Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
Di Pabrik Roti...
Waktu terus berlalu, matahari mulai condong ke arah barat, menandakan jam kerja hampir berakhir. Di dalam pabrik roti milik Juragan Warso, aroma roti yang baru matang masih memenuhi setiap sudut ruangan. Para pekerja mulai membereskan peralatan mereka setelah menyelesaikan pesanan hari itu.
Winarsih tampak sibuk menghitung jumlah roti yang akan dikirim esok pagi. Sesekali ia mencatat pesanan di buku kecil yang selalu dibawanya.
"Alhamdulillah... semuanya sudah selesai," gumamnya pelan.
Ia kemudian melepas celemek yang dikenakannya, lalu menggantungnya di tempat semula. Tak lama kemudian, Rudi sudah terlihat mendorong sepeda motornya ke halaman depan pabrik. Saat Winarsih hendak berpamitan, Juragan Warso menghampirinya.
"Winarsih."
Wanita itu segera menoleh. "Iya, Juragan?"
"Kamu pulang sama Rudi saja, ya."
Winarsih tampak sedikit bingung. "Lho, memang kenapa, Juragan?"
Juragan Warso tersenyum tipis. "Dokter Arga sempat menitipkan pesan kepada Bapak sebelum kembali ke Jakarta."
Winarsih langsung terdiam.
"Ia meminta Bapak memastikan kamu tidak pulang sendirian."
Jantung Winarsih seolah berdegup sedikit lebih cepat.
"Katanya, jalan menuju kontrakan cukup sepi menjelang malam. Jadi selama Dokter Arga belum kembali, Rudi yang akan mengantarmu pulang."
Winarsih menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba menghangat di dalam dada.
"Baik, Juragan," jawabnya pelan.
Juragan Warso mengangguk. "Kalau tidak ada perubahan, minggu depan Dokter Arga sudah kembali bertugas di desa ini."
Mendengar kalimat itu, hati Winarsih kembali bergetar. Tanpa sadar, senyum tipis hampir saja terbit di bibirnya. Namun secepat kilat ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Syukurlah..." batinnya.
Di dekat motor, Rudi yang sejak tadi mendengar percakapan mereka terkekeh pelan. "Wah... sepertinya Dokter Arga perhatian sekali sama Mbak Winarsih."
Winarsih yang sedang memakai helm langsung menoleh. "Bukan begitu, Mas."
"Lho, memang saya bilang apa?" goda Rudi sambil tersenyum usil. "Dokter menitipkan pesan supaya Mbak pulang dengan aman. Berarti dokter Arga benar-benar peduli."
Winarsih hanya tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban. Ia memilih naik ke jok belakang motor. "Sudah, Mas. Ayo jalan."
"Iya, Mbak."
Motor pun perlahan meninggalkan halaman pabrik.
Namun tanpa mereka sadari, di balik pintu gudang yang sedikit terbuka, sepasang mata sejak tadi mengawasi setiap gerakan mereka. Seorang pria mengenakan topi hitam mengangkat ponselnya secara diam-diam.
Cekrek!
Satu foto berhasil diambil. Foto itu memperlihatkan Winarsih yang baru saja duduk di belakang motor Rudi.
Pria tersebut tersenyum tipis. "Bagus."
Tanpa membuang waktu, ia segera mengetik sebuah pesan.
Laporan. Dokter Arga sudah kembali ke Jakarta. Winarsih sekarang pulang bersama pria bernama Rudi.
Pesan itu langsung terkirim.
Di sebuah kafe yang berada di dekat hotel Clarissa menginap, ponselnya bergetar pelan di atas meja.
Buzz...
Wanita itu yang sedang menikmati secangkir kopi segera mengambil ponselnya. Matanya menyipit saat membaca isi pesan yang baru masuk.
Di bawah pesan itu, terlampir sebuah foto Winarsih yang sedang duduk di atas motor Rudi.
Sudut bibir Clarissa perlahan terangkat membentuk senyum sinis. "Jadi Arga benar-benar sudah meninggalkan desa."
Ia memperbesar foto itu beberapa detik. "Lalu sekarang... ada pria lain yang mulai dekat denganmu, Winarsih?"
Clarissa terkekeh pelan. "Bagus." Tatapannya berubah tajam. "Kalau begitu... permainan ini akan menjadi jauh lebih menarik." Tanpa ragu, ia segera menekan tombol panggil pada salah satu nomor di ponselnya.
"Dimas."
Suara seorang pria terdengar dari seberang telepon. "Iya, Nona."
"Terus awasi Winarsih."
"Baik, Nona."
"Dan jangan sampai dia tahu kalau sedang diawasi."
"Siap."
Clarissa memutus sambungan telepon, lalu kembali menatap foto Winarsih di layar ponselnya. "Kamu boleh merasa tenang untuk sementara, Winarsih." Senyumnya semakin tipis. "Tapi selama aku masih ada... jangan pernah berharap hidupmu akan benar-benar damai."
Clarissa masih menatap foto Winarsih di layar ponselnya. Senyum tipis yang menghiasi wajahnya perlahan berubah menjadi seringai penuh kepuasan.
"Arga sudah kembali ke Jakarta..." gumamnya pelan. Ia mengetukkan jemarinya di atas meja beberapa kali, seolah sedang menyusun rencana. "Kalau begitu, tidak ada gunanya aku bertahan lebih lama di desa itu."
