Alasanku untuk memulai hidupku dengan mu adalah karna aku mencintaimu..Dan alasan ku untuk mengakhiri nya juga karna aku begitu mencintaimu. Tanganku selalu ingin menggapaimu, meraih sisi hati terburukmu, tapi tetap saja senyum itu tidak pernah untukku, yang ada hanyalah luka dan kecewa saat berhadapan denganku..
Jessica ornetha, seakan takdir mempermaikannnya dia dipertemukan kembali dengan sosok yang dicintainya ketika sma. Segala cara dilakukannya agar dapat melupakan pria itu, namun waktu membuktikan bahwa selamanya rasa itu akan selalu tertahan di dalam hatinya. Menikah dengan pria itu memberikan harapan bahwa Tuhan memberikan kesempatan untuk mencintai pria itu lagi dan hidup bahagia dengannya
Ethan Samuel Jeconiah, pria yang akan melakukan apapun yang diinginkan ibunya. Setelah ayahnya meninggal, ia berubah menjadi sosok yang dingin dan tertutup. Hanya dua orang yang bisa memunculkan sifat cerianya, ibu dan wanita dicintainya. Ethan hanya ingin hidup dengan gadis itu, wanita yang sudah lama hadir di dalam hidupnya, mengisi kebahagiaannya bahkan saat ayahnya meninggal dunia. Namun keputusan ibunya untuk menikahkannya dengan gadis lain membuatnya tidak bisa menolak.
Ethan berubah menjadi sosok yang lebih dingin dan bahkan ia selalu melampiaskan kekesalannya pada gadis itu untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan pernah mencintainya.
Apakah jessica dapat meluluhkan hati ethan dan hidup bahagia dengan nya atau malah harus menyerah untuk kedua kali dan membiarkan ethan bahagia dengan wanita lain??
Kalau pengen tahu, tetap ikutin updating ceritanya yaa..
Salam dari Jessica dan Ethan hehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jesung chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laurine terluka
Rossa sangat bahagia mengingat bahwa Ethan dan Jessica setuju menikah. Akhirnya harapannya selama ini terkabul. Ia memandang pas foto suaminya.
"Aku rasa kamu juga akan setuju Pa dengan keputusan Mama. Dia gadis yang sangat manis. Dia akan menjaga Ethan kita dengan baik."
--
Rossa sedang duduk dengan Ethan di ruang tamu. Ia ingin memberi tahu Ethan bahwa Jessica setuju untuk menikah dengannya.
"Ethan, Jessica sudah memberitahukan keputusannya pada Mama."
Seketika Ethan menatap Rossa. Ia berharap gadis itu menolak untuk menikah dengannya. Ia yakin masih ada kesempatan bagi hubungannya dengan Laurine.
"Jessica setuju menikah denganmu sayang.",dengan nada gembira.
"Akhirnya kamu akan menikah juga Ethan. Mama sangat senang kamu menikah dengan gadis yang tepat."
Seakan tersambar petir, rasanya ia tidak percaya dengan keputusan gadis itu.
Bagaimana mungkin ia menyetujuinya? Ethan mengatakan "ya" kepada Rossa berharap gadis itu yang akan menolak pernikahan ini. Ia sangat marah dan kesal. Tapi semuanya sudah terlambat. Ia sudah terlanjur menyetujuinya.
(Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kukatakan pada Laurine nantinya? Aku sudah berjanji tidak akan menikah dengan orang lain selain dirinya. Tapi aku harus memberitahunya. Aku tidak ingin menjadi pria brengsek yang meninggalkannya tanpa sebab. Dan,aku tidak akan pernah meninggalkannya. Hanya dia gadis yang kucintai. Aku berharap Laurine mengerti dengan penjelasanku nanti)
"Minggu depan kita akan membicarakan persiapan pernikahan kalian sayang. Datanglah minggu depan ke kafe dekat perusahaan pada saat jam makan siang. Mama juga sudah memberitahu Jessica untuk datang."
Melihat Ethan hanya diam dan melamun, Rossa bingung. "Apa yang sedang dipikirkannya?", tanyanya dalam hati.
"Apa kamu mendengar Mama sayang?"
Ethan sontak melihat ke arah Rossa.
"Tentu saja Ma. Ethan akan datang minggu depan ke Kafe dekat perusahaan pada saat jam makan siang."
"Okey sayang. Jangan sampai terlambat ya.", Rossa memperingati.
"Baiklah Ma."
--
Pagi harinya, Ethan bertemu dengan Laurine di Restoran Favorit mereka. Ia ingin memberitahu segalanya pada Laurine. Ia yakin Laurine akan mengerti.
"Tumben Kakak mengajakku kesini jam segini. Bukankah Kakak bilang akan meeting dengan Client?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Lau."
"Ada apa Kak? Apa tentang Bibi lagi?"
"Seminggu yang lalu Mama masuk rumah sakit."
"Apa kak? Mengapa Kakak tidak memberitahuku soal itu?"
"Ceritanya panjang Lau.
Sebenarnya Kakak mempunyai alasan mengapa Kakak tidak memberitahumu soal Mama masuk rumah sakit."
