Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Digital Yang Berdarah
Aroma antiseptik yang menyengat memenuhi ruang rawat VIP Rumah Sakit Medika. Vano sudah tertidur lelap di atas brankar setelah diberikan obat penenang oleh dokter karena trauma pasca-kecelakaan.
Di sampingnya, Anita duduk dengan plester kecil di pelipis kanan, menatap kosong ke arah jendela yang basah oleh sisa hujan.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka kasar. Randy berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah, dasinya sudah melar tak beraturan.
"Anita! Vano! Ya ampun, kalian nggak apa-apa?" pekik Randy histeris, langsung mencoba memeluk Anita.
Namun, Anita dengan dingin menepis tangan suaminya, membuat Randy mematung di tempat.
"Kita nggak apa-apa. Fisik kita selamat, tapi mental anak kamu terguncang, Mas Randy."
"Aku... aku minta maaf, tadi pas dapet kabar dari kantor, aku langsung jalan ke sini. Sopir truk sialan itu harus dituntut! Dia harus membusuk di penjara karena teledor!" umpat Randy, mencoba meluapkan kemarahan untuk menutupi rasa gugupnya.
Anita menatap lurus ke dalam manik mata Randy, sebuah tatapan yang membuat punggung pria itu mendadak dingin.
"Sopir truk itu cuma korban, Mas. Ada sepeda motor hitam tanpa plat nomor yang sengaja memotong jalan truk itu untuk memicu tabrakan beruntun dengan mobilku." Anita menjeda kalimatnya, nadanya mendatar namun menusuk.
"Ini bukan kecelakaan biasa. Ada orang yang sengaja mau membunuhku dan Vano."
Mendengar kata 'membunuh', jantung Randy serasa berhenti berdetak. Pikirannya langsung melesat ke kejadian kemarin siang di taman sepi.
“Rasa sakit ini nggak akan pernah gue lupain."
Ucapan penuh dendam dari Valeria bergema di kepala Randy.
“Nggak mungkin... Valeria nggak mungkin segila itu, kan?” batin Randy ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dia menyadari jika Valeria benar-benar dalangnya, maka karir, nama baik, dan hidupnya sendiri berada di ambang kehancuran total.
Sementara itu, di dalam kamar sewanya yang berantakan, Valeria sedang mondar-mendir bagai ayam kehilangan induk. Layar ponselnya menampilkan berita daring lokal:
“Kecelakaan Beruntun di Jalur Komuter, Ibu dan Anak Selamat dari Maut.”
"Sialan! Sialan! Kenapa perempuan songong itu beruntung banget?!" jerit Valeria frustrasi. Dia menjambak rambutnya sendiri, napasnya memburu karena kepanikan yang luar biasa.
Dia segera membuka laptopnya, masuk kembali ke jaringan dark web untuk menghubungi Alvin. Dia ingin menuntut penjelasan kenapa pembunuh bayaran nomor satu itu bisa gagal.
Namun, saat dia membuka ruang obrolan, akun bernama Alvin sudah dihapus dan tidak bisa ditemukan lagi.
Valeria lemas. Seluruh perhiasan emasnya lunas terjual, tabungannya terkuras habis, dan targetnya masih hidup. Ketakutan baru mulai merayap di hatinya. Bagaimana kalau pembunuh itu tertangkap dan membocorkan namanya? Bagaimana kalau ada jejak yang tertinggal?
Keesokan harinya, setelah memastikan Vano aman bersama ibundanya di rumah, Bu Kiara, ibu kandung Anita, Anita tidak pergi ke kantor polisi biasa. Dia tahu, laporan kecelakaan lalu lintas hanya akan berakhir di meja penyelidikan yang lambat. Anita membutuhkan bukti absolut yang tidak bisa dibantah oleh hukum.
Dia mengundang Niko, sepupu jauhnya yang bekerja sebagai ahli forensik digital dan peretas jaringan profesional, ke sebuah ruang kerja pribadi di rumahnya.
Keesokan harinya
"Gue udah salin semua data dari dashcam mobil lo sebelum dibawa ke bengkel asuransi, Mbak," ujar Niko sembari mengetikkan baris-baris kode rumit di laptop khususnya.
