Alih-alih melawan takdir dan hasrat untuk meninggalkan sang mantan, Rinjani menelan cinta dari dua lelaki keturunan bangsawan Jawa dengan cara “anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli” sampai di usia senja.
Sementara itu, sudah lama Kaysan membuat surat wasiat untuk Rinjani dan adiknya hingga kedamaian di rumah utama dan pelangi tidak lagi warna-warni seperti sedia kala.
Lantas bagaimana akhir dari prahara cinta segitiga trah Adiguna Pangarep yang tak pernah usai? Apakah wasiat dan warisan itu menjadikan hubungan Rinjani dan Nanang kian semrawut ataukah cinta sejati yang digadang-gadang sebagai cikal bakal wasiat itu terus terjalin hingga mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KINASIH 9
Dadaku berdetak kencang. Sebuah hasrat untuk menolak pertemuan penting di ruang keluarga dengan sekat ruangan kayu yang membatasi ruang keluarga dan ruang tamu ini membuat semangatku meninggalkan raga. Apakah sungguh langkah ini harus segera di ambil?
Mas Kaysan mungkin resah di biliknya, dia mungkin mendengar juga situasi yang tidak ingin aku tutupi di sini. Namun, lagi-lagi kini adalah tugasku dan tentu saja tugas Nanang selaku pemilik awal kedua tanggung jawab ini. Mereka dulu sempat membuat kesepakatan, bahwa siap pun yang mangkat duluan ke Rahmatullah maka tanggungjawab anak-anak dan sang istri menjadi tanggung jawab kepala keluarga. Kesepakatan itu diam-diam menjalar kepadaku. Sakila yang mangkat duluan secara alami membuatku mengemban satu tugas istimewa.
“Belum pada datang?” Aku mengangkat tatapanku dari kerumunan bunga sedap malam dan bunga mawar putih di meja bundar dengan diameter satu meter.
Nanang menarik kursi antik yang berlapis kain beludru hijau dan mendudukinya. Di sampingnya ada lemari kaca lawasan yang menyimpan pernak-pernik tak kalah klasik dengan usiaku.
Aku pura-pura sibuk dengan merapikan kembali bunga-bunga itu dan aku berharap dia galau daripada di sini. Apakah sungguh dia juga ingin mendengar catatan harian mas Kaysan sekarang?
Sudah siapkah dirinya menanggung segala permasalahan sebuah keluarga besar setelah kehilangan?
“Suryawijaya baru jalan, Pandu—” Aku menatap wajahnya sedetik kemudian. Dia melepas jaketnya sebelum mencium punggung tangan Nanang dan tanganku.
“Aku tahu langkah ini harus segera diambil.” katanya lugas. “Harus!”
Tergeragap aku mendengarnya lalu menatapnya dengan heran. Ini anak kenapa, bukan kah kemarin-kemarin dia enggan mengiyakan meski setiap malam Pandu mendatangi kamar mas Kaysan.
Harum cendana dan kembang melati lebih semerbak dari biasanya. Harum keduanya kadang tertinggal di kaus mas Kaysan dan Pandu Mahendra.
“Tunggu Mas dan Mbakmu.” Aku menarik kursi di dekatku. “Habis darimana?”
“Recharge energi.” Pandu duduk, matanya menangkap tatapan Nanang lalu terbetik penasaran di wajahnya.
“Nuwun agung ring pangaksama.” (Mohon ampunan yang besar) Pandu mengatupkan kedua tangannya. “Om Nanang sebaiknya tidak dekat-dekat Ibunda dulu. Ayahanda jiwanya sudah lelah.”
Hening merayap sejenak.
Terdengar helaan napas panjang dari Nanang kemudian. Matanya menelisik Pandu yang duduk menunduk.
“Dari dulu maksud saya hanya membantu, bukan ingin mencuri ibumu dari ayahmu.” Suara Nanang berubah menjadi pelan.
