Ini HIDUPKU dan yah ini KISAHKU.
Kisah yang diawali oleh ucapan ku sendiri, ucapan bukan sembarang ucapan melainkan sebuah ucapan yang mengikat janji pada diriku sendiri.
"Hanya karena cintai bukan berarti lu bisa jadi brengsek Dav..."
Nadzar (janji) yang berisikan tentang keputusan untuk sendiri dalam jangka umur 17tahun dan berakhir dengan perjodohan, hahaha... setelah menyelesaikan satu Nadzar harus menyelesaikan satu Nadzar yang lain.
Itulah hidupku yang dipenuhi dengan perjodohan Nadzar, hingga suamiku pun terikat oleh janji menjaga anak gadis orang lain.
~DEVIRA SINDI ALICIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisrina Ulya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Selesai
Malam ini adalah malam terakhir Sindi untuk menepati janjinya, dalam hitungan menit Sindi akan terlepas dari Nadzarnya karena jam berikutnya telah masuk pada tanggal 19 Februari, hari perjuangan seorang mama antara hidup dan mati untuknya, dimana untuk pertama kalinya Sindi melihat indahnya dunia.
Pastinya Sindi senang, sangat senang karena ia bisa melewati Nadzar 17 tahunnya dengan baik dan semoga di terima oleh Allah.
Detik detik sweet seventeen nya akan dimulai, Sindi menyibukkan diri dengan Hpnya.
Tok tok tok....
"Siapa? Ma.... Mama...." Sindi bergidik ngeri.
Tok tok tok
"Ayah? yah...." Sindi mulai bangkit dari kasurnya.
Tok tok tok
"SIAPA SIH? MAMA YA? AYAH? JANGAN MAIN MAIN IH CIA TAKUT"
Ceklek ceklek
Daun pintu kamar Sindi bergerak.
"SIAPA... KALO ADA YANG NANYA DI JAWAB." Sindi mengendap mendekati pintu.
Tok tok tok
Ceklek ceklek ceklek
"Isss siapa sih." Sindi memberikan diri untuk membuka pintu.
"SWEET SEVENTEEN BIRTHDAY CIA..." heboh orang dari balik pintu.
"Astagfirullah kaget tau." Ucap Sindi lalu melebarkan senyumnya.
"Woaahhhh..."
"tiup lilinnya nak" mama menyodorkan kue yang diatasnya sudah terdapat lilin yang menyala.
"Tiup tiup tiup..." sorak Sinta dan Chika.
Huuuuuu
"Ye........"
Sindi menatap mereka dengan haru, di depannya ada mama, ayah, Sinta dan Chika.
"Makasih..."
"Duhhhh anak mama udah besar sekarang, sehat selalu ya nak, lebih baik kedepannya." Sindi berhambur ke pelukan sang mama.
"Makasih banyak ma.."
"Sama sama sayang." Sindi melepaskan pelukannya.
"Ayah.." Sindi berganti memeluk sang ayah.
"Panjang umur, jadi anak yang sholeha, perbaiki imannya." Ayah mengelus puncak kepala Sindi dengan sayang.
"Makasih yah."
"Udah nih kuenya, mama sama ayah mau kekamar ya, udah lewat jam tidur, kalian jangan tidur malem malem." Mama menyerahkan kue ke Sindi.
"Iya ma, selama malah."
"Semangat malam." Mama tersenyum kearah Sindi, Chika dan Sinta begitupula dengan ayah.
"Ayo masuk." Sindi mempersilahkan Sinta dan Chika masuk.
"Kok kalian bisa di sini?"
"Rencananya sih emang mau nginep eh tante Dewi udah telpon bunda minta ijin." Jawab Chika.
"Terus kalian kesini sama siapa?"
"Di jemput pak Agus."
"Ci gue nggak tau mau ngomong apa mending lu yang berdoa gue yang Aamiinin gih." Ucap Sinta, kini mereka bertiga sudah duduk melingkar di karpet bulu.
"Yap cepet." Chika siap menadahkan tangannya.
"bismillahirohmanirohim...." Sindi melanjutkan doanya di dalam hati, hanya dia dan Allah yang tau.
"Aamiin.."
"Aamiin..."
"ala hadiniyah alfatihah..." Sindi mengakhiri doanya.
"Makasih ya..."
"Sans elah kaya sama siapa aja lu."
"Hehehe, kuy ikut gue ke bawah ambil makanan sama ambil pisau." Sinta dan Chika mengekori Sindi ke bawah, sepertinya mereka malam ini akan bergadang, girls time lah ceritanya untung aja besok mereka libur.
🌸
Siang ini Sindi beserta kawan kawan sudah berada di restoran, restoran yang harusnya buka besok tetapi hari ini sudah bisa melayani Sindi dan teman temannya.
Sindi bingung, kok bisa? Padahal di selebaran buka 20 Februari, tapi tadi ayah bilang kalo Sindi bisa mengajak siapapun makan di sana geratis masalah biaya biar ayah yang tanggung, teman teman Sindi pun bingung tapi mereka pada masa bodoh yang penting kenyang dan ngga ngeluarin uang sepeser pun.
"Ci kak Hendra ngajak kak Jordi nggak papa ya?" Tanya Sinta.