Tanpa berpikir panjang, Clarissa segera menghubungi asistennya. "Roni."
"Iya, Nona."
"Siapkan mobil. Kita kembali ke Jakarta malam ini juga."
"Malam ini, Nona?"
"Iya."
"Baik. Saya akan menjemput Nona dalam tiga puluh menit."
"Pastikan semua barang sudah dibereskan."
"Siap."
Sambungan telepon pun berakhir.
Clarissa kembali melirik foto Winarsih. "Kita akan bertemu lagi, Winarsih." Senyumnya semakin tipis. "Dan saat itu tiba... akan aku pastikan, aku sudah menikah dengan Arga."
***
Di Desa Sekar Sari.
Motor Rudi akhirnya berhenti di depan kontrakan Bu Ratna.
"Sudah sampai, Mbak," ucap Rudi sambil mematikan mesin motor.
Winarsih turun perlahan. "Terima kasih banyak, Mas Rudi."
"Sama-sama. Besok saya jemput lagi."
"Tidak usah repot, Mas."
Rudi tersenyum. "Itu pesan dari Dokter Arga. Jadi saya hanya menjalankan amanah."
Mendengar nama Arga disebut lagi, Winarsih hanya menganggukkan kepala pelan. "Hati-hati, Mas."
"Iya."
Rudi pun kembali menyalakan motornya, lalu pergi meninggalkan halaman kontrakan. Winarsih mengembuskan napas pelan sebelum melangkah menuju pintu rumah.
Namun... baru beberapa langkah, suara seorang wanita paruh baya terdengar dari arah teras.
"Oh... jadi di sini kamu tinggal."
Langkah Winarsih langsung terhenti, tubuhnya menegang seketika. Ia mengenali suara itu, perlahan Winarsih mengangkat wajah.
"I... Ibu..."
Di hadapannya berdiri Sulastri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya sinis dan penuh kebencian. Baru saja wanita itu keluar dari dalam rumah Ibu Ratna.
Wajah Winarsih langsung memucat. "Untuk apa Ibu ke sini?" tanyanya lirih.
Sulastri mendengus kasar. "Masih berani bertanya?" Tatapannya turun dari kepala hingga kaki Winarsih. "Jadi benar... wanita murahan sepertimu tinggal di sini."
Winarsih mengepalkan jemarinya, tetapi memilih diam.
"Kamu memang tidak pantas mendapatkan tempat tinggal yang baik."
"Ibu..."
"Diam!" bentak Sulastri.
"Kamu hanya membawa masalah ke mana pun kamu pergi."
Winarsih menundukkan kepalanya.
"Dulu kamu menghancurkan perasaan anak saya."
"Ibu, saya tidak pernah..."
"Jangan membantah!" Suara Sulastri semakin keras. "Kemarin kamu mengkhianati Benni. Sekarang kamu malah dekat dengan dokter muda itu. Dasar wanita murahan!"
Mendengar ucapan yang semakin keterlaluan itu, Ibu Ratna yang sejak tadi berdiri di ambang pintu akhirnya melangkah maju.
"Maaf, Bu Sulastri." Nada suaranya terdengar tegas. "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, sebaiknya Ibu segera pergi dari rumah saya."
Sulastri menoleh dengan wajah tidak senang. "Jangan ikut campur urusan saya."
"Justru sekarang ini Ibu sedang membuat keributan di depan rumah saya."
Ibu Ratna berdiri di samping Winarsih. "Winarsih tinggal di sini atas izin saya."
"Kalau begitu, Ibu juga sama saja membela wanita yang tidak tahu malu."
Wajah Ibu Ratna mulai mengeras. "Saya mengenal sifat Winarsih, walaupun dia baru saya kenal. Silahkan Ibu pulang. Kalau tidak, saya terpaksa meminta warga datang kemari."
Sulastri mendecakkan lidahnya kesal. "Baik." Tatapannya kembali tertuju kepada Winarsih. "Ingat baik-baik. Kamu tidak akan pernah hidup tenang."
Usai mengucapkan kalimat itu, Sulastri berjalan melewati Winarsih. Namun saat berpapasan...
Brak!
Dengan sengaja ia menghantamkan bahunya ke tubuh Winarsih.
"Ah!"
Tubuh Winarsih oleng, hampir saja ia terjatuh jika tidak segera berpegangan pada tembok di samping teras.
"Winarsih!" seru Ibu Ratna panik sambil segera memegang lengannya.
Sulastri sama sekali tidak menoleh. Ia terus berjalan meninggalkan kontrakan dengan wajah penuh amarah.
Sementara Winarsih masih berdiri mematung. Bukan karena bahunya yang terasa sakit, melainkan karena kata-kata Sulastri kembali mengoyak luka yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Ibu Ratna menggenggam tangan Winarsih erat. "Ayo masuk, Nak. Jangan hiraukan semua ucapannya."
Namun tanpa mereka sadari, dari balik pohon mangga yang berada tak jauh dari kontrakan, seseorang kembali mengangkat ponselnya.
Cekrek!
Satu foto kembali berhasil diambil.
Kali ini, foto itu memperlihatkan Winarsih yang tampak lemah sambil ditopang Ibu Ratna.
Pria bertopi hitam itu tersenyum tipis. "Laporan berikutnya pasti akan membuat Nona Clarissa semakin puas."