Sia, gadis manis yang selalu ceria. Meski hidupnya tak sempurna tapi dia selalu bahagia. Hingga suatu hari dia dikhianati oleh kekasihnya sendiri. Hari itu dia mengalami kejadian buruk beruntun secara bersamaan.
Saat malam menjelang, gadis yang sangat mempercayai mimpi itu, mendapat sebuah mimpi yang aneh. "Bolehkah aku tinggal di mimpimu?"
Mulai hari itu kehidupan Sia mulai berubah, banyak hal tidak terduga, terjadi dalam hidup Sia. Termasuk pria yang menjadi atasannya di tempat kerja. "Bukankah dia sangat mirip dengan nya?"
Apa yang terjadi selanjutnya dengan hidup Sia? Apa reaksi Sia jika tahu kalau atasannya bukanlah manusia biasa?
Ikuti kisah Sia dan Elyos aka Arch yuukkk.
Follow juga IG author @ masgin3
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugi ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Kredit Pinterest.com
"Mari buat kesepakatan."
Suara Aro membuat Arch mengangkat wajahnya. Pria yang memanggil Arch adalah Aro, sang kakak. Pria itu yakin jika Sia adalah kunci untuk menemukan sang adik. Nyatanya benar. Pria itu memerintahkan lembur bagi para freelancer. Dan hasilnya, Arch menunggu Sia di lobi gedung Dreamaker.
"Jangan suruh aku pulang, Kak. Aku gak mau djodohin."
"Belum tentu juga mama mau jodohin kamu."
Sangkal Aro. Arch melengos mendengar pembelaan sang kakak. Aro memang dekat dengan sang mama. Tak heran jika pria itu membela ibu mereka.
Aro tersenyum melihat penampilan Arch. Sederhana tetapi terlihat kalau sang adik terurus dengan baik. "Dia siapa?" tanya Aro.
"Siapa?" Arch balik bertanya. Aro mendengus geram mendengar sang adik balik bertanya padanya.
"Dia yang kau tunggu di lobi."
Arch langsung merespon, pria itu seketika menatap sang kakak. Sebuah pandangan penuh ancaman Arch berikan. "Jangan menyentuhnya." Desis Arch penuh peringatan.
Aro terbahak mendengar ucapan sang adik. Wah, sejak kapan adiknya itu menjadi begitu perhatian pada seorang gadis. Aro tahu benar, Arch tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun sepanjang 25 tahun kehidupannya.
"Sejak kapan kau jadi posesif begitu? Apa kau menyukainya?" goda Aro.
Arch terdiam, dia tidak paham dengan perasaannya pada Sia. Yang pria itu inginkan hanya melihat Sia tersenyum. Melihat sang adik hanya terdiam. Aro lantas melipat tangannya. Mode serius pria itu sudah on.
"Aku tidak akan menyentuh Sia. Namun ada syaratnya."
Arch berdecih pelan. Sudah dia duga, tidak ada yang gretong alias gratis di dunia ini. Adik kakak itu saling pandang.
"Begini rule-nya. Bekerjalah di Dreamaker, dan aku tidak akan mengusik Sia."
Arch memicingkan mata mendengar perkataan Aro. "Kak Ae mau aku bekerja di Dreamaker, tidak ada masalah. Namun aku juga punya rule."
*
*
Arch mengembangkan senyum, melihat Sia yang berjalan keluar dari lobi Dreamaker, setengah jam setelah kesepakatan antara Aro dan Arch menemukan kata deal. Arch memicingkan mata melihat siapa yang berjalan bersama Sia. Seorang pria tampak bersenda gurau dengan Sia. Terlihat begitu akrab. Di sisi Sia yang lain terlihat seorang gadis yang sepertinya sepantaran dengan gadis itu.
"Hai...." Sapa Arch ramah. Sia tentu terkejut, melihat Arch berdiri di hadapannya. Pria itu telah melepas maskernya. Hingga wajah tampan Arch terlihat nyata. Rissa langsung melongo memandang Arch yang terlihat akrab dengan Sia.
"Ngapain kamu di sini?" Sia bertanya heran. Selanjutnya keempatnya berjalan beriringan setelah mengucapkan selamat malam pada teman yang lain.
"Dia siapa?" Rissa bertanya kepo.
"Emmmm, dia kakakku...."
"Aku pacarnya...."
Arch dan Sia melotot satu sama lain mendengar jawaban mereka yang tidak sepakat satu sama lain.
"Jadi yang bener yang mana? Kakak atau pacar?" Rissa bertanya lagi.
"Kakak." Kata Arch pada akhirnya. "Kakak rasa pacar." Bisik Arch pada Sia. Gadis itu menatap Arch penuh peringatan.
Sia melambaikan tangan pada Rissa yang masih berada di dalam bus. Rissa masih satu pemberhentian bus lagi, baru sampai kawasan rumah. Sia dan Arch berjalan beriringan. Di tangan gadis itu sudah ada kebab yang Arch belikan. Sedang Arch memilih tidak makan malam. Di kafe tadi sang kakak sudah mentraktirnya makan, sebagai tanda jadi dari kesepakatan mereka.
