NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemburu di Perbatasan

Kael menutup pintu ruang kerja sampai terdengar bunyi kait masuk ke tempatnya.

Utusan Dewan Bulan masih menunggu di luar. Salah seorang dari mereka sempat memanggil, tetapi Kael tidak menjawab. Seluruh perhatiannya tertuju kepada Aelora yang berdiri di dekat meja dengan wajah pucat.

“Apa maksudmu aku mati di sini nanti?”

Aelora menatap noda tinta di lantai. Cairan hitam itu sudah merembes ke sela batu, tepat di dekat jendela utara.

Ia seharusnya diam.

Bisa saja ia mengatakan salah bicara karena demam. Bisa saja berpura-pura sedang menceritakan mimpi buruk. Namun Kael tidak mudah dibohongi, terlebih setelah semua kesalahan yang dibuatnya sejak datang ke istana.

“Aku pernah melihatnya,” kata Aelora.

“Dalam mimpi?”

Ia mengangguk, lalu menggeleng lagi. “Aku tidak tahu harus menyebutnya apa.”

Kael menarik kursi dari belakang meja, tetapi tidak duduk. “Ceritakan.”

“Aku tidak ingat semuanya.”

“Ceritakan yang kauingat.”

Aelora memeluk Piko. Boneka itu terasa dingin di tangannya.

“Jendelanya pecah. Ada serangan di istana. Kau berdiri di sana.” Ia menunjuk tempat di dekat noda tinta. “Bajumu penuh darah.”

“Siapa yang menyerang?”

“Aku tidak tahu.”

“Kapan?”

“Aku juga tidak tahu.”

Kael menatapnya dengan sorot yang mulai membuat Aelora merasa sedang berdiri di depan hakim. Ia mencoba mengingat bahwa lelaki ini bukan pendeta Asteria. Kael tidak akan memukulnya hanya karena jawabannya tidak memuaskan.

Tetap saja, jari-jarinya meremas kain Piko semakin kuat.

Kael melihat gerakan itu. Nada suaranya turun sedikit ketika bertanya lagi.

“Apakah aku mati karena luka itu?”

“Tidak langsung.”

“Ada luka lain?”

Aelora mengangguk.

“Dari pedang?”

“Ya.”

“Siapa yang memegang pedangnya?”

Ia tidak menjawab.

Ingatan tersebut muncul begitu jelas sampai bau darah seolah kembali memenuhi ruangan. Kael berlutut di depan Gerbang Tiga Dunia, satu tangannya memegang bilah yang menembus dada. Tangan Aelora sendiri berada pada gagang pedang.

Namun ada sesuatu yang salah dengan gambar itu.

Wajahnya sendiri tampak seperti miliknya, tetapi matanya tidak. Mata itu berwarna emas dan terlalu tenang.

“Aelora.”

“Aku.”

Kael tidak bergerak.

Aelora memaksa dirinya menatap wajahnya. “Aku yang memegang pedang.”

Dari luar ruangan terdengar ketukan lagi. Kali ini lebih keras.

“Yang Mulia, Dewan meminta jawaban.”

Kael tetap tidak memalingkan wajah.

“Pergi,” katanya.

“Namun—”

“Kalau kalian masih berdiri di lorong ketika pintu ini dibuka, aku akan menganggap kalian mencoba memasuki ruang pribadiku.”

Tidak ada jawaban sesudah itu. Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar menjauh.

Aelora merasa bersalah karena lega.

Kael akhirnya duduk. Ia mengusap mulut dengan satu tangan, lalu memandang jendela utara. Tidak ada rasa takut pada wajahnya. Yang tampak justru seperti seseorang yang sedang memeriksa sebuah persoalan dari terlalu banyak sisi.

“Kenapa kau membunuhku?”

“Aku tidak tahu.”

“Itu jawaban yang cukup penting.”

“Aku sungguh tidak tahu.” Suara Aelora pecah. “Aku ingat aku ingin menyelamatkan seseorang. Mungkin Ibu. Mungkin semua orang. Ada yang bilang darahmu bisa membuka gerbang dan mengembalikan orang mati.”

“Lalu kau mempercayainya?”

“Aku sedang putus asa.”

Kael diam.

Aelora menunduk lagi. “Kau boleh marah.”

“Aku belum mati.”

“Tapi aku pernah melakukannya.”

“Dalam masa depan yang mungkin sudah berubah.”

Aelora mengangkat kepala. Ia tidak menyangka Kael akan mengatakan itu.

“Kau percaya padaku?”

“Aku percaya kau melihat sesuatu.” Kael menyandarkan punggung. “Aku belum memutuskan apakah itu masa depan, ingatan, ramalan, atau permainan sihir dari benda yang kau bawa.”

Tatapannya turun kepada Piko.

Aelora langsung menutupi boneka itu dengan lengan.

Kael menghela napas. “Aku tidak akan mengambilnya sekarang.”

“Benar?”

“Jangan membuatku menyesali keputusan itu.”

Aelora duduk perlahan di kursi seberangnya. Kakinya masih sakit, tetapi ia tidak mau Kael menyadarinya dan menghentikan pembicaraan.

