NovelToon NovelToon
I'M A Villain

I'M A Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Usu dedek

Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.

Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.

Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sehari bersama Aldrik.

Sriiìiiitttt ....

Suara ban berdesit berhenti dengan kecepatan tinggi di atas aspal. Laju kendaraan sport itu tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah butik ternama di kota Los Angeles. Aku tak heran dengan kecepatan seperti itu, bagiku itu hal biasa. Bahkan aku pernah mengendarai mobil dengan lebih gila.

 Setelah beberapa detik, aku keluar melangkahkan kaki disusul oleh Aldrik dari bangku supir. Tampak ia masih marah, namun aku ingin membujuknya dengan manja. Ku gandeng tangannya dan bermanja-manja di bahunya, dia tersenyum kepadaku.

"Ternyata untuk menaklukkan hacker ini, aku harus berubah menjadi seseorang yang lemah lembut dan manja. Tidak seperti Zane, yang menyukai wanita kuat. Ya ampun ... aku harus berperan seperti apa lagi?"

Aku lalu masuk ke dalam butik tersebut sambil bergandengan tangan, kulihat banyak sekali terpajang gaun-gaun mewah dari desainer ternama. Aku langsung menarik tangan Aldrik menuju salah satu patung yang memakai setelan pria yang tampak sangat cocok jika dia mengenakannya.

 Tak sadar aku membelai setelan itu di depannya dengan tatapan tulus.

"Cobalah yang ini!" Pintaku manja.

"Apa kau benar-benar membenci penampilanku?" jawabnya dingin.

"Bukan membencinya, hanya saja kau lebih layak memakai yang lebih bagus. Bukankah kau sudah berjanji 24 jam ini akan menghabiskan waktu bersamaku? kau akan menurutiku kan?"

Aldrik terdiam sejenak. "Oke ... jika itu keinginanmu."

Aldrik menurunkan egonya lalu mencoba baju yang tadi ku pinta. Dia lalu mencobanya di kamar ganti.

"Kenapa lama sekali?" gumamku yang duduk menunggu sudah tak sabar.

Aku duduk menunggu sambil memainkan handphoneku. Kakiku terus mengetuk lantai. Hampir dua puluh menit Aldrik di dalam sana tak kunjung keluar. Tiba-tiba terdengar suara dari balik kamar itu.

"Bagaimana?"

Setelah keluar dari kamar ganti mataku sangat takjub melihatnya. Dia sangat gagah dengan balutan pakaian indah itu. Sifat kekanak-kanakannya memudar begitu saja setelah mengenakan setelan jas berwarna biru muda dengan kemeja putih sebagai dalaman dan celana kain berwarna senada. Dengan tampilan kacamata hitam yang sangat menawan membuatnya sedikit berbeda. Tampak seperti seorang terkemuka.

Aku baru menyadari, kalau Aldrik juga memakai anting paku di daun telinga bagian atasnya. Tak sadar terbesit ide aneh dalam otakku melihatnya. Aku buru-buru menghampirinya dengan semangat.

"Ya ampun Aldrik .... kau gagah sekali." Pujiku bukan mengada-ngada. "Penampilanmu lebih mirip Caspian. Kau sangat menawan."

Aldrik langsung membuka kacamatanya dan jas biru muda itu. Wajahnya penuh amarah yang menyimpang, dia melempar jas itu ke atas kursi. Ternyata ucapanku barusan malah memancing emosinya.

"Apa ini Irish ... kau malah mengingat saudaraku saat bersamaku? apa kau minta aku berganti baju seperti ini agar aku terlihat seperti Caspian? Kau lebih suka laki-laki dengan setelan jas mahal dan angkuh seperti dia?!"

Aldrik memojokan ku dengan acungan jari telunjuknya.

"Belum cukup kau membandingkan aku dengan Zane, sekarang membandingkanku dengan Caspian? Sebenarnya apa yang kau lihat?"

Jantungku hampir saja berhenti karena syok. Aku bingung, menghadapi seseorang yang tempramental seperinya jauh lebih sulit. Sedikit salah kata bisa memicu emosinya.

"Aduh ... ya ampun ... aku benar-benar tak boleh salah bicara dengannya."

Aku mengelus dada.

"Bukan begitu, Adikku tersayang. Jika kau berpenampilan casual seperti ini, kau terlihat lebih gagah daripada saat kau memakai kemeja yang sangat bertabrakan warna dan celana pendek itu. Pakaian seperti itu tidak akan membuatmu tampak menawan. Kau pantas lebih bersinar dari orang lain, setidaknya menawan lah di mataku, okey."

