Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Langit diselimuti awan kelabu yang mendung. Mobil Profesor Surya melaju tenang meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota.
Sepanjang perjalanan, deretan bangunan tinggi perlahan tergantikan oleh kompleks gudang tua yang tak terawat dan hamparan lahan kosong.
Zain melempar pandangannya keluar jendela. "Tempat ini sepi sekali, Prof."
Profesor mengangguk pelan. "Dulu daerah ini adalah kawasan industri yang ramai. Tapi sekarang, hampir semua kegiatan operasional sudah dipindahkan."
Hampir satu jam perjalanan berlalu hingga mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi yang telah berkarat. Papan namanya roboh tertutup semak belakangan, catnya mengelupas terkelupas zaman, dan rumput liar tumbuh tinggi menjulang hingga setinggi pinggang.
Jika tak ada yang tahu sejarah di balik lahan ini, tak seorang pun akan menyangka bahwa tempat sunyi ini dulunya merupakan sebuah laboratorium penelitian canggih.
"Inilah tempatnya," gumam Profesor lirih.
Mereka bertiga keluar dari mobil dan bersama-sama mendorong gerbang besi tua itu.
Kriiiit...
Decit engsel karatan itu memecah keheningan kawasan sekitar. Halaman luar dipenuhi karpet daun kering yang berserakan. Bangunan utamanya masih berdiri kokoh, meski beberapa panel kaca jendela sudah pecah berantakan dan atapnya ditumbuhi lumut tebal.
Zain merasakan desakan aneh di dada. Entah mengapa, jantungnya berdetak jauh lebih cepat semenjak kakinya menginjak halaman tempat tersebut.
Begitu melangkah ke depan pintu utama, gelang di pergelangan tangannya mendadak bergetar.
Bip...
Layar kecil pada gelang itu kembali menyala terang dan memunculkan sebuah panah penunjuk arah. Arah panah itu tidak membimbing mereka masuk ke dalam gedung utama, melainkan berbelok mengarah ke area belakang bangunan.
"Ayo," ajak Profesor.
Di bagian belakang laboratorium, hanya berdiri sebuah gudang kecil yang tampak hampir roboh. Pintunya sudah terlepas dari engsel, dan bagian dalamnya hanya menyisakan rak-rak besi kosong yang berdebu.
"Tidak mungkin tempat yang kita cari ada di sini," ujar Ardi penuh keraguan.
Namun, gelang di tangan Zain justru berbunyi semakin rapat.
Bip... Bip... Bip...
Panah navigasinya menunjuk lurus ke permukaan lantai tanah.
"Lantai?" Zain menghentakkan kakinya pelan.
Tok... Tok...
Gema yang terdengar nyaring menandakan adanya rongga kosong di bawah sana.
Profesor seketika berlutut, menyapu gumpalan debu dan tanah tebal di bawah kakinya. Di balik serakan puing, tampak sebuah penutup besi bulat rapat—sebuah akses menuju ruang bawah tanah.
"Pintu ini tidak pernah ada di dalam denah resmi," gumam Profesor keheranan.
Mereka bertiga merapatkan barisan, meraih pegangan besi itu lalu menariknya bersama-sama. Permukaannya sempat macet karena karatan, namun setelah didorong dan ditarik beberapa kali...
Klak!
Tutup besi itu akhirnya terangkat terbuka. Udara dingin yang lembap seketika membuncah menyembur dari bawah tanah. Sebuah tangga besi tampak membentang memanjang menembus kegelapan di bawah sana.
Ardi menyalakan dan menyorotkan lampu senternya ke bawah. "Tangga ini masih utuh."
Profesor mengangguk. "Berarti ruang bawah tanahnya kemungkinan besar juga masih utuh."
Mereka mulai menuruni tangga satu per satu dengan berhati-hati. Setiap anak tangga berderit pelan menahan beban tubuh mereka. Semakin jauh mereka melangkah ke bawah, suhu udara terasa kian dingin merasuk tulang.
Akhirnya, kaki mereka berpijak pada lantai sebuah ruangan kecil. Ukurannya tak sebesar Ruang Observasi Temporal, namun atmosfernya terasa jauh lebih tua. Di dinding kusamnya masih tergantung papan tulis yang lapuk, memuat deretan rumus fisika yang memudar.
Di tengah-tengah ruangan, berdiri sebuah meja kerja kayu tua. Di atas permukaan meja itu, hanya ada satu benda yang tergeletak: sebuah radio kaset tua.
Anehnya, radio kaset kuno itu mendadak menyala dengan sendirinya begitu Zain menjejakkan kaki di ruangan tersebut.
Krrrssshhh...
Desisan statis gelombang radio memenuhi ruangan selama beberapa detik, sebelum akhirnya berganti menjadi suara berat seorang pria yang terdengar sangat tenang:
"Kalau yang datang adalah Zain... berarti aku telah berhasil."
Semua orang di ruangan itu seketika membeku.
Suara bernada dalam itu... bukanlah suara Profesor Surya versi saat ini, bukan pula suara Profesor muda di dalam rekaman tahun 1998. Suara itu terdengar jauh lebih tua, berwibawa, dan sarat akan keletihan.
