Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Prosedur yang Dinanti
Bab 11 - Prosedur yang Dinanti
Pukul sembilan malam tepat.
Sinta sedang duduk bersandar di kepala ranjang king-size kamar utama penthouse Kuningan.
Dia mengenakan piyama kaos longgar berwarna biru muda pastel yang sangat nyaman. Rambut sebahunya dibiarkan terurai bebas, menguarkan aroma wangi sampo stroberi yang manis. Di atas pangkuannya, sebuah buku teks tebal mengenai metodologi klinis anak sedang terbuka, namun sejak sepuluh menit yang lalu, fokus mata Sinta sama sekali tidak tertuju pada barisan teks medis tersebut. Kepalanya yang polos terus memikirkan ucapan Dean tadi pagi di meja sarapan.
Pak Dean bilang... jadwal berkala kami malam ini aman. Berarti dia beneran mau kembali tidur di kamar utama, batin Sinta polos, matanya sesekali melirik cemas ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
Cklek.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, dan untuk kedua kalinya, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Sinta rasanya mendadak menguap habis. Mata gadis itu melotot sempurna dengan bibir yang sedikit terbuka.
Dean Galang Wijaya keluar dari sana. Pria itu sama sekali tidak mengenakan setelan piyama satin atau kaos biasa. Dia hanya mengenakan jubah mandi (bathrobe) berbahan satin premium berwarna hitam pekat yang ikatannya sengaja dibuat sangat longgar di bagian pinggang. Akibatnya, bagian depan jubah itu terbuka lebar, dengan sengaja memamerkan bentuk dada bidangnya yang kokoh serta deretan "roti sobek" alias otot perut six-pack yang terpahat begitu sempurna.
Sinta mendadak merasakan sensasi dejavu yang luar biasa kuat menghantam benaknya. Kejadian ini persis seperti malam pertama mereka satu minggu yang lalu! Pria ini kembali mengulang trik meresahkan yang sama.
Kulit tubuhnya yang bersih masih tampak lembap dan hangat, menyisakan beberapa bulir air sisa mandi yang berkilau seksi di bawah pendar lampu tidur yang temaram. Rambut hitamnya yang biasa klimis kini tampak basah dan berantakan, jatuh sebagian membingkai dahinya yang tegas. Ditambah lagi, aroma sabun maskulin yang sangat dominan bercampur wangi cologne mahal langsung menguar tajam, memenuhi seluruh ruangan kamar yang dingin. Suaminya malam ini terlihat sangat tampan, seksi, dan luar biasa menggoda.
Ya Tuhan... pemandangan ini ilegal sekali buat kesehatan jantungku! batin Sinta menjerit panik, wajahnya langsung merona merah matang dalam hitungan detik. Dia buru-buru mengangkat buku teks medisnya sedikit lebih tinggi untuk menutupi wajahnya yang sudah kepanasan, meski matanya tetap mencuri pandang ke arah tubuh atletis suaminya. Kenapa dia sengaja sekali pamer otot perut begitu lagi? Rasanya badanku mendadak ikut gerah padahal AC kamar ini sangat dingin.
Sementara itu, di balik ekspresi wajahnya yang tetap lempeng, kaku, dan sedingin es, Dean sebenarnya kembali melancarkan strategi taktis tingkat tinggi demi menebus waktu tidurnya yang hilang di sofa semalam.
[POV Dean]
Akurasi visual: Buku teks medis yang dipegang Nona Sinta bergetar dengan frekuensi halus sebesar tiga hertz. Dari sudut pandang analisis gestur, ini adalah indikasi nyata bahwa dia sedang mengalami kepanikan visual akibat stimulasi otot abdomen saya. Kuping saya saat ini kembali mendeteksi adanya peningkatan suhu panas di kedua daun telinga saya sendiri, yang berarti saya kembali merasa malu akibat bertelanjang dada di hadapannya. Namun, berdasarkan evaluasi kegagalan sistem domestik semalam, saya menyimpulkan bahwa penggunaan metode stimulasi visual jubah mandi ini memiliki tingkat keberhasilan seratus persen untuk mengembalikan gairah biologisnya ke parameter puncak. Saya harus memanfaatkan momentum ini dengan sangat efisien agar agenda malam ini berjalan sukses tanpa hambatan emosional lagi.
