ZIRA FATASYA wanita dua puluh tahun, saat kecil dia mengenal seorang anak laki laki yang usianya tujuh tahun lebih tua dari Zira yang bernama Zico, yang mana memebuat Zira jatuh cinta pada pandangan pertama, namu saiapa yang mengiria saat mereka sudah tumbuh dewas Zico malah menjalin kasih dengan Kakanya Zahra Fatasya, hanya karna mengira jika Zahra adalah Zira gadis masa kecilnya, bahkan keduanya juga sudah hampir bertunangan.
Zira yang saat itu membenci keluarganya atas perlakuan tidak adilnya pada dirinya, dia nekat merebut Zico dari kakanya saat malam akan di langsungkan pertunangan Kakanya dan Zico, dengan cara menjebak Zico dan berakhir Zico menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Jam enam pagi Zico mengerjapkan matanya ketika hidungnya mencium aroma harum dari masakan, yang mana membuat perutnya langsung merasa lapar.
''Apa pelayan dari mansion sudah datang'' gumam Zico karna dia meminta salah satu pelayan dari mansion rumahnya untuk tinggal di rumahnya.
Zico menyibak selimutnya lalu menurunkan kedua kakinya, dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajah bantalnya, setelah itu Zico keluar dari dalam kamarnya dan menuju ke dapur, namun saat sudah berada di dapur Zico menyipitkan matanya, karna yang sedang memasak di dapur bukanlah pelayan dari mansion orang tuanya melainkan Zira.
''Sudah bangun'' ucap Zira yang menyadari kedatangan Zico.
''Hem'' sahut Zico sambil menarik kursi yang berad di mini bar, lalu duduk di sana dan memperhatikan Zira yang begitu luwesnya menyentuh alat alat dapur.
''Aku hanya buat ini, makanlah'' tukas Zira menyodorkan nasi goreng dengan toping telur ceplok ke hadapan Zico, tak hanya itu Zira juga memberikan segelas air putih ke hadapan Zico.
Perlahan Zico menyendok nasi goreng di depannya, dan di suapkan ke dalam mulutnya, enak dan lezat itulah yang di rasakan oleh lidah Zico saat mengunyah nasi goreng buatan Zira, bahkan Zico mengakui jika nasi goreng butan Ibunya masih kalah jauh dengan buatan Zira.
''Enak'' ujar Zira, dan Zico hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja, karna mulutnya penuh dengan nasi goreng.
Zira juga ikut duduk di mini bar, dan mulai melahap nasi gorengnya, diam diam Zira tersenyum melihat Zico yang terlihat sangat menyukai nasi goreng buatannya.
"Tidak apa meskipun Kak Zico tidak ingat pertemuan pertama kita saat masih kecil dulu, tapi aku akan sering sering membuatkanmu makanan yang enak, agar saat aku sudah pergi dari bumi ini, kamu terus mengingatku dari makanan makanan itu, " batin Zira sendu.
Tepat jam tujuh pagi Zico sudah rapi dengan setelan kerjanya, tadi setelah menyantap nasi goreng buatan Zira, Zico bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap.
''Aku ke perusahaan dulu, ini pakailah untuk belanja kebutuhanmu dan kebutuhan di dapur'' ujar Zico menyodorkan kartu platinum miliknya pada Zira.
''Tidak perlu, aku punya sendiri'' tolak Zira.
Namun Zico langsung menarik tangan Zira, dan di letakkannya kartu platinum itu di telapak tangan Zira. ''Ingat, aku tidak suka penolakan'' ujar Zico tegas yang mana membuat Zira hanya bisa pasrah, dan mau tidak mau akhirnya menerima kartu itu.
''Ok, tapi Kak Zico tidak boleh nolak kalau setiap makan siang, aku akan mengirim makan siang untuk Kaka'' tukas Zira.
''Tentu saja, aku akan menunggunya'' timpal Zico, yang sudah tidak sabaran dengan makan siang yang akan di bawakan oleh Zira untuknya.
Zico yang sudah berada di perusahaannya mulai semangat untuk mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk, karna tiga hari kemarin Zico di buat tidak fokus dengan pekerjaannya gara gara Zira tidak pulang, dan membuat pekerjaannya terbengkalai.
Saat jam hampir menunjukkan pukul sepuluh siang, Zico berkali kali melihat jam di pergelangan tangannya, dia sudah menanti kedatangan Zira dengan membawa bekal makan siang untuknya.
Senyum Zico mengembang ketika mendengar suara pintu ruangannya di ketuk dari luar, dan Zico bergegas merapikan bajunya dan dasinya.
''Ok sudah rapi'' gumam Zico dengan sedikit gugup.
''Masuk!!'' seru Zico.
Ceklek
Seketika Zico menjatuhkan rahangnya karna ternyata Tomas yang masuk ke dalam ruangannya bukan Zira, dan kedua mata Zico langsung menyipit ketika melihat paperbag yang di tenteng oleh Tomas.
