Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan tak terduga
Disaat Fatimah menyeberang tiba - tiba ada mobil yang melaju dengan kencang, beruntung ada seseorang yang segera menarik tangannya kalau tidak mungkin mobil tersebut sudah menyerempet nya.
"Dek, kamu tidak apa - apa ?" tanya seorang laki - laki tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Te - Terima kasih kak." Fatimah terlihat shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Apa kamu baik - baik saja ?" laki - laki itu memastikan keadaan gadis yang ada di depannya itu.
"Saya tidak apa - apa kak, sekali lagi terima kasih untuk pertolongannya." ucap Fatimah dengan tersenyum.
"Maaf saya, permisi dulu." lanjut Fatimah lagi, lalu ia sedikit berlari karena bus kota yang menuju ke kampusnya sudah berhenti di halte yang tak jauh dari sana.
"Wajahnya seperti tidak asing, apalagi senyumnya itu." batin laki - laki itu yang masih memperhatikan Fatimah menaiki bus kota.
Laki - laki tersebut adalah Johanes Hutomo 27 tahun, anak sulung dari tuan Juan Hutomo. Musuh bebuyutan tuan Candra, dulu tuan Candra dan tuan Juan adalah sahabat baik. Dikarenakan sesuatu hal, hingga akhirnya mereka bermusuhan sampai berpuluh tahun. Sampai anak - anak mereka pun juga menjadi rival dalam berbisnis.
Tiga puluh menit kemudian Fatimah sudah sampai di kampusnya. Beruntung hari ini dia tidak terlambat masuk kelas, meski harus berbarengan dengan dosennya.
"Faa." bisik Nathasa dari belakang ketika Fatimah baru saja duduk di kursinya.
"Hmm."
"Nanti siang temani gue ke Mall yuk !!"
"Bisa, aku juga mau cari buku buat bahan skripsi tapi aku minta ijin dulu yah." bisik Fatimah juga.
"Ibu Panti loe ?"
Fatimah hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu, tentu saja minta ijin suaminya. Pikirnya. Memikirkan suami membuat hati Fatimah tergelitik, sebenarnya pernikahan macam apa yang sedang ia jalani. Sudah beberapa hari menikah, suaminya itu sama sekali tak menganggapnya seperti istri tapi lebih seperti anaknya sendiri.
Setelah kelas usai dan memastikan tidak ada kelas lagi, Fatimah dan Nathasa berencana mengisi perut mereka dulu di kantin.
Namun baru beberapa langkah masuk ke dalam kantin, Jessica yang juga sedang duduk di sana dengan sengaja kakinya menjegal Fatimah yang kebetulan melewatinya hingga ia terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Upsss, sorry tidak sengaja." ucap Jessica dengan tersenyum menyeringai.
"Loe sengaja ya ?" tanya Nathasa dengan gaya premannya, bukannya menolong Fatimah yang jatuh justru nantangin anak dari pemilik kampus tersebut.
"Besar juga nyalimu ?" ujar Jessica.
"Kenapa memang, gue tidak takut ?" tantang Nathasa.
"Sudah, sudah. Aku tidak apa - apa kok. Mungkin aku yang salah karena tidak lihat jalan." Fatimah mencoba melerai kedua wanita yang bersitegang itu. Lalu ia menarik tangan Nathasa untuk keluar dari kantin tersebut.
"Kenapa loe tidak melawannya, jelas gue lihat dia sengaja menjegal loe ?" Nathasa terlihat emosi ketika mengingat kejadian di Kantin tadi.
"Siapa yang berani melawan anak pemilik kampus ?" sahut Fatimah.
"Sikapnya beda sekali dengan kakaknya, padahal kak Glenn itu terlihat sangat baik dan cool. kak Glenn dulu tidak pernah gembar gembor kalau dia anak pemilik kampus, beda sama si kampret itu baru masuk kampus sudah mendeklarasikan diri menjadi ratu kampus." ujar Nathasa dari balik kemudinya.
"Kamu tidak tahu saja aslinya." gumam Fatimah.
"Kamu berani sekali tadi, kamu tidak takut mendapatkan masalah ?" tanya Fatimah, karena yang ia dengar Jessica selalu membully siapapun yang cari masalah dengannya.
"Dia itu dulu adik kelas gue di sekolah, tapi berani - beraninya merebut pacar gue. Sejak itu gue menyatakan bendera perang." ujar Nathasa berapi - api.
