa. Yatuhan punya temen kok pada jahat semua." gumamnya meringis.

Tavian dan Sylas meliriknya tak minat dan Varren malah menuangkan kaldu bubur dan ayam suir yang ia masak. "Ini kerupuknya ambil sendiri. Ayoo makan ayo, ini yang mau pie enak silahkan dicoba." ujar Varren semangat.

Tavian dan Reja sangat bersemangat memakan makanan mereka. Bedanya Reja agak meringis dengan telapak tangannya masih basah tidak terlalu bisa menggunakan sendok tapi tetap bisa. Ia mengambil pie dan memakannya cepat.

"Masakan Varren paling the best. Kayaknya kalo bikin cafe laku keras deh." ujar Tavian kepada teman-temannya.

Reja mengangguk mengunyah pie dan mengalihkan ke bubur. "Luar biasa emang." gumam Reja semangat.

Varren tersenyum dalam diam memakan makanannya tenang. Sesekali melirik Sylas yang diam saja menikmati makanannya.

"Enak nggak?" tanya Varren pada Sylas. Sylas meliriknya dan berdehem pelan. Semua dari mereka heboh mengunyah sampai menghabisi seluruh bubur yang Varren masak. Varren bersyukur akan hal itu.

"Btw hari ini loe mau kemana Ren?" tanya Reja pada Varren.

Varren menatap jam yang menunjukkan jam 9. "Gue mau pergi main sama temen gue deh kayaknya, sekalian ke mall." ujarnya tenang.

"Yah kirain mau di sini aja. Kita nonton kalo loe di asrama aja." jelas Reja dengan tidak semangat pada Varren.

Varren menggeleng pelan. "Hari ini gue mau ke mall buat beli sendal gue. Sandal gue hilang." ujar Varren kepada mereka jujur.

Tavian melirik Reja dengan gelagapan dan Sylas menatap teman-temannya tajam.

"Hehe sorry Ren. Sebenernya yang ngilangin sandal loe itu gue. Itu kemaren pas gue sholat Jumat, hilang di mushola." jelas Reja memelas pada Varren.

Varren meliriknya dengan bengis. "Anjir. Itu sandal padahal kesayangan gue." gumam Varren menatapnya malas.

Reja menatap Varren dengan mengedip mata memelas. "Sorry ye. Nanti gue ganti yah Ren. Tapi jangan merk yang sama, soalnya gue belum dapat kiriman. Mana semalem duit gue habis buat taruhan." ujarnya memelas.

"Loe taruhan apa? Loe judi?" tanya Varren berpura-pura tidak tahu.

Baik Reja maupun teman-temannya kaget menatap Varren. "Kita balapan semalem." jelas Sylas membuat Reja dan Tavian di sana menatap Sylas melebarkan mata.

Varren mendengarnya bergidik ngeri. "Kalian nggak takut mati apa?" tanya Varren pura-pura ngeri mendengar kata balapan.

"Justru balapan seru Ren. Nguji adrenalin." ujar Reja heboh.

"Iya seru sampek luka gitu. Berarti loe jatuh semalem dari balapan? Uang nggak dapet badan luka. Kan begok." ujar Varren melempar Reja dengan potongan roti di depannya. Reja mengelak menatap Varren dengan tatapan memelas.

Tavian terkekeh di sana. "Siapa yang menang semalem? Sylas?" tanya Varren kepada mereka lagi.

Tavian dan Reja menggeleng melirik Sylas yang diam saja. "Itu yang menang ketua Kings of Asphalt siapa gitu. Kita nggak tau nama atau muka dia sih. Dia kelihatan jago banget. Gue jatuh juga karena kaget ditikung sama dia, ban gue jadi nggak seimbang." jelas Reja kepada Varren.

Varren mendengarnya mengangguk pelan seakan paham akan penjelasan mereka.