“Apa kau takut kepadaku?” tanyanya.

Kael mengerutkan dahi. “Haruskah?”

“Aku bilang aku membunuhmu.”

“Kau juga bilang seseorang membohongimu dan menggunakanmu untuk membuka gerbang.”

“Tanganku tetap melakukannya.”

“Kau berusia tujuh tahun.”

“Di sana aku lebih besar.”

“Dan tetap cukup muda untuk diperdaya oleh orang yang tahu bagian mana dari dirimu yang harus dilukai.”

Aelora tidak menjawab.

Kael mencondongkan tubuh. “Dengarkan. Kalau masa depan itu benar, aku lebih tertarik mencari orang yang menaruh pedang di tanganmu daripada menyalahkan anak yang dipaksa memegangnya.”

“Aku bukan hanya anak.”

“Sekarang kau anak.”

“Aku ingat menjadi tujuh belas tahun.”

“Tubuhmu tetap perlu tidur siang.”

Aelora hampir membantah, tetapi Kael sudah menatap lingkaran gelap di bawah matanya.

“Dan kau sedang demam.”

“Aku tidak demam.”

Kael mengulurkan tangan dan menempelkan telapak tangannya pada dahi Aelora.

“Panas.”

“Tanganmu dingin.”

“Alasan yang buruk.”

Aelora merengut.

Kael menarik tangannya. “Kita akan bicara lagi setelah Eirna memeriksamu.”

“Kau tidak akan mengurungku?”

“Aku mungkin meminta penjaga memastikan kau tidak berjalan sendirian ke Menara Rune.”

“Itu berbeda.”

“Menurutmu.”

Ia bangkit dan membuka pintu. Tidak ada utusan dewan di lorong, hanya dua penjaga kerajaan yang pura-pura tidak mendengar percakapan dari dalam.

Kael menyuruh salah seorang memanggil Eirna.

Penjaga itu belum sempat pergi ketika langkah cepat terdengar dari arah tangga. Seorang prajurit perbatasan muncul dengan mantel basah dan lumpur sampai ke lutut. Napasnya berat, seolah baru berlari melewati separuh istana.

Ia berlutut di depan Kael.

“Yang Mulia, ada penyusup di Hutan Hitam.”

Kael menoleh sepenuhnya. “Berapa orang?”

“Belum diketahui. Pos timur menemukan jejak enam kuda dan tiga lingkaran pemurnian. Mereka memasuki wilayah Nocthara sebelum fajar.”

“Manusia?”

“Gereja Fajar.”

Aelora turun dari kursi terlalu cepat. Pergelangan kakinya nyeri, tetapi ia tetap berjalan mendekat.

“Mereka mencariku.”

Prajurit itu baru menyadari keberadaannya. Matanya turun pada rambut pucat Aelora dan Piko di pelukannya.

“Kami menemukan ini di salah satu jalur.”

Ia membuka tas kulit yang dibawanya. Dari dalam, ia mengeluarkan sepotong kain putih yang ujungnya terbakar. Lambang matahari emas terjahit di tengahnya.

Di bawah lambang itu terdapat noda darah.

Kael menerima kain tersebut tanpa menyentuh bagian yang bernoda.

“Darah siapa?”

“Seorang penjaga hutan. Dia masih hidup, tetapi terkena sihir cahaya. Para pemburu memaksanya menunjukkan arah perjalanan kereta kerajaan.”

Kael meremas kain itu.

“Berarti mereka tahu aku membawanya.”

Prajurit tersebut mengangguk. “Mereka menyebut anak kutukan yang hilang dari Asteria.”

Aelora mencengkeram ujung lengan Kael.

“Pendeta Mareth?”

“Kami belum melihat pemimpinnya,” jawab prajurit itu. “Namun salah seorang memakai jubah putih dengan garis merah. Tanda pemburu suci.”

Kael menatap kepala penjaga yang berdiri di ujung lorong. “Tutup semua gerbang. Gandakan pasukan di jalan utara dan barat. Tidak ada orang keluar atau masuk tanpa pemeriksaan.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Dan jangan bunuh para pemburu sebelum aku mengetahui siapa yang mengirim mereka.”

Prajurit itu sempat ragu. “Kalau mereka menyerang?”

“Patahkan kakinya.”

Ia membungkuk, lalu berlari kembali ke tangga.

Aelora masih memegang lengan Kael.

“Mereka akan datang ke istana.”

“Tidak kalau pasukanku melakukan tugasnya.”

“Dalam kehidupan sebelumnya, pemburu gereja bisa melewati batas menggunakan lingkaran pemurnian. Bayangan penjaga tidak bisa melihat mereka.”

Kael memandangnya. “Bagaimana cara menemukan mereka?”

Aelora berusaha mengingat.

Pemburu suci menggunakan abu pohon doa untuk menutupi bau manusia. Mereka berjalan hanya saat hujan atau kabut. Namun ada sesuatu yang tidak dapat disembunyikan dari makhluk Nocthara.

“Api mereka,” katanya. “Sihir cahaya membuat tanaman hutan menutup kelopaknya. Bunga bergigi tidak mau memakan orang yang sudah diberkati.”

