Jeevan Aleser, sosok karismatik yang terkenal baik hati dan dermawan sebenarnya adalah seorang pencuri berlian dan barang antik. Dalam dunia kejahatan, Jeevan dikenal dengan sebutan Mr. A.
Mr. A yang tidak pernah gagal menjalankan aksinya, suatu hari terdesak hingga menawan seorang gadis untuk menyelamatkan diri. Aleena, gadis tawanan Mr. A adalah seorang gelandangan yang dibuang keluarganya.
Sebuah kisah romantis komedi yang terbalut dalam aksi pencurian dan pembalasan dendam. Akankah Aleena dan Jeevan dapat hidup bahagia dengan tenang? Ataukah pada akhirnya mereka menjalani hidup sebagai buronan bahkan menjadi tahana? Ikuti kisah cinta penuh aksi dalam kisah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Tawanan
~Happy Reading~
⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳
Mr. A memandang Aleena dengan tatapan nyalang. Sebuah pemikiran bersarang dengan cepat dalam benaknya. Beberapa hari yang lalu, dia penasaran dengan sosok pencuri kecil yang dia jumpai di pasar. Lalu saat ini, rasa penasaran itu berubah menjadi kecurigaan mana kala si pencuri kecil berada di depannya.
"Apa aku terlalu baik padamu gadis kecil? Sepertinya kau mulai lancang. Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu?" Mr. A mulai mengintimidasi Aleena.
"Menyuruh? Menyuruh apa? Aku tidak mengerti maksudmu, Tuan ...." Aleena tampak bingung.
"Mengakulah dan bicara dengan jujur, atau aku akan meledakkan kepalamu!"
Mr. A sudah mengarahkan pistol ke kepala Aleena. Aleena terkejut. Seketika tubuh Aleena mengeluarkan keringat dingin dan dipenuhi rasa takut. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Mr. A.
"Aku sungguh tidak mengerti maksud Anda. Tidak ada yang menyuruhku, aku ...."
"Jangan mencoba membohongiku!" Mr. A berteriak, pistol sudah menempel di kepala Aleena.
"Aku tidak berbohong, tidak ada yang menyuruhku," ucap Aleena dengan mata terpejam dan tubuh gemetar.
"Katakan, siapa sebenarnya dirimu dan bagaimana kau bisa tahu tentang diriku! Bagiamana dirimu bisa sampai ke tempatku beraksi? Siapa yang menyuruhmu berpura-pura menjadi tawanan untukku? Apa polisi-polisi bodoh itu? Kau bagian dari mereka? Berapa lama kau memata-mataiku?" Mr. A menghujani Aleena dengan pertanyaan.
"Aku ... aku Aleena. Aku hanya seorang gelandangan. Aku bukan mata-mata. Percayalah padaku. Aku tidak berbohong. Aku tidak ada hubungannya dengan para polisi itu. Aku berada di sana karena sedang berjalan-jalan tanpa tujuan. Aku mendengar suara tembakan. Lalu aku mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata kau yang sedang dikejar polisi, dan selanjutnya, kau tahu apa yang terjadi, bukan? Tolong, percayalah padaku. Demi Tuhan, aku berkata benar."
"Apa aku pikir aku begitu bodoh? Bagiamana aku tahu kau tidak berbohong? Aku tidak mencekikmu, tapi kau berakting seolah aku sedang mencekikmu. Kau seperti sengaja melempar dirimu untuk menjadi tawananku. Sekarang, bisa saja kau juga sedang berakting untuk mengelabuhiku. Lalu, saat aku lengah, kau akan menghubungi teman-teman polisimu untuk menangkapku," geram Mr. A. Tangannya sudah berada di leher Aleena, bersiap mencekik gadis itu.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku ..." kata-kata Aleena tercekat. Mr. A mencekiknya. Membuat sulit bicara dan sulit bernapas.
"Tu ... an ... tolong ... dengarkan aku. Akan ... kuritakan semuanya. Sete ... lah itu, kau ... bisa mem ... bu ... nuhku ji ... ka ...tidak percaya."
Aleena tidak bisa berbicara dengan lancar. Tangan Mr. A yang mencekik leher Aleena dengan kuat membuatnya kesulitan mengeluarkan kata-kata. Dia juga kesulitan bernapas. Oksigen tak dapat masuk ke dalam paru-parunya. Tersumbat di tenggorokan.
"Kau ingin menunda kematianmu? Baiklah, akan kukabulkan permintaan terakhirmu ini."
Mr. A melepaskan tangan kanannya dari leher Aleena. Sementara tangan kirinya masih menggenggam erat sebuah pistol meski tidak diarahkan lagi kepada Aleena.
Aleena terbatuk bebrapa saat. Dihirupnya udara dalam-dalam. Seolah ingin memenuhi paru-parunya yang telah kosong. Gadis itu juga menelan ludahnya yang terasa pahit. Ingin sekali dia meminum segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang mengering. Namun apa daya, dia tak memiliki keberanian untuk meminta seteguk air.
"Tuan, aku benar-benar bukan seorang mata-mata." Aleena mulai bicara setelah napasnya kembali teratur.
