Di tengah puing-puing pernikahan kontraknya yang hancur dengan Revano Alessandro De Luca, CEO dingin dan kejam, Seraphina, wanita karir tangguh nan cantik, mencoba membangun hidupnya kembali.
Pernikahan itu sendiri berawal dari satu malam kelam di mana mereka berdua mabuk berat dan melakukan kesalahan yang tak terlupakan. Bayang-bayang Revano, yang menyimpan cinta terpendam dan penyesalan mendalam, masih menghantuinya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Damien, CEO konglomerat kaya raya sekaligus sahabat karib Revano.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan percikan cinta yang tak terduga, di antara pesona Damien yang hangat dan perhatian. Namun, bayangan cinta Revano yang membara, dan rahasia di balik pernikahan kontrak mereka, membuat Seraphina terjebak dalam pusaran kisah cinta segitiga yang penuh intrik dan duri. Mampukah Seraphina memilih antara kenangan masa lalu yang menyakitkan dan penuh penyesalan, dan janji masa depan yang penuh harap, Cinta manakah yang akan menang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Fox_wdyrskwt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
༺ ༻ BAB 9 ༺ ༻
...✧༺♥༻✧...
Revano memegang kedua tangan Seraphina yang masih gemetar menahan amarah. Ia menatap mata Seraphina dengan penuh penyesalan. Ia tahu bahwa penjelasannya tidak akan mudah diterima Seraphina. Namun, ia harus menjelaskan semuanya.
Revano "Aku tahu, aku salah. Aku tidak punya alasan untuk membenarkan perbuatanku. Aku terbawa nafsu, dan aku memanfaatkan keadaanmu yang lemah. Aku sangat menyesal."
Seraphina masih terisak, namun emosinya mulai mereda. Ia mengingat kejadian semalam. Ia ingat bahwa ia memang dalam keadaan lemah karena pengaruh obat.
Ia ingat bahwa ia meminta bantuan Revano. Namun, itu bukan berarti ia memberikan izin kepada Revano untuk melakukan apa pun yang ia inginkan.
Seraphina sambil menghapus air matanya "Tapi… aku tidak pernah memintamu untuk… untuk melakukan itu padaku!…"
Revano "Aku tahu… Dan aku menyesalinya. Aku seharusnya tidak memanfaatkan keadaanmu. Aku seharusnya menghormati keputusanmu. Aku minta maaf."
Revano memeluk Seraphina dengan lembut. Seraphina awalnya menolak, namun perlahan ia membiarkan dirinya dipeluk Revano.
Ia masih marah, masih sakit hati, namun ia juga merasakan penyesalan dari Revano. Ia tahu bahwa Revano memang menyesal. Ia tahu bahwa Revano memang tulus meminta maaf.
Air mata Seraphina terus mengalir deras. Pertanyaan-pertanyaan masih memenuhi pikirannya, campur aduk dengan rasa sakit hati dan penyesalan.
Seraphina "Mengapa… mengapa kau…" suaranya terus-putus oleh isakan.
Suaranya semakin lemah, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa kepalanya pusing, pandangannya mulai kabur. Semua kejadian yang dialaminya terlalu berat untuk ditanggungnya.
Emosi yang meluap-luap, campur aduk dengan rasa sakit dan shock, akhirnya membuat Seraphina pingsan di pelukan Revano.
Revano dengan panik menangkap Seraphina yang akan terjatuh, Ia segera menggendong Seraphina dengan hati-hati. Wajahnya dipenuhi dengan kekhawatiran dan penyesalan. Ia tidak menyangka bahwa Seraphina akan pingsan.
Ia merasa sangat bersalah. Ia segera berusaha membangunkan Seraphina, "Sera... bangun lah,"
"Tenanglah semua akan baik baik saja." Ia mengucapkan kata-kata lembut dan menenangkan. Ia berharap Seraphina segera sadar. Ia tidak ingin kehilangan Seraphina.
Revano dengan hati-hati menggendong Seraphina yang masih pingsan. Wajahnya pucat, namun ia berusaha untuk tetap tenang.
Revano masih merasakan kepanik. Ia masih menggendong Seraphina dengan hati-hati, tubuh Seraphina semakin lemas di pelukannya.
Wajahnya dipenuhi dengan kekhawatiran dan penyesalan yang dalam. Ia tidak menyangka bahwa pengakuannya akan berdampak seburuk ini.
