Tak disangka-sangka nasib buruk menimpa Putri Isnari, gadis belia yang baru berumur 21 tahun, ia harus menikah dengan pria arogan dan sombong. Pernikahan tersebut baginya adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Ia harus menikahi seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya!
Pernikahan itu sama sekali tak ada landasan cinta dan juga kasih sayang.
Mampukah ia menjalani rumah tangga yang teramat rumit itu, mampukah dia membuat pondasi rumah dengan cinta dan kasih sayang?
Yuk bareng-bareng baca kisahnya:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktavia Ellisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir dan Kehebohan Keluarga
~Kamar
"Aku harus hubungi Rizki sekarang, aku takut dia cemas sama keadaanku," Putri mengambil hpnya didalam tas kecilnya, ia hendak menghubungi Adik semata wayang nya.
"Yahh... habis baterai, duh gimana ini, apa aku pinjem aja ya sama Rilli atau Keila," pikir Putri.
Putri berlalu pergi dari kamar, dan menemui calon Adik iparnya yang berkumpul diruang keluarga.
"Ehh Putri... sini Nak duduk," ucap Ayu.
"Iya Ma," ucap Putri.
"Ehm... Rilli apa aku boleh pinjem charger, hpku habis baterai," jelas Putri to the point.
"Boleh dong Kak, bentar ya Ili ambil dulu," balas Rilli berlalu pergi kekamar nya.
"Kak Putri," panggil Keila.
"iya."
"Nanti beneran ya, ikut aku sama Kak Ili nonton bioskop," ucap Keila.
"Ehm iya," ucap Putri tersenyum tipis.
"Ini Kak," ucap Rilli yang baru saja sampai diruang keluarga dengan membawakan apa yang diminta calon Kakak iparnya.
"Terimakasih ya Rilli, aku pinjem dulu ya charger nya," ucap Putri.
"Iya Kak, Kakak gak usah sungkan gitu sama aku, kan aku calon adik ipar Kakak," ucap Rilli manja dengan menggelayuti lengan Putri.
Putri hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Rilli.
"Ili gak usah manja gitu deh, lebay tau nggak," ketus Ridho.
"Apaan sih Kak, bilang aja Kakak iri kan," ucap Rilli meledek.
"Sembarangan kalo ngomong," ucap Ridho datar.
"Ha ha ha... Kak Ridho tenang aja, aku gak bakalan rebut kak Putri kok," ledek Rilli.
"Kauu.." ucap Ridho hendak menghampiri Rilli.
"Ridhoo," lerai Wira.
"Wleeee.." ucap Rilli dengan menjulurkan lidahnya.
"Awas kau ya," ketus Ridho.
"Ehm semuanya Putri permisi mau kekamar dulu ya," ucap Putri.
"Yah kok kekamar lagi sih Kak, disini aja aku masih pengen ngobrol sama Kakak," cegah Keila.
"Kakak mau hubungi Adik Kakak dulu Keila, ada yang mau Kakak bicara'in sama Adik Kakak," jelas Putri.
"Ohh begitu ya Kak," ucap Keila lesu.
"Ngobrolnya masih bisa dilanjutin nanti Keila, kan Kak Putri tinggal disini lama, jadi Keila punya kesempatan banyak buat ngobrol sama Kak Putri," tutur Ayu.
"Ehmm iya juga sih," Keila menyengir kuda.
Putri tersenyum lalu berlalu pergi kekamarnya.
Drett... drett... drett... hp Rizki bergetar.
Rizki sangat senang melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
Rizki sangat antusias mengangkat telfon dari sang Kakak.
"Hallo Kak, Kakak apa kabar, Kakak baik-baik aja kan, Kakak gak kenapa-kenapa kan?" cerocos Rizki.
"Ucap salam dulu, baru bertanya," tegur Putri.
"He he he maaf Kak,Rizki lupa karena Rizki sangat khawatir sama Kakak," ucap Rizki.
"Iya gak papa Ki, oh iya kamu udah makan belum?" tanya Putri.
"Ehm... belum Kak," jawab Rizki ragu.
"Kenapa belum makan, ini udah mau jam 9 loh Ki, nanti kalau sakit gimana," ucap Putri.
"Rizki gak nafsu makan Kak, Iki terus kepikiran sama Kakak, Rizki khawatir sama Kakak," ucap Rizki sendu.
Putri tersenyum manis, melihat perhatian dan kasih sayang yang sangat besar dari Adiknya.
"Kamu boleh khawatir sama Kakak Ki, kamu boleh cemas sama Kakak, tapi kamu gak boleh ngesampingin kesehatan kamu, kesehatan kamu itu no 1 Ki," jelas Putri.
"Nanti kalau kamu sakit, siapa yang akan bela Kakak, siapa yang akan ngelindungi Kakak, cuma kamu orang yang satu-satunya sayang dan peduli sama Kakak Ki," ucap Putri sendu.
"Maafin Iki Kak, Iki gak bisa jagain Kakak, Iki gak bisa lindungi Kakak," ucap Rizki.
"Kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah Ki, kamu itu udah belain Kakak, kamu juga udah lindungi Kakak selama ini, makasih ya Ki," ucap Putri.
"Kakak gak perlu berterima kasih sama Iki, itu udah kewajiban Iki Kak," jawab Rizki.
"Sekarang Iki makan dulu, Iki gak usah khawatirin Kakak, Kakak baik-baik aja kok disini," tutur Putri lembut.
"Gimana Iki gak khawatir Kak, Iki aja sekarang gak tau Kakak ada dimana, Iki juga gak tau gimana keadaan Kakak sekarang," bantah Rizki.
"Kakak udah ditempat yang aman Ki, pokoknya kamu gak usah khawatir lagi sama Kakak," jelas Putri.