''Tuan, ini ada titipan dari Nona Zira untuk anda'' . Ujar Tomas meletakkan paperbag yang di bawanya ke atas meja kerja Zico , yang mana membuat Zico langsung menyandarkan punggungnya dengan kecewa, dia pikir Zira sendiri yang akan mengantarkannya ke ruangannya.
''Siapa yang membawanya?, apa Zira sendiri'' tanya Zico tangannya bergerak meraih paperbag di depannya.
''Iya Tuan, tapi Nona Zira menitipkannya di meja resepsionis'' jawab Tomas apa adanya.
''Baiklah, kamu boleh keluar''
''Baik Tuan''
Setelah kepergian Tomas, Zico mulai mengeluarkan isi dari dalam paperbag itu, dan ternyata ada tiga kotak bekal, Zico menyipitkan matanya saat melihat secarik kertas yang tertinggal di dalam paperbag, lalu dia mengambilnya dan membaca tulisan di kertas itu.
'' Harus di habiskan, kalau tidak, aku tidak mau membuatkannya lagi'' isi pesan di kertas itu membuat Zico mengembangkan senyumnya dengan menggelengkan kepalanya.
Lalu Zico mulai membuka semua tutup ketiga kotak itu, dan ternyata isinya ada nasi dengan lauk ayam panggang, kotak satunya isinya salad dan kotak satunya isinya potongan buah apel, Zico mengembangkan senyumnya melihat makan siang yang di bawakan oleh Zira, dan kebetulan itu semua Zico sangat menyukainya.
Perlahan Zico mulai menyantap makan siangnya, dan lagi lagi Zico merasa kagum dengan masakan yang di buatkan oleh Zira, yang menurutnya sangat enak dan lezat, bahkan Zico seperti tidak ingin makan ke restoran manapun lagi.
''Pantas saja kalau restorannya selalu ramai, sampai memiliki cabang di mana mana, pemiliknya saja sudah seperti chef handal'' gumam Zico yang terus menikmati makan siangnya dengan senyumnya yang tidak luntur.
Seperti yang di katakan oleh Zico, kalau kartu platinum yang di berikan padanya untuk belanja kebutuhannya dan kebutuhan dapur, kini Zira pergi ke swalayan terbesar di kota untuk belanja isi lemari pendinginnya.
''Zira''
Zira yang sedang memilih daging menoleh saat ada yang memanggil namanya, dan ternyata Zahra dan Mamanya.
''Zira bagaimana kabar kamu?'' tanya Nita sedangkan Zahra dia terlihat sekali jika tidak menyukai pertemuannya dengan Zira, terlihat sekali dari tatapannya.
''Baik'' sahut Zira datar, yang mana membuat Nita semakin merasa asing dengan putri keduanya.
''Zira, setelah belanja kita makan siang di restoran depan yuk'' ajak Nita, yang hanya di angguki oleh Zira, sedangkan Zahra dia hanya diam saja, tak ada minat untuk menyapa adiknya, karna bagaimanapun adiknya patut di benci olehnya, karna sudah tega merebut Zico darinya.
Satu jam kemudian Zira sudah berada di restoran bersama mamanya dan kakanya, susana di meja itu sangat hening, hanya terdengar suara dentingan sendok yang saling bersahutan.
''Zira, semakin hari mama semakin merasa asing dengan kamu, sebenarnya apa yang terjadi pada kamu, kenapa kamu selalu acuh tak acuh dengan Papa, Mama juga Kak Zahra'' ujar Nita, yang masih tidak mau menyadari sikapnya selama ini pada Zira.
''Kalian sendiri yang sudah membuatku seperti ini'' sahut Zira datar.
''Kenapa bisa kami, memangnya apa yang telah kami lakukan pada kamu?'' tanya Nita, yang mana membuat emosi Zira memuncak, dan meletakkan sendok serta garpu ke atas piring dengan kasar.
Prakkkk
''Jelas karna kalian, sejak kecil yang ada di pikiran kalian, hanya Kak Zahra dan Kaka Zahra saja, apa kalian pernah perduli denganku, tidak kan!! '' sentak Zira marah,dia tidak perduli meski menjadi pusat perhatian para pengunjung restoran, dia hanya ingin meluapkan emosinya yang sudah menumpuk di dadanya selama ini.
''Mama sama Papa juga perduli denganmu, tapi, kamu tahu kan kalau Kakamu,,,''
''Apa!, karna kondisi Kak Zahra yang lemah'' potong Zira cepat.
''Kalian selalu menyuruhku untuk memahami kondisi Kak Zahra, tapi kalian tidak pernah mau memahamiku, kalian tega!!, kalian jahat!! aku benci kalian!! '' teriak Zira, lalu dia meraih tas selempangnya, dan pergi meninggalkan Mamanya dan Zahra dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya.
Kalo seandainya SAD ENDING GA MASALAH.😅
semangat kk
semangattt