Dean melangkah tegap mendekati ranjang dengan gerakan yang sangat teratur. Dia tidak menarik kursi kerja ergonomisnya seperti tempo hari. Kali ini, pria seksi dengan otot perut yang meresahkan itu langsung duduk di tepi kasur, tepat di sebelah Sinta. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Sinta bisa mencium dengan jelas aroma maskulin tubuh Dean yang hangat.
Dean menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat Sinta yang mengerjap polos dengan wajah yang luar biasa lempeng tanpa dosa.
"Nona Sinta," panggil Dean. Suaranya terdengar sangat berat, dalam, serak, dan kaku tanpa intonasi naik turun.
Sinta menelan ludahnya dengan susah payah, menurunkan bukunya perlahan hingga sebatas dada. "I-iya, Pak Dean?"
"Berdasarkan kesepakatan tertulis dan pemulihan status akses kamar utama yang kita setujui tadi pagi," ucap Dean dengan nada sekaku direktur utama yang sedang membuka rapat pleno pemegang saham. "Waktu saat ini telah menunjukkan pukul 21.05 WIB. Parameter domestik menyatakan bahwa malam ini adalah jadwal berkala kita."
Dean mencondongkan tubuh tegapnya sedikit lebih dekat, mengunci pandangan Sinta dengan mata hitamnya yang jujur namun kaku, lalu melontarkan pertanyaan maut andalannya dengan muka paling lempeng sedunia:
"Apa mau main?"
Mendengar kalimat keramat itu keluar lagi dari mulut suaminya, ingatan Sinta langsung berputar pada kejadian malam pertama mereka satu minggu lalu. Otaknya yang polos kini sudah mulai memahami arti di balik kata "main" yang sering digunakan oleh suaminya yang robotik itu. Wajah Sinta yang semula sudah merah kini semakin memanas hingga ke pangkal leher.
"M-main... seperti waktu itu?" tanya Sinta dengan suara yang sangat lirih dan polos, matanya menatap Dean dengan tatapan lugu yang sangat menggemaskan.
Tatapan mata Dean yang tadinya sedingin es mendadak menggelap, memancarkan gairah posesif yang sangat pekat. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Dean merayap naik ke atas kasur, mengeliminasi sisa jarak di antara mereka hingga tubuh kekarnya kini mengurung tubuh mungil Sinta dari atas. Buku teks medis di pangkuan Sinta tergelincir jatuh begitu saja ke atas lantai karpet tanpa dipedulikan lagi.
Cup.
Dean mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Sinta, lalu menjauhkan wajahnya beberapa senti untuk menatap mata istrinya dalam keheningan, menunggu persetujuan dengan sabar. Sinta yang jantungnya sudah berdegup sekencang kepakan sayap burung kolibri, perlahan-lahan menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Melihat anggukan lampu hijau tersebut, Dean merendahkan posisinya, lalu berbisik dengan suara berat yang sangat serak tepat di telinga Sinta.
"Benar. Main seperti waktu itu... Kali ini saya akan memastikan prosedurnya berjalan jauh lebih nyaman untuk kamu."
Kedua tangan kekar Dean menangkup rahang Sinta dengan sangat lembut, sebelum dia kembali menempelkan bibirnya dan melumat bibir manis istrinya dengan kehangatan penuh gairah yang menuntut, mengabaikan seluruh kekakuan logika kantornya demi menyatu seutuhnya dengan Nyonya Wijaya kesayangannya malam ini.
Malam itu, segalanya berjalan tidak seperti biasanya. Dean yang biasanya sangat teratur, terukur, dan disiplin menyelesaikan prosedur dalam satu kali proses, mendadak kehilangan kontrol atas efisiensi waktunya sendiri.
Didorong oleh rasa gemas dan keinginan terpendam yang sempat tertahan di sofa semalam, Dean mengulanginya lagi dan lagi. Sentuhannya begitu intens, menuntut, namun dipenuhi kelembutan yang memabukkan hingga membuat Sinta benar-benar kelelahan.
Tenaga gadis itu terkuras habis di bawah kungkungan suaminya. Namun, Sinta sama sekali tidak bisa menolak. Pesona topeng seksi suaminya malam ini terlalu kuat, menjebak kepolosannya dalam kehangatan tanpa akhir yang membuatnya menyerah sepenuhnya di dalam dekapan erat sang Suami.