Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUAPULUHTUJUH
Arun duduk diatas jok motornya sambil mencoba mengambil helm untuk dipakai.
"Run?" panggil Akbar.
Arun mengurungkan niatnya untuk memakai helm. Arun lebih dulu memperhatikan Akbar yang berlari kecil untuk menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Arun saat Akbar baru saja sampai di depannya.
Akbar menoleh kearah belakangnya, seperti mencari keberadaan seseorang.
"Bar? Lo mau ngomong apa?" tanya Arun yang mampu membuat Akbar langsung berbalik sepenuhnya pada Arun.
"Kamu ... "
Akbar menggantung perkataannya membuat Arun mencoba memikirkan apa yang ada dipikiran Akbar saat ini.
"Jangan-jangan Akbar mau nanyain soal gue sama Bio" batin Arun.
Arun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran jahat dalam benaknya.
"Kamu pulang sendirikan? Aku anterin ya?" ucap Akbar dan Arun mampu menghembuskan napasnya lega.
"Gak usah, gue bisa pulang sendiri" tolak Arun.
"Run, boleh gak sih aku beranggapan kalo kamu lagi berusaha jauhin aku" ucap Akbar.
"Itu perasaan lo aja. Lagian lo juga udah ada Bella, gue cuma menghargai perasaan cewek lo aja Bar" jelas Arun mencoba memikirkan alasan yang bisa diterima oleh Akbar nantinya.
"Kita temanan udah lama, Bella tahu itu".
"Hati orang siapa yang tahu".
Arun membalas dengan cepat perkataan Akbar, "mungkin dia gak pernah bilang secara langsung kalo dia gak suka. Gue cewek Bar, gue tahu gimana rasanya orang yang kita suka dekat sama cewek lain, baik mereka temanan sekalipun" ucap Arun panjang lebar.
"Kamu cari alasan?" tanya Akbar.
Arun langsung memakai helmnya dan mengabaikan perkataan Akbar begitu saja, "gue harus pulang sekarang, ngobrolnya lain kali lagi ya" ucap Arun lalu memundurkan motornya.
Tin!
Arun membunyikan klakson motornya sebelum melesat pergi meninggalkan Cafe dan Akbar yang masih berdiri sambil terus memandangi punggung Arun yang mulai menghilang.
Baru saja Akbar akan kembali kedalam Cafe tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran Bio tepat dibelakangnya. Akbar hanya bisa diam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sedangkan dalam hati Akbar menanyakan tentang keberadaan bos nya tersebut, "bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Bio pada Akbar.
Akbar mulai membalikan fokusnya saat Bio mengatakan hal tersebut, "iya pak" balas Akbar.
Bio berjalan lebih dulu menuju meja Cafe yang ada dibagian sudut tempat tersebut. Akbar yang berada dibelakangnya hanya mengikuti Bio meskipun saat ini mulut Akbar sedang berkomat-kamit menjawab pertanyaan Dimas dan Erik yang ternyata melihat mereka saat ini.
Bio mengambil duduk membelakangi tempat kasir sedang kan Akbar masih berdiri tepat dihadapan Bio, "duduk aja, gak perlu canggung. Santai aja" ucap Bio sambil menunjuk kursi didepannya.
"Iya pak" Akbar menganggukan kepala sambil menarik kursi tersebut.
"Oke, kamu kayaknya kenal baik sama Arun" ujar Bio.
"Arun, iya pak. Saya sama Arun berteman baik udah lamakan" balas Akbar sambil tersenyum.
"Kuat kamu berteman sama orang keras kepala kayak dia".
Akbar mengerutkan keningnya, "maksud bapak? Kenapa pak Bio bisa menganggap Arun keras kepala?" tanya Akbar.
"Itu yang saya liat waktu pertama kali ketemu Arun".
Akbar mengangguk-anggukan kepala, "Bagi saya Arun itu gadis yang lemah, tapi dia menutupinya dengan cara dirinya seolah terlihat galak dan keras kepala. Sebenarnya itu semua karena kehidupan dia yang keras".
"Maksud kamu?".
"Arun enggak pernah merasakan keluarga yang sempurna sejak dia kecil. Arun dipaksa dewasa saat usia dia harusnya masih memikirkan main dan main. Arun kalo nangis suka diem-diem".
Bio yang awalnya tidak begitu memperhatikan langsung merasa tertarik dengan mencondongkan badannya kearah depan Akbar.
"Kalo hari itu saya gak liat dia nangis sendirian mungkin saya juga akan sama kayak bapak, menganggap kalo Arun itu keras kepala" jelas Akbar.
"Pak? Pak Bio?" ucap Akbar berusaha membuyarkan lamunan Bio.
"Iya, ehh. Tapi Bella bukannya pacar kamu?" tanya Bio.
"Iya pak, pacar saya memang Bella. Kenapa ya pak?" tanya Akbar.
"Kamu gak ada perasaan apapun sama Arun?".
Pertanyaan tersebut membuat Akbar langsung melebarkan kedua matanya dan membuatnya bingung maksud dari pertanyaan bosnya tersebut, "maksud saya kamu sama Arun kan berteman lama. Enggak mungkin dong gak ada yang punya perasaan lebih dari teman satu sama lainnya" Bio berusaha menjelaskan kekeliruan yang Akbar tampilkan melalui ekspresi wajahnya.