Air mata mengalir di pipinya, mencampur dengan air mata Seraphina yang masih mengalir di pipi Seraphina. "Sshhh… Seraphina… bangunlah…" gumamnya dengan suara gemetar.
Ia merasa sangat bersalah. Kesalahan di masa lalu yang telah ia lakukan kini menghantuinya. Ia segera berusaha membangunkan Seraphina, mengucapkan kata-kata lembut dan menenangkan.
"Seraphina… maafkan aku… aku tidak bermaksud… aku… aku sangat menyesal…" bisiknya sambil mengusap lembut rambut Seraphina.
Ia berharap Seraphina segera sadar. Ia tidak ingin kehilangan Seraphina. Pikiran itu saja sudah membuat dada Revano sesak.
Revano dengan hati-hati mengatur posisi Seraphina di pelukannya. Ia menatap wajah Seraphina yang pucat. Napasnya terlihat dangkal.
Meskipun tubuhnya gemetar karena ketakutan dan rasa bersalah, ia berusaha untuk tetap tenang. Ia harus kuat untuk Seraphina.
"Tolong… bangunlah…" lirihnya lagi, suaranya terdengar putus-putus.
Ia menggenggam tangan Seraphina erat, mencari sedikit rasa tenang di tengah kekacauan ini. Ia harus membuat segalanya baik-baik saja.
Ia tidak bisa membiarkan Seraphina sendirian dalam keadaan seperti ini. Ia harus membawanya ke tempat yang aman.
Ia memutuskan untuk membawa Seraphina ke klinik kesehatan terdekat. Ia bergegas keluar dari ruangannya, menghindari tatapan karyawan yang penasaran. Ia tidak ingin ada yang tahu tentang kejadian ini. Ia ingin menjaga privasi Seraphina.
...✧༺♥༻✧...
Di klinik kecil yang nyaman itu, perawat dengan sigap memeriksa Seraphina. Suasana tenang bercampur dengan aroma obat-obatan yang familiar. Setelah beberapa saat menunggu yang terasa sangat lama bagi Revano, Seraphina mulai sadar.
Matanya yang masih sayu perlahan terbuka, melihat Revano yang duduk di sampingnya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran dan rasa bersalah yang tampak jelas.
Seraphina menatap Revano dengan tatapan yang rumit. Ada rasa marah yang belum padam, rasa sakit hati yang mendalam, namun juga ada sedikit rasa iba yang menggerogoti hatinya.
Bayangan masa lalu kembali menyeruak di benaknya, mencampur aduk dengan rasa syok yang belum hilang. Ia mencoba untuk berbicara, namun suaranya masih lemah.
"Kau…" bisiknya dengan suara gemetar.
Revano menjangkau tangan Seraphina, mencengkeramnya dengan lembut. "Seraphina… aku…" ia mencoba untuk berbicara, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Rasa bersalah yang mendalam mencengkeram hatinya.
Namun Tiba-tiba Seorang dokter dengan ramah masuk ke ruangan. Setelah memeriksa Seraphina sekilas, dokter tersenyum sambil menjelaskan kondisi Seraphina.
"Untungnya tidak ada yang serius. Hanya kelelahan dan syok. "
"Nona Seraphina perlu istirahat yang cukup, dan jangan terlalu lelah, khususnya… untuk kesehatan bayinya," dokter menatap Revano dengan senyum yang penuh makna.
"Bayi?…" Seraphina mengulang kata itu, suaranya terdengar seperti bisikan, namun kejutan terpancar jelas di matanya.
Ia menatap dokter dengan tatapan yang tak percaya. Pikirannya berputar cepat, mencoba untuk memproses informasi yang baru saja ia terima. Semua terasa seperti mimpi buruk.
Dokter mengangguk dengan wajah yang penuh simpati. "Iya, Nona. Nona sedang mengandung." Kata-kata dokter itu seperti petir di siang bolong, menghantam Seraphina dengan keras. Ia merasa dunianya berputar, semua terasa tidak nyata.
Revano terkejut. Ia menatap Seraphina dengan wajah yang bercampur antara kejutan dan ketidakpercayaan.
Namun, ia segera mencoba untuk menunjukkan sikap yang santai, mencoba untuk menutupi rasa panik yang ia rasakan. "Te…terimakasih, Dokter," ujarnya dengan suara gemetar.
