Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18 Bocah Songong
"Sekarang saya harus cari kemana coba?!" Suara bariton Abimanyu membuat dua asistennya yang berdiri menunduk itu semakin pucat pasi.
Pria jangkung berwajah tegas itu memijat pelipisnya dengan kasar. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan amarah yang nyaris meledak.
"Bisa-bisanya dia pergi membawa kabur semua desain-desain utama kita, hah?! Penjagaan kalian di kantor itu buat apa?!" bentak Abimanyu kesal.
"Sepertinya dia sudah merencanakan ini sejak lama dan kabur ke luar kota, Pak," jawab salah satu karyawan Abimanyu dengan suara bergetar, tak berani menatap mata bosnya yang sedingin es.
Abimanyu mendengus kasar. "Ya kalau begitu cari sampai ketemu! Seret dia ke hadapan saya! Tuntut dia karena desain itu bernilai miliaran! Perusahaan kita bisa kacau balau kalau desain itu jatuh ke tangan kompetitor!" titahnya mutlak.
"Baik, Pak Abimanyu! Kami akan segera melacaknya!"
Kedua karyawan itu langsung membungkuk hormat dan buru-buru berlari pergi, seolah baru saja lolos dari kandang singa yang kelaparan.
Abimanyu menghela napas panjang, berusaha menstabilkan emosinya. Ia merogoh saku celananya, berniat mengambil kunci mobil.
Pria itu berbalik menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Namun, saat ia membuka pintu penumpang di bagian belakang, matanya mendadak melebar.
Jok kulit mewah itu kosong melompong. Hanya ada sebuah iPad yang menyala dan botol minum berkarakter dinosaurus yang terguling di atas karpet.
"Astaga!" Abimanyu mengusap wajahnya dengan frustrasi, tingkat stresnya seketika melonjak dua kali lipat. "Kemana lagi perginya si Bian?! Sama sekali tidak bisa anteng ditinggal sebentar di mobil!"
Tanpa membuang waktu, Abimanyu membanting pintu mobilnya dan melangkah lebar-lebar menyusuri deretan ruko dan kafe, mengedarkan pandangan mencari sosok putra semata wayangnya yang sangat kelewat aktif itu.
Sementara itu, di dalam kafe...
Kruyuk!
Suara nyaring itu tiba-tiba memecah keheningan di antara Kania dan bocah kecil yang duduk di hadapannya.
Abian, bocah berusia enam tahun itu, seketika membeku. Ia menunduk, menyentuh perutnya dengan raut wajah sedikit gengsi.
Kania yang sedari tadi menahan gemas, akhirnya tersenyum kecil. "Kamu lapar?" tanyanya lembut.
Bukannya tersipu malu, Abian malah mendelik tajam. "Udah tahu bunyi, pake nanya lagi," ketusnya dengan wajah garang.
Tanpa basa-basi, bocah itu mengangkat tangan mungilnya tinggi-tinggi, menjentikkan jarinya dengan gaya arogan yang sangat terlatih.
"Mbak Pelayan! Sini dong! Bian mau pesan makan!" serunya lantang, membuat beberapa pengunjung menoleh menahan tawa.
Seorang pelayan wanita segera datang membawa buku menu sambil tersenyum gemas.
Abian merebut buku menu itu, membolak-baliknya layaknya seorang kritikus makanan, lalu menyodorkannya ke arah Kania.
"Nih, Tante sekalian aja mau makan apa. Pesan yang banyak, mumpung Bian lagi baik hati. Nanti Bian yang bayar," ucap Abian dengan dagu terangkat, benar-benar mirip sugar daddy versi saset.
Kania menaikkan sebelah alisnya. Ia melongo menatap bocah kecil ini. "Sombong sekali bocah ini, Tuhan!" batin Kania tak habis pikir.
Anak siapa sebenarnya dia?
"Ayo cepet, Tante! Bian lapar nih, jangan lama-lama mikirnya!" desaknya tak sabaran sambil mengetuk-ngetuk meja.