"Buktinya saya punya pacar pak" balas Akbar.
"Gimana dengan Arun?".
Akbar tersenyum sambil menggelengkan kepala dan membenarkan posisi duduknya lebih tegak, "saya teh akan selalu ada buat Arun pak apapun keadaannya tapi itu karena saya berteman baik sama Arun. Dan saya teh yakin Arun juga begitu pak".
"Makanya saya berharap suatu saat nanti yang akan menjadi suami Arun teh orang yang punya rasa lebih dari saya. Mau itu rasa sayang, peduli, khawatir dan semuanya. Orang itu harus membuat Arun bahagia" ucap Akbar.
Bio terdiam, "berarti Akbar belum mengetahui kalau Arun merupakan istrinya saat ini" batin Bio.
"Kalau nanti saya denger Arun gak bahagia maka orang itu akan berhadapan sama saya pak" Akbar menekankan setiap perkataannya.
Bio bisa melihat ketulusan dalam setiap perkataan Akbar melalui matanya. Ternyata ikatan Arun dan Akbar begitu kuat.
Namun lebih mengejutkan lagi hari ini saat mengetahui fakta bahwa Arun memang ternyata suka menangis secara diam-diam.
"Okee, udah. Kamu bisa kembali bekerja" ucap Bio.
Akbar langsung bangun dari duduknya, "baik pak" Akbar merapihkan kembali kursi tersebut seperti semula lalu pergi menuju belakang.
Sedangkan Dimas dan Erik langsung berdiri saat melihat Akbar kembali menuju mereka berdua, "itu Akbar" ucap Erik sambil menunjuknya.
"Mereka ngobrol apaan dah, serius banget kayaknya" ucap Dimas.
"Gak usah bego Mas, lo bisa tanya langsung" ucap Erik.
Puk!
Erik memukul pundak Akbar begitu sampai disampingnya, "lo ngomongin apaan sama si bos?" tanya Erik.
"Kayaknya dia serius banget, sampe belum bangun dari duduknya" lanjut Dimas.
"Ngomongin si Arun" jawab Akbar.
"HAH?!" ucap Dimas dan Erik secara bersamaan.
Akbar langsung menganggukan kepala untuk lebih meyakinkan teman-temannya, "tapi saya juga bingung bang, bos teh ngapain ya nanyain tentang Arun" ucap Akbar.
"Iya ya, bingung gak sih lo Mas? Jangan-jangan si bos suka lagi sama Arun" ujar Erik.
"Gila ya lo! Ya dia kan bos. Wajarlah kalo mau tau tentang karyawannya" jelas Dimas.
"Iya juga sih" ucap Erik.
Sedangkan Akbar hanya bisa diam. Entah mengapa sulit untuk menyetujui analisis Dimas tentang masalah kali ini.
Sedangkan Arun saat ini tengah sibuk dengan beberapa tugas di laptopnya. Arun saat ini juga memang tengah mengerjakan beberapa persiapan untuk skripsinya.
Lama duduk membuat perut Arun memegangi perutnya. Arun merasa kram dibagian perut, ia memutuskan untuk mengisi air minumnya yang sudah habis. Namun baru saja Arun akan mengambil gelas tiba-tiba tangannya terasa mati rasa dan membuat gelas tersebut jatuh dan pecah berserakan.
"Astaga!" ucap Arun sambil melihat pecahan tersebut.
Arun menggerakan jari-jari tangannya setelah merasa lebih baik Arun langsung berjongkok dan memunguti pecahan gelas tersebut.
Awalnya semua baik-baik saja saat Arun mengambil pecahan yang berukuran besar, "aaahhh!".
"Arghhh!".
Ketika Arun berusaha mengambil pecahan yang berukuran lebih kecil ternyata jari telunjuk Arun tergores namun karena kaget tubuhnya limbung dan akan jatuh kebelakang namun saat akan menahan telunjuk yang sebelah kirinya ternyata salah memilih tempat untuk berpijak.
Alhasil saat ini kedua jari telunjuk tangan Arun terluka hingga mengeluarkan darah. Dengan keadaan menahan sakit, Arun langsung berlari menuju kamarnya karena kotak p3k berada di kamarnya.
Ternyata dari balik pintu Bio masuk dan berjalan sambil menenteng tas miliknya. Bio melihat kearah tv ada laptop milik Arun yang masih menyala namun Bio tidak menemukan Arun dimanapun.
Saat sampai di meja makan, Bio yang akan mengambil air minum langsung terkejut saat melihat pecahan kaca yang berserakan dan beberapa tetesan darah segar yang tercecer disana.
Seketika Bio langsung membulatkan matanya dan menatap kearah pintu kamar Arun yang tertutup. Persaan khawatir tiba-tiba menghampiri Bio. Dengan cepat Bio langsung mengurungkan niatnya untuk mengambil minum.
Bio mendekat ke arah kamar Arun dan menempelkan kupingnya di pintu tersebut. Terdengar rintihan dan isakan dari dalam kamar.
Brak!
"Arun?!" panggil Bio.
Perban Arun yang semula sudah tergulung menutupi lukanya langsung pudar dan terlepas karena kaget mendengar pintu yang dibuka dengan kasar.
Arun langsung melihat ke arah Bio. Sedangkan Bio bisa melihat raut wajah Arun yang kesakitan dan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.
Tbc.
Kata saya geh apa!