Pandu menatap omnya dengan tatapan menerawang. “Bunda tidak tahu, tapi aku dan Ayahanda sangat tahu bahwa yang tersembunyi sangat masih bisa sampai kepada janji.”
“Jangan berpikir demikian.” Nanang mengangkat sembah. “Laksanakan saja keinginan Mas Kaysan. Secepatnya, karena Mas merasa waktunya semakin sempit.”
Pandu mengangguk-angguk kecil tanpa kecemasan besar anak kehilangan ayah.
Aku mengernyit. Firasat sebesar bakso jumbo mengganjal di hatiku, peringatan itu. Aku menduga setelah mendengar tuturan itu, dua pria itu mengetahui sesuatu.
“Dengarkanlah!” Aku memperingati keduanya dengan tatapan serius. “Bukan waktunya membahas perasaan lama, sekarang kakakmu sudah pada datang.”
Dalilah dan Suryawijaya kedapatan berjalan beriringan menuju ruang keluarga dengan wajah tanpa ekspresi, meski begitu tiada keraguan dari langkah mereka. Tempaan-tempaan kisah perjalanan sampai ke fase pendewasaan diri rupanya mampu membuat mereka bersedia menghadapi situasi yang tidak bener-bener mereka inginkan.
Aku tak mengerti akan kah sama jadinya bila mereka menjadi pemberontak, pembangkang dan pemarah...
“Duduklah anak-anakku.” Aku menyambut keduanya dengan senyum. Dalilah langsung mengambil posisi di samping Nanang, kepalanya seolah layu ke bahunya.
Aku yang pernah juga merasakan sensasi bersandar pada bahu ini menghela napas untuk meredakan amuk perasaan yang campur baur di kepalaku.
“Ibunda langsung saja. Dengarkan baik-baik pesan dari ayah kalian.”
Aku mengelus sampul buku yang terkena noda darah. Sudah kering dan lecek sebelum membukanya dengan hati-hati dan perasaan masygul.
Aku tersenyum pahit. Tidak mungkin, halaman pertama di buku ini adalah betapa suka citanya hati Kaysan saat menikahiku. Hidupnya semarak, gairah penguasa itu bangkit tiada terkira. Tidak peduli berasal darimana wanita yang digandrunginya. Dunia yang selama ini berjalan begitu-begitu saja menjadi warna-warni saat aku ada di sisinya.
Aku mengamati tulisannya yang apik dengan seksama, mengabaikan orang-orang yang memasang wajah menunggu dalam keresahan sampai di lembar kedua.
“Aku menemukanmu di pagi yang cerah. Matahari memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang seperti wajahmu, cah ayu.”
Aku meneguk ludahku... Benarkah mas Kaysan menulis di buku seluwes pujangga? Kata-katanya seperti bertolak belakang dengan perangainya yang datar dan itu membuatku tersenyum malu.
“Bun?” Pandu menyentuh bahuku. Aku tersentak sembari menutup buku diary mas Kaysan lalu mendekap buku itu dengan hati-hati.
“Sepertinya Ibunda batal menyampaikan informasinya saat ini. Ibu—” Aku sayang kangmas Kaysan dan buku ini rupanya berisi isi hatinya yang tak pernah tersampaikan langsung olehnya dan bersifat rahasia.
“Ibu harus ke kamar, ibu melupakan sesuatu.”
Aku menghindari tatapan tercengang mereka. Tetapi tidak ada seseorang yang menanggapi kepergianku dari ruang keluarga dengan pertanyaan mengapa.
...-----------...
tapi.... kita sebagai orang terdekat yang mengharap kesembuhan tentu kecewa dan sedih dengan kepasrahan itu
mas kay, sini tak puk puk, aku juga pengen peluk kamu lho mas
aah part ini makin bikin mewek, mas kaysan aku paham rasa hatimu.
terkadang betapapun tulus dan rasa sayang kepada pasangan, tapi entah disadari atau tidak, jauh disanubari ada rasa lain yang tersimpan rapi untuk seseorang di masa lalu dan mas kaysan mungkin menyadari itu