Mendengar desakan itu, ditambah perutnya sendiri yang memang belum diisi apa pun sejak pagi karena cekcok dengan mertuanya, Kania pun akhirnya mengalah.
Dengan terpaksa sekaligus sedikit ragu, ia menunjuk menu nasi goreng seafood dan es teh manis. Sementara Abian memesan spaghetti bolognese, kentang goreng, dan milkshake cokelat ukuran besar.
Setelah pelayan pergi, Kania mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Abian dengan raut khawatir.
"Em., Bian yakin yang bayar? Soalnya, Tante jujur aja beneran nggak ada uang sama sekali hari ini," ucap Kania. Ia tidak mau berakhir mencuci piring di dapur kafe ini karena dijebak oleh bocah enam tahun.
Mendengar itu, mata bulat Abian melirik ke arah meja, tepatnya pada tumpukan kertas dan beberapa lembar sketsa desain milik Kania yang berserakan di dekat ponselnya.
"Kalau Tante nggak punya uang, ya jual aja gambar-gambar itu. Siapa tahu ada yang mau beli buat bungkus gorengan," ucap Abian enteng, menunjuk portofolio desain Kania dengan dagunya.
Kania tersenyum getir. Matanya menatap nanar karya-karyanya yang dulu selalu dipuji banyak orang.
"Nggak akan ada yang mau beli, Bian. Desain Tante sudah ketinggalan zaman," ucapnya sedih.
Melihat wajah murung Kania, entah mengapa ada sedikit rasa tidak tega yang menyelinap di hati kecil Abian.
Bocah itu mendengus pelan. "Tante tenang aja, nanti Bian—"
"Ternyata kamu di sini?!" suara bariton yang berat dan sedingin es tiba-tiba memotong ucapan Abian.
Sebelum Kania sempat bereaksi, sosok pria jangkung dengan aura mengintimidasi sudah berdiri di samping meja mereka. Tanpa ampun, tangan besar pria itu terulur dan langsung menjewer pelan telinga Abian.
"Papa cari kamu ke mana-mana sampai mau panggil polisi! Dasar anak nakal, disuruh diam di mobil malah keluyuran ke kafe!" omel Abimanyu dengan wajah tegas.
"Aduh, aduh! Sakit, Papa! Lepasin!" ringis Abian sambil memegangi tangan ayahnya, meronta dengan wajah tertekuk. "Habisnya Bian bosan nunggu Papa kelamaan di mobil marahin orang! Bian kan laper!"
Kania yang terkejut melihat pemandangan itu langsung berdiri refleks. Insting keibuannya meronta melihat seorang anak kecil dijewer, meskipun anak itu sangat menyebalkan.
"Maaf, Pak. Sepertinya anak Bapak kesakitan. Tolong jangan kasar di tempat umum," tegur Kania dengan sopan.
Gerakan tangan Abimanyu seketika terhenti. Ia melepaskan telinga putranya, lalu memutar kepalanya perlahan menatap wanita yang berani menceramahinya itu.
Tatapan mata Abimanyu begitu tajam, dingin, dan menusuk, seolah menelanjangi Kania dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu siapa?" tanya Abimanyu sembari menatap Kania layaknya melihat seorang penculik anak.
Sebelum Kania sempat membuka mulut untuk membela diri, Abian sudah melompat turun dari kursinya dan berdiri berkacak pinggang di depan ayahnya.
"Papa jangan galak-galak! Tante ini yang tadi udah nolongin Bian pas Bian jatuh di depan!" seru Abian. "Sekarang Bian udah pesen makan banyak buat traktir dia. Papa bayar gih sana!"
Kania sontak menganga lebar, matanya nyaris melompat keluar. Ia menatap ayah dan anak itu bergantian. Bocah kecil ini baru saja menyuruh pria dingin dan menakutkan ini untuk membayar tagihannya, dengan nada seolah pria itu adalah bawahannya?
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor