NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Malam Penuh Bintang

Bobon terbangun dengan tubuh yang masih lelah. Pagi di Sekte Gunung Berbunga terasa berbeda. Udara lebih segar dan bunga-bunga bermekaran lebih indah. Tapi di hatinya, ada kesedihan yang masih mengendap.

Rara datang membawa sarapan. Nasi hangat dengan lauk ikan dan sayuran segar. Bobon menyantapnya dengan lahap seperti biasa, meskipun matanya masih sembab.

"Hari ini kau akan berangkat," kata Rara. "Murid-murid sekte akan mengantarmu sampai perbatasan. Dari sana, kau akan melanjutkan sendiri ke Kerajaan Kencana."

"Kenapa tidak sampai ke istana?"

"Karena wilayah Kerajaan Kencana dijaga ketat. Hanya orang yang memiliki izin yang bisa masuk. Tapi jangan khawatir, tetua sekte sudah mengirim surat ke istana. Mereka akan menunggumu di gerbang."

Bobon mengangguk. Dia membereskan bungkusannya dan bersiap pergi. Rara memberinya pedang pendek yang tersembunyi di balik pakaian.

"Ini untuk perlindungan. Meskipun kau kuat, lebih baik bersiap."

"Aku tidak bisa menggunakan pedang," kata Bobon.

"Kau bisa. Tubuhmu ingat caranya. Percayalah."

Bobon menerima pedang itu dengan ragu. Dia menggantungnya di pinggang, tepat di bawah bajunya yang longgar.

Perjalanan dimulai. Dua murid Sekte Gunung Berbunga, seorang pria dan seorang wanita, menemani Bobon. Mereka berjalan melewati hutan dan bukit, melewati sungai dan lembah.

Sepanjang perjalanan, Bobon belajar banyak hal. Para murid mengajarinya tentang alam, tentang tanda-tanda bahaya, tentang cara membaca jejak binatang dan manusia. Bobon menyerap semua informasi itu dengan cepat, meskipun dia tidak mengerti mengapa pengetahuannya datang dengan mudah.

"Kau cepat belajar," kata murid pria bernama Jaka. "Aku belum pernah melihat murid secepat ini."

"Aku hanya mengingat apa yang kau katakan," jawab Bobon.

"Tapi kau mengingatnya dengan sempurna. Seperti kau sudah pernah belajar sebelumnya."

Bobon menggaruk kepalanya. Mungkin itu benar. Mungkin tubuhnya mengingat apa yang pikirannya lupa.

Pada hari kedua perjalanan, mereka tiba di sebuah desa kecil di perbatasan wilayah Kerajaan Kencana. Desa itu tenang, dengan rumah-rumah kayu dan ladang yang subur. Para murid mengantar Bobon ke gerbang desa.

"Dari sini kau berjalan sendiri," kata Jaka. "Kerajaan Kencana hanya beberapa jam lagi. Ikuti jalan besar dan jangan belok ke mana pun."

"Terima kasih atas bantuannya."

"Jaga dirimu, Bobon. Kami akan berdoa untukmu."

Bobon mengangguk dan melanjutkan perjalanan. Dia berjalan sendirian di jalan besar yang diapit pepohonan rindang. Angin berhembus lembut, membawa aroma rumput dan bunga.

Dia berjalan selama beberapa jam sampai matahari mulai condong ke barat. Di kejauhan, dia melihat tembok besar berwarna emas. Tembok Kerajaan Kencana.

Tapi sebelum dia bisa mendekat, dia melihat sesuatu yang aneh. Di bawah pohon besar di pinggir jalan, ada seorang anak perempuan kecil yang menangis.

Bobon mendekat. "Kenapa kau menangis?"

Anak perempuan itu mendongak. Matanya merah dan basah. "Aku tersesat, Mas. Aku tidak bisa pulang."

"Kau tinggal di mana?"

"Di desa seberang bukit. Tapi jalannya gelap dan aku takut."