"Ditempat yang aman dimana Kak, terus pria brengsek itu gak ngapa-ngapain Kakak kan?" tanya Rizki penuh selidik.
"Kakak gak diapa-apain kok sama dia, kapan-kapan Kakak cerita ya, ceritanya panjang Ki, susah kalo di ceritain lewat telfon, intinya sekarang Kakak ditempat yang sangat nyaman Ki, Kakak sekarang ada dikediaman Tuan Wira Aditama," jelas Putri meyakinkan adiknya.
"Apaa... kakak ada dikediaman tuan Wira Aditama, orang terkaya di Asia itu Kak?" tanya Rizki terkejut.
"Iya Ki, kamu benar," jawab Putri.
"Kok bisa kak?" tanya Rizki lagi.
"Ceritanya panjang Ki, intinya anak dari Tuan Wira Aditama itu yang nyelamatin Kakak dari jeratan teman Ayah itu, apa Ayah gak cerita sama kamu?" tanya Putri.
"Iki sama sekali gak keluar kamar kak dari tadi malam, jadi Iki gak tau apa-apa."
"Ohh begitu ya, ya sudah sekarang kamu makan dulu, ntar keburu sakit perut, Kakak tutup dulu ya telfon nya," ucap Putri.
"Iya Kak," ucap Rizki.
Tut... tut... tut... panggilan telfon berakhir.
Rizki langsung keluar kamar untuk menemui keluarganya, ia langsung menuju ruang keluarga.
"Ibu... Ayah dimana?" tanya Rizki.
"Ayah masih ada dikamar Ki, kenapa?" tanya Iis.
"Ibu udah tau kan tentang kak Putri yang sekarang ada dikediaman Tuan Wira Aditama," jelas Rizki to the point.
"Hahh... apa kamu bilang, Putri ada dikediaman Tuan Wira Aditama, orang terkaya di Asia itu," ucap Iis terkejut.
"Iya Bu," jawab Rizki.
"Kamu jangan mengada-ada Ki, mana mungkin Putri bisa ada disana," ketus Lara.
"Kalau Kakak gak percaya, kita tanya aja nanti sama Ayah," jawab Rizki.
"Orang tadi yang bilang Kak Putri sendiri, Anaknya Tuan Wira Aditama yang udah nyelamatin Kak Putri dari pria brengsek itu," lanjut Rizki.
Iis, dan Lara terkejut mendengar semua ucapan Rizki.
"Kenapa Ayah jam segini masih ada dikamar
Bu?" tanya Rizki.
"Ibu juga gak tau kenapa Ayah kamu jam segini masih tidur, mungkin kemarin Ayah kamu pulang larut malam," jelas Iis.
"Ohh," ucap Rizki membulatkan mulutnya.
*
"Nah itu Ayah," ucap Rizki saat melihat ayahnya menuruni anak tangga
"Ayah.. apa benar sekarang Putri ada dikediaman Tuan Wira Aditama?" tanya Iis setelah Nasar mendudukkan tubuhnya dikursi.
"Iya," jawab Nasar singkat.
"Kok bisa Ayah?" tanya Lara ikut nimbrung.
"Jadi..." Nasar menceritakan semuanya kepada keluarganya.
"Apa... Tuan Ridho Aditama bilang Putri adalah calon istrinya, gak, ini gak bener, ini gak bener!" teriak Lara (ya karena dari dulu Lara sangat mengidam-idamkan Ridho untuk menjadi suaminya).
"Terus Tuan Doni itu bagaimana, emang dia gak marah sama keputusan Ayah?" tanya Iis.
"Ya dia minta dibalikin sih uang nya, Ayah gak punya pilihan lain selain mengembalikan uang milik Doni, lagian kita juga bisa lebih banyak mendapatkan uang, kita tau sendiri kan seberapa kaya keluarga Wira Aditama," ucap Nasar tersenyum licik.
"*Disaat seperti ini juga Ayah masih memikirkan uang, ya Tuhan Ayah macam apa ini, hanya uang saja yang dia prioritas kan," batin Rizki geram.
"Kasihan Kak Putri, pasti nanti Ibu, dan Ayah akan manfaatin keadaan ini, manfaatin kedudukan Kak Putri sebagai istri dari Anak Tuan Wira Aditama, orang terkaya se Asia," lanjut Rizki membatin*.
"Tidak seharusnya Ayah begitu, belum tentu Tuan Ridho Aditama mengizinkan Kak Putri untuk memberikan uang kepada keluarga kita," ucap Rizki penuh penekanan.
"Ayah tidak peduli, Ayah akan berusaha membujuk Putri agar ia mau membantu ekonomi keluarga kita," ucap Nasar menyeringai.
"Ayahmu benar Ki, kita tidak perlu repot-repot kerja keras, cukup membujuk Putri, dan uang akan mengalir dengan sendirinya, bahkan kita bisa membeli apapun yang kita mau, ha ha ha...." ucap Iis tertawa puas.
"Ibu, dan Ayah memang kejam, tidak pernah memikirkan perasaan Kak Putri, kalian sangat egois, dan mau menangnya sendiri," ucap Rizki dengan meninggikan suaranya, ia berlalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan keluarga nya yang gila harta.
"Kak Putri, kenapa nasib Kakak selalu seperti ini, kenapa Kakak selalu ditindas, selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang, Iki pengen ngeliat Kakak bahagia, semoga suatu saat nanti Kakak mendapatkan kebahagiaan yang memang pantas Kakak dapatkan," batin Rizki meratapi nasib kakaknya.
Bersambung
(Bagaimana kah selanjutnya nasib Putri Isnari, pantengin terus part selanjutnya)
jangan lupa Like, dan Vote ya, biar Author tambah semangat😉