💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09. Saya adalah Suaminya!
Azka dan Anna sudah masuk ke dalam lokal sekolah. Aulia, kembali ke mobil Azzuri, dan duduk di kursi penumpang belakang.
"Kamu kok duduk di belakang?" tanya Azzuri, pandangan menoleh ke belakang.
"Nyaman aja!"
"Duduk di depan dong, ya!" pinta Azzuri lembut, tangannya menepuk kursi penumpang sebelah nya.
"Kalau kamu tetap memaksa ku untuk duduk di depan, maka aku akan turun dan pulang naik becak!" ancam Aulia, tangannya membuka seatbelt.
"I-Iya, baiklah," sahut Azzuri patuh.
"Antar aku pulang," pinta Aulia.
"Aulia, kamu masih belum percaya padaku?" tanya Azzuri, melirik Aulia dari kaca spion tengah.
"Kepercayaan ku sudah hancur 5 tahun lalu, jadi buat apa lagi aku percaya sama kamu!"
"Aulia, percayalah padaku, jika aku tidak berselingkuh. Dan status Istri sah itu hanya kamu. Kamulah Istri ku, dan wanita ku. Tidak ada wanita lain lagi, aku mohon, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya," pinta Azzuri bersungguh-sungguh.
"Baiklah, kalau gitu bawa wanita itu kehadapan ku!" tegas Aulia.
"Baik, tapi sebelum aku membawa wanita itu. Aku mohon, hiduplah bersama ku," pinta Azzuri.
"Tidak bisa. Sekarang antar aku pulang, aku mau menyediakan makanan untuk anak-anak," tolak Aulia.
"Baiklah!"
Azzuri tidak ingin berdebat kembali, ia menghidupkan mesin mobilnya, melajukan mobil menuju arah Timbangan. Sepanjang perjalanan Azzuri dan Aulia hanya diam, tak berbicara apa pun sampai akhirnya mobil sampai di depan rumah ruko Aulia.
Azzuri turun dari mobil, membuka pintu untuk Aulia. Saat Aulia keluar, tetangga pada berkumpul di warung samping rumah ruko Aulia.
Para tetangga berkumpul di warung pun mulai membicarakan Aulia.
"Lihat-lihat, bukannya itu wanita yang melahirkan tanpa Suami?"
"Mentang-mentang cantik, pria yang selalu antar-jemput anak-anak rata-rata naik mobil. Murahan kali, ya!"
"Kalau gitu kau harus hati-hati, entar suami kau pula yang di goda wanita itu!"
"Iiiss... amit-amit, jijik kali aku jadinya."
Aulia keluar dari mobil hanya diam, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. Azzuri menyadari kekesalan Aulia, ikutan kesal. Azzuri mendekati kumpulan ibu-ibu di warung.
"Pagi Bu," sapa Azzuri ramah.
"Pagi," sapa ibu-ibu tersebut.
"Beli apa? belanja sayur, ya?" tanya Azzuri basa-basi.
"I-Iya," sahut ibu-ibu gugup.
"Kau siapanya Aulia?" tanya Ibu bertubuh gempal, memakai baju daster robek.
"Suami," sahut Azzuri membuat ibu-ibu tersebut terkejut.
"Oh...kita belum pernah jumpa ya? soalnya aku sibuk mengurus perusahaan di Paris. Terimakasih sudah menjadi tetangga yang baik buat Aulia, dan anak kembar ku," jelas Azzuri, semakin membuat ibu-ibu terdiam.
"Pa-Paris?"
"Alah...ngaku punya Perusahaan. Jadi TKI aja bilang. Sombong kali kau ini!" ejek Ibu memakan sirih.
Azzuri mengambil dompetnya, mengeluarkan kartu nama miliknya. Dan memberikannya pada rombongan Ibu-ibu tersebut.
"Pengusaha tekstil, sekaligus pemilik butik terbesar yang sering ada di TV itu," gumam seorang Ibu sudah mengenal brand milik Azzuri.
"Benar. Jika ingin memesan baju buat acara Natal, ke Gereja, Lebaran, dan undangan, bisa. Hubungi saja kantor ku yang ada di Paris, bilang tetangga Aulia yang ada di kota Lubuk Pakam. Para karyawan ku pasti akan memberikan potongan harga 20%, dari harga 100 jt, menjadi 80, atau bisa saja aku kasih 50 JT," sahut Azzuri menjelaskan dengan sombong.
"Ck, sombong kali kau!" dengus ibu lainnya.
Para Ibu-ibu langsung membubarkan perkumpulan mereka, pergi dengan memandang sinis ke Aulia, masih berdiri di depan halaman rumah rukonya.
