Cantik namun sifatnya sangat liar!
Elleandra Caroline, seorang gadis yang dijuluki sebagai Rebellious Aphrodite! Gadis yang mempunyai segudang catatan kenakalan itu tiba-tiba mengalami sebuah kecelakaan saat melakukan balap liar.
Lalu, saat tersadar, dia telah berada dalam dunia novel yang berjudul All I Want is You. Novel yang menceritakan kisah antara dua karakter villain; Aiden Drake O'Reagan dan Cassiera Romano.
Namun, alih-alih menjadi tokoh utama yang kuat, Elleandra justru terbangun di dalam tubuh figuran bernama Elleanor Sezadly, putri bungsu keluarga Sezadly yang lemah, bodoh dan sering ditindas oleh tokoh utama wanita. Ditambah lagi, Elleanor juga dibenci oleh Louisa, adiknya sendiri, karena telah lancang mencintai seorang Aiden!
Elleandra yang tidak terima terlahir kembali sebagai tokoh yang lemah, dia dengan penuh tekad ingin mengubah takdir hidup Elleanor dan menjadi bintang utama dalam novel tersebut!
🌹pjg/bab ±1500 kt
🌹FOLLOW AUTHOR AGAR TDK KETINGGALAN UP
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adora belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[RA] 04 : Keluarga Besar Sezadly [3]
"Cukup!" Thomas berujar nyaring. Terlihat jelas adanya gurat kemarahan di wajahnya. Thomas memijit kepalanya yang terasa pening ketika mendengar perdebatan tiada akhir ini.
"Elleanor, cepat ganti pakaianmu. Sebentar lagi Kakek dan Nenekmu akan datang. Gunakan pakaian yang sopan!" Perintah Thomas pada Elleandra.
"Ah, benar! Louisa lupa jika hari ini Kakek dan Nenek akan datang. Louisa harus menyambut mereka dengan baik," kata Louisa dengan senyum sumringah. Entah kemana perginya raut melas minta dikasihani seperti anak hilang tadi.
Elleandra mendekus malas. Dia meletakkan sendok dan garpunya dengan suara cukup nyaring.
"Hei, kau, si Rambut Merah." Dengan malas Elleandra menunjuk salah satu pelayan wanita yang mempunyai rambut berwarna merah.
"Kemari."
Pelayan muda berambut merah yang merasa terpanggil langsung menghampiri Elleandra dengan kepala tegak menatap Elleandra.
"Ya, Nona?" Pelayan tersebut menjawab dengan raut datar.
"Siapa namamu?" Tanya Elleandra tanpa memedulikan raut tidak suka yang dilayangkan oleh Kavin.
"Tevna Switszer, Nona."
"Oke, Tevna Spenser. Bisa kau antar aku ke kamarku? Dan omong-omong, ada apa dengan raut wajahmu itu? Tolong hilangkan raut datarmu. Kelihatan sekali kalau kamu membenciku, dasar tidak pro! Kau mau jika rambut merahmu aku ubah menjadi warna biru?" Elleandra berucap dengan nada tengil yang terdengar menyebalkan.
"ELLEANOR!" Bentak Roseia.
Elleandra memutar bola matanya.
"Aduh, aku hanya bercanda, Ibu. Jangan marah. Percaya padaku, tensi naik itu rasanya pening sekali. Aku tidak bohong, soalnya aku pernah merasakannya sendiri, sumpah," kata Elleandra.
Sedangkan Tevna nyaris menganga lebar ketika mendengar perkataan berani si Nona Pertama yang dilayangkan untuknya. Pelayan berambut merah itu sebisa mungkin menahan rasa kesalnya agar tidak meluap. Dalam hati dia memaki, kenapa Elleanor, si Gadis Jahat Sampah Masyarakat Tidak Berguna itu harus kembali ke Havenway!
Menurut Tevna, Elleanor yang jahat itu tidak pantas lagi berada di sini karena gadis itu begitu tega menyakiti Louisa, adiknya sendiri; si Malaikat Suci Baik Hati Kebanggaan Keluarga Sezadly.
Oh, panjang sekali julukan yang diberikan Tevna untuk Elleandra dan Louisa. Untung Elleandra tidak dengar isi hati Tevna. Kalau Elleandra mendengar, bisa habis Tevna ditonjok Elleandra.
"Baik, Nona. Mari ikut saya." Tevna dengan perasaan dongkol menuruti perintah Elleandra.
Elleandra tersenyum puas. Dia mengikuti langkah Tevna dengan senandung kecil. Suasana hatinya berubah bahagia begitu melihat raut wajah tertekan Thomas, Roseia, Kavin dan juga Louisa.
Pagi yang cerah untuk mengawali hari. Hati Elleandra senang sekali~~
Elleandra mengikuti Tevna yang berjalan menaiki salah satu tangga melingkar yang menuju sayap kanan Havenway. Lalu berjalan melewati beberapa lorong. Mansion ini memang memiliki banyak lorong menuju ruangan yang berbeda-beda.
Akhirnya, langkah Tevna berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih.
"Sudah sampai, Nona. Silakan masuk," ujar Tevna sambil menatap Elleandra.
Elleandra mengangguk. "Terima kasih. Kau boleh pergi."
Tevna langsung pergi begitu saja. Bahkan, pelayan itu tidak menundukkan kepala kepada Elleandra.
"Leanor, apa kau mendengarku? Sepertinya kau dibenci oleh seluruh penghuni mansion ini. Hmh, kasihan sekali dirimu," kata Elleandra pada Elleanor yang mungkin saja jiwanya masih berada di dalam tubuhnya.