Fatimah yang mendengar perkataan Jessica hanya bisa istighfar dalam hatinya, ia tidak mengerti bagaimana kehidupan orang kaya. Bagi anak yatim piatu seperti dirinya bisa makan dan bersekolah saja sudah sangat bersyukur, jadi jika ada masalah lebih baik saling memaafkan. Bukan kah itu lebih indah, pikirnya.
"Lebih baik kamu memaafkan Nath, tidak baik menyimpan dendam terlalu lama. Lagipula itu kejadian kan sudah lama banget." tutur Fatimah dengan lembut.
"Iya, ibu ustadzah. Kalau dia tidak cari masalah duluan, gue juga tidak akan melakukannya tadi." sahut Nathasa membela diri.
Fatimah hanya geleng - geleng kepala melihat sahabatnya itu dan tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di Mall.
"Makan dulu yuk, gue lapar." ajak Nathasa ketika mereka baru memasuki Mall tersebut.
"Sudah tenang saja gue yang traktir." lanjut Nathasa lagi yang sudah tahu kebiasaan Fatimah yang selalu berhemat.
Fatimah bukannya tidak mempunyai uang, bahkan sejak ia kuliah tuan Candra selalu mentransfer uang padanya dengan jumlah yang besar untuk biaya kuliah dan sisanya ia gunakan untuk keperluan adik - adiknya di Panti.
"Tidak perlu, biar kali ini aku yang mentraktirmu. Selama ini kamu yang selalu mentraktirku."
"Memang loe punya uang lebih ?" tanya Nathasa.
"Aku punya tabungan, tenang saja." ujar Fatimah dengan senyum manisnya.
"Okey."
Kini mereka menuju salah satu Food court disana untuk makan siang, setelah itu mereka menuju ke toko buku di lantai atas.
"Hai cantik." sapa seorang pria ketika berpapasan dengan Fatimah dan Nathasa di depan toko buku.
Nathasa yang memang sedikit gesrek, bukannya membiarkan Fatimah membalas sapaan laki - laki itu. Ia justru menarik tangan Fatimah agak menjauh dari pria tersebut.
"Loe kenal dia ?" bisik Nathasa.
"Enggak." Fatimah menggelengkan kepalanya.
"Loe tahu siapa dia ?" tanya Nathasa lagi dengan berbisik.
"Enggak." Fatimah menggeleng lagi.
"Loe mau gue kasih tahu siapa dia ?"
"Enggak tertarik."
"Meski loe enggak tertarik nih gue kasih tahu. FYI, for your information. Dia itu orang yang sama populernya dan tentunya sangat kaya di kota ini sama seperti kak Glenn, namanya kak Johanes." ucap Nathasa antusias.
"Halo adik - adik cantik, sudah selesai ngobrolnya." tanya Johanes yang sedari tadi memperhatikan tingkah kedua gadis yang tak jauh darinya itu.
"Kak Jo, senang sekali bisa bertemu denganmu disini. Apa aku bisa minta Foto ?" tanya Nathasa dengan antusias dan sedikit genit tentunya.
"Nath, nyebut Nath. Daniel mau kamu kemanain ?" bisik Fatimah berharap sahabatnya itu tidak bertingkah absurd.
"Disaat seperti ini, jangan bahas dia. Enggak penting." sahut Nathasa.
"Baiklah aku mau berfoto asal dia juga ikut foto." tawar Johanes jarinya menunjuk ke arah Fatimah.
"Aku enggak mau." tolak Fatimah, ingin sekali ia kabur dari tempat itu.
"Gue mohon, plisss." pinta Nathasa dengan memasang wajah melas.
"Baiklah." ucap Fatimah pasrah.
Nathasa langsung mengeluarkan tongsis andalannya dan mulai mengambil fotonya dengan Johanes dan Fatimah tentunya.
Setelah itu Fatimah segera menarik tangan Nathasa ke dalam toko buku tersebut agar tidak bertingkah lebih absurd lagi.
"Apa loe sudah mengambil foto wanita yang mengenakan hijab tadi ?" tanya Johanes pada asistennya.
"Sudah boss."
"Good Job, segera cari tahu segalanya tentang dia." perintah Johanes sambil berlalu meninggalkan Mall tersebut.
awal yang menarik semoga ceritanya bagus hingga akhir