Mendengar bujukanku seperti itu, Aldrik pun tersenyum malu. Dia lagi-lagi memelukku. Aku hampir tak percaya kalau lelaki yang mendekapku ini adalah seorang Hacker yang di perebutkan banyak negara. Apa yang mereka lihat berbanding terbalik dengan sifatnya saat ini.

Melihat sikapnya yang berubah-ubah, sepertinya Aldrik adalah salah satu laki-laki yang haus akan sentuhan, pantas saja dia sangat Playboy. Tampaknya dia sangat mudah termakan rayuan wanita. Setelah mencoba beberapa baju lain, Aldrik membungkus semua pakaian yang aku sukai untuk dibawa pulang, dia juga tak lupa membelikanku sebuah gaun minidress yang cantik.

"Pakailah Irish.. kita akan tampak seperti couple yang sedang pacaran," ucapnya malu.

"Oke ... tunggu disini,"

Aku pun berganti pakaian seperti yang dia inginkan. Saat berganti pakaian aku menggerutu sendiri.

"Dasar bocah, susah sekali memenangkan hatinya. Kepalaku rasanya mau pecah kalau harus bersandiwara seperti ini."

Tak butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari kamar ganti. Aldrik tersenyum lebar saat melihatku keluar. Matanya berbinar riang. Tingkah nya bagai melihat seorang dewi yang turun dari jembatan.

Minidress berwarna biru muda senada dengan jas miliknya, seakan menunjukan diri kami yang benar-benar serasi.

"Cantik sekali." Pujinya.

Aku hanya tersipu malu. Padahal aku sangat tidak nyaman dengan balutan mini dress itu. Bagian bawah dadanya mengembang hingga ke paha. Itu pakaian anak sma, bukan wanita dewasa sepertiku. Apa boleh buat, demi menyenangkan hati hacker itu aku rela pura-pura jadi abg lagi.

"Irish ... jangan lupa rencananya." Kata Mike di earphones tersembunyi itu.

Aku hampir lupa, setiap langkah dan perkataanku dapat di dengar langsung oleh organisasi. Aku di awasi dengan ketat. Aku berusaha menyelipkan beberapa kamera tersembunyi di dalam mobil Aldrik.

****** Siang harinya. *****

Aldrik lalu membawaku ke taman hiburan yang begitu megah di pusat kota. Kami berhenti di depan wahana Bianglala atau yang sering sebut Ferris Wheel. Mata Aldrik berkaca-kaca saat menyaksikan permainan yang tampak memicu aldrenalin itu.

"Untuk apa datang kemari?" Tanyaku heran.

"Aku hanya menyukai tempat ini, Irish. Ini satu-satunya tempat di mana hatiku bisa tenang.

 Taman Hiburan? hatiku bingung mendengarnya, seorang hacker yang menghabiskan waktunya di layar komputer ternyata memiliki sisi seperti ini.

Aku jadi semakin ingin mengenalnya.

"Apa ini mengingatkanmu dengan masa kecil?"

Aldrik mengangguk. Aku menggenggam tangan Aldrik lalu membawanya duduk di kursi taman hiburan, aku mengambil foto secara selfi dari ponselku untuk menghiburnya.

Cekrek ... cekrek ... cekrek, bunyi letupan kamera di handphoneku. Kilatan dari sambaran lampu kamera itu menerpa wajahku, aku tersenyum begitupun Aldrik. Berbagai fose ku buat seimut mungkin bersamanya. Rasanya aku kembali belia. Entah kenapa aku jadi geli sendiri.

Entah kenapa saat bersamanya aku merasakan sensasi yang berbeda daripada saat bersama Zane. Dia menjadi laki-laki yang sangat serius, walau terkadang sikapnya kasar, tapi Zane benar-benar dewasa.

Sedangkan Aldrik, bersamanya satu hari ini aku merasa lebih ceria, bebanku rasanya tidak ada. Aku merasa duniaku bagai anak remaja yang hanya ingin happy. Tapi sekali lagi aku tersadarkan ini adalah misi, jangan terpengaruh oleh apapun, apalagi sampai menaruh perasaan kepada target.

"Irish... ini kesempatan bagus untuk menaruh chips itu." Ujar Mike di kupingku. Aku menghela nafas tanpa bicara.

Sesekali aku melihat sekeliling dan menoleh ke belakang, Aldrik tidak membawa satupun pengawal pribadinya. Mungkin dia tahu dari pengalaman terakhir saat bersama Zane, aku tidak menyukai para pengawal itu.

