Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Fajar Pemulihan
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyinari wajah Lin Chen yang sedikit pucat.
Ia duduk bersila di atas ranjang, dadanya naik turun mengikuti ritme pernapasan yang lambat namun dalam. Di sekeliling tubuhnya, kabut tipis berwarna biru berputar perlahan—itu adalah energi spiritual alam yang ditarik secara paksa oleh Giok Penelan Surga.
Lin Chen tiba-tiba mengerutkan kening, lalu membatukkan seteguk darah kotor ke atas sapu tangan.
"Sistem, laporkan kondisiku," batinnya.
[Ding!]
[Analisis Pemulihan Host:]
[Status Dantian: 40% Terisi. Keretakan mikro akibat kelebihan beban (Overload) dari penggunaan 'Seni Pedang Roh Pembelah Langit' sedang diperbaiki.]
[Peringatan Keselamatan: Host dilarang menggunakan serangan yang menguras lebih dari 20% total Qi sekaligus dalam 3 hari ke depan. Memaksakan diri akan mengakibatkan penurunan tingkat kultivasi secara permanen.]
[Saran: Gunakan kecerdasan, jaringan faksi, dan keterampilan penunjang (Medis/Mata Emas) untuk menyelesaikan konflik.]
Lin Chen menghela napas pelan, mengusap sisa darah di bibirnya.
Tiga hari, pikirnya. Jika aku memaksa melawan Keluarga Lin sekarang, dengan tetua Tahap Langit lain yang mungkin mereka sembunyikan, aku akan benar-benar tamat. Kemenangan semalam atas Tetua Huang harus dibayar mahal. Tubuhku kuat, tapi mesin di dalamnya masih butuh waktu untuk naik level.
Kelemahan ini menyadarkannya bahwa di Ibukota, ia tidak bisa terus-menerus menjadi serigala penyendiri yang mengandalkan tinju maut. Ia harus menjadi raja catur yang mengendalikan papan.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Ah Fei masuk dengan raut wajah serius.
"Tuan Muda," lapor Ah Fei. "Intelijen kita melaporkan pergerakan gila di Kediaman Utama Lin. Tuan Muda Lin Tian pulang dalam keadaan trauma berat. Namun, pagi ini, alih-alih menyerang kita, Keluarga Lin justru memerintahkan pembekuan seluruh aset dan memobilisasi pasukan militer swasta mereka untuk berjaga di kediaman utama. Mereka... mereka mengubah postur menjadi bertahan total."
Lin Chen tersenyum tipis. "Mereka tidak tahu kalau aku sedang terluka. Kematian Tetua Huang membuat mereka ketakutan. Mereka mengira ada seorang ahli Tahap Langit Puncak yang menyokongku dari bayang-bayang. Ini bagus, memberi kita waktu untuk bernapas."
"Tapi ada masalah lain, Tuan," lanjut Ah Fei, menyerahkan sebuah tablet digital. "Mengenai instruksi Anda untuk mengambil alih Paviliun Sembilan Harta. Pagi ini, agen dari Keluarga Lin bersama Asosiasi Barang Antik Ibukota sedang menggeruduk tempat itu. Mereka mencoba menyita paksa gedung paviliun dengan dalih hutang."
Mata Lin Chen menyipit. "Mereka mencoba memotong semua batu loncatan yang mungkin kugunakan di Ibukota. Siapkan mobilnya, Ah Fei. Paman Bai, ikut denganku. Hari ini kita tidak akan menggunakan pedang, kita akan menggunakan otak mereka yang tumpul."
Distrik Timur Ibukota, Jalan Antik Liulichang.
Jalanan bernuansa arsitektur Dinasti Qing itu biasanya dipenuhi oleh kolektor elit dan turis kaya. Namun pagi ini, suasana di depan bangunan termegah di jalan itu—Paviliun Sembilan Harta—terasa sangat tegang.
Puluhan pria berjas rapi dari pihak penagih utang yang disewa Keluarga Lin memblokir pintu masuk. Di dalam aula paviliun yang dipenuhi etalase kaca berisi kaligrafi, porselen, dan artefak giok, terjadi perdebatan sengit.