"Btw loe jadi ke mall nggak? Gue juga mau ke mall soalnya. Gue mau beli kaos." jelas Sylas melirik Varren.

"Ye gue juga mau ikut." ujar Tavian.

"Lah terus gue sama siapa di rumah kalo kalian pergi semua? Kalian nggak lihat gue luka gini?" tanya Reja tak senang mendengar semua mau pergi.

"Itu mah derita loe. Siapa suruh jatuh." ujar Tavian.

Reja menatapnya tak setuju. "Loe pikir aja sih siapa yang mau jatuh." jelas Reja tak suka.

"Udah gini aja. Gue sama Sylas ke mall, dan loe jagain Reja. Siapa tau dia mati tu." jelas Tavian.

"Astaghfirullah. Bos berdosa banget mulutnya." ujar Reja prihatin pada Tavian yang bicara buruk. Tavian meliriknya malas.

Varren menggeleng pelan melihat ketiga orang di hadapannya ini. "Cepetan lah yang mau pergi. Gue udah mau pergi ini, sekalian beli bahan makanan, stok makanan kita habis." ujar Varren kepada mereka.

Sylas segera berdiri diikuti Tavian. Reja ditinggal sendiri menatap Tavian dan Varren memelas. "Kalian ninggalin gue? Yatuhan kalian nggak banget deh jadi temen." ujarnya misu-misu.

"Sorry kita nggak kawan dulu hari ini." ujar Tavian pergi.

Varren di sana menepuk pundak Reja pelan. "Udah nggak usah gitu amat. Nanti gue bawain makanan buat loe. Loe kan masih sakit jadi harus banyak istirahat. Loe mau apa biar gue beliin?" jelas Varren pelan dan lembut.

Reja yang diperhatikan begitu menatap Varren tertegun, mengangguk kaku pelan dan berdehem. "Iya gue mau Big Burger."

Varren tersenyum mengusap kepala Reja sebelum pergi. Reja menatap Varren menjauh dan menghela napas pelan.

"Tangan Varren lembut banget."

Gumamnya masih ingat bagaimana tangan Varren mengusap kepalanya. Benar-benar aneh.

---

Varren siap dengan celana jins mocha pendek tidak ketatnya, baju putih oversize, dengan topi putih ia kenakan, anting sebelah kanan, ia menggunakan sneaker yang jarang ia kenakan, harganya berkisar puluhan juta. Shena memang kejam padanya tapi ia tidak pernah pelit akan uang. Apapun yang Varren inginkan akan dibelinya, asalkan Varren menurut padanya. Kuncinya hanya menurut dan jadi bonekanya.

"Who keren beut Varren." gumam Tavian melihat Varren keluar, dengan penampilan yang kontras dengan kulit Varren. Varren terlihat sangat sangat tampan dan juga cantik secara bersamaan. Varren melirik Sylas menggunakan baju hitam lengan pendek menampilkan lengan kekarnya, lalu celana panjang, ia juga menggandeng jaket di tangannya. Melirik Tavian yang menggunakan hoodie hitam dan celana jins hitam juga. Mereka sangat tampan sekali.

"Siapa tau ada ciwi cantik di mall." kebiasaan Varren kepada teman-temannya jika dibilang tampan yah begitu.

"Loe pernah pacaran Ren?" tanya Tavian pada Varren pelan.

Varren menatapnya dan menggeleng. "Belum sih, tapi kalo naksir pernah." ujarnya. Tavian menatapnya dan mengangguk pelan.

Varren pernah suka pada laki-laki, tapi tidak bisa ia ungkapkan.

Mereka memilih segera pergi menuju mall. Sepanjang perjalanan, Varren diam-diam merenung. Di mall nanti, ia mungkin akan bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Tapi satu hal yang pasti—ia harus berhati-hati. Terlalu banyak rahasia yang ia sembunyikan. Dan Sylas... Sylas terlalu perhatian untuk seorang musuh.

Bersambung...

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!