Mungkin itu sebabnya dia tidak membawa satupun pengawal. Kami berputar-putar mengelilingi taman hiburan dan bermain. Aku terhanyut suasana yang di hadirkan Aldrik. Kami naik kuda-kudaan, kincir angin, main ayunan. Sesekali aku menyelipkan chips kedalam sakunya.

Kami juga sibuk mencicipi makanan manis dan segala macam hal gila lain yang dilakukan oleh anak-anak. Hatiku benar-benar terasa lapang, aku tertawa lepas. Sejenak aku melupakan diriku yang selalu gigih. Aku terenyuh, tiba-tiba hatiku bergetar pilu. Ternyata aku butuh sebuah hiburan seperti ini.

Empat belas tahun yang ku habiskan hanya untuk tujuan organisasi, aku tak memberi waktu untuk diriku sendiri. Aku menyimpan semua di dadaku. Rasanya aku ingin berteriak keras mencari kebebasan.

Aku melihat wajah Aldrik yang begitu ceria dengan tawa renyahnya, seolah beban kerjanya terlepas. Wajahnya sungguh menampakan senyuman dan tawa yang tulus. Aku menatap wajah Aldrik yang tampak begitu bahagia. Urat senyum di bibirnya merangkai indah.

Diluar nama Starling yang ia sandang, dia lebih terlihat sebagai sosok anak laki-laki yang baik dan penuh kasih sayang. Mungkin inilah tempat yang benar-benar disukainya daripada rumah besar milik Starling itu. Untuk sesaat aku berfikir hal yang positif tentangnya.

Aku mencoba merapatkan bahu saat berjalan bersamanya, aku menggenggam tangannya yang terasa hangat dan besar. Aku menyandarkan kepalaku di lengannya yang tak begitu kekar. Kami mengobrol sepanjang jalan.

"Aldrik, apa aku boleh mengenalmu lebih jauh?"

" Ya tentu saja." dia menjawab dengan cepat

"Apa ada alasan khusus hingga kau sangat menyukai taman hiburan?"

"Ini adalah tempat terakhir sebagai kenang-kenangan yang paling berharga dalam hidupku, saat aku berusia 8 tahun, ayah dan ibu terakhir kali membawaku kemari. Setelah itu aku tidak pernah merasakan lagi kehangatan rumah dari kedua orang tuaku. Dan aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki orang yang benar-benar mencintai kita apa adanya." Nada Aldrik berubah sedih.

Aku menghentikan langkahku, dan menatapnya dalam. "Apa kau selalu melarikan diri ke sini?"

Aldrik mengangguk.

"Ya ... bagiku hanya tempat ini yang tidak menyimpan kebohongan. Di sini anak-anak menampakan tawa bahagia yang sesungguhnya. Bukan sesuatu yang di buat-buat. Hanya di sini aku bisa merasakan hidupku masih ada."

Mendengar ucapannya aku reflek memeluk kepalanya ke dadaku. Aku paham bagaimana rasanya kesepian, saat teman-teman bermain aku malah menghabiskan waktuku untuk berlatih. Aku tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga. Aku tau bagaimana rasanya berpura-pura bahagia sambil menahan kesakitan.

"Jika kau ingin menangis, menangislah Aldrik. Aku akan memelukmu dengan erat. Jika kau ingin berteriak... maka lakukanlah, aku akan mendengarmu."

Aku menepuk lembut kepala Aldrik di dadaku. Seolah anak kecil yang bermanja dengan ibunya. Aku membawanya turun ke tanah. Dia membaringkan kepalanya di pangkuanku. Tak perduli di atas rumput yang sedikit kotor, aku duduk di sana. Di tengah-tengah taman hiburan itu, kami benar-benar tampak seperti pasangan muda yang sangat serasi.

"Apa orang tuamu juga sudah meninggal, sama seperti Zane?"

1
sinnox
berani bgt ni cewe bjir😭
sinnox
10 juta dollar lenyap nih? 😭
sinnox
Jangan mau irish, kmu di jadiin bahan taruhan doang😭
sinnox
Weh baru juga ketemu, Zane sat set bgt 🤣
sinnox
Siapa ituuu🫣
sinnox
Alamak🫣
azza Binury: 🤭🤭🤭 tq
total 1 replies
sinnox
bahaya mbak masuk Phantom😰
sinnox
Di bunbun😰
sinnox
Yang sabar irish😭
azza Binury: terimakasih udah mampir kak. jangan lewatkan update terbaru
total 1 replies
𝜚⍣⃝𝄞®™Maxime😈
semangat 💪
azza Binury: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!