Seorang pria tua berambut perak, Fang Qingyun (Pemilik Paviliun), duduk di kursi kayu mahoni sambil memegangi dadanya yang sesak. Di sebelahnya, cucu perempuannya, Fang Meng, yang berusia awal dua puluhan dan berwajah cantik namun sedang menangis, berusaha menopang kakeknya.
Di hadapan mereka, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan senyum licik. Dia adalah Penilai Wang, wakil dari Asosiasi Barang Antik yang telah dibeli oleh Keluarga Lin.
"Tuan Fang, berhentilah bersikap keras kepala," cibir Penilai Wang sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Vas porselen 'Naga Hijau Ming' yang kau jual kepada Direktur Zhao seharga 5 Miliar Yuan minggu lalu telah terbukti palsu! Karbon pada glasirnya adalah hasil rekayasa modern! Kau telah merusak nama baik Asosiasi!"
"Itu fitnah!" sergah Fang Meng dengan air mata berlinang. "Kakekku adalah penilai terbaik di utara Sungai Kuning! Vas itu asli! Kalian secara diam-diam menukarnya saat vas itu berada di brankas pengiriman untuk menjebak kami!"
"Bukti bicara lebih keras dari air mata, Nona Kecil," Penilai Wang tertawa meremehkan. Di belakangnya, Manajer Keuangan dari Keluarga Lin melangkah maju membawa dokumen.
"Berdasarkan kontrak penalti, Keluarga Fang harus mengembalikan dana 5 Miliar Yuan ditambah denda 10 Miliar Yuan hari ini juga. Karena kalian tidak bisa membayar, sertifikat bangunan Paviliun Sembilan Harta dan seluruh isinya akan disita oleh Grup Lin sekarang!"
Fang Qingyun memuntahkan seteguk darah. Kerja keras leluhurnya selama lima generasi akan hancur lebur direbut oleh Keluarga Lin hanya dengan sebuah trik kotor!
"Kalian perampok..." rintih Fang Qingyun putus asa. "Bahkan jika aku mati, aku tidak akan menandatangani dokumen penyerahan ini!"
Manajer Keluarga Lin mendengus. "Jika kau tidak mau tanda tangan, kami akan menjebloskanmu dan cucumu ke penjara atas tuduhan penipuan tingkat nasional! Pengawal, sita tempat ini!"
Para preman berjas itu mulai melangkah maju dengan kasar, berniat menghancurkan beberapa etalase untuk menakut-nakuti. Fang Meng menjerit dan memeluk kakeknya.
BAM!
Tiba-tiba, dua preman yang berada paling depan terlempar ke udara seolah ditabrak banteng tak terlihat. Mereka menabrak rak porselen (yang untungnya kosong) dan pingsan dengan tulang rusuk patah.
Langkah berat terdengar dari pintu masuk.
"Keluarga Lin ternyata tidak hanya suka membunuh, tapi juga sangat berbakat menjadi lintah darat kelas teri."
Semua orang menoleh. Lin Chen berjalan masuk dengan kedua tangan di saku mantel hitamnya. Wajahnya tenang, kulitnya yang sedikit pucat justru membuatnya terlihat seperti bangsawan vampir yang anggun dan berbahaya. Di sisi kirinya, Paman Bai memancarkan aura Puncak Tingkat Bumi yang seketika menekan napas semua orang di ruangan itu. Ah Fei berjalan di sisi kanan, mengamankan area.
Manajer Lin langsung berkeringat dingin. Sebagai petinggi Grup Lin, ia mengenali wajah Lin Chen dari foto-foto yang beredar semalam! Monster yang meratakan gedung Meika Empire!
"L-Lin Chen?! Beraninya kau muncul di sini! Ini adalah urusan bisnis legal Keluarga Lin!" teriak sang Manajer dengan suara bergetar, bersembunyi di belakang Penilai Wang.
Lin Chen mengabaikannya. Ia berjalan lurus menghampiri Fang Qingyun dan Fang Meng.
"Kau Tuan Fang?" tanya Lin Chen dengan nada hormat yang proporsional. "Aku mendengar Paviliunmu butuh suntikan dana. Aku bersedia melunasi semua hutang palsumu dan membersihkan namamu. Sebagai gantinya, aku ingin 70% saham paviliun ini."
