Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kematian Davira yang Lama
Dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, sebuah jet pribadi carteran bersiap lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju New York, Amerika Serikat. Di dalam kabin premium yang mewah, Davira duduk di dekat jendela, menatap hamparan lampu kota Jakarta yang perlahan mengecil di bawah sana.
Di sampingnya, Reno sedang sibuk dengan laptopnya, mengurus perpindahan seluruh sisa aset mendiang ayah mereka yang berhasil dia selamatkan, sekaligus menyiapkan paspor dan identitas baru untuk kakaknya.
"Semua sudah siap, Kak," kata Reno sambil menoleh, menatap kakaknya dengan tatapan protektif. "Di Amerika, Kakak tidak akan dikenal sebagai Davira yang malang lagi. Reno sudah menyiapkan identitas baru. Mulai hari ini, nama Kakak adalah Vira Mahendra, CEO dari V-Tech Invesment. Tidak akan ada yang tahu masa lalu Kakak sebelum saatnya tiba."
Davira yang kini ingin dipanggil Vira mengangguk pelan. Dia menyentuh perut bagian bawahnya yang masih menyisakan sedikit rasa ngilu pasca-operasi. Rahimnya memang sudah tidak ada, tetapi kekosongan itu kini dipenuhi oleh ambisi yang membara.
"Arka sudah tahu kalau aku pergi?" tanya Vira datar.
Reno mendengus sinis. "Kemarin aku menyuruh pengacara kita untuk mengirimkan surat gugatan cerai ke kantornya. Dan Kakak tahu apa tanggapan bajingan itu? Dia langsung menandatanganinya tanpa bertanya ke mana Kakak pergi. Dia bahkan menyuruh sekretarisnya mengirimkan pesan bahwa Kakak tidak berhak menuntut harta gono-gini sepeser pun."
Vira tidak terkejut. Dia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak menawan namun menyimpan racun mematikan. "Baguslah. Dia pikir dia yang membuangku. Dia tidak tahu bahwa dengan menandatangani surat itu, dia baru saja menyerahkan tiket menuju nerakanya sendiri."
"Lalu, apa rencana kita pertama kali setelah tiba di New York, Kak?"
Vira mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, menembus awan hitam. "Pemulihan fisik. Aku akan menyewa pelatih kebugaran terbaik, ahli gizi, dan dokter kecantikan. Aku ingin menghapus semua jejak wanita lemah, pucat, dan teraniaya yang selama ini mereka injak-injak. Setelah itu, ajari aku semua hal tentang dunia investasi yang kamu geluti, Reno."
Matanya berkilat tajam di kegelapan kabin. "Aku akan kembali ke Jakarta bukan sebagai pengemis cinta, tapi sebagai pemilik takdir mereka."
Sementara itu, di sebuah mansion mewah di kawasan elite Jakarta, atmosfernya justru berbanding terbalik. Pesta perayaan kecil-kecilan sedang digelar. Siska dan Maya tampak tertawa lebar sambil memamerkan perhiasan baru yang dibelikan oleh Arka.
Di sofa utama, Sheila duduk dengan anggun, mengelus perutnya yang kian membesar. Dia tersenyum puas melihat surat cerai Arka dan Davira yang tergeletak di atas meja kaca.
"Akhirnya, Mas... wanita pembawa sial itu pergi juga dari rumah ini," ucap Sheila dengan nada manja, menyandarkan kepalanya di bahu Arka yang baru saja pulang kerja. "Sekarang, anak kita tidak akan punya status anak dari istri kedua lagi. Dia akan menjadi pewaris tunggal yang sah."
Arka terdiam. Matanya menatap tajam ke arah surat cerai tersebut. Entah kenapa, ada secercah rasa hampa yang mendadak menyelinap di sudut hatinya yang paling dalam. Biasanya, begitu dia melangkah masuk ke rumah ini, Davira akan langsung menyambutnya, mengambilkan jasnya, dan menyapanya dengan senyuman tulus meski dia selalu membalasnya dengan ketus.
Malam ini, rumah itu terasa asing. Sambutan yang dia terima hanyalah pameran kemewahan dari ibu dan adiknya, serta tuntutan-tuntutan materi dari Sheila.
"Mas? Kamu kok melamun? Kamu menyesal?" tanya Sheila, nadanya tiba-tiba berubah agak menuntut, matanya menyipit curiga.
Arka tersentak, lalu buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin kembali. Dia mengelus rambut Sheila dengan kaku. "Tidak. Untuk apa aku menyesal? Pernikahan itu sejak awal hanya karena kasihan. Sekarang dia sudah pergi, itu pilihannya sendiri."
"Benar itu, Arka!" sahut Siska dari meja makan. "Lagipula, dia itu mandul dan penyakitan. Kemarin adiknya yang gelandangan itu datang ke sini marah-marah, bilang kalau Davira masuk rumah sakit karena kanker rahim. Halah! Paling cuma cari alasan agar kita kasihan dan memberi mereka uang!"
Mendengar kata "kanker rahim", jantung Arka berdegup dua kali lebih cepat. Dia teringat ucapan terakhir Davira malam itu saat bersujud di kakinya: “Rahimku harus diangkat karena kanker...”
Saat itu Arka mengira Davira hanya beralasan. Tapi jika adiknya juga mengatakan hal yang sama... apakah Davira benar-benar sakit parah?
"Arka, sudahlah, jangan dipikirkan," potong Maya sambil asyik berfoto selfie dengan tas barunya. "Wanita seperti dia itu tidak akan bertahan lama di luar sana tanpa uangmu. Paling sebulan lagi dia akan mengemis di depan kantor Kakak."
Arka memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa bersalah yang sialnya mulai mengusik ketenangannya. Ya, Maya benar, pikir Arka. Davira tidak punya siapa-siapa dan tidak punya uang. Dia pasti akan kembali merangkak memohon bantuanku.
Arka tidak pernah tahu, bahwa keputusannya malam itu untuk mengabaikan rasa sakit Davira adalah kesalahan terbesar yang akan menghancurkan seluruh hidupnya di masa depan. Karena Davira yang dia kenal tidak akan pernah kembali.