Sudah puas membereskan perkumpulan ibu-ibu, Azzuri kembali ke Aulia.
"Aulia, maafkan...."
"Tidak perlu sok baik, aku sudah terbiasa!" putus Aulia menyudahi ucapan Azzuri.
Aulia merasa kesal, geram, dan sudah muak sering mendengar ocehan tetangga menghina dirinya. Tak ingin berlama-lama di luar, Aulia berjalan cepat masuk ke dalam rumah, diikuti Azzuri.
"Aulia....Aulia...." panggil Azzuri, tangannya berusaha meraih tangan Aulia dari belakang, tapi tak sampai.
Aulia tidak memperdulikan panggilan Azzuri, ia terus berjalan, membuka pintu samping rumah ruko miliknya, dan masuk ke dalam, diikuti Azzuri.
"Aulia, kamu kenapa jadi seperti ini?" tanya Azzuri merasa serba salah.
Aulia balik badan, menghadap Azzuri, memandang wajah Azzuri dengan bola mata indahnya di penuhi cairan bening.
"Aulia..." Azzuri ingin menghapus air mata di pipih Aulia. Namun, Aulia langsung menepis tangan Azzuri.
"Kamu tanya kenapa aku seperti ini? semua itu karena kamu! kamu lah penyebab semua ini!" Aulia menunjuk dirinya sendiri, "Kupingku sudah kebal saat orang bilang kalau aku adalah pelacur, istri kedua, dan membeli rumah ruko ini dari hasil ..."
Hati Azzuri rasanya hancur mendengar semua perkataan Aulia. Azzuri langsung memeluk erat tubuh gemetar Aulia, mengelus punggung Aulia untuk kembali bisa tenang.
"Iya, ini semua salahku. Aku minta maaf," ucap Azzuri menyalahkan dirinya sendiri, untuk membuat Aulia tenang.
"Sebaiknya kamu pergi dari rumah ku!" usir Aulia.
"Baik aku akan pergi, tapi apakah aku masih bisa menemui anak-anak?" tanya Azzuri berusaha mengalah demi ketenangan Aulia.
"Iya," sahut Aulia singkat.
"Aulia, sekali lagi aku minta. Mari tinggal dan hidup bersama ku. Aku mohon!" pinta Azzuri tulus.
"Maaf, aku tidak bisa. Hatiku masih sangat sakit, dan aku juga masih belum percaya dengan ucapan kamu!" tolak Aulia datar.
"Jika aku berhasil membawa wanita tersebut, dan membuktikan jika aku tidak berselingkuh dan memiliki Istri selain kamu. Apa aku bisa membawa kamu, dan anak-anak untuk tinggal bersama ku?"
"Aku akan pertimbangkan hal itu, sekarang aku mohon pulanglah."
Azzuri mendekati Aulia, mengecup sekilas dahi sudah 5 tahun tidak ia beri kecupan. Tangannya membelai puncak kepala Aulia dengan lembut, "Jaga diri," ucap Azzuri lembut.
Mendapat perlakukan lembut dari Azzuri, Aulia seketika diam. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya juga tidak menolak, dan hatinya ingin berkata, 'Jangan pergi ', tapi mulutnya terkunci. Membuat Azzuri kini pergi meninggalkan dirinya di rumah.
Tidak ingin terbuai dan larut dalam perlakuan Azzuri. Aulia mengambil ponsel miliknya, membuka kontak telepon, menekan nomor Venus.
Tuuutt!!!!!
📞 [ "Halo, assalamu'alaikum, nona muda." ] sahut Venus setelah mengangkat panggilan telepon Aulia.
📞 [ "Wa'alaikumsalam, Venus, bisa tidak kamu mencari tahu siapa Zalfa Hanin?" ] tanya Aulia malu-malu.
📞 [ "Masih cerita lama lagi? nona muda Zalfa Hanin adalah seorang model, dan dia juga masih berstatus Single. Masih belum percaya?" ] jelas Venus terdengar sedikit kesal.
📞 [ "Kok kamu terdengar kesal, aku 'kan hanya ingin memastikan saja. Kalau dia seorang Single, kenapa dia mau mengakui dirinya sebagai Istri dari Azzuri. Itu 'kan...." ]
📞 [ "Aduh nona muda, saya mohon maaf. Saya harus melakukan rapat. Tentang pertanyaan nona muda, nanti akan saya sampaikan ke Jack saja, biar dia yang mencarinya." ] sahut Venus terburu-buru, ia pun mengakhiri panggilan telepon.
"Apaan sih, Venus, kenapa dia yang marah?" gumam Aulia.