"Gue berhasil dapet tangkapan layar jernih dari pengendara motor hitam itu. Tapi sayangnya, wajahnya ketutup helm full-face dan motornya nggak ada plat."
"Gue nggak butuh wajah pengendaranya, Nik. Orang profesional kayak dia pasti pakai jalur dark web buat disewa," sahut Anita dingin sembari melipat tangan di dada.
"Gue mau lo lacak aktivitas digital di sekitar wilayah perumahan atau ruko sewa komersil dekat sini. Cari tahu apa ada yang mengakses forum ilegal atau melakukan transaksi kripto dalam jumlah besar dalam waktu dua puluh empat jam terakhir."
"Siap, beri gue waktu sepuluh menit." Jemari Niko menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Layar monitornya berganti-ganti menampilkan grafik jaringan dan enkripsi IP address.
Tak lama kemudian, sebuah grafik merah menyala berhenti di satu titik koordinat peta digital.
"Dapet, Mbak!" seru Niko dengan mata berbinar.
"Kemarin malam, ada satu alamat IP statis yang mengakses salah satu situs pasar gelap internasional paling berbahaya. Dan tebak apa? IP itu melakukan transaksi pembelian Bitcoin senilai ratusan juta rupiah yang ditransfer ke dompet digital terenkripsi."
"Bisa lacak atas nama siapa dompet asal dan lokasinya?" tanya Anita, matanya menyipit tajam.
"Aliran dananya berasal dari akun bursa kripto lokal yang didaftarkan menggunakan nomor KTP asli... Valeria Putri." Niko memutar laptopnya ke arah Anita, menampilkan data registrasi dan alamat fisik pengguna.
"Dan koordinat lokasinya pas diakses? Rumah sewa berjarak dua kilometer dari kantor Randy."
Anita menatap layar laptop itu dengan senyuman yang teramat dingin, senyuman yang menyimpan badai mematikan. Bukti digital itu terpampang nyata.
Valeria tidak hanya menjadi pelakor yang merusak rumah tangganya, wanita itu kini resmi melangkah ke ranah kriminal sebagai otak dari percobaan pembunuhan berencana.
"Dasar perempuan bodoh. Dia pikir dunia digital nggak akan meninggalkan jejak," desis Anita pelan.
"Mbak, kita bawa bukti ini ke polisi sekarang?" tanya Niko.
"Belum saatnya, Nik. Simpan semua bukti ini di flashdisk terenkripsi," jawab Anita sembari berdiri tegak, memancarkan aura dominasi yang mutlak.
"Gue mau lihat seberapa jauh Randy akan melindungi selingkuhannya yang psikopat ini."
Sementara itu, ketakutan yang membakar dada Randy akhirnya mencapai puncaknya. Tanpa memedulikan waktu yang sudah larut, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan mendobrak pintu rumah sewa Valeria hingga terbuka kasar.
Brakkk!
Valeria yang sedang melamun di ruang tamu tersentak kaget. Belum sempat dia bersuara, Randy sudah melangkah lebar, mencengkeram kedua bahu Valeria dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Mas Randy! Kamu apa-apaan sih?!" pekik Valeria mencoba melepaskan diri.
"Lo yang apa-apaan, Valeria!" bentak Randy dengan mata merah menyala dan urat-urat leher yang menegang.
Suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
"Gila lo, ya?! Sopir motor hitam yang motong jalan truk sore itu... itu orang suruhan lo, kan?! Jawab jujur!"
Wajah Valeria seketika pucat pasi.
"Mas, aku nggak tahu apa yang kamu omongin—"
"Jangan bohong!" potong Randy, mengguncang tubuh Valeria dengan beringas.
"Kemarin lo sumpah mau bikin hidup Anita menderita, dan sorenya dia hampir mati bareng anak gue! Kalau lo mau bunuh Anita, bunuh aja Anita sendiri! Jangan pernah lo seret anak gue, Vano! Lo tahu nggak, karena kegilaan lo ini, polisi bisa ngendus hubungan kita dan karir gue bisa hancur total!"
Valeria menangis histeris, menyadari bahwa Randy melabraknya bukan karena mencemaskan keselamatannya, melainkan hanya karena takut kehilangan harta dan posisi sosialnya. Hubungan mereka kini benar-benar telah berubah menjadi racun yang saling menghancurkan.
Bersambung