Bobon melihat ke arah bukit yang dimaksud. Matahari sudah mulai terbenam dan bayangan mulai memanjang. Dia ragu sejenak. Nenek Mira pernah mengingatkannya untuk tidak mudah percaya pada orang asing. Tapi anak itu terlihat begitu ketakutan.

"Aku antar kau pulang," kata Bobon.

Anak itu tersenyum cerah. "Benarkah, Mas? Terima kasih!"

Bobon menggendong anak itu. Tubuhnya ringan seperti kapas. Tapi ada sesuatu yang aneh. Anak itu terlalu ringan. Bobon mengerutkan kening, tapi dia tetap berjalan ke arah bukit.

Setelah berjalan beberapa menit, Bobon merasakan sesuatu berubah. Udara menjadi lebih dingin. Aroma rumput berganti aroma logam dan tanah basah. Dia menoleh ke belakang dan menyadari bahwa jalan besar sudah tidak terlihat.

"Ini jalan ke mana?" tanya Bobon.

Anak itu tidak menjawab. Bobon menurunkan anak itu dari gendongannya. Tapi anak itu telah berubah. Tubuhnya mengecil dan berubah menjadi kabut hitam.

"Kau... kau bukan anak kecil!"

Kabut hitam itu berubah bentuk menjadi sosok bertopeng. Sosok itu tertawa dengan suara yang mengerikan. "Kau tertipu, Bobon. Aku adalah Jenderal Assassin Bertopeng. Dan kau sekarang berada di perangkapku."

Bobon melihat sekeliling. Mereka berada di tengah hutan yang gelap. Pohon-pohon berubah bentuk menjadi bayangan-bayangan mengancam. Tanah di bawah kakinya mulai bergerak seperti hidup.

"Kau tidak bisa lolos dari sini," kata sosok itu. "Ini adalah dunianya. Dunia kegelapan."

Bobon tidak takut. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bangkit. Sesuatu yang panas dan kuat.

"Aku tidak mau melawanmu," kata Bobon dengan suara datar. "Tapi jika kau memaksaku, aku akan melakukannya."

Sosok itu tertawa. "Kau hanya bocah gendut. Tidak ada yang bisa kau lakukan."

Sosok itu melompat ke arah Bobon dengan pisau di tangannya. Gerakannya cepat, seperti bayangan. Tapi Bobon melihatnya dengan jelas. Terlalu jelas. Gerakan itu lambat di matanya.

Bobon menghindar dengan satu langkah ke samping. Pisau itu meleset tipis. Sosok itu terkejut.

"Kau bisa melihatku?"

"Aku bisa melihatmu," kata Bobon. "Aku bisa melihat semuanya."

Sosok itu menyerang lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap serangan dihindari Bobon dengan gerakan yang sempurna. Tubuhnya bergerak seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Seperti tarian yang telah dia latih ribuan kali.

"Apa yang terjadi padamu?" teriak sosok itu frustrasi.

"Aku tidak tahu," jawab Bobon. "Tapi tubuhku bergerak sendiri."

Sosok itu mundur. Dia mengeluarkan topeng lain dari sakunya. Topeng harimau. Dia memakainya dan tubuhnya berubah. Menjadi lebih besar, lebih kuat, dan lebih cepat.

"Kau akan mati di sini!"

Bobon merasakan kekuatan baru mengalir di tubuhnya. Segel di punggungnya terasa panas. Dia mengangkat tangannya dan merasakan energi aneh berputar di telapaknya.

Ketika sosok itu menyerang lagi, Bobon tidak menghindar. Dia mengulurkan tangannya dan menangkis serangan itu dengan telapak tangannya. Ledakan kecil terjadi di antara mereka. Sosok itu terlempar ke belakang dan jatuh ke tanah.

"Tidak mungkin!" teriak sosok itu. "Kau masih bocah! Kau tidak seharusnya sekuat ini!"

"Aku bukan bocah," kata Bobon. "Aku adalah Pendekar Dewata."

Kata-kata itu keluar dari mulutnya tanpa dia sadari. Dia tidak tahu mengapa dia mengatakan itu. Tapi terasa benar. Terasa seperti kebenaran yang selama ini terkubur.