Elleandra menatap pintu di depannya. Dia mengambil nafas sebelum tangannya meraih handel pintu dan membuka pintu itu lebar-lebar. Elleandra memasuki ruangan itu dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Ruang kamar milik Elleanor hampir semua berwarna ivory dengan sedikit sentuhan warna gold dan rose gold di beberapa bagian. Benar-benar indah dan terkesan elegan. Sepertinya, kamar ini akan membuat Elleandra betah berdiam diri di dalamnya.
Elleandra berjalan mendekati cermin berukuran besar yang berada di kamar ini kemudian dia mengamati pantulan tubuh milik Elleanor yang sekarang menjadi tempat jiwanya tinggal.
"Lo itu peduli gak sih sama tubuh lo, Le? Kenapa tubuh lo sampai kurus, kusam gak terawat gini?"
Elleandra menatap tubuh Elleanor yang terlihat begitu tidak terawat.
"Gue harus ubah semuanya, mulai dari pola makan lo sampai kegiatan sehari-hari lo yang harus produktif! Gue juga harus rajin olahraga biar otot lo kebentuk! Gue gak mau punya tubuh yang lemah kayak gini."
Elleandra memang sangat peduli pada penampilannya. Dia adalah tipe gadis yang perfeksionis soal penampilan tubuh. Untuk itu dia bertekad harus melakukan perubahan pada tubuh Elleanor.
Elleandra juga harus membangun citra baru untuk Elleanor. Mulai sekarang, tidak ada lagi gadis yang lemah, naif dan bodoh. Sekarang, di tubuh ini hanya ada gadis yang berhati dingin, kuat dan tidak mudah ditindas.
Elleandra segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia memakai segala body care yang telah tersedia.
Setelah hampir satu jam Elleandra membersihkan diri, Elleandra keluar dari kamar mandi menggunakan jubah berwarna putih. Kemudian dia langsung berjalan ke arah walkin' closet milik Elleanor.
Di dalam walkin' closet itu Elleandra mengamati jejeran baju Elleanor yang terlihat begitu kuno. Sangat jauh dari selera Elleandra. Banyak space kosong di dalam lemari seperti tas, sepatu, perhiasan dan pernak-pernik lainnya yang dimiliki oleh gadis remaja pada umumnya.
Sepertinya, Elleanor adalah tipe gadis yang berpenampilan sederhana dan tidak suka mengenakan sesuatu yang mencolok. Elleanor adalah tipe gadis yang tertutup.
"Gue izin ubah semua gaya fashion lo, ya, Le," kata Elleandra dengan santai.
Elleandra memilah-milah lemari baju untuk mencari pakaian yang akan dia kenakan. Dari sekian banyak baju kuno itu, Elleandra melihat ada satu baju yang terlihat nyaman untuk ia kenakan.
Sebuah dress berlengan pendek berwarna putih dengan motif floral berwarna peach yang terlihat sederhana namun begitu indah. Melihat dress yang masih terbungkus plastik bening, pasti dress itu belum pernah terpakai.
Elleandra segera memakai dress tersebut dan meraih long cardi berwarna ivory yang tergantung di lemari. Karena dia hanya berada di mansion, dia hanya memakai kaus kaki putih serta sandal bulu berwarna senada untuk alas kaki. Tidak ada catokan dan aksesori rambut di sini, jadi Elleandra membiarkan rambutnya tergerai tanpa hiasan apapun.
Elleandra menoleh ke samping dan mendapati sekotak kecil kosmetik. Dia mengecek isi kotak itu dan hanya ada empat buah kosmetik di dalamnya.
"Lipstick, concealer, foundation dan bedak?" Alis Elleandra mengernyit. Dia mencari pemerah pipi namun nihil, tidak ada lagi kosmetik selain itu.
"Jadi, 4 benda ini Leanor gunain buat nutupin memar di tubuhnya? Astaga, sebenarnya apa aja yang udah dia lalui?" Elleandra bertanya pada dirinya sendiri.
Jadi, untuk beberapa luka memar di tubuh ini, dia harus menutupinya dengan concealer, foundation dan bedak yang berlapis. Sedikit memerlukan waktu untuk menutupi semua bekas itu. Terakhir, dia memoles lipstick agar bibirnya tidak pucat.
Selesai.
Penampilan yang sangat simpel. Sejauh ini, hanya itu yang bisa Elleandra lakukan untuk memperbaiki penampilan Elleanor.
Elleandra menoleh ke sekitar untuk mencari parfum untuk sentuhan terakhir. Namun, sepertinya Elleanor tidak memiliki benda itu. Sayang sekali.
"Kayaknya, besok gue harus belanja semua yang gue butuhin."
TOK! TOK! TOK!
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Elleandra menoleh dan berjalan untuk membuka pintu. Terlihat Tevna yang mematung menatap dirinya dengan pandangan yang sukar diartikan.
"Ada apa?" Tanya Elleandra.
Tevna tersadar dari lamunannya. Pelayan berambut merah itu menetralkan raut wajahnya.
"Ah. Nenek dan Kakek Anda sudah datang, Nona. Mari ikut saya jika Nona sudah selesai bersiap," kata Tevna dengan raut datar.
Elleandra mengangguk. "Aku sudah selesai."
"Kalau begitu, mari Nona ikut saya ke ruang keluarga," ajak Tevna.
pdahal lbh bagus tokoh dingin kek dia gini ga banyak omong lgsg dgn tindakan.
kalo pun mau memaki2 atau apala ya sekali2 ini hampir tiap ketemu ngandelin bacot.