"Aku seorang gelandangan. Keluargaku membuatku ke jalanan. Aku tidak memiliki tempat tinggal. Aku seperti anjing yang hidup dari makanan sisa di tong sampah dan dari belas kasih orang. Hingga suatu hari, aku membaca sebuah berita di Anda di koran bekas yang aku temukan di tepi jalan. Saat itu, aku berpikir menjadi seperti Anda. Maksudku aku akan menjadi pencuri untuk bertahan hidup. Tantu saja, aku hanya seorang pencuri kecil yang hanya mampu mencuri sedikit makanan, dan ... sesekali mencopet sedikit uang untuk membeli beberapa keutuhan dasar." Aleena berhenti sebentar, matanya terasa panas, ingin menangis.
Aleena juga melihat wajah Mr. A. Seolah bertanya apa masih bisa melanjutkan cerita. Tak ada reaksi apapun dari laki-laki yang berada di depannya. Gadis itu menyimpulkan, dia bisa melanjutkan kisahnya lagi.
"Aku tidak mengenal siapapun di kota ini. Selama ini, aku juga tidak pernah bicara pada siapapun. Orang-orang mengira aku seorang gadis bisu."
Pantas saja dia tak bicara apapun waktu di pasar. Ternyata dia berusaha menutup diri. Ucap Mr. A dalam hati. Entah bagaimana, dia merasa bahwa Aleena berkata jujur. Tidak sedang menipunya.
"Sebenarnya tadi aku tersesat. Aku melihat bintang-bintang dan kakiku melangkah begitu saja tanpa arah. Ketika sadar, aku sudah berada di lokasi yang tidak aku kenali. Aku berusaha mencari jalan untuk kembali hingga aku bertemu denganmu yang sedang dikejar polisi. Aku ... dengan inisiatifku sendiri, ingin menjadi tawananmu. Aku hanya berpikir dengan begitu polisi-polisi itu tidak akan berani mendekat. Biasanya adegan seperti itu ada di film-film. Polisi tidak akan berani mendekati penjahatnya jika ada sandera. Dengan begitu, aku bisa membantumu untuk kabur." tutur Aleena dengan polos.
"Bagaimana jika aku benar-benar membunuhmu?" tanggapan Mr. A.
"Tidak masalah. Aku adalah gadis buangan. Keluargaku sendiri bahkan tidak menginginkanku. Aku hidup sebatang kara. Tidak akan ada yang rugi jika aku mati. Mati ditanganmu mungkin juga lebih baik untukku dari pada mati ditangan paman atau bibiku. Anggap saja sebagi balas budi padamu, karena aku membaca berita tentangmu, aku bisa bertahan hidup," ucap Aleena ringan. Kali ini dia sudah tidak takut mati. Dia sudah siap jika Mr. A benar-benar menembaknya atau mencekiknya.
"Kenapa dengan paman dan bibimu?" Mr. A mulai tertarik dengan cerita Aleena.
"Mereka menganggapku sampah. Atau mungkin alat untuk mendapatkan harta warisan. Orang tuaku telah lama meninggal. Aku diasuh oleh paman dan bibiku sejak usia 10 tahun. Mereka membesarkanku hanya demi harta. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, aku menjadi semacam beban dalam hidup mereka. Aku harus secepatnya disingkirkan."
"Apa alasanmu hingga tidak ingin pergi dari sini?" Mr. A lanjut bertanya.
Aleena mengerutkan dahi. Tak langsung menjawab. Dia berpikir, apakah Mr. A akan membiarkannya tinggal jika dia bisa memberi alasan yang tepat? Ah, tapi apakah itu mungkin? Aleena sedikit ragu. Dia menghela napas berat.
"Tuan, jika aku berpura-pura menjadi tawanan Anda saja bisa kulakukan dengan baik, tentu aku sanggup melalukan hal lain dengan benar untuk Anda. Aku bisa membantu Anda menjalankan aksi Anda. Atau, aku juga bisa menjadi asisten rumah tangga. Aku akan membersihkan rumah dan juga memasak untuk Anda. Anda tidak perlu memberiku gaji. Bagiku ... yang terpenting aku bisa memperoleh tempat tinggal. Itu sudah cukup bagiku. Hidup di jalanan sungguh terasa berat ..." Aleena menunduk, dia menyeka matanya yang mulai berembun.
"Membantuku dalam beraksi? Cih, apa kau memiliki kemampuan?"
"Tuan, asal Anda memberiku kesempatan, aku akan berusaha dengan baik, aku tidak akan mengecewakan Anda." Aleena menatap Mr. A dengan penuh harap.
"Aku sangat sadis, apa lagi pada seorang pengkhianat!" tegas Mr. A.
"Aku tidak akan pernah mengkhianati Anda. Aku akan seperti bayangan yang selalu setia mengikuti Anda," kata Aleena dengan cepat.
"Kepalamu akan meledak dan tubuhmu akan terpotong-potong dengan mengenaskan jika kau berani mengkhianatiku!" ancam Mr. A sembari melepas topeng dari wajahnya.
Aleena melihat dengan jelas wajah Mr. A yang selama ini menjadi misteri. Membuat penasaran banyak orang. Gadis polos itu hanya bisa terpaku. Dia terkejut. Seakan tak percaya dengan penglihatan matanya sendiri. Semetara itu, bibirnya lirih bergumam. Menyebut nama laki-laki di depannya. Sosok yang dianggap orang sebagai malaikat penolong yang dermawan. Beberapa hari lalu, secara kebetulan dia telah tahu nama orang itu, "Mr. Jee ...."
mampir di ceritaku judulnya "impian surga" cerita bergenre spiritual romance.
yg datang ke lapak ku InsyaAllah akan ada kunjungan balasan. terima kasih..
mari saling mendukung .. ☺️