"Ngga papa Ta, lebih rame lebih seru." Sindi mengambil hpnya yang getar.
💌Dapa
Sindatttt gue tunggu di taman samping Resto.
Buruan kaga pake lama.
^^^Kaga ada yang namanya Sindat^^^
Becanda elah hehehe :v
Buruan kesini, mau ngedor gue
cepetannnnnnnnnn
siput lu
^^^Ngapain sih lu aja yang kesini^^^
^^^Mager gue^^^
Kaga usah banyak cingcong cepet sini elah.
perlu gue jemput?
gue seret lu kemari.
^^^Apa sih Dav^^^
^^^Mau ngapain ke situ???^^^
gue pengen ngomong penting!
astaga... tinggal kesini susah bener.
^^^Ngomong disini aja kan bisa^^^
^^^Sumpah gue mager^^^
^^^Sampai ke tulang tulang^^^
Gue ngengen ngobrol berdua Sin...
penting!!!!!!
Cepet! Gue seret beneran lu.
^^^abkiedblidawrgblptscnktewdh^^^
C E P E T !!!
Read
"Gue ke depan bentar ya." Pamit pada Sinta dan Chika yang sedang mengobrol.
"Ngapain? Jangan bilang mau kabur lu" selidik Chika.
"Kaga, gue mau nemuin Dava bentar okeyyyy." Sindi pergi menuju taman.
Sindi mengedarkan pandangannya ke penjuru taman hingga ia melihat Dava yang melambai kearahnya.
"Ada apa sih?" Tanya Sindi to the point.
"Sans elah, duduk." Dava duduk di bangku taman.
"Sok ngomong!."
"Sebelumnya happy birth day dan selamat udah tuntas Nadzar lu."
"Hemmm ya ya ya makasih..." Sindi mengangguk.
"Gue dulu bilang kalau gue pengen kenal deket sama lu, dan sekarang kita udah kenal deket, gue manusia Sin jadi gue bebas jatuhin hati ke siapapun, berhak jatuh cinta, dan ternyata cinta itu jatuh ke lu, gue yakin lu sendiri tau perasaan gue, selama 3 tahun gue berusaha yakinin hati gue, yakinin perasaan gue, sampai gue yakin kalau gue udah bener bener jatuh sejatuh jatuhnya ke lu, selama 3 tahun itu juga gue nunggu lu nuntasin Nadzar, dan menurut gue hari ini hari yang pas buat gue ngomong kalau gue sayang sama lu Sin, sekarang yang gue pengen lu jadi pacaran gue." Dava mengalihkan tatapannya yang semula lurus ke depan menengok ke arah Sindi.
" Will You Be My Girlfriend?"
Sindi menegang, ia tidak pernah berfikir akan jadi seperti ini, jantung Sindi berdetak tidak semestinya, iya bingung, jujur ia baper dengan perlakuan khusus Dava kepalanya, ia baper dengan perhatian perhatian Dava tapi ada Nadzar yang selalu membentenginya, itu dulu! Sekarang sudah tidak ada benteng yang menghadangnya, selama 3 tahun Sindi merasakan perlakuan perlakuan manis Dava, tidak menutup kemungkinan jika sepercik rasa tumbuh di hatinya, sedari tadi Sindi berusaha cuek bebek karena menutupi ke gugupnya.
"Sin..." suara Dava membangunkan Sindi dari lamunannya.
"Ah ya?" Sindi membalas tatapan Dava.
Dava menaikkan sebelah alisnya.
"Emmm... kasih gue waktu buat jawab, ini keputusan penting buat gue."
Dava mengangguk dan tersenyum. "Oke, tapi jangan lama lama, jemuran yang digantung lama aja bisa mengkerut apa lagi gue."
"Keriput yang ada lu, ya udah kuy ke resto." Sindi bangun dari duduknya.
Dava berjalan di sebelah Sindi dengan perasaan lega, ia lega telah menyampaikan perasaan yang 3tahun ini mengganjal di hatinya.
"Ehemmm." Deheman Sindi mengagetkan dua pasang yang sibuk masing masing.
Sinta dengan Hendra sedang ngobrol sambil ketawa ketawa sedangkan Chika dan Jordi sedang menonton film dari HP Chika.
"Eh Ci udah dateng." Chika melepaskan earphone yang terpasang di telinga kanannya begitupula dengan Jordi yang melepas earphone di telinga kirinya.
"Chik tambah deket aja." Goda Sindi.
"Rapopo." Jawab Jordi dengan logat jawanya.
"Apa sih lu tu yang makin deket ama Dava, habis kemana lu berdua?" Chika memincingkan matanya.
"Kepo, udah pesen makan gih." Sindi dan yang lain akhirnya memesan makanan.
Di sana Dava memberikan perhatian perhatian kecil ke Sindi, aiiiihhhhh membuat hati jedag jedug saja.
{\_/}
( •.•)
/>❤
smga up ny g lama..
jga kshtan dan smngat nulis ny...
smngat ka nina,, d tunggu kelanjutn ny. 🤗
cerita nya bagus
Numpang promo ya, mampir juga ke novel pertamaku
Salam dari Calon Istri CEO