Sosok itu bangkit dengan susah payah. "Ini belum selesai, Bobon. Aku akan kembali. Dan ketika aku kembali, aku akan membawa semua jenderal lainnya."

Sosok itu menghilang dalam kabut hitam. Hutan gelap perlahan berubah kembali menjadi hutan biasa. Pohon-pohon kembali normal. Tanah berhenti bergerak.

Bobon berdiri di tengah hutan dengan napas terengah-engah. Tubuhnya gemetar karena kelelahan. Dia jatuh berlutut dan memegangi dadanya.

Di punggungnya, segel ketiga retak lebih lebar. Rasa sakit yang luar biasa menjalari tulang-belulangnya. Dia berteriak kesakitan.

"SAKIT!"

Tapi di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang lain. Kenangan. Kenangan yang mulai muncul.

Dia melihat seorang pria dengan pedang di tangannya. Pria itu tertawa dan mengajarinya jurus. Dia melihat seorang wanita dengan selendang biru tersenyum padanya. Dia melihat seorang anak kecil berlari di padang rumput.

Dan dia melihat Nenek Mira. Nenek Mira yang memberinya tahu dan membelainya dengan lembut.

"Bobon... ingatlah..."

Air mata mengalir di pipinya. Dia merasakan kehilangan yang begitu besar. Bukan hanya kehilangan Nenek Mira, tapi kehilangan semua orang yang pernah dicintainya.

Dia tertidur di tengah hutan. Kelelahan dan kesakitan mengalahkannya.

Saat dia terbangun, matahari sudah terbit. Dia berbaring di bawah pohon besar dengan selimut hangat menutupi tubuhnya. Di sampingnya, ada seorang pengemis tua yang sedang duduk.

"Kau bangun," kata pengemis itu. "Kau tidur semalaman."

"Kak Tua?"

Pengemis itu tersenyum. "Aku mendengar pertempuranmu. Kau hebat, Bobon. Segel ketigamu retak. Kau semakin kuat."

"Aku melihat kenangan," kata Bobon. "Aku melihat orang-orang."

"Bagus. Itu berarti kekuatanmu mulai bangkit. Dan ingatanmu mulai kembali."

"Aku... aku takut, Kak Tua."

"Takut apa?"

"Takut mengingat semuanya. Nenek Mira bilang aku akan menangis."

Pengemis itu menatap Bobon dengan mata lembut. "Kau memang akan menangis, Bobon. Kau akan menangis banyak. Tapi setelah itu, kau akan tersenyum lagi. Seperti dulu."

Bobon diam. Dia memegang kain biru di sakunya dan menggenggamnya erat.

"Aku harus pergi ke Kerajaan Kencana sekarang," kata Bobon.

"Ya. Tapi ingat, di istana, tidak semua orang adalah teman. Ada yang ingin memanfaatkanmu. Ada yang ingin melihatmu gagal."

"Aku akan berhati-hati."

Pengemis itu mengangguk. "Pergilah, Bobon. Takdirmu menunggu."

Bobon bangkit dan berjalan menuju tembok emas di kejauhan. Kakinya masih terasa lemas, tapi tekadnya kuat.

Di balik tembok itu, Kerajaan Kencana menunggunya. Dan di dalam istana, ada orang-orang yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Tapi di balik tembok itu juga, ada bahaya yang mengintai. Intrik politik, persaingan klan, dan ancaman dari Sekte Iblis.

Bobon berjalan dengan langkah mantap. Di dadanya, ada rasa yang baru. Bukan hanya kesedihan dan rasa lapar. Tapi juga harapan.

Harapan untuk menemukan jawaban.

Harapan untuk mengingat siapa dirinya.

Harapan untuk melindungi orang-orang yang dicintainya.

Dia mendekati gerbang Kerajaan Kencana. Para penjaga memandangnya dengan curiga. Tapi ketika mereka melihat kain biru yang dikibarkan Bobon, mereka langsung membuka gerbang.

"Selamat datang di Kerajaan Kencana," kata penjaga itu. "Raja menunggumu."

Bobon melangkah masuk. Dan dunia barunya dimulai.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!