"Iya... sama-sama, saya permisi dulu tuan." Setelah dokter keluar dari ruangan, suasana menjadi sunyi dan tegangan.
Hanya suara napas Seraphina dan Revano yang terdengar. Seraphina menatap Revano dengan tatapan yang penuh kemarahan.
Dengan cepat, ia memukul dada Revano dengan kuat. "Ini salahmu! Ini karnamu!" teriaknya sambil menangis sejadi-jadinya.
Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya. Rasa marah, sakit hati, dan penyesalan bercampur baur dalam hatinya.
Ia merasa terkhianati, dipermainkan, dan dirugikan. Kehidupan yang seharusnya indah kini terasa seperti neraka.
Revano menatap Seraphina dengan penuh penyesalan. Bukan sekadar penyesalan biasa, tapi penyesalan yang amat dalam, yang terukir jelas di setiap garis wajahnya. Ia tahu bahwa ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.
Ini bukan hanya tentang sebuah kesalahan, tapi tentang sebuah kehidupan baru yang akan hadir ke dunia karena kesalahannya. Ia harus memperbaiki kesalahannya.
Ia harus mendapatkan kembali kepercayaan Seraphina, meskipun ia tahu itu akan sulit. Permintaan maaf tak akan cukup, ia mengerti itu. Ia harus menunjukkan kesungguhannya.
...✧༺♥༻✧...
Setelah beberapa saat, Setelah diperbolehkan pulang dari klinik, Revano mengantar Seraphina ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, suasana hening menyelimuti mereka.
Bukan hening yang nyaman, melainkan hening yang berat, dipenuhi ketegangan dan emosi yang tak terucapkan. Hanya ada detak jantung mereka masing-masing yang bergema di dalam mobil.
Sesampainya di apartemen Seraphina, Revano menuntun Seraphina masuk dengan hati-hati. Ia tahu, ia harus berbicara. Ia harus menjelaskan. Ia harus meminta maaf lagi, lebih tulus dari sebelumnya.
Di dalam apartemen yang terasa sunyi dan hampa, Revano kembali meminta maaf. "Seraphina," suaranya terdengar berat, dipenuhi penyesalan, "aku benar-benar menyesal."
"Aku tahu permintaan maaf tak cukup untuk mengobati luka yang telah ku buat, tapi percayalah, aku sungguh menyesal."
"Aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku akan selalu ada untukmu dan… untuk anak kita." Ia menatap Seraphina dalam-dalam, mencoba untuk melihat sedikit sekadar harapan di mata wanita itu.
Ia menunggu. Menunggu reaksi Seraphina, menunggu hukuman yang akan dijatuhkan padanya. Ia siap menerimanya.
Seraphina menatap Revano dalam-dalam. Air mata masih membasahi pipinya, mengalir lambat membasahi pipinya, namun kini air matanya tidak lagi mengalir deras seperti hujan badai.
Amarahnya mulai mereda, digantikan oleh rasa lelah dan kebingungan yang mendalam. Ia melihat kesungguhan dalam mata Revano, kesungguhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Tuan..." Kesungguhan yang mencoba untuk menembus tembok es yang telah ia bangun di sekitar hatinya.
"Aku… aku masih butuh waktu untuk memproses semuanya," ujar Seraphina dengan suara yang masih gemetar, namun kini terdengar lebih tenang.
Ia mencoba untuk mengatasi rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam di hatinya. Ia butuh waktu untuk mencari jalan keluar dari labirin emosi yang ia alami.
Revano mengangguk perlahan, memahami perkataan Seraphina. Ia tidak mencoba untuk memaksa Seraphina untuk memaafkannya segera.
Ia tahu bahwa Seraphina butuh waktu untuk memulihkan hatinya yang terluka. "Aku mengerti," ujar Revano dengan suara yang lembut.
"Aku akan memberimu waktu. Sebanyak waktu yang kau butuhkan. Tapi, aku mohon, berikan aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku."
"Aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi. Untukmu, dan untuk anak kita." Ia menjangkau tangan Seraphina, menegurkan tangan itu dengan lembut, menunjukkan kesungguhan dan keseriusannya.
Ia menunggu jawaban Seraphina, menunggu tanda harapan di tengah badai emosi yang ia ciptakan.
...✧༺♥༻✧...
...Bersambung.......