Dan Zain mengenali suara tersebut seketika.
Itu adalah suara pria yang siluetnya berdiri melambaikan salam di dalam Gerbang Resonansi.
Ruangan bawah tanah itu kembali diselimuti keheningan. Hanya desis tipis radio yang memecah kesunyian di antara mereka.
Krrrssshhh...
Lalu, suara pria tua itu kembali terdengar dari pengeras suara.
"Kalau yang datang bukan Zain... segera matikan radio ini. Sebab pesan ini bukan ditulis untukmu."
Zain menelan ludah dengan susah payah. Profesor Surya dan Ardi saling berpandangan, tak satu pun dari mereka berani menyentuh radio tua itu.
"Zain..." panggil suara itu tenang. "Kalau kamu mendengar suaraku... berarti segalanya berjalan hampir sama seperti sebelumnya."
Kata sebelumnya seketika membuat Profesor Surya mengernyitkan dahi. "Hampir sama?" gumamnya lirih.
Suara di radio seolah bisa mendengar kebingungan mereka dan langsung menjawab:
"Aku tahu kalian pasti bingung, karena kalian masih mengira waktu adalah sebuah garis lurus. Padahal... waktu lebih menyerupai sebuah lingkaran."
Radio kembali berdesis selama beberapa detik sebelum suara itu terdengar lebih pelan, namun amat jelas:
"Namaku..."
Semua orang menahan napas.
"...Surya. Surya Pratama."
Zain perlahan menoleh ke arah Profesor. Sang profesor sendiri hanya sanggup menatap radio kuno di atas meja tanpa berkedip sedikit pun.
"Kalau melihat penampilanku sekarang... mungkin kalian akan mengira aku datang dari masa depan," lanjut suara di radio. "Sebenarnya tidak sesederhana itu. Aku berasal dari masa kalian. Hanya saja... aku sudah terlalu lama terjebak."
Ardi merasakan tenggorokannya mendadak mengering. "Terjebak...?"
"Setiap kali aku berusaha mencari jalan pulang... aku justru terlempar ke kurun waktu yang berbeda. Kadang lima tahun, kadang dua puluh tahun, bahkan terkadang hanya selisih beberapa hari. Aku sudah berhenti menghitungnya."
Suhu ruangan bawah tanah terasa kian menusuk tulang. Kini mereka mulai memahami misteri di balik sosok tersebut. Pria itu menua bukan karena waktu berjalan sebagaimana mestinya, melainkan karena Profesor Surya versi tua itu terus-menerus terlempar melintasi waktu... tanpa pernah bisa kembali ke titik asalnya.
Suara dari radio berhembus kembali, kini terdengar jauh lebih tegas:
"Dengarkan baik-baik, Zain. Motor itu..."
Zain secara refleks mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat.
"...bukanlah penyebab dari semua kekacauan ini."
Profesor Surya langsung mendongakkan kepalanya.
"Motor itu hanyalah sebuah kunci. Kunci memang bisa membuka pintu, tetapi... kunci tidak pernah menciptakan pintu itu sendiri."
Ardi buru-buru merogoh catatan dan menuliskannya secepat mungkin. Profesor Surya tetap bergeming, menyerap setiap kata tanpa melewatkan satu suku kata pun.
Sementara itu, suara di radio mulai terganggu gelombang frekuensi.
Krrrssshhh...
"Yang menciptakan pintu itu... adalah..."
Suara itu mendadak terputus. Desisan statis yang bising kembali memenuhi ruangan.
"Ah, sial!" Ardi memukul tepi meja kayu dengan kesal. "Jangan rusak sekarang!"
Beberapa detik kemudian, suara berwibawa itu kembali terdengar. Namun kali ini, intonasinya telah berubah drastis.
"Maaf. Dia menemukanku."
Semua orang di dalam ruangan seketika membeku.
"Dia?" bisik Zain bergidik.
Deru napas berat terdengar memburu dari speaker radio. Suara Profesor tua yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat tergesa-gesa:
"Jangan percaya pada semua yang kulihat! Jangan percaya pada semua yang kukatakan! Kalau nanti aku datang menemui kalian... pastikan terlebih dahulu..."
Radio kembali tertutup desisan keras. Kalimat terakhirnya terdengar samar dan nyaris tak terikat:
"...bahwa itu benar-benar aku."
KRRRRRRRKKK...
Radio kuno itu mati total. Lampu indikator kecilnya padam, tak ada lagi suara maupun rekaman susulan.
Tak seorang pun berani bersuara selama hampir satu menit penuh.
Akhirnya, Profesor Surya memecah keheningan dengan suara serak. "Pesan terakhir itu..."
Ardi mengangguk pelan dengan raut wajah tegang. "Iya. Kalau Profesor tua itu sendiri yang meminta kita untuk tidak langsung memercayainya... berarti ada kemungkinan..."
Zain melanjutkan kalimat tersebut dengan bisikan lirih, "...ada sosok lain yang sanggup menyamar menjadi Profesor."
Profesor Surya tak menjawab. Namun di dalam benaknya, memori tentang tulisan di panel Gerbang Resonansi kembali mencuat:
KARENA DIA SUDAH MENUNGGU