NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manipulasi di Bawah Cahaya Bulan

Taman malam itu sunyi, hanya diterangi oleh cahaya bulan sabit yang tersembunyi di balik awan tipis. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga melati yang mekar di sekeliling mereka. Suara jangkrik terdengar dari kejauhan, menambah suasana misterius yang menyelimuti pertemuan rahasia ini.

Vega duduk di seberang Belinda dengan santai, menyandarkan punggungnya ke kursi batu. Senyum tipis menghiasi bibirnya, namun di balik senyum itu, pikirannya bekerja cepat.

"Semuanya berjalan baik," pikirnya dalam hati. "Dia sudah di sini, dan aku sudah memegang kendali."

Belinda menatapnya dengan mata menyipit, mencoba membaca pikiran pemuda di hadapannya.

"Bukankah kau teman Grey waktu itu?" tanyanya, suaranya datar namun penuh tekanan.

Vega mengangguk dengan anggun. "Ya, saya Vega Arcsein. Saya ke sini karena ingin mengajak Nyonya berbincang ringan." Ia menyentuh gagang pedangnya yang terselip di pinggang—gerakan kecil yang menunjukkan kepercayaan diri.

"Jadi..." Belinda melanjutkan, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja batu, "kaulah yang menulis surat itu padaku?"

Vega tersenyum, matanya berbinar bangga. "Sudah saya katakan pada Nyonya. Wanita mana pun akan bertekuk lutut pada saya."

Ia menepuk dadanya dengan gerakan teatrikal, seolah sedang berada di atas panggung.

"Saya pernah menolak cinta putri kerajaan. Seorang ratu. Guru sihir. Wanita bangsawan. Dan masih banyak lagi." Ia menghela napas dramatis. "Nyonya tak sebanding dengan seorang putri kerajaan yang pernah saya tolak waktu dulu."

Belinda terdiam. Matanya membelalak, nyaris tak percaya.

Di balik semak, Barteil menyipitkan matanya. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Vega, dan kepalanya hampir meledak karena kebingungan.

"Vega memang hebat," pikir Barteil, menggeleng-gelengkan kepala. "Dia ternyata sangat bodoh... Harusnya dia terima saja cinta putri itu agar dia menjadi Raja!"

Ia menggigit bibirnya, menahan keinginan untuk berteriak.

"Tapi tunggu dulu... aku masih tak percaya ucapannya. Apakah Vega benar-benar pernah ditaksir putri kerajaan?"

Barteil kembali mengamati mereka dari kejauhan, berusaha mencari tanda-tanda kebohongan.

"Apa?" suara Belinda terdengar gemetar, meskipun ia berusaha tetap tenang. "Seorang putri juga terpikat denganmu?"

Vega memang tampan, tetapi ada sesuatu di matanya—kilatan yang sulit dipercaya. Belinda merasa ada kebohongan di balik kata-katanya, tetapi ia tidak bisa memastikannya.

Vega mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya menjadi dingin dan tajam.

"Jadi saya ingin Nyonya menarik kata-kata Nyonya tentang 'wanita murahan' yang menyukai saya. Seperti Nyonya katakan itu."

Suaranya datar, tanpa emosi. Tetapi di dalam hatinya, ia tersenyum senang.

"Langkah pertama berhasil," pikirnya. "Sekarang tinggal menekannya sedikit lagi."

Belinda terdiam. Ia merasakan tekanan yang tidak biasa dari pemuda ini. Untuk pertama kalinya, ia merasa berada di posisi yang tidak menguntungkan.

"Baik, baik," ucapnya akhirnya, suaranya sedikit lebih lembut. "Saya akui kamu memang pria yang tangguh dan tak ada wanita murahan yang menyukaimu."

Vega mengangguk puas. Kemudian, ia berdiri dari kursinya dengan gerakan tiba-tiba.

"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi. Aku ingin bertemu Ratu Elerana—dia sudah menunggu terlalu lama."

Belinda terkejut. "Ratu Elerana?"

Vega mengangguk. "Ya, Ratu dari kerajaan timur. Kami memiliki janji pertemuan malam ini." Ia berbalik hendak pergi, tetapi dengan sengaja melambatkan langkahnya.

"Aku mohon maafkan sikapku ini," tambahnya sambil menoleh. "Bagaimana kita menikmati malam ini dengan tenang?"

Belinda tanpa sadar meraih tangan Vega, menahannya.

Jari-jarinya yang dingin menggenggam erat pergelangan tangan pemuda itu.

"Tunggu."

Vega berhenti, menatap tangannya yang digenggam, lalu menatap wajah Belinda dengan tatapan heran—pura-pura.

Dari kejauhan, Barteil hampir terjatuh dari persembunyiannya.

"Apa?! Vega benar-benar membuat Nyonya Belinda menjadi gelisah?" pikirnya, tak percaya. "Dalam sekejap, dia mengubah wanita sedingin es itu!"

"Maafkan saya, Nyonya," ucap Vega dengan suara lembut, melepas genggaman Belinda dengan hati-hati. "Saya harus pergi. Jika tidak, saya akan terlambat."

Belinda menarik tangannya, tetapi matanya tetap tertuju pada Vega. "Katakan padaku, bagaimana kita bisa bertemu kembali?"

Vega berhenti. Ia menatap Belinda dengan tatapan penuh makna.

"Ah, soal itu..." Ia tersenyum kecil. "Anda harus menggagalkan pertunangan Grey dan Nona Keilla. Jika pertunangan itu batal, maka saya akan menggagalkan niat melamar saya kepada Ratu Elerana."

Belinda terdiam. Matanya berkilat berpikir.

"Baiklah, aku setuju," jawabnya akhirnya, suaranya tegas. "Tapi aku mohon, batalkan saja pertemuan kalian terlebih dulu."

Vega mengangguk. "Deal. Tapi saya harus bertemu dengan petinggi militer Kerajaan Divente terlebih dulu." Ia berbalik, melangkah meninggalkan Belinda tanpa menoleh. "Sampai nanti, Nyonya."

Belinda menatap punggung Vega yang menjauh, hatinya berdebar tak menentu.

"Vega... dia bukan pria biasa," pikirnya. "Aku harus menggagalkan niat Ratu Elerana. Ratu dari kerajaan timur—bagaimana mungkin dia bisa terpikat pada pemuda seperti ini?"

Di balik semak, Barteil masih terdiam, mulutnya terbuka lebar.

"Aku tidak percaya," gumamnya pelan. "Vega baru saja memanipulasi Nyonya Belinda untuk membatalkan pertunangan Grey dan Keilla. Dan dia melakukannya dengan begitu... indah."

Vega mencapai balik semak dan langsung menarik Barteil menjauh dari taman.

"Kita harus cepat pergi sebelum dia sadar," bisik Vega cepat.

Barteil mengikuti dengan langkah tergesa. "Tapi—bagaimana kau melakukannya?"

"Rahasia," jawab Vega dengan senyum misterius. "Yang penting, rencana kita berjalan."

Di belakang mereka, Belinda Helrena masih duduk di kursi batu, menatap ke arah bulan dengan tatapan penuh keraguan.

"Apa yang baru saja terjadi?" pikirnya. "Aku baru saja setuju untuk mengkhianati keluargaku sendiri?"

Namun, sudah terlambat. Ia telah terjebak dalam jaring manipulasi Vega.

Di kejauhan, di bawah cahaya bulan, Vega tertawa lebar.

"Selamat malam, Nyonya Belinda," bisiknya. "Kau baru saja memulai permainan yang tidak akan bisa kau menangkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!