Fang Meng menatap pemuda misterius itu dengan terkejut. "K-Kau... ingin melawan Keluarga Lin demi kami?"
"Keluarga Lin bukan apa-apa bagiku," jawab Lin Chen santai.
Penilai Wang, yang tidak mengenali betapa berbahayanya Lin Chen, tertawa mengejek. "Bocah, kau pikir punya uang saja cukup? Vas yang dijual pria tua ini adalah barang palsu! Jika kau membelanya, kau akan ikut terseret kasus penipuan Asosiasi Barang Antik!"
Lin Chen menoleh menatap Penilai Wang. Tatapannya begitu dingin hingga Penilai Wang merasa lehernya seperti dicekik.
"Mana vasnya?" tanya Lin Chen.
Manajer Lin dengan ragu-ragu menunjuk sebuah kotak kayu berlapis beludru di atas meja utama. "I-Itu barang buktinya. Sudah dipindai dengan karbon dating, usianya tidak lebih dari lima tahun! Dibuat di pabrik modern!"
Lin Chen berjalan mendekati kotak itu. Ia menatap vas porselen bermotif naga hijau yang tampak sangat kuno di luar, namun memang memiliki kejanggalan pada kilap glasirnya.
"Sistem, aktifkan Mata Emas."
[Ding! Mata Emas Diaktifkan.]
[Memindai Objek: Vas Naga Hijau (Status: Lapisan Luar Tiruan Modern). Usia: 5 Tahun.]
Melihat Lin Chen terdiam, Penilai Wang tersenyum menang. "Hahaha! Kau lihat sendiri, kan? Bahkan orang awam pun tahu kilapnya terlalu sempurna. Tuan Fang telah membohongi klien kita!"
Fang Qingyun menundukkan kepalanya, air mata kekalahan menetes. Ia tahu keluarganya dijebak saat pengiriman, tapi ia tidak punya bukti.
Namun, panel sistem Lin Chen belum selesai menganalisis.
[Mendeteksi Anomali Kepadatan Struktural...]
[Peringatan Harta Karun! Di balik lapisan porselen tiruan setebal 2 cm, terdapat Objek Kuno Kelas Dewa.]
[Identifikasi: 'Piringan Formasi Pengumpul Jiwa' dari Dinasti Zhou. Usia: 3.000 Tahun. Mengandung energi spiritual alam yang sangat pekat.]
Sudut bibir Lin Chen melengkung ke atas. Ia tertawa pelan. Tawanya membuat semua orang di ruangan itu kebingungan.
"Tuan Fang," ucap Lin Chen tanpa menoleh. "Kau memang melakukan kesalahan. Barang yang kau jual ini bukanlah Vas Ming yang asli."
Hati Fang Meng hancur. Pemuda ini ternyata sama saja, datang untuk menginjak kakeknya!
"Sudah kubilang!" Penilai Wang menepuk meja. "Tanda tangani surat penyitaan ini sekarang juga!"
"Namun..." Lin Chen mengambil vas porselen tiruan itu dengan satu tangan. "...hanya orang bodoh dan buta yang menilai sebuah buku dari sampulnya."
Lin Chen tiba-tiba mengangkat vas tiruan itu tinggi-tinggi.
"TIDAK! JANGAN DIHANCURKAN BARANG BUKTINYA!" teriak Manajer Lin.
Namun sudah terlambat.
PRAAANG!!!
Lin Chen membanting vas itu ke lantai marmer dengan tenaga biasa. Porselen tiruan itu hancur berkeping-keping.
Semua orang terkesiap. Namun, dari balik pecahan porselen murahan tersebut, tidak ada pecahan beling biasa. Melainkan, sebuah piringan batu giok bundar seukuran telapak tangan berguling keluar.
Piringan itu berwarna hijau tua kehitaman, dipenuhi ukiran rune kuno yang rumit. Begitu piringan itu terkena udara luar, sebuah energi aura yang sangat sejuk dan menenangkan langsung memenuhi seluruh aula paviliun. Rasa sesak di dada Fang Qingyun seketika hilang sepenuhnya, digantikan oleh kesegaran yang luar biasa!