"Makan pelan-pelan. Berantakan kek bayi gitu." Gerutu Arch. Pria itu mengimbangi langkah pelan Sia. Sambil mendengar cerita Sia soal hari pertamanya bekerja. Gadis itu terlihat antusias. Jadi Arch berusaha jadi pendengar yang baik.
"Besok pasti pekerjaan kami tambah banyak. Hari ini yang datang untuk mengantri banyak sekali."
"Bagus dong." Ujar Arch cuek.
"Bentar lagi aku kaya." Kata Sia riang. Di sampingnya Arch hanya bisa menghela nafasnya. Pria itu tahu betul kisaran gaji Sia. Dan dia tahu benar berapa nominal yang masuk ke kantong pribadi pemilik Dreamaker Wedding Organizer. Kalau sekarang usaha itu masih di kelola oleh sang mama. Tapi tidak menutup kemungkinan tempat itu akan berubah kepemilikan. Teringat kesepakatannya dengan sang kakak. Kemungkinan pria itu tengah mempersiapkan dirinya untuk mengambil alih Dreamaker, dengan Sia yang menjadi batu loncatan.
Archie Aodra Wijaya, adik dari Aroha Aegis, pewaris rangkaian bisnis di bawah label Wijaya Group. Termasuk di dalamnya Dreamaker Wedding Organizer.
Sia merebahkan tubuhnya di kasur. Lelah sekali rasanya. Hari ini dia belajar banyak hal. Belajar menjadi freelancer yang handal.
"Apa kamu lelah?" Elyos melihat Sia yang tampak tidak bersemangat hari ini. Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Di mana Sia begitu ceria saat bertemu dengannya.
"Ada yang aneh dengan orang-orang itu. Mereka menatapku seolah aku ini tidak pantas berada di tempat itu." Adu Sia pada Elyos.
Terdengar kuda bersayap itu menarik nafasnya. Dia tahu bagaimana tertekannya Sia hari ini. Meski gadis itu terlihat baik-baik saja di luar. Nyatanya itu tidak sepenuhnya benar. Sia tetap punya sisi rapuh dalam dirinya. Sisi perlu sebuah dukungan penuh agar Sia mampu bertahan. Sia gadis manis yang pinter menyembunyikan luka serta kesedihannya. Menutupinya dengan senyum dan keceriaan.
"Bukan mereka yang bisa menilai pantas dan tidaknya kamu berada di sana. Tapi kemampuanmu. Yakinlah kamu bisa."
Saat Elyos menyelesaikan ucapannya, bisa pria itu rasakan tetesan bening keluar dari mata cantik Sia. Perlahan Sia memejamkan matanya. Hanya di tempat inilah Sia merasakan kedamaian dan ketenangan. Semua berawal dari alam mimpi milik Sia.
Hari berganti. Dua hari setelah Sia masuk ke Dreamaker, Arch menepati kesepakatannya dengan Aro. Sang kakak bahkan meneror sang adik ke tempat Arch bekerja sebagai pencuci piring. Satu hal yang bisa menjadi aib bagi seorang Arch.
Aro tertawa terpingkal-pingkal melihat tampilan sang adik waktu bekerja paruh waktu. "Astaga, CEO-nya Dreamaker jadi tukang cuci piring." Teriak Aro kala itu. Namun Arch tidak menggubris sama sekali ledekan sang kakak. Pria itu mulai mengikuti kebiasaan Sia yang selalu cuek dengan keadaan yang sekiranya akan merugikan mereka.
Memakai kemeja kemeja putih dan celana panjang hitam, Arch melangkahkah kakinya masuk ke gedung megah itu. Tanpa perlu bertanya, Arch masuk ke ruang HRD di lantai lima sebagai freelancer yang baru saja dipindahkan dari kantor cabang. Aro sudah mengatur semuanya. Pria itu tinggal melapor pada kepala. HRD.
Semua freelancer tengah melakukan teknikal meeting sebelum mereka terjun ke bagian masing-masing hari ini. Kepala HRD langsung menerima Arch dengan lapang dada. Terlebih Arch tampil tanpa menggunakan masker. Hingga wajah tampan Arch langsung menjadi bahan bisik-bisik pekerja yang lain.
Sebuah basa basi menjadi awal perkenalan Arch dengan rekan kerja yang lain. Hanya Sia yang tidak menyimak perkenalan rekan baru mereka. Gadis itu tengggelam dalam membaca berkas klie yang akan dia handle hari ini.
Gadis itu baru mengangkat wajahnya saat sebuah nama disebutkan oleh kepala HRD. "Senang bertemu kalian semua. Perkenalkan namaku...."
"Kamu....? Kata Sia terkejut.
****
Kredit Pinterest.com
Up lagi reaader,
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
**