Kael memberi isyarat kepada penjaga untuk menyampaikan informasi itu.

“Hal lain?”

“Mereka membawa lonceng kecil. Bunyinya tidak terdengar oleh orang dewasa.”

Kael menatapnya tajam.

“Aku pernah mendengarnya waktu kecil,” jelas Aelora. “Lonceng itu membuat anak yang punya sihir mengikuti suara tanpa sadar.”

“Untuk menculik?”

Aelora mengangguk.

Kael berbalik kepada penjaga yang tersisa. “Tidak ada anak keluar dari bangunan utama. Tutup taman dan sekolah pelayan. Kalau ada yang mendengar suara aneh, laporkan segera.”

Penjaga itu pergi.

Lorong mendadak sepi. Hanya Aelora, Kael, dan dua gargoyle kecil di atas pintu ruang kerja yang diam-diam membuka mata untuk mendengarkan.

“Aku harus pergi ke perbatasan,” kata Kael.

Aelora langsung mencengkeram lengannya lebih kuat. “Tidak.”

“Aku perlu melihat keadaan sendiri.”

“Kirim orang lain.”

“Aku sudah mengirim pasukan.”

“Kalau mereka menunggumu?”

“Lebih baik mereka menungguku daripada menemukan jalan ke istana.”

Aelora tahu tidak ada gunanya memohon Kael tetap tinggal. Ketika menyangkut keamanan Nocthara, ia selalu turun tangan sendiri.

Namun bayangan masa depan masih melekat pada pikirannya: Kael terluka, jendela pecah, pedang berlumur darah.

“Bawa aku.”

“Tidak.”

“Aku bisa mengenali tanda mereka.”

“Kau adalah orang yang mereka cari.”

“Itu sebabnya aku bisa membantu.”

“Itu sebabnya kau tetap di istana.”

Aelora membuka mulut, tetapi Kael berjongkok di depannya.

“Aku akan kembali.”

“Kau tidak tahu.”

“Aku tahu.”

“Dulu kau juga bilang begitu.”

Kael tidak memahami seluruh maksudnya, tetapi sorot matanya melunak. Ia melepaskan bros berbentuk bulan dari kerah mantelnya, lalu memasangnya pada mantel Aelora.

Bros itu dingin dan lebih berat daripada kelihatannya.

“Ini terhubung dengan bayanganku,” katanya. “Kalau ada bahaya, panggil namaku.”

“Apa kau bisa mendengar dari perbatasan?”

“Bisa.”

“Kalau terlalu jauh?”

“Coba saja berteriak lebih keras.”

Aelora tidak tertawa.

Kael menyentuh kepalanya sebentar, gerakan kaku yang lebih mirip memeriksa demam daripada menghibur.

“Aku akan kembali sebelum malam.”

“Janji?”

Kael menatapnya, lalu mengangguk. “Janji.”

Ia berdiri dan berjalan menuju tangga. Aelora tetap di tempat sampai ujung mantelnya hilang di tikungan.

Baru setelah itu Piko bergerak di pelukannya.

Kepala boneka tersebut berputar pelan ke arah jendela.

Suara serak keluar dari jahitan mulutnya.

“Mereka tidak datang untuk membawamu pulang.”

Aelora menunduk. “Aku tahu.”

“Mereka datang untuk memastikan kau tidak tumbuh.”

Di Hutan Hitam, enam penunggang kuda berhenti di sekitar bekas api yang sudah dipadamkan.

Jubah mereka berwarna putih, tetapi setiap orang mengenakan mantel kelabu di bagian luar agar tidak mudah terlihat di antara kabut. Lonceng-lonceng kecil tergantung pada tali pinggang mereka. Benda itu bergerak setiap kali kuda melangkah, tetapi tidak mengeluarkan suara yang dapat didengar manusia dewasa.

Seorang pemburu turun dan berlutut dekat jejak roda.

“Kereta bergerak ke Nocthara,” katanya.

Pemimpin mereka membuka tudung.

Pendeta Mareth memandang bekas tapak kuda berapi yang tertinggal di tanah. Wajahnya tampak tenang, jauh berbeda dari saat membacakan pengasingan Aelora.

“Raja Iblis mengambilnya sendiri?”

“Begitu laporan penjaga.”

“Berarti tanda itu telah bangun.”

Salah seorang pemburu mengeluarkan gulungan kulit dari tabung di punggungnya. Ketika dibuka, terlihat lukisan seorang anak perempuan berambut putih dengan mata ungu.

Wajah Aelora.

Lukisan tersebut dibuat terlalu rinci untuk sekadar potret pencarian. Di sudut bawahnya terdapat lambang Gereja Fajar dan perintah yang ditulis menggunakan tinta merah.

Pendeta Mareth membaca kalimat itu sekali lagi.

ANAK MALAIKAT TIDAK BOLEH JATUH KE TANGAN RAJA IBLIS.

Di bawahnya terdapat perintah kedua yang jauh lebih singkat.

JIKA TIDAK DAPAT DIBAWA KEMBALI, MUSNAHKAN.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!