"Alasan? Apa itu Kak?", Laurine mulai penasaran. Tidak biasanya Ethan tidak memberitahu Laurine soal Rossa.
Sepertinya ada alasan khusus, pikirnya.
Ethan mencoba meyakinkan dirinya bahwa Laurine akan mengerti dengan penjelasan yang ia katakan nanti.
"Sebenarnya pada saat itu, Mama meminta Kakak menikah dengan gadis pilihannya."
"Dan Kakak menolaknya lagi. Terus?"
"Kakak tidak menolaknya Laurine, Kakak menyetujuinya."
Ethan melihat raut wajah Laurine berubah seketika. Ada rasa kecewa disana namun berubah menjadi tertawa.
"Apa Kakak becanda? Jangan menggodaku lagi Kak."
"Aku tidak bercanda Lau. Pada saat itu kondisi Mama baru sadar dari koma, jadi Kakak tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya."
Mendengar hal itu, hati Laurine sangat sakit seperti teriris pisau tajam. Ia mulai menunduk dan menangis.
Saat melihat Laurine menangis, Ethan menggenggam tangan Laurine
"Lau, dengarkan Kakak. Kakak tidak bermaksud melukai hati kamu sayang. Kakak juga berada dalam posisi dilema saat ini. Kamu tahu bahwa Kakak hanya mencintaimu. Kakak juga tidak bisa menikah dengan wanita lain selain kamu. Tapi kali ini Kakak juga tidak bisa menolak keinginan Mama."
"Aku mengerti perasaan Kakak. Aku juga tahu bahwa ini akan terjadi di dalam hubungan kita. Kita tidak akan pernah bersatu."
"Lau, aku mohon jangan katakan itu. Kita selamanya akan tetap bersama. Tidakakan ada yang bisa memisahkan kita bahkan pernikahan itu. Di hatiku hanya akan ada kamu. Bagiku pernikahanku dengannya hanyalah formalitas dan semata-mata hanya untuk memenuhi permintaan Mama saja."
Laurine bangkit berdiri. Ia ingin pergi untuk meluapkan kesedihannya. Ia hanya belum bisa memahami keadaan ini.
"Tolong berikan waktu untuk Laurine sendiri Kak."
Ethan langsung berdiri dan menarik tangan Laurine.
"Laurine, aku mohon jangan seperti ini. Kakak tidak bisa hidup tanpa kamu."
"Laurine perlu waktu sendiri Kak."
Mendengar permintaan Laurine, Ethan langsung melepaskan tangan Laurine. Ia tidak ingin semakin menyakitinya lagi. Ethan mengerti Laurine perlu waktu untuk sendiri. Bagaimanpun, keputusannya pasti sangat melukai hati Laurine.
--
Hari-hari yang dijalani Ethan semakin buruk karena belakangan ini Laurine selalu menghindarinya bahkan gadis itu tidak menjawab dan membalas panggilannya.
Ia pun menjadi sosok yang lebih dingin dan sering marah-marah di kantor. Karyawannya pun banyak yang heran dengan sikap Ethan belakangan ini. Ethan tidak seperti biasanya.
"Apa yang terjadi Sarah?"
Jessica melihat Sarah keluar dari ruangan Ethan dengan wajah yang murung.
"Pak Ethan kembali marah padaku. Padahal aku sudah mengerjakannya sesuai dengan apa yang ia perintahkan Jess. Aku bingung, tidak biasanya Pak Ethan seperti ini. Bahkan jika aku salah, ia akan menegurku dengan nada yang lembut."
"Aku pikir, Pak Ethan sedang ada masalah. Kita sebagai karyawannya sebaiknya sabar dan tetap melakukan apa yang diperintahkan Pak Ethan."
"Aku juga berpikir seperti itu Jess. Aku akan tetap melakukan yang terbaik."
--
"Apa Laurine mengakhiri hubungannya dengan Kak Ethan setelah mendengar kamu dan Kak Ethan akan menikah?"
"Aku juga berpikir seperti itu Re. Kak Ethan terlihat jadi lebih dingin belakangan ini. Bahkan dia sering marah-marah dengan Karyawan."
"Apa yang harus aku lakukan Re? Ini semua gara-gara aku."
Jessica merasa bersalah karena menjadi penyebab kerusakan hubungan antara Ethan dan Laurine.
"Kamu tidak bersalah Jess. Bagaimanapun, kamu juga korban di sini. Kamu berkorban demi Mamanya Kak Ethan. Nggak ada yang pantas untuk disalahkan."
"Yang penting, kamu harus tetap melakukan yang terbaik Jess. Kamu gadis yang baik, kamu mengorbankan hidupmu demi orang lain. Aku bangga memiliki sahabat sepertimu.", There menambahkan.
"Terima kasih, karena selalu mendukungku Re. Aku juga bangga memiliki sahabat sepertimu."
"Aku mohon jangan menangis lagi Jess. Kamu terlihat sangat buruk saat menangis."
There menghapus air mata Jessica yang mulai menetes satu per satu.
"There..."
"Senyumanmu begitu manis Jess."
"Benarkah? "
Jessica akhirnya dapat tersenyum.
Mereka mulai saling bercanda gurau, mengulang semua kenangan lama yang pernah mereka lakukan.