"I-Ini... aura spiritual?!" Paman Bai terbelalak. Sebagai ahli Kelas Bumi, ia paling peka terhadap hal ini.
Lin Chen memungut piringan giok itu dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan wajah Penilai Wang yang kini berkeringat dingin dan matanya nyaris copot.
"Vas Ming palsu ini," ucap Lin Chen dengan suara yang menggema penuh otoritas, "hanyalah cangkang pelindung (kamuflase) yang dibuat oleh pemilik aslinya untuk menyembunyikan artefak suci dari Dinasti Zhou agar tidak dirampas pada masa peperangan. Tuan Fang tidak menjual barang palsu. Beliau, tanpa sengaja, menjual barang yang nilainya sepuluh ribu kali lipat lebih berharga daripada Vas Ming."
Lin Chen menatap Manajer Lin yang gemetar ketakutan. "Sebuah Piringan Formasi Pengumpul Jiwa. Harganya di pasar lelang bawah tanah tidak kurang dari 100 Triliun Yuan! Dan kalian, Keluarga Lin, menuntut ganti rugi 5 Miliar karena mengklaim ini barang palsu?"
"T-Triliun...?!" Kaki Manajer Lin lemas dan ia langsung jatuh terduduk.
Penilai Wang menelan ludah, seluruh tubuhnya bergetar. Sebagai penilai, ia langsung tahu bahwa aura giok tua itu adalah barang otentik berusia ribuan tahun. Ia baru saja menyebut pusaka nasional itu sebagai rongsokan pabrik! Jika Asosiasi Pusat tahu ia hampir membuang benda ini, karirnya tidak hanya akan hancur, ia bisa dibunuh oleh para kolektor gila!
"Ini... ini salah paham! Mata saya yang buta!" Penilai Wang mundur dengan panik.
"Kau buta, dan hati nuranimu busuk," ucap Lin Chen pelan, tidak membuang sedikit pun Qi, hanya menggunakan tekanan mental. "Ah Fei."
"Ya, Tuan Muda!"
Ah Fei maju, mencengkeram kerah Penilai Wang dan Manajer Lin. "Kalian berdua punya waktu lima detik untuk membawa sampah-sampah kalian keluar dari paviliun ini, atau aku akan mematahkan kedua kaki kalian dan melempar kalian ke jalan raya."
Tanpa perlu dihitung, para preman Keluarga Lin dan kedua penipu itu langsung lari terbirit-birit berebut pintu keluar, meninggalkan dokumen penyitaan mereka di lantai.
Suasana kembali hening.
Fang Qingyun, yang nyawanya baru saja diselamatkan beserta martabat keluarganya, segera bangkit dari kursi dengan bantuan cucunya. Pria tua itu berjalan menghampiri Lin Chen dan membungkuk hingga pinggangnya mencapai sudut sembilan puluh derajat.
"Tuan... mata dewa Anda telah menyelamatkan nyawa tua ini dan Keluarga Fang," ucap Fang Qingyun dengan suara bergetar penuh rasa syukur. "Seperti yang Anda tawarkan, saya bersedia menyerahkan 70% saham Paviliun Sembilan Harta kepada Anda. Tidak, bahkan jika Anda menginginkan 100%, saya akan memberikannya dengan sukarela!"
Fang Meng yang tadinya curiga kini menundukkan wajahnya yang memerah, merasa malu atas pikiran buruknya tadi, sekaligus terpesona oleh karisma Lin Chen yang tak terbantahkan. Pemuda ini membalikkan ancaman mematikan hanya dengan menghancurkan sebuah vas!
Lin Chen tersenyum tipis, menutupi rasa lelah yang masih menjalar di meridiannya.
"Aku hanya butuh 70%, Tuan Fang. Biarkan Nona Fang Meng yang mengelola operasional harian. Tapi mulai hari ini, Paviliun ini bukan sekadar tempat jual beli barang antik," Lin Chen menatap keluar pintu paviliun, ke arah langit Ibukota yang cerah.
"Tempat ini akan menjadi pusat komando intelijen dan lelang elit kita di Ibukota. Siapa pun yang ingin membeli keajaiban, mereka harus menundukkan kepala di hadapan Paviliun Sembilan Harta."